Home » FIKSI » Cerpen » Si Lelaki Pecinta Fiksi

Si Lelaki Pecinta Fiksi

beo

“Hei Beo, haruskah kunikahi saja sepi agar tak ada lagi wanita yang kurindu?”

He pi ending! He pi ending!” Jawab Beo berkali-kali.

“Beo, waktu remaja dulu, aku menganggap bahwa wanita adalah makhluk yang sangat menarik. Lalu aku mengenal Riborg, seoarang gadis penyemangat hidupku.” ceritaku pada Beo peliharaanku, “tapi, cintaku tak bersambut, dia lebih memilih laki-laki lain dari pada aku.”

Beo diam saja, wajahnya ikut murung mendengar ceritaku yang itu-itu saja. Mungkin ia bosan hampir di setiap kesempatan, aku ceritakan kisah-kisah sedih cintaku padanya.

“Sejak ditinggal Riborg, anggapanku tentang wanita berubah. Wanita bagiku adalah makhluk yang unik.”

He pi ending! He pi ending!” Jawab Beo berkali-kali.

“Lalu aku mengenal Jenny, cintaku pun bertepuk sebelah tangan. Mana ada wanita yang mau dengan laki-laki miskin yang cuma pandai membuat fiksi.”

He pi ending! He pi ending!” Jawab Beo berkali-kali.

“Ah, Beo apa tak ada kata lain yang bisa kau ucapkan? Dari kedua wanita yang pernah ku cinta, semua berakhir sad ending! Sejak itu pendapatku tentang wanita semakin menyedihkan, wanita bagiku adalah sebuah misteri.”

*****

Di sepertiga malam.

Aaaach, akhirnya selesai juga fiksi ini! Bisikku dalam hati.

Tak terasa usiaku telah senja, badanku sudah tak kuat lagi jika harus terjaga sepanjang malam.

“Hei Beo, kamu belum tidur?”

“Akhirnya Pangeran Katak dan Permaisuri Cantik selesai juga, Beo!”

He pi ending! He pi ending!” Jawab Beo berkali-kali.

“Selalu happy ending, Beo! Agar tidak lagi orang yang disakiti oleh cinta. Cukup aku saja!”

He pi ending! He pi ending!” Jawab Beo berkali-kali lagi.

“Harus, Beo! Harus! Hidup memang harus berakhir hapyy ending. Bukankah manusia lebih suka dengan happy ending?”

“Hari sudah hampir pagi, mari kita tidur, Beo!”

Nyala lampu minyak ku padamkan. Jendela yang menghubungiku dengan alam hayal, aku kancingkan.

*****

Di luar jendela, terdengar celotehan sang Jangkrik kepada Katak.

Keren kamu Katak! Tuan Andersen akhirnya jadikan kamu seorang pangeran yang gagah dan tampan. Pangeran yang berhasil menikahi putri raja yang cantik. Huh! Apes sekali nasibku! Jangkrik malang ini tetap saja hanyalah seekor Jangkrik yang buruk rupa! Besok aku akan menghadap Tuan Andersen agar aku pun dijadikan seorang pangeran yang gagah dan tampan sepertimu!”

Katak cuma membalas celotehan Jangkrik dengan dengkuran yang panjang.

 

*******

 

Cerita ini di dedikasikan untuk : HC Andersen, Si Lelaki Pecinta Fiksi

Hans Christian Andersen (lahir di Odense, Denmark, 2 April 1805 – meninggal di Kopenhagen, Denmark, 4 Agustus 1875 pada umur 70 tahun) adalah Denmark penulis dan penyair. Meskipun seorang penulis yang produktif drama, perjalanan, novel, dan puisi, Andersen paling dikenang karena dongeng. Popularitas Andersen tidak terbatas pada anak-anak, cerita mengungkapkan tema yang melampaui usia dan kebangsaan.

Dongeng Andersen, yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 125 bahasa, telah menjadi budaya tertanam dalam kesadaran kolektif Barat, mudah diakses anak-anak, tetapi menyajikan pelajaran kebajikan dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan untuk pembaca dewasa juga. Mereka telah menginspirasi film, drama, balet, dan film animasi. (Sumber : Wikipedia)

Facebook Comments

About Wans

6 comments

  1. katedrarajawen

    wah suka baca buku HC andersonwaktu kecil, salam

  2. Muhammad Armand

    Hemmmmmmmmmm
    Semoga yang didesikan tenang di sana

  3. sukaaaa….. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif