Home » FIKSI » Cerpen » Kaulah Ibuku

Kaulah Ibuku

kaulah ibuku

Senja sore pada hari itu, sepertinya agak sedikit berbeda dengan senja-senja sebelumnya. Terutama di dalam ruang tamu rumahku. Rumah? Pantaskah kusebut rumah? Mungkin lebih pantas lagi jika kusebut gubuk. Dinding rumahku yang sudah mulai kusam, serta merta hanya ada meja kursi yang berbahan rotan dan satu buah televisi berukuran 14 inch. Namun disinilah kami, bapak-ibu serta kedua kakakku berteduh dari teriknya matahari dan dinginnya malam berbintang. Bersama, kami tumbuh dalam kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan yang tak perlu kemewahan, hanya perlu kesederhanaan dan kebersamaan jiwa.

Bapak adalah seorang pensiunan TNI dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Meski kami hidup dalam keadaan yang tak lebih dari cukup. Bapak dan ibu selalu mengutamakan pendidikan. Mereka menanamkan kepada aku dan kedua kakakku, bahwa tak ada yang bisa mereka bekali untuk kami, selain ilmu. Karena kata mereka, dengan ilmu-lah nanti kami bisa bertahan dari macam kerasnya hidup ini. Alhamdulillah, aku dan kedua kakakku bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Kini, hanya ada bapak dan ibu tinggal berdua di rumah. Kedua kakakku sudah berumah tangga dan ikut dengan suaminya masing-masing. Sedangkan di usiaku dua puluh empat tahun ini, seusai aku menyelesaikan kuliahku. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di kota perantauanku, Surabaya, guna menempuh karir di sebuah perusahaan swasta disini. Hanya di hari-hari besar, seperti Idul Fitri kami semua bisa berkumpul bersama.

***

Kembali pada sore itu, mengapa aku bilang ada yang sedikit berbeda di ruang tamu, daripada senja-senja sebelumnya. Di sudut ruang tamu, telah duduk bapak dan ibuku bersama laki-laki yang memintaku untuk mengajaknya bertemu dengan bapak ibu. Laki-laki itu bernama mas Bagas, lebih tepatnya dia adalah kekasihku.

“Bagas, bapak dan ibu ingin berbicara denganmu”, ucap Ibu layaknya akan ada hamparan misteri dalam hidupku yang akan terungkap.

Inggih1 pak”, jawab mas Bagas pelan.

“Bapak dan ibu ingin tahu sejauh mana keseriusan hubunganmu dengan Sarah.. Serta hubungan ini akan dibawa kemana, Gas?” tanya bapak halus.

Mas Bagas-pun terdiam sesat, lantas mulai mengembangkan senyuman santun dan menjawab, “Sebelumnya saya minta maaf, pak, bu. Saya telah berani lancang mencintai Sarah..”, mas Bagas terhenti sejenak untuk menghela nafas. “Hmmm.. Bapak dan ibu, mohon izin jika saya diperkenankan, kapan orang tua saya bisa menghadap bapak dan ibu untuk meminang Sarah sebagai calon istri saya?”, lanjut mas Bagas.

Pada saat itu juga aku merasa terbang bagaikan kapas. Segalanya terasa ringan atas semua beban dari pertanyaan bapak dan ibu pada sore itu, ketika mendengar jawaban mas Bagas.

Bapak dan ibu-pun turut tersenyum. Terlihat senyuman ibu yang manis sekali. Sesaat bapak dan ibu saling memandang satu sama lain. Aku tidak mengerti bahasa isyarat apa yang mereka gunakan. Hanya gemingku, semoga bapak dan ibu merestuiku dan mas Bagas.

Bapak terlihat menghela nafas dalam-dalam, serasa ada sesuatu yang teramat berat tiba-tiba muncul dan harus segera disampaikan. Aku menunggu dengan perasaan yang carut-marut tentang sesuatu yang bapak pikirkan agar keluar dari bibir bapak. Bapak-pun perlahan mulai membuka mulut, serta senyuman manis ibu yang sepertinya menguatkan bapak untuk segera mengucapkan hal itu.

“Bagas.. Sarah.. Maafkan kami sebelumnya. Sebagai orang tua, kami akan mengatakan sebuah kenyataan yang nantinya agar bisa dijadikan pertimbangan oleh Bagas. Apakah masih akan Bagas lanjutkan untuk menjadikan Sarah sebagai istrimu..”

Deggg.. Badanku rasanya seperti terhempas dari tebing. Aku masih bingung dengan ini, ada apa sebenarnya?, batinku.

“Iya bapak, silahkan di ungkapkan dari pada semua menjadi membingungkan di kemudian hari”, jawab mas Bagas tenang.

Aku-pun hanya bisa terpaku. Pikiranku terasa kosong tidak tahu kemana arah tujuan pembicaraan ini nantinya. Lagi-lagi, bapak menoleh ke ibu. Ibu terlihat tersenyum kecil, meskipun sepertinya ada guratan rasa cemas di wajahnya. Ibu menoleh ke arahku dengan senyum manisnya, hingga membuatku terus bertanya-tanya.

“Bagas.. Sarah.. Begini. Kalian sudah dewasa pasti sudah bisa membedakan tentang sebuah kebenaran dan tentang kebaikan”, ucap ibu perlahan

“Begini ya, Sarah..” ibu mengembangkan senyumnya perlahan, meskipun terlihat jelas bahwa helaan nafasnya mengandung sedikit adanya beban mengganjal.

Nduk2, sebenarnya ibu sudah lama ingin sampaikan ini,  tetapi ibu rasa saat inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan semuanya”, ibu menghela nafas kembali dan aku-pun hanya bisa terpaku kebingungan.

“Maafkan ibu sekali lagi ya, nduk. Ibu harus sampaikan kebenaran ini. Sebenarnya, kamu bukanlah anak yang terlahir dari rahim ibu sendiri, nduk. Tetapi kamu adalah anak dari saudara kita yang pergi merantau di luar pulau sana..”, ibu melontarkan dengan sedikit canggung.

Deggg.. Subhana Allah, pukulan terberat apa ini? Mengapa aku baru mengetahui disaat aku berusia dua puluh empat  tahun ini? Seketika nanar sudah pandanganku.

Nduk, coba kamu lihat kedua kakakmu,  mbak Tutik dan mbak Rumi. Mereka semua juga bukan anak-anak ibu yang ibu kandung sendiri. Nanti, kamu bisa menanyakan kebenaran itu kepada mereka..”, ibu menarik nafas dalam sekali dan pandangannya menerawang.

“Bapak dan ibu tidak mampu memiliki anak sendiri, nduk”, lanjutnya. Seketika aku menghambur, lalu menangis di pangkuan ibuku. Aku tidak mampu berkata apapun. Hanya isak yang mampu aku suarakan. Ibu mengelus rambutku sesekali. Belaiannya terasa lebih lembut dari hari-hari sebelumnya.

Aku benar-benar tidak apa yang harus lakukan. Selama ini, bapak dan ibu selalu mengajariku makna kejujuran, ketegaran, kedamaian, keikhlasan dan semua tentang macam kerasnya hidup ini. Lalu kini aku mengetahui kenyataan, bahwa orang yang selama ini kupanggil dengan sebutan ibu, ternyata bukanlah ibu yang mengandung dan melahirkan aku?

Ya Allah, cobaan macam apa ini? Mampukah aku melaluinya setelah ini? Siapa sebenarnya aku? Lalu siapakah ibuku sebenarnya? Beribu pertanyaan berjejal di pikiran yang tak mampu terungkap.

***

Masih kuingat dua puluh satu tahun lalu, tepat di usiaku tiga tahun. Ibu sudah mengajariku menaiki sepeda kecil bekas pembelian bapak. Ibu dengan telaten menuntun sepedaku dari ujung jalan sampai rumah. Disaat aku terjatuh dengan sepeda roda tiga itu, ibu memelukku dan menggendongku terus membawa pulang ke rumah untuk di obatinya. Dan ibu tidak membiarkanku turun dari gendongannya. Kemana-mana aku selalu digendong terutama disaat aku merintih kesakitan.

Pada usia tujuh tahun, aku sudah masuk sekolah di bangku sekolah dasar. Kedua kakakku bergantian dengan ibu mengurusiku. Pada saat itu mbak Tutik duduk di bangku kuliah dan mbak Rumi duduk di bangku SMA kelas satu. Ketika mbak Tutik sedah berkuliah di kota Malang, maka sehari-hari mbak Rumi dan ibu-lah yang selalu bergantian mendadani aku jika akan berangkat menuju sekolah. Lalu, ibu-lah yang selalu menyuapiku makan, karena aku tidak mau makan jika tidak disuapin.

Bapak pada saat itu baru pensiun dari dunia kemiliteran. Namun, karena beliau masih merasa mampu untuk bekerja lagi. Akhirnya bapak, yang memiliki keahlian mekanik-pun bekerja lagi di pabrik gula yang ada di kotaku. Itu semua demi kelangsungan biaya sekolahku dan kedua kakakku. Masih ku ingat jelas, pada saat acara ulang tahun pabrik gula di mana bapak bekerja. Bapak dan ibu selalu menggendongku bergantian untuk berjalan-jalan melihat kemeriahan acara.

Begitu-pula masih teringat jelas ingatanku pada waktu acara kegiatan temu kangen batalyon bapak dulu berdinas. Bapak dan ibu dengan bangganya mengatakan kepada teman-temannya bahwa aku-lah anak terakhir mereka. Dengan wajah ceria dan penuh kebanggaan pula, ibu menceritakan kepada sesama ibu-ibu persit bahwa aku selalu menjadi juara pertama di kelas. Ibu-lah yang selalu membanggakan aku dan kedua kakakku, di depan teman-teman bapak dan ibu, siapapun itu. Ibu selalu bersemangat ketika menceritakan kegiatan sekolahku dan kedua kakakku.

Ada satu hal yang tak mungkin bisa terlepas dari ingatanku. Pada hari itu, aku berangkat sekolah. Karena ulahku yang bisa dibilang cenderung berperilaku tomboi. Aku-pun mencoba melewati sambil berlarian diatas pondasi bangunan yang tingginya sekitar satu meter. Pada saat itu, memang aku sedang ke asyikan mendengarkan alunan musik senam yang bersumber dari sebelah bangunan itu. Tanpa berhati-hati, akhirnya aku terpeleset dan terjatuh.  Menurut teman-teman, pada saat itu aku langsung pingsan. Dan, saat aku sadar, tiba-tiba aku sudah berada di dalam kamarku. Remang-remang perlahan saat aku sadar, terlihat ibu dengan matanya yang sudah sembab. Saat ibu tahu aku sudah sadar, ibu-pun langsung memelukku dan menangis.

Pada saat itu, aku tidak bisa bergerak, karena pergelangan kakikku sakit saat kucoba gerakkan. Terlihat-pula kakikku pada saat itu terbalut perban yang melingkar. Ibu-pun menyuruhku untuk tidak banyak bergerak. Ternyata bibirku juga robek. Saat ku tanya bagaimana bisa seperti itu, ibu-pun menjawab bahwa kata teman-temanku, aku jatuh terguling dan terantuk batu besar.

Tetapi dengan kenakalanku yang ada dulu, tidak pernah ku temui raut wajah ibu yang marah. Justru, yang ada kecemasan yang membara di wajahnya. Pada saat itu, hampir satu bulan semua kebutuhanku dipersiapkan oleh ibu dengan sabar dan telaten. Mulai detik itu juga, ibu tidak mengijinkanku untuk berangkat sekolah sendiri. Ibu-lah yang mengantarku sampai gerbang sekolah. Aku tercenung saat selintas kenangan nakalku menyeruak dibenakku sekarang.

***

Kini, tinggal-lah aku sekarang dengan sejuta kata tanya yang berkecamuk dalam benak. Sejuta resah terasa bergelayut menyesakkan dada. Ibu.. Siapakah ibuku sebenarnya? Pantaskah aku bertanya kepada ibu yang membesarkanku selama ini, tentang orang yang melahirkanku? Benar-benar tidak ingin hatimu tersayat, Bu. Teduh matamu, menyiratkan sejuta beban yang tak mampu kubayarkan dengan materi apapun.

Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis tersendu di pangkuanmu. Tanganmu kirimu mengelus rambutku berkali-kali dengan lembut, sedangkan tangan kananmu menggenggam tanganku erat, seolah memberi ketegaran kuat untukku. Pelan tapi pasti. Desir lembut kekuatanmu perlahan menjalar menuju denyut nadiku. Aku hanya membisu sambil berusaha menghentikan tangisku serta mencoba membangun puing-puing kekuatan.

“Bapak dan ibu, terima kasih sebelumnya, sudah menyampaikan semuanya. Nanti, saya akan bicarakan semuanya dengan orang tua saya, pak, bu..” mas Bagas memecahkan keheningan sejak tadi. “Namun, ada satu hal yang perlu bapak dan ibu ketahui. Saya tidak ada niatan untuk mempermainkan hubungan saya dengan Sarah. Karena saya mencintai Sarah, pak, bu..” lanjut mas Bagas.

Jawaban mas Bagas begitu lembut, selembut sejuknya semburat jingga senja itu. Walau dalam bathinku yang terdalam terasa kosong dan hampa. Karena aku sudah tidak berani berharap lebih bagaimana akhirnya nanti penerimaan keluarga mas Bagas terhadap aku, jika mengetahui siapa aku yang sebenarnya. Dan aku hanya mambu berserah dan pasrah kepada Allah bagaimana jalan hidupku nantinya.

***

Delapan belas tahun kemudian..

Sore ini, binar-binar hujan menyeruak dalam kulitku. Ku pandangi awan yang meneteskan hujan dari balik jendela kamarku. Terlihat pula di luar ada putraku kedua yang berusia enam tahun berlarian semburat dengan air hujan. Di sampingku, putraku ketiga yang berusia satu tahun sedang tertidur pulas di kasur empuk kamarku. Hmmm.. Aku bersyukur dengan nafas yang begitu lega.

Kenangan-kenangan yang berbaur dengan hujan tadi seolah memang menceritakan sebuah cerita yang amat indah. Ibu, andaikan dirimu masih bisa mendampingiku. Ibu pasti akan bangga melihat kelucuan cucu-cucumu. Mengapa hanya sampai putriku pertama berusia dua tahun dulu, ibu segera menyusul bapak menghadap-Nya? Andaikan ibu bisa menyaksikan kelahiran cucumu yang kedua dan ketiga, pasti putra-putraku akan sangat menyayangimu ibu disini. Mereka tidak pernah tahu eyang-kung dan eyang-ti mereka. Bahkan ketiga anakku hanya bisa mengenal wajah ibu dan bapak dari foto kenangan yang terbingkai dan tergantung abadi di ruang keluarga kami.

Andai ibu masih di sampingku, tentu ibu ikut serta dalam bahagiaku hidup bersama suami yang begitu sempurna seperti mas Bagas. Dia benar-benar bisa menerima keadaan kita apa adanya, Bu. Kini, aku sosok yang bandel dulu menjadi wanita karir seperti pintamu dulu. Wanita karir yang tidak pernah menghilangkan kewajibanku sebagai seorang istri dan ibu.

Sampai akhir hayatmu dulu, aku-pun tidak pernah ingin mengetahui jelas siapa yang telah melahirkanku. Karena aku sudah mengetahui jawaban yang pasti selalu keluar dari bibir ibu, yaitu akulah ibumu.

Aku tahu dan aku mengerti tak ada panggilan Ibu bagiku selain untukmu. Sampai detik ini, hanya satu ibu yang aku tahu. Kaulah Ibu ku,walau aku bukan anak yang terlahir dari rahimmu. Karena dirimu tak akan bisa terganti dengan apapun, dalam tiap detik nadiku berjalan.

Ibu terima kasih atas kasih sayangmu yang tak pernah usai. Semoga kau selalu damai di sisi Allah. Doa kami selalu terucap untukmu. Hanya senyum abadimu yang selalu terngiang dalam hidupku. Aku berharap senyummu selalu mengembang indah disana, saat kau menyaksikan kebahagian kami di sini. Putih kasihmu akan selalu abadi dalam hidupku, Ibu.

Inggih1: Iya (dalam bahasa Jawa)

Nduk2: Panggilan anak perempuan (dalam bahasa Jawa)

Facebook Comments

About Ay Mahening

4 comments

  1. Ibu selalu menjadi sosok yang membangun… Berikanlah kesehatan untuk ibu hamba Ya Alloh.. :maafagan

  2. :2thumbup …selamat hari ibu mbak Ay…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif