Home » FIKSI » Cerpen » Cinta Tidak Buta

Cinta Tidak Buta

 

wwwslatecom

“Ci iii nta … cinta tidak buta karena ia melihat dengan mata hati. Hati adalah segumpal darah maka ia punya rasa bukan sebongkah batu. Banyak orang yang punya mata tapi tidak melihat karena hatinya telah beku… Indah sekali puisinya, Kak.”

“Teruskan bacanya!”

Neyla membaca barisan hurup Braille dengan sentuhan lembut jarinya. “Cinta ada untuk saling menguatkan bukan saling mengalahkan. Cinta ada untuk saling melengkapi bukan untuk saling mencari cela. Cinta akan indah jika kita bisa saling menerima dengan ikhlas.”

“Kamu suka kata-kata itu?”

“Suka, Kak.”

“Bukankah tanpa mata, kamu masih tetap bisa membaca buku?”

“Iya, Kak… Neyla tidak tahu tanpa Kakak, mungkin Neyla cuma seonggok sampah.” Kata Neyla sedih.

“Lanjutkan bacaannya!”

“Mensyukuri hidup seperti kita memupuk benih-benih cinta di ladang hati. Tuhan telah menyediakan lahannya, tinggal kita mau menanamnya atau tidak?” Tanpa terasa air mata menetes membasahi bulu mata Neyla yang lentik.

*****

Lima tahun yang lalu seorang gadis diantar oleh kedua orang tuanya ke Panti Rehabilitasi untuk penyandang tuna netra. Di tempatkan di kamar-kamar yang sama dengan penyandang tuna netra lainnya. Aku ditugaskan Ketua Panti sebagai pembimbingnya. Yang aku dengar, gadis itu, Neyla namanya adalah gadis yang manja dan pemarah. Marah terhadap kondisinya sekarang yang buta karena kecelakaan mobil.

“Rin, Kamu tuntun Neyla berjalan mengitari Panti!” ku perintahkan murid seniornya untuk membimbing Neyla.

Pelajaran ini disebut juga “mobilitas”. Kemampuan mobilitas seorang penyandang tuna netra tergantung dari kemampuan individu seseorang. Semakin cepat ia menghapalnya maka semakin cepat pula ia mampu mengenali lingkungan sekitarnya dengan mengingat dan meraba benda disekitarnya.

Neyla melempar tongkat kayu yang diberikan Rina, “huh, berat!” Ia memaksakan diri untuk memakai tongkat lipat miliknya sendiri.

“Neyla!” Bentakku. “Untuk pemula seperti kamu, tongkat yang lebih kuat diperlukan untuk menjaga keseimbangan tubuhmu.”

Aku pun merebut tongkat lipat yang dipegangnya. Awalnya ia bersikeras mempertahankan tongkatnya. Karena tenagaku lebih besar darinya akhirnya tongkat lipat itu bisa ku rebut.

Rina menuntunnya, mengajarinya berjalan. Ketika mencoba berjalan beberapa langkah, Neyla terjatuh. Rina berusaha menolongnya tapi Neyla menepis tangan Rina.

Itulah awal perkenalanku dengan Neyla. Setelah beberapa hari “mobilitas”, aku pun menjelaskan beberapa hal penting tentang tongkat.

“Sekarang tongkat adalah temanmu. Yang selalu mengikuti kemana pun kamu pergi. Sebagai teman, maka kenali dengan baik tongkatmu sendiri. Gunakan dengan rasa karena tongkat juga sebagai alat peraba-mu.”

Neyla hanya diam tak membantah penjelasanku.

“Untuk mengingat asal dan kemana kamu akan pergi, ingat berapa ketukan tongkatmu ke tepi jalan. Kenali benda yang kamu lalui. Jika ingin menyeberang jalan, perhatikan baik-baik dari mana asal suara kendaraan dari sisi kiri atau kanan jalan? Hal ini penting untuk kamu selalu ingat, supaya kamu bisa berjalan di jalan umum seperti layaknya orang normal.”

*****

Fasilitas di panti ini terhitung lengkap. Selain asrama putra-putri, ada ruang makan, perpustakaan, ruang serbag guna, mushola dan kantin. Segala keterampilan diajarkan di laboratorium keterampilan. Di panti ini setiap siswa diajarkan memijat, kelak para siswa yang berbakat memijat bisa hidup mandiri menjadi seorang pemijat tuna netra yang berijazah. Selain angklung, ada juga alat musik modern. Para siswa yang berbakat di bidang musik bisa mengasah kemampuannya bermusik di panti ini. Dan banyak keterampilan-keterampilan lainnya sebagai bekal untuk mereka bisa hidup mandiri ditengah-tengah masyarakat.

Neyla sering ku temukan di perpustakaan. Dari suaranya, aku yakin Neyla tak semurung waktu ia baru datang ke panti.

“Aku ingin jadi penulis, Kak.” Dengan semangat Neyla mengatakannya, “Penulis novel! Mungkinkah, Kak?”

“Kamu suka membacakan?”

“Iya, Kak. Terus apa hubungannya?”

“Kalau kamu malas membaca, bagaimana mau jadi penulis? Penulis itu walaupun penulis novel atau sejenis fiksi adalah orang yang berpengetahuan dan berpandangan luas.”

“Bagaimana cara memulainya, Kak?”

“Ya, menulis! Menulis dan terus menulis! Jika kamu sudah bosan, ganti dengan membaca dan selalu membaca. Jika kamu tekun, tidak perlu waktu lama kamu akan jadi penulis tuna netra yang novelnya best seller. Hehehe…”

*****

Setahun belakangan ini. Neyla mempunyai seorang teman. Mungkin sahabat atau mungkin juga pacarnya. Laki-laki yang simpatik dan ramah. Bukan hanya kepada Neyla tapi juga pada seluruh penghuni panti.

Laki-laki itu sering membawakan buku-buku cerita berhurupkan Braille. Neyla nampak senang sekali dengan pemberiannya. Lambat laun, Neyla sangat mengharapkan sekali kedatangan laki-laki itu.

Ah, kenapa aku jadi cemburu? Apakah aku ada rasa dengan Neyla? Perasaan yang ku simpan rapi di lemari hatiku. Mungkin karena kedekatanku dengan Neyla? Atau… dari mana datangnya rasa itu? Apakah Neyla juga mempunyai rasa yang sama dengan rasaku kepadanya?

September ini, Neyla akan melangsungkan pernikahan. Aku menciumnya, surat undanganya berbau harum. Kuraba kertasnya, dengan cetakan timbul hurup N dan W dihiasi bunga-bunga dan sepasang merpati. Nampak sekali surat undangan tersebut dicetak dengan kualitas yang bagus dan sudah tentu mahal harganya. Beruntung sekali Neyla mendapatkan lelaki yang kaya. Dan mereka saling mencintai. Semoga rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang sakinah dengan kehadiran anak-anak tercintanya.

Ada satu rahasia yang harus aku simpan rapat-rapat. Lelaki itu berpesan kepadaku, hanya aku saja yang tahu. Dan aku tidak diperbolehkan cerita kepada siapapun apalagi pada Neyla. Kalau laki-laki itu adalah orang yang telah menabrak mobil Neyla, hingga terjadi kecelakaan yang menyebabkan kebutaan pada Neyla.

Laki-laki itu merasah bersalah dan sebagai penebus dosanya, ia akan menikahi dan merawat Neyla seumur hidupnya. Rahasia ini akan aku simpan sampai mati. Semua demi kebahagiaan Neyla. Karena aku begitu mencintai Neyla, melihatnya hidup bahagia, itu sudah cukup bagiku. Karena cinta tak pernah mengharap selain orang yang kita cintai hidup bahagia.

*****

Rintik hujan mulai turun perlahan, meneteskan jarum-jarum basah ke bumi. Akupun bergegas berjalan tertatih mengetuk-ngetukkan tongkatku ke tepi jalan.  Menyetop bajaj dengan tongkatku. Aku tak ingin dibasahi hujan yang semakin menebal.

“Bang, bisa ngebut gak? Saya tak ingin ketinggalan acara resepsi pernikahan.” pintaku pada sopir bajaj.

“Memangnya siapa yang menikah?”

“Adik!.” jawabku singkat.

Bajaj pun zigzag, membelah derasnya hujan.

*****

 Cinta Tidak Buta terdapat dalam Buku Antologi Cerpen : Happy September

HS

 

 

Sumber gambar : www.slate.com

Facebook Comments

About Serpihan Abad

19 comments

  1. Cinta memang tidak buta.. matanya ada di hati… itulah mengapa Tuhan menciptakan hati untuk manusia.. tentu saja untuk mencintaiNya dab mencintai sesamanya…

  2. Muhammad Armand

    Love is not blind
    Buktikan bisa bedakan mana mobil mewah, mana pejalan kaki..:D

  3. terharu membacanya SA

  4. Alangkah indahnya bila tiap insan manusia bisa memaknai dalamnya arti cinta…:-)

  5. “cinta tak pernah mengharap selain orang yang kita cintai hidup bahagia”.
    Serpihan Abad, karya-karyanya memang pantas dikagumi.
    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  6. Ikut terharu…nice story…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif