Home » FIKSI » Cerpen » Korupsi Menjelang Pemilu 2014

Korupsi Menjelang Pemilu 2014

tikus

www.tempo.co

Ini adalah sebuah legenda tentang seorang pembela kebenaran. Kisah ini bermula di suatu desa, di bumi indonesia, pada saat menjelang pemilu 2014…

Keningnya berkerut, kumisnya turun naik, tatapan matanya jauh menerawang. Bona menggaruk-garuk kepalanya yang botak dan berketombe itu. Itu tandanya Bona sedang berpikir. Udah beberapa lama ini Bona mendengar gosip bahwa Pak Lurah korupsi uang beras miskin. Dari total bantuan beras miskin 25 juta rupiah, Pak Lurah hanya membagikan 15 juta rupiah aja. 10 juta rupiah nya, entah raib dimana. Tapi ini baru gosip. Bona gak yakin sama kebenaran gosip ini. Masa sih Pak Lurah korupsi. Pak Lurah kan udah kaya. Mobil nya aja Xenia, mengkilat, mulus. Padahal orang di kampung sukamiskin ini jarang yang punya mobil. Satu – satunya orang yang punya mobil selain Pak Lurah cuma Haji Basri. Itu pun cuma Suzuki Carry tahun 90an. Gak mulus dan gak mengkilat kayak mobilnya Pak Lurah.Bunyinya aja beda.
Bunyi mobil Pak Lurah: ce ce ces, brummm.
Bunyi mobil Haji Basri: ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ce ces, ngik ngik ngik ngik, brum ngik ngik, ce ce ce ce ce ces ces ces, brum, ngik ngik ngik.
Mobil Pak Lurah pakai bensin murni. Mobil Haji Basri pakai bensin campur, campur dorong. Beda lah pokoknya mah. Bona yakin, Pak Lurah gak bakal sampai hati mengkorupsi uang beras miskin. Namanya aja beras miskin. Artinya kan bantuan beras untuk rakyat miskin yang gak bisa beli beras. Memang Bona kurang simpati sama Pak Lurah karena menghalang-halangi hubungannya dengan Nyi Iteung, kembang desa anaknya Pak Lurah. Tapi bagaimana pun Bona yakin bahwa Pak Lurah tuh orangnya baik, gak akan sampai hati merampok warga desa. Pak Lurah seringkali memberi pertolongan sama warga desa yang sedang kesusahan. Ngasih pinjem beras barang seliter dua liter mah biasa. Bahkan pernah Pak Lurah pernah ngasih keluarga Bona 5 liter beras, waktu malam lebaran. Masa sih Pak Lurah korupsi beras miskin. Gak mungkin ah, pikir Bona.

“Pak Lurah KoRRRupSSSi.”
“Pak Lurah KoRRRupSSSi.”
“Pak Lurah KoRRRupSSSi.”

Begitu banyak suara di sekitar Bona. Semua orang berteriak. “Pak Lurah KoRRRupSSSi”. Bapak – bapak, ibu-ibu, sampai mba-mba seksi juru ketik desa. Kepala Bona pening. Bona gak tahan dengan suara – suara yang begitu menggema itu. Bona berlari ke hutan, lalu ke pantai. Hehe, gak deng. Ke sawah aja, lebih deket. Di tengah jalan Bona ketemu nenek-nenek, rambutnya beruban, kulitnya keriput, pakai bikini merah muda. Lho? Bona merasa ada yang aneh sama nenek-nenek itu. Oh, bulu keteknya lupa dicukur, pikir Bona. Tiba-tiba nenek-nenek itu memanggil Bona.

“Ujang, kesini sebentar”
“Ada ada nek?”
“Pak Lurah KoRRRupSSSi.”

Eh, si nenek ikut-ikutan juga. Bona lalu kembali berlari ke sawah. Bona sampai di saung, salah satu tempat paling cozy kesukaannya. Tiba-tiba ada kodok lompat kearahnya. Wah, lumayan nih, pikir Bona. Buat nambah-nambah lauk makan siang. Kodok itu membuka mulutnya, dan lalu…

“Pak Lurah KoRRRupSSSi.”

“Hwaaaaaaaaaaaa!!!!!” Bona terbangun dari mimpinya. Piuuuhhh, untung cuma mimpi, pikir Bona. Tapi Bona merasa ini adalah firasat, tandanya dia harus bergerak. Maka Bona pun mulai bergerak mengikuti alunan kopi dangdut. Bukkkaaannn. Bukan gerakan yang itu, pikir Bona. Bona harus bergerak menyelidiki sendiri kebenaran gosip ini. Kebenaran harus terungkap! Kalo memang benar gosip Pak Lurah korupsi, Pak Lurah harus bertanggung jawab. Kalo gosip itu tidak benar, maka nama baik Pak Lurah harus dipulihkan. Bona gak mau rasa resah ini terus membayanginya, menjelma menjadi nenek – nenek pakai bikini merah muda dalam mimpinya. Lebih baik Bona mimpi ketemu Nyi Iteung pakai bikini kuning golkar daripada mimpi ketemu nenek – nenek pakai bikini merah muda. Bona pun mulai merencanakan aksinya. Dia datang ke rumah Asep, sahabat baiknya.

“Sep, kita harus bergerak”.
“Bergerak mengikuti alunan kopi dangdut Bon?”
“Bukaaaannnn. Bukan gerakan yang itu. Bergerak menyelidiki kasus korupsi Pak Lurah.”
“Ha?”

Malam itu terlihat dua bayangan berkelebat diantara pepohonan di halaman rumah Pak Lurah yang luas. Keduanya tampak menggunakan kain sarung sebagai penutup kepala untuk melindungi identitas mereka. Senjata ala cimande, Golok Pembunuh Ayam, terselip di pinggang Batman. Sedangkan Doreamin tampak membawa senjata andalannya, tongkat pemukul anjing.

“Bon..”
“Syyuuuut. Jangan panggil nama asli Sep. Panggil nama samaran aja.”
“Apa?”
“Batman kasarung. Tapi biar lebih simple, panggil aja saya Batman.”
“Lalu nama samaran saya apa?”
“Doraemon.

Keduanya melompat ke atap. Satu lompatan ke udara dan jreng jreng jreng, mereka sudah ada di atas atap. Ilmu meringankan tubuh ala penca cimande yang mereka kuasai membuat lompatan itu terlihat sangat mudah. Bona, sorry, Batman bertanya pada Doraemon:

“Mon, saya punya sedikit pertanyaan.”
“Apa Man?”
“Kenapa kamu pakai celana kolor di luar?”
“Supaya seperti superhero di pelm-pelm Man.”
“Kenapa pakai yang warna merah?”
“Kalo pakai yang ijo nanti disangka kolor ijo Man.”
“Owwhh..”
“Kamu sendiri kenapa pake sarung belang-belang gitu Man?”
“Kan yang belang memang lebih asyik.”

Batman memberi isyarat kepada Doraemon untuk melompat. Mereka sudah ada di ruang tengah Pak Lurah sekarang. Rumah Pak Lurah adalah rumah gaya raden – raden jaman jadul. Rumah luas dengan ukiran disana sini dan ruangan khas di tengah rumah yang sengaja dibiarin bolong, gak ada atapnya. Biasa dipakai untuk berjemur, baik itu menjemur badan ataupun menjemur rangginang. Karena itu Batman dan Doraemon bisa dengan mudah menyusup ke rumah Pak Lurah. Dari pantulan cahaya rembulan terlihat Batman memberikan instruksi kepada Doraemon.

“Mon, kita berpencar. Kita geledah rumah ini. Cari bukti apakah benar Pak Lurah melakukan korupsi.”
“Seperti?”
“SEPERTI KOPER BERISI UANG 10 JUTA YANG ADA TULISANNYA “INI HASIL KORUPSI”!!, ujar Batman kesal.
“Kalo tulisannya ‘ini bukan hasil korupsi’ gimana?”
“Gkckckkgckgkgkckgk.”

Batman dan Doraemon berpencar. Dengan gaya mengendap-ngendap tapi masih tetap terlihat elegan dan kasual, Batman berjalan menuju kamar anaknya Pak Lurah, Nyi Iteung. Nyi Iteung masih tertidur lelap. Meni geulis Nyi Iteung teh, pikir Batman. Batman mengelus-elus rambut Nyi Iteung yang hitam tergerai. Colongan. Raut wajah Nyi Iteung yang tetap cantik walopun sedang tidur itu sempat membuat niat Batman goyah. Tapi Batman memantapkan hatinya. Maapkan Aa Nyi Iteung, tapi kebenaran harus terungkap.

Batman gak menemukan bukti apa-apa di kamar Nyi Iteung. Batman beranjak ke kamar Pak Lurah. Pak Lurah dan istrinya masih tertidur pulas. Batman membuka lemari, tapi malah menemukan ayam. Oh, mungkin takut ilang. Makanya tu ayam ditaro di lemari, pikir Batman. Itu biasa. Batman merangkak ke kolong tempat tidur. Tangan Batman meraih sesuatu yg berwarna hitam. Eh, ternyata itu kambingnya Pak Lurah. Bukan yang ini. Batman memasukkan kambing itu kembali ke kolong tempat tidur. Batman lalu meraih koper yang ada disebelah kambing. Koper hitam. Di bagian luar koper itu tertulis ‘Ini bukan hasil korupsi’. Wah, jangan-jangan bener kata si Doraemon, pikir Batman. Pak Lurah memang cerdik, menyembunyikan koper dibaik kambing. Koper itu terkunci. Tapi dengan ajian penca cimande, Ilmu Elang Membuka Koper, Batman bisa membuka koper yang terkunci itu dengan satu sabetan golok. Dalam koper itu Batman menemukan uang seratus ribuan total 10 juta dan sebuah dokumen. Salah satu dokumen tenyata adalah invoice penyerahan dana bantuan beras miskin dari pemerintah kepada desa sebesar 25 juta rupiah. Padahal selama ini Pak Lurah selalu bilang dana bantuan dari pemerintah cuma 15 juta rupiah. Pak Lurah ternyata korupsi!!

Batman segera keluar dari kamar Pak Lurah, tapi sarungnya tersangkut gelas di atas meja dan membuat gelas itu pecah. Pak Lurah terbangun, terkejut melihat ada orang bertopeng di kamarnya. Pak Lurah reflek meraih Golok Pembunuh Sapi yang tergantung di dinding kamarnya.

“Siapa kamu?”
“Saya teh Batman Kasarung”.
“Batman kok pake teh?”
“Iya. Saya teh Batman.”

Keduanya segera terlibat pertarungan. Bunga api bertebangan di udara. Besi berdentingan. Batman mengeluarkan jurus tendangan kaki kuda. Pak lurah menangkis dan membalas dengan jurus tendangan kaki gajah. Pak lurah mengeluarkan jurus cakar naga, Batman mengelak dan membalas dengan jurus cakar ayam (eh, itu ceker ya?). Ilmu silat yang dimiliki keduanya tampak seimbang. Tapi dalam waktu tak lama senjata pusaka yg dimiliki Pak Lurah mulai membuat Batman kewalahan. Senjata Batman, Golok Pembunuh Ayam, ternyata tak sanggup menandingi kekuatan Golok Pembunuh Sapi milik Pak Lurah. Batman bersuit memanggil bantuan rekannya, Doraemon. Doraemon segera datang memberikan bantuan dan menyerang dengan senjata pamungkasnya, Tongkat Pemukul Anjing. Doraemon menyerang bertubi-tubi. Sayangnya, ternyata tongkat itu hanya efektif untuk memukul anjing, bukan manusia. Doraemon pun kewalahan. Mendengar keributan, Nyi Iteung pun terbangun. Kaget melihat ada dua orang bertopeng, yg satu pakai kolor merah di luar, Nyi Iteung pun pingsan. Tapi sebelum pingsan, Nyi Iteung masih sempat berteriak2 minta pertolongan. Batman dan Doraemon kaget. Doraemon langsung bergegas melarikan diri. Batman? Batman bergegas melarikan Nyi Iteung. Colongan. Kaget anaknya dilarikan, Pak Lurah pun mengejar Batman. Berlari sambil membopong Nyi Iteung di bahu kanan dan mengempit koper di ketek kiri membuat Batman gak bisa berlari kencang. Setelah berlari 200 meter, akhirnya Batman terkejar. Pak Lurah tiba2 saja sudah berdiri di depan Batman. Tiba Batman merasakan seseorang menusuknya dari belakang. Pak Lurah? Bukan. Pak Lurah sih berdiri di depannya dari tadi juga. Batman menengok ke belakang, ternyata Doraemon lah yg menusuknya dengan senjata rahasia, cutter pemotong kertas. Batman jatuh bersimbah darah. Nyi Iteung pun berpindah tangan, dari tangan Batman ke tangan Doraemon. Koper hitam? Koper hitam berpindah ketek, dari ketek Batman ke ketek Doraemon.

“Mon, teganya dirimu. Kenapa?”
“Karena saya mencintai Nyi Iteung, Man.”
“Huhu. Kamu rela mengkhianati teman dan idealisme demi cinta, Mon? ”
“Man, demi cinta, sakit gigi pun aku rela.”
“Mon, lebih baik aku mati saja.”
“Mati aja Man. Gak usah bilang2.”
“Huh, tega!”

Hari itu, di pendopo desa, seminggu setelah pemakaman Bona a.k.a Batman Kasarung.
“Saya nikahkan Nyi Iteung binti Pak Lurah dengan mas kawin satu ekor kambing jantan, satu ekor sapi, sepuluh ekor ayam, dan lima belas ekor anak itik dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Nyi Iteung binti Pak Lurah dengan mas kawin satu ekor kambing jantan, satu ekor sapi, sepuluh ekor ayam, dan lima belas ekor anak itik dibayar tunai.”
Asep, sang pengkhianat, menikah dengan wanita pujaannya dan hidup bahagia. Pak Lurah sang koruptor, melenggang kangkung sebagaimana halnya banyak koruptor2 Indonesia lainnya. Bona a.k.a Batman Kasarung, sang pembela kebenaran, mati. Seperti banyak pahlawan lain di bumi Indonesia ini, tanpa imbalan, tanpa tanda jasa. Persis seperti pepatah mengatakan, ‘Berakit-rakit kita ke hulu, berenang kita ketepian. Bersakit dahulu, senang pun tak datang, malah mati kemudian.’
Jangan kaget, jangan heran. Kisah ini bukan terjadi di negeri dongeng, dimana pembela kebenaran selalu menang. Kisah ini terjadi di bumi indonesia, negeri para penipu, surga para koruptor.

Facebook Comments

About verdiaja

2 comments

  1. katedrarajawen

    gile kocok eh kocak bin keren ceritanya , kang Verdi. Koruptor dan penghianat, membungkam kebenaran. Untung masih ada kpk yang lumayan.

  2. isinya memang kontekstual… satu tema dengan tulisanku ini
    https://ketikketik.com/fiksi/cerpen/2013/12/26/opini-lawan-pelacur-negeri-sipil-pns.html

    Hanya critanya saja terlalu banyak fantasi hingga terkesan meninggalkan realitas. Dan maaf, aku agak susah membedakan apakah ini termasuk cerpen atau novel pendek..
    Tapi baguslah, yang penting ada muatan anti korupsi he he he…
    selamat berkarya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif