Home » FIKSI » Cerpen » Cinta dan Persimpangan Hati

Cinta dan Persimpangan Hati

Perlahan kusibakkan tirai jendela. Hujan masih saja mengguyur jalanan di depan rumah. Air yang mengalir meninggalkan ceruk memanjang, membawa serta lapisan tanah jalanan itu. Becek, dedaunan yang luruh terhempas teronggok di sana sini.

Ingatanku melayang ke masa lima tahun yang lalu. Persis seperti saat ini, hujan mengguyur dan dedaun luruh. Kau tengah menyelesaikan lukisanmu di sudut ruang kerjamu, tak satu pun yang bisa mengalihkan perhatianmu dari perempuan muda yang menjadi obyek lukisanmu itu. Bahkan kehadiranku pun tidak. Mulanya aku tak pernah hirau dengan kegemaranmu memandangi modelmu berlama lama. Entah sudah berapa gadis yang menjadi pemuas dahaga matamu. Mereka dengan suka rela mengijinkan lekuk liku tubuhnya dijelajahi oleh pandangan matamu, dengan alasan klasik tentu saja.

“Agar aku bisa melukiskan setiap detail dari tubuh indahmu” demikian katamu selalu.

Sebuah alasan yang sangat mengada ada sebenarnya. Bukankah setiap perempuan memiliki bentuk tubuh dan lekuk liku yang hampir sama? Mereka punya bibir, mata, hidung, dagu, payudara, pinggang, pinggul, paha dan betis yang sama. Mungkin hanya ukuran yang membedakan masing masing perempuan, dan bagiku itu tak berpengaruh sama sekali.

Aku tak pernah bisa mengerti dan menyelami jalan pikiranmu. Menurutku, kau hanya ingin memuaskan kegilaanmu memandangi bagian tubuh perempuan muda dan cantik dengan alasan menyebalkan seperti itu. Aku membenci kelakuan burukmu itu. Kau terlihat seperti seekor serigala kelaparan, mulutmu terbuka dengan lidah berliur yang terjulur, menatap penuh nafsu pada onggokan daging segar yang duduk manis di depanmu. Terkadang mereka tersenyum simpul mengundang bila terlihat sinar matamu berkilat kilat dilanda birahi yang sangat.

“Kenapa harus dipermasalahkan?” begitu katamu selalu.

“Aku seorang pelukis, adalah wajar kalau aku memperhatikan lekuk liku modelku” tukasmu sengit.

Anehnya, mereka para modelmu, akan dengan senang hati memenuhi permintaan tak masuk akalmu. Tak sekali dua kau pinta mereka memakai pakaian minim, tembus menerawang, atau longdress dengan belahan hingga ke pangkal paha. Sesekali kau pinta mereka memakai gaun pesta dengna belahan dada super rendah dan bagian punggungnya terbuka hingga ke pinggang. Salah gerak sedikit saja, dadanya yang membusung itu akan nampak jelas terlihat dari tempatmu duduk di depan kanvass.

Senyummu lebih menyerupai seringai binatang menatap mangsa di depannya. Aku benci sekali. Tapi tak pernah sekali pun kau hiraukan perasaanku.

“Aaahh kau. Terlalu kekanakan. Cemburu dan egoismu terlalu kau besar besarkan” demikian selalu pembelaanmu.

Kau akan datang kehadapanku, mengacak acak poniku lalu mencium keningku sekilas. Ya …hanya sekilas, namun mampu meluluhkan kemarahanku. Kau tak pernah memberiku kesempatan untuk mengelak dari semua tindakanmu. Sekalinya aku mencoba, maka rengkuhanmu terasa sekeras jepitan tang baja. Kau akan lebih kuat memelukku, memepet tubuhku ke dinding dan menghujaniku dengan ciuman yang memabukkan. Tak kau pedulikan jerit protesku atau rasa jengahku diperlakukan seperti itu di depan para modelmu. Aku tak pernah bisa berkutik karenanya. Menyebalkan.

Pameran lukisanmu selalu sukses besar, itu yang tak bisa kupungkiri. Entah kenapa, ternyata banyak sekali yang menggemari hasil karyamu. Orang orang terhormat itu tak bisa menyembunyikan nafsu kelelakiannya walaupun berusaha ditutup rapat dengan sikap tegas dan berwibawa di luaran sana. Yaa, setiap lelaki normal akan senang berlama lama memandangi lukisanmu. Sosok perempuan muda, dengan penutup tubuh yang minim, dalam pose menantang yang mengundang birahi. Apalagi ekspresi wajah yang demikian menggoda, siapa yang tak terkesima karenanya?

Semakin hari aku semakin muak melihat kelakuanmu. Kegemaranmu melukis model cantik semakin menggila.

“Kalau kau memang mencintaiku, harusnya kau bisa menerima apa adanya aku” demikian selalu katamu tiap kali aku merajuk.

“Sepanjang hidupmu nanti, hal ini akan kau temui tiap saat. Apa kau berencana untuk mengubahku sesuai maumu?” tanyamu. Entah kenapa kali ini kulihat kelelahan di sorot matamu. Seketika aku menggeleng.

“Aku mencintaimu, sebagaimana adanya dirimu….” keluhku.

***************

Gempa yang meluluh lantakkan kota telah mengalihkan segala pertentangan ini menjadi seribu satu tanya. Studio lukismu porak poranda begitu pula dengan rumah tinggalmu. Hampir sebagian besar rumah di kampungmu rata dengan tanah, hanya beberapa saja yang masih tegak berdiri.

Jaringan telepon dan listrik yang padam berhari hari makin menambah sulit menemukan keberadaanmu. Sementara telepon genggamku mati total, saat gempa terjadi aku belum sempat men-charge batterainya. Maka jadilah….aku mencari cari dan kau mungkin melakukan hal yang sama.

Entah sudah berapa kali kusambangi bekas rumahmu yang tinggal menyisakan pondasi. Studio lukismu pun sudah tak berbentuk lagi, hancur berantakan. Masih sempatkah kau menyelamatkan lukisan telanjangmu itu? Aku tak tahu harus bertanya kepada siapa, karena tak ada yang peduli siapa pindah kemana atau siapa kehilangan siapa.

Saat kejadian, kita hanya mencari selamat sendiri sendiri. Orang tua melupakan anaknya, suami melupakan istrinya……. Justru di saat seperti itu, kita bisa melihat kapasitas orang per orang yang ada di sekeliling kita. Siapa yang egois, siapa yang bersedia berbagi, siapa yang mementingkan diri dan keluarganya sendiri……. Sungguh memprihatinkan sekaligus membuat hati ini miris.

Tak jauh beda denganmu, akupun harus menyingkir jauh jauh dari daerah bencana itu. Tak perlu menunggu lama, kukemasi barang barangku yang tak seberapa banyaknya, dan pindah ke tempat yang jauh meskipun masih dalam kota yang sama. Peristiwa itu meninggalkan trauma berkepanjangan di hatiku.

****************

Kini….lima tahun berlalu sejak peristiwa memilukan itu. Aku masih saja senang berdiri lama lama di pinggir jendela ini. Saat hujan turun, saat kilat menyambar nyambar, guntur menggelegar memekakkan telinga…….. kaca akan mengembun buram, dan aku bebas menuliskan kata kata semauku, menggambarinya dengan ujung jariku, terkadang kutuliskan namamu berbaris baris sepanjang yang aku mau….. tak ada sesuatu pun yang mampu mengalihkan perhatianku dari sana.

Aku masih mencari keberadaanmu, Entah sudah berapa kali kusambangi gedung kesenian tempatmu biasa menggelar pameran, mencari kabar tentangmu. Tak ada seorangpun yang tahu, tak ada secuilpun petunjuk dimana bisa kutemukan dirimu.

Pelukisku, kemana harus kucari dirimu?

Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Entah sudah berapa kali kuabaikan tawaran beberapa pria yang kutemui setelah kau tak terlacak. Aku masih menunggu kabarmu, mencari keberadaanmu….dan aku tak mengerti bagaimana kelanjutan hubungan kita. Bagiku, sebuah kepastian lebih berarti dari sekedar kata kata retorika belaka. Retorika? Yaa… hanya pemanis mulut, penyejuk hati belaka.

Tetapi sebuah penantian selalu ada akhirnya bukan? Tak sedikit teman dan kerabat yang menyarankanku untuk meninggalkanmu, melupakanmu dan membuka lembaran baru. “Tahun demi tahun yang berjalan akan membawa serta kemudaanmu, keceriaanmu dan kecantikanmu” demikian kata mereka selalu.

Benarkah itu? Aku merasa masih secantik dulu, setidaknya menurut cermin yang selalu kutatap setiap pagi. Hanya sedikit kerut di ujung mata bagian luar, sudut bibir bila aku tersenyum, dan di punggung tangan. Tapi aku tak mempedulikannya. Bagiku, aku masih lebih beruntung dari mereka yang buruk rupa akibat kecelakaan, kebakaran atau peristiwa mengerikan lainnya.

Ini tahun kedua kujalin hubungan dengan seorang pria paruh baya yang humoris, smart dan sangat perhatian padaku. Rumah tinggalnya yang persis berhadapan dengan rumahku sekarang sangat memungkinkannya mengunjungiku setiap pagi. Ada ada saja alasannya agar bisa mengajakku berbincang atau berbagi senyum. Satu hal yang membuatku bisa menerima keberadaannya adalah…dia seorang pelukis. Ya, sama seperti kau. Bedanya, dia tak pernah mau melukis seorang perempuan, secantik dan semolek apapun bentuk badannya. Aneh memang, bukankah setiap laki laki selalu menyukai yang ‘bening bening’? Haha, istilah ini mengingatkanku pada sayur yang sangat disukai ibuku, bening bayam.

Sebuah pilihan selalu menyisakan pertentangan batin yang tak ringan. Jujur, aku merasakan gamang yang luar biasa saat mencoba membuka hati untuk perasaan sayang yang ditawarkan oleh pria lain. Pantaskah aku melakukannya sekarang? Tidakkah aku ini telah bertindak kejam dengan meninggalkanmu sendirian di sana, tak memperdulikan perasaan dan hatimu yang terluka karena pilihanku kali ini? Kita belum putus, itu menurutku. Lamanya jeda waktu yang berlalu tanpa kabar tak menjadi dasar untuk mengambil keputusan tentang sebuah hubungan.

Namun pada akhirnya aku harus terus melangkah. Kuabaikan rasa perih teriris yang setiap kali muncul bila kuingat keberadaanmu dan juga nasib cinta kita. Aku sadar bila aku telah berbuat kesalahan dengan menerima kehadirannya sebelum ada kata putus diantara kita. Aku sadar sepenuhnya itu. Tetapi aku harus memilih bukan?

Meski cintaku telah kulabuhkan ke hati pria lain, tetapi jangan pernah merasa kalau aku menghianatimu. Tidak. Aku sedang ingin menenteramkan hatiku yang sangat kehilangan kau. Mungkin kau tak pernah tahu betapa malam malamku selalu penuh dengan mimpi buruk, mimpi mengerikan yang pernah kualami. Yaa… gempa itu telah meninggalkan trauma berkepanjangan di alam bawah sadarku. Aku tak bisa lagi mendengar suara menggelegar, dentuman yang memekakkan telinga atau hingar bingar lainnya. Jantungku akan berdebar debar tak karuan, sisi kiri dadaku pun akan nyeri luar biasa.

Hanya dia, yaa… bersamanya aku bisa tenang menghabiskan hari demi hari. Sikapnya yang lembut, kalem dan penuh perhatian sangat membantuku untuk melupakan trauma itu sedikit demi sedikit. Kini aku melangkah dengan dada tengadah, menyongsong masa depan yang lebih mapan, meskipun jauh di lubuk hatiku ada sesal dan tangis yang tak pernah bisa kuenyahkan.

Aku masih mencarimu, menantikan bagaimana keadaanmu.

===%%%%%===

Facebook Comments

About enggar

6 comments

  1. hemmmmm….. sebuah penantian yang sia2 sebenernya, tapi intung dia sadar, dan segera melabuhkan hatinya ke tempat yang sepantasnya…. hehehhehehehe :thumbup:

  2. katedrarajawen

    akhirnya,tidak menyimpang kan hatinya? :shakehand2

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif