Home » FIKSI » Cerpen » Keira: Aku Bukan Patung Porselen

Keira: Aku Bukan Patung Porselen

patung1Rumah mungil bercat hijau muda yang terletak di pinggiran kota menjadi tempat tinggal Keira sekarang. Ia tengah sibuk menyiram tanaman bunganya yang mulai tumbuh subur di halaman. Mbok Rah, yang biasa membantunya membereskan pekerjaan rumah sudah pulang sejak tadi siang. Cucunya sakit, sehingga ia minta ijin untuk mengantar ke Puskesmas. Karena tak ada lagi yang dikerjakan, Keira meluluskan permintaan wanita tua itu.

“Tuan Morgan…..” serunya. Hapenya sejak tadi bergetar-getar, dan ia baru sempat untuk menjawab panggilan telepon itu.

“Iya…yaa… saya mengerti. Tapiiii…….”

“Semua sudah beres, tak ada yang mencurigaimu. Alibimu cukup kuat. Sudah, jangan khawatir lagi…..” sahut Tuan Morgan. Sayangnya, Keira tak bisa melihat seringai serigala di wajah pria paruh baya itu.

Legalah hati Keira, selama ini ia seperti mengurung diri di rumah mungil itu. Hatinya masih was-was, degup di jantungnya terasa makin menghebat bila melihat Polisi yang kebetulan lewat. Bagaimanapun, nuraninya masih melihat dengan jernih. Sepandai apapun menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya.

Pagi berikutnya, Keira sudah berdandan cantik dan wangi. Ia duduk manis di ruang tunggu yang sejuk, pandangan matanya tak lepas dari gadget di tangannya.

“Hei, Keira……sudah lama?” suara bariton Tuan Morgan mengejutkannya. Ia tergeragap berdiri, wajahnya memucat.

Sambil membuka ruangan kantornya, Tuan Morgan mempersilahkan Keira duduk di sofa. Setelahnya, ia sibuk menandatangani berkas yang bertumpuk di meja kerjanya.

Ini pertemuan pertama mereka sejak kematian Timmy. Keira masih menyimpan rasa takutnya setiap kali ingat peristiwa itu. Bagaimanapun, ia terlibat di dalamnya, ialah pelakunya. Tetapi, kepada siapa ia harus memasrahkan nasibnya?

Sempat terlintas di pikirannya, ia akan memasrahkan seluruh hidupnya mengabdi pada pria paruh baya itu. Tapi apa mungkin? Ia sibuk menimbang-nimbang.

“Yuukk….bengong aja….” Tuan Morgan menggamit bahunya, mengajaknya keluar kantor. Setelah meninggalkan beberapa pesan pada sekretarisnya, mereka melenggang ke parkiran. Mobil mewah keluaran terbaru itu segera membawa mereka menyusuri kota.

“Café Asmara…..” Keira mengeja perlahan. Sebuah tempat hiburan malam megah berdiri di hadapannya. Tak ada kerlap kerlip lampu warna warni ataupun dentuman live musik pengiring yang menemani pengunjungnya bercengkerama. Tentu saja café itu masih sepi. Ini belum jam makan siang, hanya terlihat hanya beberapa karyawan tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Niihh…diminum….” Tuan Morgan menyodorkan minuman botol.
Udara siang yang panas membuat Keira meminumnya sekali tenggak. Tuan Morgan tersenyum melihat tingkahnya. Suatu perasaan yang aneh bergerak-gerak di tubuhnya. Gelora ini membuatnya melayang, wajahnya memerah dengan bintik keringat di keningnya. Perasaannya tidak karuan, nafsu yang menuntut pelampiasan menggelepar-gelepar menelusuri sekujur tubuhnya.

*******

Malam itu Keira sampai di rumahnya hampir tengah malam. Tubuhnya terasa remuk redam, kelelahan tergambar jelas di wajahnya yang kuyu.

Sejak siang tadi ia harus menemani Tuan Morgan di ruangan khususnya yang mewah. Sebuah ruangan kedap suara yang didesain menyerupai kamar tidur, terletak agak tersembunyi di bagian belakang café mewah itu.

Seperti biasa, ia diperlakukan seperti boneka mainan. Dilempar ke sana, di telikung ke sini, diremas, digulung …….ia bagaikan sebongkah adonan roti di tangan Tuan Morgan yang bebas dibentuk sesuka-sukanya.

Keira masih bisa tersenyum saat menengok isi tas tangannya. Segepok uang teronggok di sana, beberapa perhiasan model mutakhir dalam kotak beludru warna biru tua, dan beberapa obat yang harus diminumnya malam ini.

“Haaaeeemmm….” kantuknya tak tertahan lagi. Tanpa sempat mengganti gaunnya, ia tertidur lelap.

Seseorang berbadan tegap muncul dari kegelapan. Setelah memastikan keadaan, ia menyelinap ke dalam rumah yang temaram. Ia langsung menuju kamar Keira, membuka pintunya yang tak terkunci.

Keira merasa ada seseorang menindih tubuhnya. Pelupuk matanya terasa sangat berat untuk dibuka, kesadarannya pun belum pulih sepenuhnya. Tubuh tegap itu bergerak-gerak liar, membenamkan Keira dalam-dalam di ranjangnya. Selebihnya, perempuan itu merasakan sakit yang luar biasa di pangkal pahanya.

*******

“Ya ampun….non….nooonnn Kei….” Mbok Rah yang datang tergopoh-gopoh menjerit-jerit melihat Keira yang tertidur tanpa busana. Beberapa bercak merah terlihat di punggungnya, lengannya, pahanya.

“Mbookk….” sahut Keira lemah. Tubuhnya lemah lunglai, seakan seluruh tulang-tulangnya remuk redam.

Sesiangan itu Mbok Rah sibuk merawat dan mengobati luka-luka Keira. Air matanya mengalir membayangkan kekejaman yang diterima perempuan itu semalam.

“Apa yang terjadi nooonn….? Kenapa bisa seperti ini?” ratapnya pilu.

“Entahlah Mbok….aku ….aku tidak ingat….”.

“Siapa yang melakukannya noon? Kenapa ada orang yang sekejam ini?”

~~~~~

“Bagaimana? Siip kan permainannya?” Tuan Morgan tertawa lebar melihat Baskoro mengacungkan dua jempolnya.

“Edan. Kau benar-benar beruntung mendapatkannya….” sahut Baskoro.
“Obat yang kau berikan bereaksi pada saat yang tepat. Perempuan itu hanya bisa melenguh dan merintih. Ia bahkan tak bisa membuka matanya benar-benar…”.

Tuan Morgan menepuk pundak Baskoro kuat-kuat, ia sangat senang saat melihat angka yang tertera di selembar cheque yang diulurkannya. Tak sia-sia uang yang telah dihamburkannya untuk Keira.

“Kini saatnya kau bayar semuanya Kei, lengkap berikut bunganya…” seringainya penuh kejam.

Keira belum menyadari betapa bengisnya Tuan Morgan yang dianggapnya sebagai dewa penolong itu. Dua hari tanpa gangguan, siang ini pesan pendeknya mampir di hapenya.

“Kau harus meminum kapsul warna hijau kuning itu siang ini Kei, setelah sampai di apartemen. Ini alamatnya…” demikian isinya.

Keira tak mengerti kenapa ia harus ke alamat itu, tetapi ia tak bisa menolak permintaan Tuan Morgan. Setelah berdandan, ia meraih tas tangannya lalu melangkah menuju taksi yang sudah menunggunya. Rupanya Tuan Morgan sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan seksama. Bahkan taksi pun ia yang menyediakannya.

“Tuan…….” sergahnya begitu pintu apartemen itu membuka. Keira merasa heran, mengapa siang ini Tuan Morgan berpakaian seperti itu. Kimono berbahan satin yang lembut membalut tubuhnya, sementara seorang pria asing tengah duduk di sofa yang terletak di sudut. Sambil menghisap cerutunya, pria itu memperhatikannya penuh nafsu.

Dengan menahan malu, Keira membiarkan Tuan Morgan menjelajahi tubuhnya didepan pria asing itu. Ia hendak berontak, tetapi rasa kantuk yang luar biasa segera menyergapnya. Kapsul yang tadi diminumnya sewaktu naik taksi, mulai bereaksi terhadap tubuhnya.

Ia tak menyadari bila Tuan Morgan sudah beringsut, posisinya digantikan si pria asing. Ia tak bisa membuka matanya, kesadarannya berada dalam titik terendah. Tubuhnya terasa dibanting ke sana, dilempar ke sini, dibenamkan kuat-kuat ke ranjang……. Hingga yang tersisa, pangkal pahanya terasa perih luar biasa.

Senyum Tuan Morgan melebar saat Hendra melemparkan segepok uang ke atas meja di hadapannya. Kali ini nilainya lebih besar dari cheque yang diulurkan Baskoro dua hari yang lalu. Jempolnya teracung saat pria itu melenggang meninggalkan apartemen.

Keira terisak-isak. Sekujur tubuhnya merah biru tak karuan. Gaunnya sobek di sana sini, darah meleleh di pahanya yang mulus. Dilihatnya Tuan Morgan sedang duduk di sofa, menenggak minuman.

“Tuan……kenapa….apa …. Apa yang kau lakukan…?” rintihnya.

“Haa…haaa…..haaa….” gelaknya. Bau alkohol menguar di udara.

Keira tertatih-tatih menuju kamar mandi. Sambil menangis, ia mengguyur tubuhnya dan menggosoknya dengan sabun mandi berulang-ulang. Ingin rasanya membersihkan noda yang ditinggalkan pria paruh baya itu dari tubuhnya. Tak dipedulikannya rasa pedih bagian tubuhnya yang terluka saat tersentuh air hangat.

Entah sudah berapa lama, rasanya Keira tak ingin keluar lagi dari kamar mandi.

~~ seputaran Jakal 25 03 13 ~~

===%%%%%%===

Facebook Comments

About enggar

3 comments

  1. nasib Keira sungguh tragishttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif