Home » FIKSI » Cerpen » Cerita Dari Keranjang Sampah

Cerita Dari Keranjang Sampah

sampah

4.bp.blogspot.com

 Sebuah sepeda motor berjenis skuter masa kini terparkir acak di depan sebuah kantor. Warnanya yang mencolok mata akan membuat siapapun melirik melihatnya karena tampilan yang berwarna hijau stabile.

Tanpa melepas helmnya, sang empunya motor langsung menerobos pintu masuk, seolah-olah dia sudah membaur dengan kantor tersebut.

“Selamat paggiiiiiiiii…every body,” itulah kalimat yang terlontar dari bibirnya, sebuah sapaan di pagi hari dengan intonasi penuh keceriaan.

“Selamat pagi juga, Kesya…kamu cantik sekali hari ini…mau ngopi denganku di kantin sebelah?” Tono menyahuti salam yang di lontarkan seseorang yang di panggil Kesya.

Kesya hanya memandang datar, dan tersenyum datar “Tidak. Te..ri..ma..ka..si..h” jawabnya ketus. Dan berlalu meninggalkan Tono tanpa menoleh sedikitpun.

Sementara Tono dengan sorot mata sedikit nakal memandang Kesya dari ujung kepala sampai kakinya, dan berhenti agak lama di betis Kesya. “Indah dan seksi sekali betismu, Key” batinnya mengagumi keindahan kaki milik Kesya.

***

Kesya, seorang karyawan perusahaan kayu adalah sosok yang paling rupawan di antara para karyawan wanita lainnya, maka tidak heran apabila hal tersebut memancing rasa cemburu beberapa rekan kerjanya. Bagaimana tidak, Kesya yang belum setahun bekerja sebagai sales marketing di perusahaan itu, mendapatkan perlakuan khusus dari divisi HRD, bahkan Tono Suprapto yang merupakan supervisornya terang-terangan memperlakukan Kesya secara berlebihan. Salah satu yang paling sering di gunjingkan adalah seringnya Kesya terlambat datang ke kantor, dengan alasan yang sama..yaitu bangun kesiangan.

Biasanya seorang karyawan bila terlambat ke kantor, mereka akan membuat satu alibi yang akan mengurangi kadar kesalahan mereka di depan pimpinan, namun hal tersebut tidak berlaku bagi Kesya, alasan penyebab dirinya terlambat di sampaikan secara polos. Karena baginya apapun alasan keterlambatannya, finger scan miliknya tetap saja merah.

Terburu-buru Kesya menyalakan komputernya, kemudian jari kanannya mulai aktik mengklik icon ini dan itu. Lalu membuka sebuah buku bersampul hijau, matanya sedikit mengecil seperti tengan memikirkan sesuatu hal.  Di raihnya pena yang berada tepat di sisi kirinya “Oke…akan selesaikan siang ini juga” katanya sambil membuat garis tebal di halaman bukunya yang terdapat tulisan berhuruf capital “DEAD LINE PROPOSAL PT UNICORN”

***

Banyak yang mengatakan seorang Kesya adalah sosok yang hangat, namun dia juga sosok yang pemurung. Dan hanya seorang Santi yang mengetahui hal ini, Santi adalah salah seorang office girl yang sering menemukan coretan-coretan tangan Kesya di tempat sampah. Awal mulanya Santi, tidak terlalu mengubris apapun yang terdapat di dalam keranjang sampah milik Keysa, namun sore itu saat dirinya hendak membuang sampah milik Kesya, tanpa sengaja tubuh Santi terbentur ujung mejanya Kesya dan hal itu membuat keranjang sampah yang di pegangnya terlepas sehingga isinya berceceran.  Saat memunguti ceceran kertas tersebut, mata Santi tiba-tiba tertuju pada sebuah kertas yang penuh coretan menggunakan stabilo hijau terang, bukan warnanya yang mengundang keingintahuan Santi, namun sebuah bentuk “love” yang di dalamnya tertera sebuah nama “Kenji”

Dan sebait syair penuh luka di samping gambar tersebut, yang berbunyi

“Dunia ini menyediakan banyak hal untukku, segalanya. Namun dunia juga sudah mengambil segalanya dariku, tanpa pernah mengajariku bagaimana menerima sebuah kehilangan”

Perih. Hanya itu yang dirasakan Santi, dan sejak itu Santi mempunyai kebiasaan baru yaitu sering menyortir keranjang sampah milik Kesya sebelum akhirnya benar-benar masuk tempat sampah besar yang tempatnya berada tepat di belakang kantor.

Coretan Kesya seperti gambaran dari sebagian kisah lalunya yang terpendam.

***

“Selamat pagiiii…semuanyaa…selamat hari Jumat” Suara khas milik Kesya mengudara ke seluruh ruangan, dan dengan santai Kesya berjalan menuju tempat absennya “Untung Cuma telat 20  menit saja” katanya lirih dengan ekspresi tenang.

Beberapa mata memandang sinis pada Kesya, namun Kesya acuh tak acuh dengan tatapan itu.

Saat hendak kembali ke ruangannya Kesya berpapasan dengan Santi “Selamat pagi Mbk Santi…sudah sarapan belum ?..yuk sarapan ama saya”

Begitulah Kesya, selalu hangat pada semua orang namun hanya kaum wanita yang mampu membuatnya ramah, sementara jika berhadapan dengan kaum adam, sikap Kesya akan berubah seribu derajat.

Santi yang saat itu kebetulan belum sarapan langsung mengiyakan ajakan Kesya “Lumayan makan gratis” batinnya.

Tiba-tiba,

“..you are so beautiful…”

Lagu Michael Bolton bergema, ponselnya bordering. Kesya meraih ponsel yang berada di saku sebelah kiri blazernya.

“Waduhh..Pak Puguh menelponku..”Kesya panik saat mengetahui nomer yang muncul di layar ponselnya adalah managernya.

Kesya menekan tombol yes, namun sebelumnya mengatur nafas agar suaranya terdengar tenang. Hanya sebentar percakapan itu terjadi, namun dari jawaban yang di lontarkan, sepertinya Kesya mengiyakan ajakan Pak Puguh.

“Mbak Santi, maaf ya..sarapan barengnya batal, Pak Puguh ngajak sales nich..tapi mbak Santi tetap aja pergi sarapan, nich saya kasih mentahnya saja..untuk mbak, ya.”Kesya terburu-buru mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari saku blazernya tanpa menyadari bahwa yang dia keluarkan bukanlah selembar uang namun secarik kertas, sebuah kertas yang akan membongkar siapa Kesya sebenarnya dan mengapa sikapnya begitu dingin terhadap lawan jenis.

***

“Dear Kenji,

Beberapa malam ini rembulan tidak muncul dengan sempurna, dia malu-malu sepertinya. Padahal para bintang sudah membuka jalan selebar-lebarnya.

Dan aku, aku selalu setia terjaga setiap malam, memandang bulan dari balkon kamarku, di temani secangkir milo hangat kesukaanmu. Karena katamu “Jika kau rindu padaku, tataplah bulan kemudian berteduhnya di temaramnya, karena akan kau temukan hangatnya pelukku disana”

Nji, aku merasa jatuh cinta..lagi..setelah 4 tahun kita berpisah. Setelah 4 tahun lamanya kau dan aku memutuskan untuk berpisah. Selamanya.

Tapi sosok itu berbeda dengan mu, Nji. Dia sosok yang sama seperti ku, dia indah, lembut dan dia…dia rupawan.

Nji, apakah kehilanganmu adalah sebuah pertanda berakhirnya kenormalan milikku. Kodrat yang Tuhan berikan pada umatnya sesuai dengan kehendaknnya ?

Nji, aku bingung..aku resah…tak pernah bisa aku hapus bayanganmu..padahal lelah hati ini mengingat sesuatu yang telah di ambil sang Khalik.

Kenji Mamumoto, apa yang harus aku lakukan dengan ketidakberdayaanku ini? Aku merindukan indahnya kebersamaan dalam sebuah palung bernama jatuh cinta, tapi aku tak berdaya ketika kenangan kita yang terputus itu tiba-tiba menyeruak di antara rimbunnya keinginanku itu.

Aku lemah, Nji.

4 tahun sejak kepergianmu, hatiku pun ikut pergi bersamamu. Terbang mengikutimu, yang berada di tempat tanpa batas jangkauan.

Hidup ini mempunyai dua sisi, hidup dan mati. Tapi aku, Nji, sejak kepergiaanmu, aku kehilangan semua sisi manusiawiku, aku menjadi telanjang di antara mahluk hidup lainnya.

Nji, kini aku jatuh cinta lagi. Jatuh cinta yang kotor dan nista, tapi aku tak kuasa menolaknya. Sosok itulah yang berhasil membangunkan ku dari lelap gelisahku selama 4 tahun kepergianmu, dan aku ingin memilikinya agar senantiasa membuatku terus terjaga pada kenyataan, bukan hanya hidup dengan terus-menerus terlelap dan bermimpi yang abu-abu.

Aku mencintai seseorang yang sederhana, tapi dia mewah nuansa kasih sayang.

Nji, saat surat ini kuletakan di tempat kau tengah tertidur panjang, maka saat itu juga aku tengah memulai merajut kasih yang baru. Tapi kamu jangan khwatir, Nji, karena hanya kaulah satu-satunya lelaki yang pernah menyesap tubuhku dan mencecap bibirku hingga gigimu bergemeretak.

Ya, Nji. Aku mencintai Angel..adikmu..adik kecilmu yang dulu selalu aku temani saat les balet atau piano.

Aku sudah utarakan isi hatiku padanya, dan diapun menyimpan rasa yang sama padaku.

Nji, nistakah aku jika memilih seorang yang berkelamin sama denganku ? Sementara banyak kelamin-kelamin yang berjenis sama denganmu, berharap padaku ?

Kenji, seperti janjiku, aku tunaikan sumpah setiaku padamu. Bahwa tak akan ada seorang pria mana pun menjamahku selain kamu. Dan sekarang sudah kubayar lunas. Kenormalanku terkikis duka lara kehilanganmu.

Kenji, aku selalu mencintaimu..dan Angela..adalah sosok yang sempurna menggantikanmu.

Someone who loving you,

Kesya

***

“Selamat pagi Mbak Santi…cantik sekali hari ini..” suara Kesya pagi ini terdengar lebih riang dari biasanya saat menyapa Santi ketika berpapasan di koridor menuju ruang finger print.

“Pa..pa..giii..Mbak Kesya” Santi gugup menjawab sapaan selamat paginya Kesya. Jantungnya terasa berdebar kencang, merasa ada suatu keanehan dan sedikit risih.

“Mau sarapan bareng?” ajak Kesya sambil mengerling pada Santi.

Wajah Santi sedikit berubah, ada rona ketakutan di sana “Annu Mbak..saya sudah makan”

Kesya menoleh pada Santi, wajahnya terlihat serius memandang Santi, sontak hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman bagi Santi. Cepat-cepat dia menunduk dan segera akan pergi, menjauh dari Kesya. Namun dengan sigap di tariknya tangan Santi.

“Mbak..saya tahu..kenapa mbak begini ke saya. Mbak Santi jijik ya berada dekat dengan saya “

“A..nu..a..nu saya…” Santi tergagap menjawabnya. Ada rasa penyesalan telah membaca sesuatu yang di toreh pada secarik kertas HVS itu.

“Kemarin saya salah memberikan sesuatu pada Mbak Santi, dan saya yakin Mbak sudah membacanya..” kini Kesya mengendurkan tangannya.

“Saya lebsi, Mbak…tapi saya bahagia menjadi lesbi..bahkan jika seisi kantor ini mengetahuinya saya tidak akan malu..saya belajar lesbi karena ingin menuntaskan janji setia saya pada tunangan saya, Kenji. Saat itu, 3 minggu sebelum menikah, saat dia kembali dari Jepang, pesawat yang di tumpanginya meledak, dan dia tewas bersama 280 penumpang yang lainnya..” Suara Kesya terdengar bergetar.

“Bisakah mbak Santi, membayangkan perasaan saya..sejuta mimpi saya terhempas pada titik nol” jemari Kesya membentuk angka yang dia sebutkan.

Santi menunduk dalam-dalam, memorinya tentang Karjo tiba-tiba muncul. Karjo,  suaminya yang hilang di laut saat tengah melaut, dan hingga sekarang tidak diketahui nasibnya.

Dan hingga sekarang Santi memilih tetap menjanda, karena Santi yakin Karjo masih hidup, hanya saja mungkin dia tersesat di tempat lain.

Termasuk apa yang terjadi pada Kesya, itu adalah pilihannya untuk setia pada seseorang yang dianggap berarti.

“Mbak..jangan khawatir, semua orang berhak memilih. Dan jika itu pilihan Mbak Kesya, saya tidak punya hak ikut campur..” Santi memegang pundak Kesya.

“Memahami sebuah kehilangan mungkin pilihan yang bijak, daripada harus memvonis seseorang karena sudah melakukan sesuatu oleh sebab kehilangan itu sendiri “pikir Santi dalam hati.

Kesya langsung memeluk Santi “Terima kasih, Mbak..ternyata orang sederhana seperti mbak lebih berbudi di bandingkan orang-orang yang katanya berakal tinggi”

Kesya melepaskan pelukannya dan merogoh saku celana jeansnya, “Nich, buat Mbak Santi…sebagai ganti sarapan kemarin..kali ini benar, kan?” Kesya mengacungkan dua lembar uang seratusan kepada Santi.

Santi dan Kesya tertawa bersamaan. Dan baru kali ini Santi menyadari bahwa saat Kesya tertawa banyak bintang di matanya, namun secara bersamaan mega mendung juga hadir bersamaan.

Facebook Comments

About NOVIE OCTORA

8 comments

  1. katedrarajawen

    Wah, kudu belajar menulis cerpen sama mbak Novie nih :2thumbup

    • Selamat pagi Pak Kate,
      :)
      Saya justru belajar banyak hal melalui tulisan Pak Kate

      Salam,

  2. menghela nafas… arti kesetiaan…

    menarik, mbak Novie.. cerpen yang indah… salam.. ;)

  3. mesti berapa jempol neh gw kasiihhh…. mau dunk diajarin bikin cerpen yang ciamik kayak gituuuu :2thumbup

  4. keren abis nanda https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif