Home » FIKSI » Cerpen » Pelaminan Naga Merah

Pelaminan Naga Merah

1369680168694733387_300x290.90909090909

Desa Gebang… Tangerang…

Setelah memarkir angkot di garasi dan menyerahkan setoran kepada bossnya, Jamal seperti biasanya pulang menuju rumah kontrakannya dengan berjalan kaki… hanya tinggal satu gang lagi ketika tiba-tiba segerombolan pria mengurungnya dan menghujamkan pukulan bertubi-tubi dan craasshhh sebuah sabetan pedang menghujam punggung Jamal… tanpa ampun ia pun terjerembab… seorang dari gerombolan yang masih memegang pedang merogoh kantong belakang celana jeans Jamal… mengambil dompetnya, membuka dompet itu, membaca KTP dan bersuara…

“Heeiii bukan ini orang yang di maksud!!! Gimana kamu Hah! Celakalah kita! Ayoo Kabur!” Menarik kerah baju salah seorang dari mereka sebelum memerintahkan agar segera meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Jamal dalam keadaan terluka…

Setelah gerombolan itu pergi… barulah 2 orang pedagang rokok yang sedari tadi menyaksikan berani mendekat dan segera meminta bantuan warga di sekitar untuk membawa Jamal yang tak sadarkan diri dengan luka sabetan pedang di punggung namun masih bernafas ke rumah sakit terdekat.

Salah sasaran… yang berujung benih dendam dalam hati dan pikiran Jamal…

***

Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, Jamal diperbolehkan pulang setelah seluruh biaya perawatannya dibayarkan oleh bossnya. Dan Jamal pun berjanji akan mengembalikan semua uang yang telah dikeluarkan bossnya. Walaupun hidup sederhana Jamal tak terbiasa memiliki beban hutang. Ia selalu hidup apa adanya.

Selama 2 bulan Jamal beristirahat hingga bekas lukanya mengering. Luka yang meninggalkan sebuah goresan panjang di punggungnya. Goresan yang ternyata menimbulkan dendam dalam hati Jamal.

Siang itu setelah berpamitan akan pulang dulu sementara ke kampungnya di Pandeglang dan ia berjanji kepada bossnya akan segera mengembalikan uang yang telah dikeluarkan bossnya walaupun bossnya sendiri ikhlas kepadanya karena Jamal memang selalu bekerja dengan baik dan merawat angkotnya dengan baik. Berangkatlah hari itu juga Jamal ke Pandeglang ke rumah orang tuanya.

***

Di Pandeglang, Jamal mendapatkan petunjuk dari seorang sahabatnya mengenai seorang guru hebat yang tinggal di pulau Sebesi dekat pulau Anak Krakatau.

Tak menunggu lagi, sehari kemudian Jamal pun menuju ke pulau Sebesi dan setelah bertanya ke banyak orang selama perjalanan dengan menaiki beberapa kendaraan pengangkut barang serta menumpang sebuah kapal Nelayan yang biasa melaut dan melintasi perairan laut sekitar pulau Sebesi.

Menjejakkan kakinya di pulau yang masih asing baginya kemudian bertanya-tanya kembali hingga akhirnya Jamal tiba di sebuah gubuk di dekat hutan mangrove… berdiri sejenak menatap gubuk itu dari jarak beberapa meter… kemudian melangkah menghampiri dan ketika akan mengetuk pintu…

“Masuklah… “ dengan perasaan aneh Jamal mengikuti suara yang menyuruhnya masuk.

Memasuki ruangan yang hanya berbentuk kotak dengan sebuah meja kecil di tengahnya dan pada bagian kanan ruangan terdapat sebuah Arca Naga berwarna Merah. Jamal menatap Arca Naga itu… kemudian segera memalingkan tatapannya ke tengah ruangan dengan perasaan berdebar karena tatapannya pada Arca Naga itu seolah bersambut dengan tatapan mata menyala dari Arca Naga itu.

Jamal melangkah kemudian duduk bersila mengutarakan maksud kedatangannya kepada lelaki tua yang duduk berhadapan dengan meja. Mereka pun berhadapan dan Jamal bercerita…

“Hatimu penuh dendam… Nak. Mungkin akan sulit bagimu mendapatkan keinginanmu… namun semua bergantung pada dirimu juga… hari sudah sore… makanlah dahulu kemudian kau bisa tidur di tempat ini!” Lelaki tua itu mengajak Jamal ke belakang untuk membantunya memasak dengan kayu bakar.

***

Selesai menyantap makanan… Jamal pun tertidur karena lelah dalam perjalanan tadi siang…

“… mengendap-endap di antara rimbun pepohonan di lembah Krakatau… tiba di mulut gua… masuk dan pandangan mata beradu dengan sebuah mutiara merah sebesar bola pingpong… mengambil mutiara itu dan sebuah gibasan ekor binatang besar mengagetkan… lari tunggang langgang di kejar seekor Naga Merah yang mengamuk karena mutiaranya di ambil… hingga di tepi jurang karang yang menyajikan pemandangan laut di bawahnya… tak ambil resiko diberangus oleh sang Naga… ditelanlah mutiara itu dan menjatuhkan diri ke laut di bawahnya…”

“Aarrhhhh tolong.. tolong.. tolong…!” Jamal terbangun ketika Lelaki Tua di gubuk itu menggoyang-goyangkan dadanya. Sebuah Mimpi…

“Duduklah Nak…!”

Belum lagi Jamal duduk dengan posisi utuh… tiba-tiba lelaki tua itu menghujamkan sebuah tombak besar ke arah dada Jamal… Jamal terkesiap tanpa sempat berteriak…

“Dreeggg…” Suara ujung tombak yang beradu dengan tulang dada Jamal… Jamal sedikit terhuyung… tak tembus sedikitpun hujaman penuh tenaga tombak besar itu… tak mampu menembus tubuh Jamal.

Jamal melihat ujung tombak yang masih menempel dikulit dadanya… tatapannya menjadi tajam dan terarah ke lelaki tua di depannya yang tersenyum… Jamal pun tersenyum.

“Kau berhasil Nak… duduklah!” Jamal pun duduk di hadapan lelaki tua itu disusul dengan mencium telapak tangan lelaki tua itu.

“Segala sesuatu di alam ini tak ada yang sempurna Nak… demikian dengan yang kau dapatkan… ada titik lemahnya yang merupakan pantangan yang harus kau jaga!” Lelaki tua mengelus jenggotnya yang panjang.

“Apa yang harus saya hindari Pak…?” Jamal sedikit penasaran.

Lelaki tua itu meminta jamal mendekatkan wajahnya…kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Jamal. Jamal mengangguk dengan sebuah senyuman.

“Ketika kau sudah selesai dan ingin menikah… kembalilah ke tempat ini Nak dan kembalikanlah mutiara Naga Merah yang kini ada dalam jantungmu itu! Jika sudah selesai kembalilah ke rumahmu sekarang juga dan jalani hidupmu dengan penuh rasa rendah hati!” Lelaki tua itu berpesan kepada Jamal.

Jamal mengucapkan terima kasih dan berpamitan… sebelum melangkah jauh ia melambaikan tangannya ke arah lelaki tua yang telah dianggapnya sebagai gurunya…

“Ingat kembalilah jika ingin menikah!”… Suara teriakan lelaki tua kembali mengingatkan Jamal yang telah agak jauh melangkah.

***

Kekuatan rupanya membutakan hati dan pikiran Jamal… beberapa hari setelah kembali dari pulau Sebesi… ia pun melabrak lelaki yang pernah melukainya dengan pedang dan memberi sebuah tanda goresan pedang berbentuk silang di wajah lelaki yang pernah melukai punggungnya…

Dan ternyata bukan hanya itu… Jamal tersesat dan malang melintang sebagai perampok… dan kerap kali melakukan penganiayaan berat kepada siapapun yang dianggapnya menantangnya walau hanya sekedar menatapnya secara tak sengaja…

Buta hati… buta pikiran… hingga akhir petualangannya berujung pada terali besi karena dibekap lebih dari sepuluh orang polisi.

Hampir 10 tahun lamanya ia hidup dalam penjara… hingga membuatnya merenung… mampu berbicara kembali dengan hati nuraninya… selama di dalam penjara ia pun menjadi seorang tukang urut bagi para narapidana. Sebuah usaha yang lumayan menghasilkan dalam keadaan badan terkurung. Siapa yang tak kenal dengan Jamal si tukang urut dalam penjara bertatto naga merah pada punggungnya. Ya tatoo naga merah yang dibuatnya pada tahun pertamanya di penjara untuk menutup bekas luka sayatan pedang.

10 tahun terkurung telah menyadarkan Jamal akan kesalahan-kesalahannya…

***

Bebas dari penjara Jamal pun berbekal uang beberapa juta rupiah yang dikumpulkannya selama menjadi tukang urut di dalam penjara… Ia memilih kembali ke pekerjaan lamanya sebagai sopir angkot… Ia kembali ke Desa Gebang… dan tak lupa ia pun mengganti uang bossnya yang pernah terpakai untuk biaya rumah sakit.

2 tahun bekerja kembali sebagai sopir angkot… Jamal mengenal seorang wanita karyawan pabrik bernama Ayu. Merasa cocok dengan Ayu yang begitu sabar… Jamal yang hampir menginjak usia 40 pun melamar Ayu dan melaksanakan pernikahan di kampungnya di Pandeglang…

 Malam setelah acara pesta pernikahan yang sederhana… ketika hanya tinggal beberapa orang tamu… Jamal dan Ayu pun meninggalkan kursi pelaminan dan menuju ke kamar pengantin…

“Kamu lucu Yu hehehe seperti tukang jamu gendong dengan kebaya begitu hehehe” Jamal tertawa yang di sambut pula dengan canda tawa Ayu…

Mereka berdua bercerita tentang hal-hal lucu yang tadi mereka lihat selama pesta berlangsung… hingga Jamal pun mengelitik perut Ayu meneruskan candanya… puas menggelitik perut Ayu dan Ayu pun sedikit mengamuk karena geli dan akan balik menggelitik perut Jamal… Jamal berusaha menghindar…

Melihat Jamal menghindar… Ayu meraih bantal bersarung merah dan akan melemparnya ke arah Jamal…

Jamal yang menengok ke arah Ayu mendadak ketakutan… ruangan serasa berubah menjadi hutan belantara… Jamal melihat di tangan Ayu muncul Kepala Naga Merah…

Ayu pun melempar bantal itu ke arah Jamal… Bantal melayang ke arah Jamal… Terngianglah bisikan lelaki tua di mana Jamal pernah berguru…

“… ada pantangan yang harus kau hindari Nak… Jangan sampai tubuhmu di bagian manapun tertimpa ataupun tertimpuk oleh bantal dan jika Kau ingin menikah maka Kau harus mengembalikan mutiara Naga Merah itu Nak!” Suara lelaki tua yang kini terdengar kembali di telinga Jamal…

Jamal ingin berteriak namun tak bisa menghindar… Jamal melihat kepala naga Merah yang dipegang Ayu menghujam ke arah jantungnya…

Jamal tumbang dan terjatuh… meninggal seketika itu juga…

Ayu menyaksikan Jamal terjatuh karena ditimpuk bantal olehnya mengira Jamal sedang berpura-pura jatuh… Namun… begitu ia mendekat dan meminta Jamal untuk bangun… tak bangun juga malah hawa dingin muncul dari tubuh Jamal… Ayu pun menggoyangkan badan Jamal… tak bangun juga… ia berteriak…

Teriakan Wanita dari dalam kamar pengantin pun mengundang keluarga dan beberapa pengunjung berlarian ke arah kamar pengantin… seorang Polisi yang kebetulan kerabat keluarga Jamal memegang tubuh Jamal dan menggelengkan kepalanya memberi tanda kepada yang lain bahwa Jamal telah tak bernafas lagi. Jamal meninggal di malam pengantinnya.

Merasa curiga kepada Ayu, Ayu pun di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Dan jenazah Jamal pun diperiksa oleh tim forensik. Namun karena tak ada bukti apapun dan tak ada luka apa pun di tubuh Jamal bahkan hingga yang tadinya diduga racun pun tak ada sama sekali. Ayu akhirnya dibebaskan dan esoknya Jenazah Jamal pun di makamkan. Tim Forensik kepolisian menyimpulkan bahwa Jamal meninggal karena serangan jantung mendadak.

Tampak Ayu sangat sedih sekali dan histeris beberapa kali hingga tak sadarkan diri ketika hadir dalam pemakaman Jamal.

***

Setelah pemakaman Jamal selesai dan yang mengantar kepergiannya kembali ke rumah masing-masing…

Sesosok lelaki tua berjanggut sambil memegang Arca Naga Merah berdiri di samping makam jamal yang masih merah… “Ambillah mutiaramu Naga Merah penjaga Krakatau!”… Sebuah bayangan merah berbentuk naga masuk ke dalam makam dan keluar kembali dengan menggigit sebuah mutiara berwarna merah kemudian memasukkan mutiara itu ke dalam mulut Arca dan bayangan naga itu pun masuk menghilang ke dalam Arca.

Lelaki tua itu pun berjalan sambil berucap…

“Manusia seringkali terlena… karena dikuasai amarah, dendam dan kebencian maka kemudian mencari segala macam cara untuk memuaskan hawa amarah, dendam, dan kebencian dengan segala janji yang diumbar… terlena dan lupa dengan janji hati agar rendah hati dalam keadaan susah, senang, lemah ataupun kuat…”

Berjalan ke arah matahari yang mulai tenggelam hingga ke tepian pantai dan menghilang ditelan lautan.

~000OOO000~

 Ilustrasi “Red Dragon” dari elfwood.com

~Hsu numpang ngepost akun istri karena akun pribadi lupa pasword~  :lol:

1369680168694733387_300x290.90909090909

Facebook Comments

About dara jabar

2 comments

  1. kalau lupa password, bisa saya bantu mbak ?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif