Home » FIKSI » Cerpen » Engkaukah Sungaiku?

Engkaukah Sungaiku?

Haooy September

Masa lalu. Tangis dan segala yang meledak-ledakkan rasa. Ingin ku lemparkan saja ke arus sungai ini. Agar putaran dan derasnya kan hanyutkan – entah kemana? Dihantam bebatuan hingga tinggal serpihan kehampaan. Tapi…

 

                “Hei! pa kabar? Sudah lama juga kita tidak bertemu.” Joe menghampiriku.

Cuma dengan senyum ku balas basa-basinya. Ya, kira-kira lima tahun kami telah berpisah.

                “Tuhan sedang bermurah hati padaku, mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Terutama kau, Vey… Ditanganmu, aku yakin perusahaan ini akan berkembang lebih maju lagi. Sukses ya!”

Aku menjabat tangan Joe, “ma kasih… .” Lekuk dan gurat tangan yang telah ku hapal.

 

Bukan karena aku dikelilingi hujan. Dan gemericik air yang nyanyikan lagu-lagu rindu. Rasa walau sudah kukubur dalam serpihan abad, kenangan itu masih saja berlompatan menari-nari di benak. Bersama atau berpisah denganmu adalah saat dimana aku menjadi begitu puitis. Dan flow … menulis tentang kita.

 

“Hmm… novelmu, ma’af aku tak pernah bisa datang saat launching. Tapi aku beli kok beberapa… dan sempatkan diri untuk membacanya.”

Joe, ku selami juga sampai ke dasar. Tapi tak ku temukan kedalamanmu. Berharap engkaulah sungaiku.

“Ma kasih, Joe. Jangan bebani dirimu, hanya fiksi kok!”

 

Novel-novelku – sampai kini pun tak kutemukan alasan, untuk apa ku tulis? Bukankah semua kisah cinta itu sama saja? Aku hanya ingin hutan dan pegunungan ini membaca. Pepohonan perdu yang menghijau di tepi sungai menjadi terharu mendengar kisah-kisahku. Kepodang dan kenari ‘kan kicaukan sendu meniruku.

 

                “September ini harus kau putuskan, Vey! Telah beberapa bulan kau menundanya. Pemegang saham lainnya masih menghormati Papamu sebagai pemegang saham terbesar. Sebagai pewaris perusahaan yang telah ditunjuk oleh Papamu, ditanganmulah nasib ratusan karyawan dan keluarganya. Mereka berharap secepatnya kita running produksi. Oktober, November dan Desember, tiga bulan kita test case, untuk mengetahui kapasitas produksi dan kemampuan marketing kita. Agar tahun depan kita sudah bisa benar-benar running.

                Lagi-lagi aku cuma diam mendengar suara baritonnya Joe, menatap binar matanya apalagi, aku tak pernah sanggup.

“Kasih aku waktu untuk berpikir, Joe.”

“Produksi bagi kita mungkin hanya deretan data dan angka. Tapi bagi karyawan kecil seperti mereka, produksi bisa berarti nasib. Sebagai Project Manager yang bertanggung jawab di perusahaan tambang ini, aku akan selalu men-supportmu.”

“Aku percaya, Joe. Tapi masalahnya bukan itu!”

Don’t be naïf, Vey! Kita kan sama-sama kuliah di Tambang. Kau kan tahu juga ada cara menambang yang tidak merusak alam. Kita akan patuhi semua aturan yang dibuat oleh Dinas Pertambangan.”

Bull shit, Joe! Semua aktivitas penambangan, tidak bisa dipungkiri selalu akan merusak ekosistim alam di sekitarnya.”

“Kalau tidak ada penambangan, dengan apa jalan-jalan beton dan gedung-gedung pencakar langit ini dibuat?”

 “Aku tahu, Joe. Kau akan fight sampai titik darah penghabisan jika ber-urusan dengan masalah pekerjaan. Aku menghormati komitmenmu. Tapi dari dulu, bagiku masalah ini adalah prinsip. Jika kita bisa memilih untuk tidak merusak alam, why not?”

“Dari dulupun aku menghormati pendapatmu. Tapi Vey, bisakah kita kesampingkan dulu masalah itu? Ada masalah yang lebih urgent, yang harus kamu putuskan September ini.”

 

*****

                Pada masa-masa kuliah dulu, aku dan Joe sering beriring bersama. Mengayuh bahtera masa remaja. Semakin terbawa arus ke tengah samudera, baru terpikir olehku kalau sesungguhnya kami tak pernah satu perahu.

Joe dengan komitmen profesionalisme-nya. Dan aku–entah romantisme atau hanya sentimentil saja. Walaupun kuliah di Pertambangan tapi aku lebih “memusuhi” Tambang itu sendiri.

Para pengusaha rakus dan pejabat korup, banyak menyulap aturan, sehinggan proses penambangan tidak lagi mengindahkan aturan-aturan perlindungan alam.

Bagi Joe, prinsipku hanyalah igauan seorang anak perempuan. Dititik inilah perahu kita bersandar lantas membuang sauh. Joe pergi ke Kalimantan untuk bekerja di perusahaan-perusahaan pertambangan besar.

Sedangkan aku, backpacker berkeliling ke tempat-tempat terindah yang diciptakan Tuhan.  Memotret, menulis, takjub dan kemudian bersyukur, ternyata banyak miniatur surga yang telah Tuhan turunkan ke bumi.

*****

                  

Serangan jantung Papa yang ke dua merubah semua haluan hidupku. Dokter menyarankan untuk Papa istirahat, melepaskan semua kesibukan bisnisnya. Sebagai putri tunggal Papa, akulah yang harus meng-handlenya.

Setelah 5 tahun tak pernah melihatnya, malah sekarang aku harus terlibat bersama Joe. Aku sebagai Direktur Utama menggantikan posisi Papa dan Joe yang akan menangani produksinya. Joe tahu kalau masalah tambang, aku tak pernah sepaham dengannya. Joe tetap memaksakan aku untuk menangani perusahaan ini.

Kalau tidak melihat kondisi jantung Papa, secepatnya aku akan terbang, tinggalkan perusahaan tambang ini. Tinggalkan Joe untuk selama-lamanya.

 

*****

               

Angin yang berhembus dari deretan pegunungan menuju ke lembah, menyusuri dataran-dataran yang lebih rendah hingga ke tepi sungai tempatku duduk mematung, igau-ku masih sayup terdengar menelusup lembut ke kedalaman dasar sungai – selalu berharap engkau kah sungai itu?

               

Dengan masih menggunakan tongkat, Papa datang dituntun Joe. Mereka menghampiri aku yang sedang duduk-duduk di tepi sungai.

                “Uhuk… huk huk, Alangkah indahnya sungai ini… dari kecil kamu memang selalu suka sungai.” sambil terbatuk Papa berkata.

                “Aku selalu tak rela, sungai yang indah ini akan hancur oleh polusi Tambang, Pa.”

                “Kau sering bermain-main di pinggir sungai, kadang kau berenang ditengah arusnya hingga membuat Mamamu cemas. Dan satu hal yang tak pernah Papa lupa, setelah kau lama memandangi sungai… “

                “Apakah sungai juga akan mampu menghanyutkan segala tangis dan kesedihan kita? Lalu Papa hanya menjawab ‘Mungkin’. Kemudian aku bertanya lagi : Kemana arus sungai akan membawanya?  Papa menjawab ‘Entahlah! Mungkin ke laut. Terus aku bertanya lagi : Apa setelah tenggelam dalam lautan, semua tangis dan kesedihan kita akan hilang? Papa cuma tertawa terkekeh.“

                “Rupanya kamu masih ingat… Ketika Mama pergi untuk selamanya meninggalkan kita, kau pun menumpahkan kesedihanmu pada sungai. Hampir setiap hari, kau berlama-lama di sana.” Papa tersenyum padaku, senyum yang sudah lama tak pernah kulihat sejak kematian Mama.

                “Papa akan menjual saham di perusahaan ini. Dan kau, Vey… bebas menentukan jalan hidupmu sendiri. Di akhir hidup Papa, Papa tak ingin menjadi orang tua yang tak bijak pada anaknya.”

                “Terima kasih, Papa” Aku menangis di pelukan Papa dan Papa membalasnya dengan membelai rambutku.

“Di usia tua ini, Papa hanya ingin menjadi Papa yang disayang oleh putrinya… Kekayaan itulah yang akan Papa raih saat ini bukan lagi harta benda yang berlimpah.”

“Always love you, Pa… .” Sahutku penuh haru.

                “Terima kasih, Joe… kau telah mengembalikan Papaku kembali.” Menjabat erat tangan lelaki yang selalu ku rindu. Joe tersenyum, senyum yang pernah membuatku mabuk.

                “Mau ikut?” bisikku pada Joe.

                “Kemana?” sahut Joe, bingung.

                “Kilimanjaro!”

                “Hah! Afrika?”

                “Yups!, Tanzania tepatnya. Gunung tertinggi di Afrika.”

                “Sekarang?”

                “Iya sekarang, masa tahun depan sih?” ejekku pada Joe, “tapi… bagaimana dengan pekerjaanmu nanti, Joe?”

                “Hah, gak penting itu!” jawab Joe dengan santainya, “yang terpenting sekarang adalah aku tak ingin kehilanganmu lagi… .”

                Papa pun tersenyum memandang, binar-binar cinta bersinar kembali dimataku dan Joe.

 

*****

 

 

NB :

“Engkaukah Sungaiku” salah satu cerpen Serpihan Abad dalam buku antologi cerpen : Happy September, Terbitan : My Management Creative Writing, 2013

Sumber Gambar : mobile-wallpapers.feedio.net 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

About Serpihan Abad

5 comments

  1. Ending yang manis SA, suka dengan pilihan kata-katanya :)

  2. katedrarajawen

    wow ke kilimanjaro? Mau ikutan ah. Nebeng

  3. katedrarajawen

    wow ke kilimanjaro? Mau ikutan ah. Nebeng

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif