Home » FIKSI » Cerpen » Saat Kau Melupakanku

Saat Kau Melupakanku

Aku masih dapat mengingat saat pertama kali kau datang ke tempatku. Kau  datang bersama Mama dan Papa.  Kau mengenakan rok putih dengan motif bungan-bunga kecil berwarna-warni. Atasan yang kau kenakan kaus putih polos.  Gerakanmu sangat lincah khas anak-anak kota yang sehat dan penuh percaya diri.

 Matamu berbinar saat pertama kali melihat ke arahku kemudian kau menggamit lengan Mama dan menariknya berjalan  ke arahku. Mama yang tengah berbincang dengan Papa terpaksa menghentikan percakapannya dan mengikuti arah langkahmu.

“Ma, aku mau dia. Aku mau dia yang menemaniku di rumah” bisikmu ke telinga mama.  Suaramu kurang pelan untuk sebuah bisikan sehingga aku bisa mendengarnya. Ucapanmu itu memberi pengharapan tersendiri di hatiku. Aku akan mempunyai keluarga.

“Yang mana, sayang?” tanya mama kepadamu sambil menatap ke sekeliling ruangan.

“Itu, Ma. Itu yang mengenakan baju biru.” Kau menunjuk-nunjuk ke arahku sampai mama dapat mengerti maksudmu.

“Oh, yang itu. Mama setuju. Dia memang pantas untuk menjadi sahabatmu.” Kalian lalu menghampiriku dan membelai punggungku.

Setelah Mama dan Papa berdiskusi sejenak akhirnya aku ikut denganmu. Bahagia rasanya menjadi yang terpilih di antara sekian banyak kawan-kawan yang tentunya sangat  mendambakan bisa seberuntung aku.  Kini aku memiliki keluarga, memiliki saudara secantik dan sebaik kamu.

Saat pertama aku memasuki rumah kita, aku diliputi kebimbangan. Saat itu Mama melarangmu mengajakku tidur sekamar denganmu. Mama  bahkan Papa juga menghendaki aku menempati ruanganku sendiri.  Kamu bersikeras dengan keinginanmu begitu juga mama dan papa.

Aku hanya diam, aku takut suaraku justu dapat memperkeruh suasana lalu mereka batal mengijinkanku menjadi temanmu. Aku tidak terlalu memperhatikan bagaimana caramu merayu mama dan papa. Aku hanya melihat dengan kebingungan saat kau berlari meninggalkan kami di ruang keluarga menuju kamarmu. Mama dan papa lalu menyusulmu dan setelah itu kamu muncul lagi dengan senyuman mengembang, menghampiriku, memelukku dan mengajakku ke dalam kamarmu. Sejak saat itu aku menjadi yang pertama mengetahui setiap apa yang kau inginkan, setiap apa yang menjadi keluh kesahmu. Kau selalu bercerita kepadaku. Kita bersahabat. Kita tidur satu kamar.

“Gea,  besok kamu sudah mulai sekolah. Kamu harus belajar bangun pagi dan mempersiapkan diri.” Ujar mama suatu malam saat kami tengah berkumpul di ruang keluarga.

“Ya, Ma” jawabmu singkat.

“Sekarang Gea harus tidur. Ayo ajak Moni juga.” Lanjut Mama.

“Ma, Moni juga ikut sekolah, kan?” tanyamu sambil melangkah menuju kamar.

“Tidak boleh, Gea. Moni tidak bisa sekolah di tempatmu.” Mama menjelaskan.

“Terus Moni sekolah dimana?” tanyamu lagi.

“Moni di rumah saja menunggumu. Atau nanti Mama ajak dia untuk mengantar dan menjemputmu.” Mendengar jawaban Mama kamu menghentikan langkahmu.

“Ma, kalau Moni tidak sekolah nanti dia bodoh. Aku gak mau temanku bodoh.” Kamu berkata sambil cemberut.

“Moni tidak akan bodoh. Mama yang akan mengajarinya supaya menjadi pintar.”

Sejak hari itu, bila kamu berangkat sekolah aku menemani mama di rumah. Mama mengajariku banyak hal. Kadang-kadang Mama juga mengajakku jalan-jalan setelah mengantarmu ke sekolah.

Menjadi bagian penting dalam hidupmu, menerima limpahan sayang dari seluruh keluarga adalah hal yang paling membahagiakanku. Sering aku berdoa agar semua ini tidak pernah berakhir. Di rumah ini bukan kamu saja yang selalu peduli kepadaku, Semuanya, ya semuanya! Setiap pulang kerja papa akan mengusap tubuhku dengan sayang. Di ruang keluarga, saat kita menikmati siaran televisi,  Mama selalu meletakanku di atas pangkuannya. Pagi, siang, dan malam Mbok Nah tidak hanya menyiapkan hidangan untuk kamu, Mama, dan Papa, tetapi untukku juga.

@@@

Tetapi kini ada yang berubah. Sejak kau mengenakan seragam putih abu-abu dan Papa memberimu hadiah ulang tahun sebuah ponsel. Kau mulai menjauh dariku.

Jika dulu, saat kau tengah sibuk  menyelesaikan PR lalu aku menghampirimu, menyentuh lenganmu, maka kau akan berhenti sejenak untuk mengusap kepalaku. Kini, ketika kau asyik berbincang dengan seseorang melalui ponselmu, kau tidak mempedulikan kehadiranku.

Kaupun tidak pernah lagi bercerita kepadaku tentang pengalamanmu di sekolah. Tiba di rumah kau langsung menghempaskan tubuhmu di tempat tidur, bahkan tanpa mengganti seragammu terlebih dahulu. Di atas tempat tidur itu, bermenit-menit bahkan mungkin berjam-jam kau berbicara dengan seseorang melalui ponselmu. Aku? Hanya menatapmu dengan rasa kehilangan yang sangat.

Walapun sikap Mama dan Papa, juga Bik Nah, tidak berubah aku tetap saja merasa kesepian. Rasa sedih ini sampai membuatku sakit.

Dalam sakitku aku berharap sikapmu kembali seperti semula. Dahulu, ketika kau merasakan tubuhku panas karena demam, sepanjang jalan menuju kinik kau menangis sambil terus memelukku.Setiap hari kau yang merawatku sampai aku kembai sembuh.

Hari ini aku ke klinik hanya ditemani oleh Bi Nah.

Tidak biasanya klinik sangat ramai. Bi Nah duduk di ruang tunggu sambil memangku tubuhku.

“Aduh kasian, sakit, ya? Siapa namanya?” ujar seorang perempuan muda yang baru saja keluar dari ruang periksa dan duduk di samping Bi Nah.

“Moni” ujar Bi Nah.

“sakit apa, Bu?” tanyanya lagi sambil menekan tuts angka pada ponselnya.

“Badannya panas, enggak mau makan” jelas Bi Nah lagi.

“Memang sedang musim. Cepat sembuh, ya…” ujarnya sambil mengusap kepalaku. Perempuan itu lalu berkata melalui ponsenya. “Aku sudah selesai.”  Setelah itu melangkah keluar meninggalkan  ruang tunggu klinik.

Aku menikmati usapan itu. Ada ketulusan yang dia salurkan melalui telapak tangannya. Tiba-tiba saja ada ide aneh yang muncul di kepalaku. Aku segera meluncur dari gendongan Bi Nah dan berlari ke luar mengejar perempuan muda itu. Aku berniat ikut pulang ke rumahnya. Tanpa aku sadari sebuah kendaraan lain memasuki halaman kinik dan menghantam tubuhku. Aku terhempas.

“Bu, kucingnya ketabrak!!” samar-samar aku mendengar  teriakan perempuan muda itu dan setelah itu sepi…

 

 

 

 

 

kucing

Facebook Comments

About yety Ursel

14 comments

  1. Saat kami masih kecil, di rumah juga ada kucing yang manis dan tahu jika namanya di panggil. Kucing juga punya perasaan :(

  2. Oohhh…. endingnya bikin nyesek, bund…
    Jangan dulu mati dong, kucingnya..https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

  3. Mas Hans, Mas Odi terima kasih untuk kunjungannya

    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  4. katedrarajawen

    Ow…ini si Moni kucing toh hehehe…aduh kenapa sekarang saya gak suka kucing ya? Ini si hitam pengennya gosok2 badannya ke kaki, geli

  5. cerita yang menarik, Bunda Yetty.. kadang sesuatu yang baru, menyisihkan kehadairan yang lama….

    Di rumah Saya juga ada kucing Bund.. tapi munkin kucingnya ngga seindah Moni

    salam, Bunda Yetty.. (Bunda Yetty Rangkaters kah? :) )

  6. Kami sekeluarga memang penyuka kucing. Mas En-Ka. Betul saya rangkaters tp masih bingung dg rumah baru ini makanya lupa bawa logo. Pak Katedrarajawen, kucing kalau garuk- garuk itu minta di elus. Makasih untuk kunjungannyahttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gifhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  7. Mas Arman… Moninya masih pinsan hehehttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

  8. Empusss…. Kasihan :(
    Bund, cerpennya unik. Suka
    :2thumbup

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif