Home » FIKSI » Cerpen » Anjani, Penantian Ini Terasa Menyakitkan – tammat

Anjani, Penantian Ini Terasa Menyakitkan – tammat

waiting

shathen-ceritakita.blogspot.com

Tanpa bisa kucegah anganku melayang pada masa-masa awal aku mengenalnya, lebih dari empat tahun yang lalu.
“Anjani….,” tangannya begitu saja terulur mengajakku berkenalan. Ketika itu kami duduk bersebelahan di bangku kereta Senja Utama menuju Yogyakarta.

“Bimo….” Kusambut uluran tangan itu. Telapak tangannya halus dan harum.

Seperti teman yang lama tak berjumpa, perbincangan kami seakan tak ada habisnya. Dari sepak bola, peristiwa politik, kriminal, gossip infotainment hingga hal-hal remeh temeh lainnya.

Bila biasanya aku segera terlelap begitu kereta berangkat, tetapi tidak untuk kali ini. Kemana rasa kantukku malam ini? Entahlah.

********************

Lalu lalang penumpang kereta berangsur-angsur mereda. Satu demi satu para penjemput sudah meninggalkan halaman stasiun menuju ke rumah masing-masing.
Mana Anjani? Sedari tadi tak kutemukan sosoknya. Kutengok kembali isi serentetan pesan pendeknya yang masih tersimpan di hapeku.

“Jangan telat yaa. Aku nggak mau menunggu…..”

“Iyaa. Nanti ku telepon kalau sudah sampai di stasiun ….”

“Emangnya cuma kau aja yang menyimpan rindu? Aku juga …..”
Aku masih bisa tersenyum membaca ungkapan perasaannya.
‘Aah Anjani. Aku selalu merasa tidak sabar saat menanti kedatanganmu. Berapa lama kita berpisah? Rasanya seperti bertahun-tahun,” gumamku. Kusimpan kembali hape ke kantung jaketku.

Aku menoleh ke arah beberapa bocah yang bersorak kegirangan saat sirine kereta terdengar nyaring. Wajah-wajah polos yang berseri-seri menyaksikan rangkaian gerbong kereta melintas di depannya. Sambil memanjat pagar pembatas ber-roda yang dicat warna orange kombinasi putih, mereka sibuk berteriak-teriak. Mereka mencoba mengalahkan deru roda kereta yang berpadu dengan rel.

“Hooooiiiii……keretaaaaa…..”

“Daaa……daaaa……..”

“Jes ….jes…..jes…..”

Riuh rendah celoteh mereka. Sebagian lagi masih melambai-lambaikan tangannya ke arah gerbong yang melintas.

 

Aku tersenyum. Aah, dunia anak-anak, hal sepele pun sudah bisa membuat mereka berseri bahagia. Tak butuh mainan mahal, tak butuh gadget canggih keluaran terbaru, tak butuh rekreasi ke obyek wisata yang jauuuuhhh. Pintu perlintasan kereta pun sudah cukup membuat mereka kegirangan.

Dari arah pintu stasiun sayup kudengar pengumuman kedatangan kereta. Kutajamkan pendengaranku, berharap ini kereta yang membawa Anjani. Yaa, Anjani!

Dddrrrttt ……dddrrrttt ….. hapeku bergetar. Suara Judika melengking mengalihkan perhatianku. Anjani!!

“Hallooooo…….An….An….Hallloooo …..,” tak ada jawaban. Kupandangi nama yang tertera di layar. Betul. Anjani yang menelepon. Saat kudekatkan hape ke telinga, telepon itu sudah terputus.

 

Aku berlari ke  arah stasiun. Tak kupedulikan rentetan klakson mobil yang hampir menabrakku. Masa bodo….

“Anjaniiii….An…..,” kuteriakkan namanya, mataku tak lepas mengawasi lorong pejalan kaki di sisi selatan. Tak ada. Hanya beberapa tukang ojek, supir taksi, kusir andong dan tukang becak yang menawarkan jasanya pada pejalan kaki yang melintas. Hingga ke pintu stasiun tak kutemui perempuan berlesung pipit itu. Kemana dia??

*****************

Hiruk pikuk ruang tunggu stasiun membuatku mendekat. Entah ada apa. Rasa ingin tahuku begitu besar kali ini.

“Korbannya masih terjepit…..”

“Iyyaaa…. Ada beberapa wanita yang belum bisa dikeluarkan …..”

“Kasihan….. rata-rata korbannya mengalami luka bakar….”
Aku terhenyak. Tak percaya pada apa yang kudengar.

 

Dering nada panggil membuatku tergagap. Anjani.

“Halloooo …..,” sebuah suara asing menyapaku.

“Hallooooo…..,”

“Apa ini mas Bimo?”

“Iy…iyaa. Ini siapa? Lalu, Anjani…..Anjani mana?” jawabku tak sabar. Perasaanku mulai tak enak.

Bumi yang kupijak terasa bergoyang, guntur bersahutan membelah langit dan hujan turun menderas tiba-tiba. Aku tak mampu lagi mencerna kalimat yang kudengar via telepon. Anjani. Anjani-ku. Ia menjadi satu dari korban kecelakaan kereta pagi itu. Tragis.

**************

Kupandangi contoh undangan pernikahan yang kudesign minggu lalu. Undangan yang kupersiapkan sebagai hadiah kejutan saat melamarnya nanti. Sesaat aku ingin merobeknya menjadi keping-keping dan menjadikannya kenangan pahit. Tapiiii….

Aku mengurungkannya. Kusimpan kembali ke dalam tas ranselku. Biarlah contoh undangan ini menjadi satu-satunya kenangan yang tersisa.

Kutinggalkan halaman stasiun dengan hati patah. Harapanku pecah berkeping-keping.

~~ tammat ~~

=======%%%%%%%=======

Facebook Comments

About enggar

7 comments

  1. Bundaaaaaaaaaaaaa kenapa endingnya tragisssssssssss sedihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif

  2. hehehehe, lagi pengin sad ending dinda….

    makasih sudah mampir

  3. Menyedihkan ma :(

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif