Home » FIKSI » Cerpen » Rumah Bata (Bag-1)

Rumah Bata (Bag-1)

architectaria.com

architectaria.com

Subagio duduk di teras rumahnya sembari memandang ke pekarangan rumahnya yang cukup luas. Sorot mata tajamnya terlihat sedikit redup malam itu. Tersemat sebatang cerutu di bibirnya yang kini menghitam.

Subagio memperhatikan satu per satu Mawar yang tertanam di pekarangan. Jumlahnya hampir 100 pot. Subagio sengaja menyuruh Usep tukang kebunnya untuk merawat mawar – mawar peninggalan almarhumah istrinya itu.

“Pak?” sebuah suara yang terlalu lembut menyapa Subagio dari arah belakang, hampir tak terdengar.

“Pak??” kembali diulanginya lagi sapaan yang sama namun sedikit diberi penekanan.

“Hei, bu? Belum tidur, kau?” jawab Subagio dengan nada terkejut.

“Bagaimana aku bisa tidur jika suamiku masih berada diluar kamar?” jawab perempuan itu lalu mengambil duduk di hadapan suaminya. Kinanti namanya. Perempuan yang dinikahi Subagio 18 tahun lalu setelah istri pertamanya, Andarsari, meninggal dunia.

“Aku belum bisa tidur.” Terang Subagio sambil memperhatikan wajah lembut istri keduanya.

“Apa yang bapak pikirkan?” Subagio terdiam, matanya kembali fokus pada tanaman – tanaman mawar itu. Kinanti tak ingin terus bertanya, ia tahu watak keras suaminya. Jika Subagio diam, itu berarti Subagio tengah memikirkan hal yang ia sendiri tak mengerti.

Kinanti adalah sepupu jauh dari mendiang istri pertama Subagio. Banyak alasan mengapa Subagio memperistri Kinanti adalah karena perempuan itu cantik, sabar, dan yang pasti mau mengurus anak semata wayang Subagio, Bagas, seperti anak kandungnya sendiri. Hasil dari perkawinan Subagio dan Kinanti lahirlah Hesa. Gadis itu kini berusia 16 tahun. Wajahnya sangat mirip dengan Kinanti, ibunya. Namun Hesa tak menurunkan kepribadian lemah lembut Kinasih.

Hesa tumbuh menjadi remaja yang aneh. Banyak masalah yang dihadapi oleh pasangan Subagio dan istrinya karena ulah Hesa. Hesa pernah melucuti pakaiaannya sendiri di tengah lapangan sekolah seperti orang kesurupan. Saat ditanya, Hesa hanya menggeleng polos lalu tertawa terkekeh seperti nenek – nenek . Pernah pula Hesa memergoki bapak dan ibunya sedang bercinta dalam kamar, lalu Hesa melemparkan kursi kayu kearah orangtuanya. Bukan pintu itu tak dikunci, tapi Hesa sendirilah yang membuka paksa pintu kamar orangtuanya dengan Linggis secara diam – diam. Jika diajak bicara, gaya bicara Hesa seperti keluar dari usianya.

Hesa terlihat seperti sosok perempuan berumur. Hesa tak suka mengenakan pakaian seperti anak – anak seusianya, Hesa senang mengenakan kain batik dengan rambut yang digelung seadanya. Tiap kali Kinasih memberikannya pakaian selain Batik, sudah pasti Hesa akan merusak pakaian tersebut lalu dibuang ke tong sampah. Hesa mulai berubah sikap ketika usianya genap 13 tahun.

Malam itu Subagio mengadakan perjamuan besar untuk merayakan ulang tahun sang buah hati. Sebagai seorang pengusaha Batik yang sukses, acara semacam itu bukanlah hal sulit untuknya. Puluhan juta rupiah ia keluarkan untuk menjamu para rekan bisnis dari penjuru kota, tetangga, dan keluarga besarnya. Acara dibuat meriah dan mewah. Gadis kecil itu mengenakan gaun berbahan sutera dengan motif batik seragam dengan kedua orang tuanya dan kakak tirinya yang dijahit oleh penjahit andalan. Sebuah pita kecil tersemat di rambutnya. Wajahnya masih sangat polos. Disampingnya berdiri, Bagas, kakak tiri yang selama ini jadi kawan bermainnya. Usia Bagas dan Hesa hanya terpaut 5 tahun. Wajah Bagas lebih mirip Subagio. Wajahnya oval, dengan hidung bangir dan rambut ikal berwarna hitam pekat.

Mereka berempat kini berdiri di depan meja berbentuk segi empat. Di atas meja tersebut terdapat dua buah tart yang dipesan dari toko kue termahal di kota. Masing masing bertingkat dua. Tart yang pertama berwarna merah muda, tart ini pesanan khusus Hesa. Tar yang kedua berwarna putih mutiara. Beberapa tamu sedikit heran dengan dua buah tart yang ada di meja tersebut. Pada undangan hanya tertulis malam ini adalah perayaan ulang tahun Hesa.

“Selamat malam semuanya, pertama – tama saya ucapkan banyak terimakasih atas kehadiran bapak dan ibu sekalian malam ini di rumah kami. Seperti yang sudah saya tuliskan pada kartu undangan bahwa malam ini adalah malam perayaan ulang tahun anak kedua saya, Hesa Rindani Subagio, yang ke 13 tahun. Setelah acara tiup lilin nanti, anda semua diperkenankan menikmati menu – menu yang sudah kami siapkan,,,,” Jelas Subagio.

Acara tiup lilin akan segera dimulai. Kedua tart yang tersedia di meja di tambahkan lilin. Tart pertama diberi 13 lilin, dan tart kedua diberi 35 lilin. Tanpa menghitung lagi jumlah lilin yang ada di masing – masing tart, Hesa langsung meniup lilin – lilin yang ada di tart berwarna merah muda tersebut.

“Hufffhhh,” dan semua lilin di atas tart berwarna merah muda tersebut mati.

Seketika bau melati menyebar ke seluruh ruangan, padahal malam ini dekorasi tak dilengkapi dengan bunga melati, hanya mawar, tulip, dan bunga Lily. Namun sepertinya tamu – tamu tak peduli dengan aroma asing yang baru saja hadir. Mereka asik mengobrol sambil memperhatikan pernyataan – pernyataan dari si pemilik acara.

“Baiklah bapak dan ibu sekalian, lilin pertama sudah ditiup oleh Hesa, sekarang giliran Bagas, ya?” Kinasih melirik anak tirinya yang menunggu giliran. Bagas mendekati tart yang berwarna putih mutiara.

“Malam ini, Bagas mewakili almarhumah ibu untuk meniup lilin. Ulang tahun Dik Hesa dan almarhumah ibu bertanggal sama. Jadi sengaja dirayakan bersama malam ini,” Bagas memberikan penjelasan yang membuat tamu – tamu yang keheranan menjadi mengerti.

Semua tamu memperhatikan Bagas dengan seksama. Ada kekaguman dalam hati mereka, bagaimana bisa sosok istri dan ibu yang sudah tiada tetap dirayakan ulang tahunnya dan istri keduanya pun seperti tidak keberatan.

Bagas mendekatkan wajahnya kearah lilin yang hendak ditiup. Menghitung jumlah lilinnya di dalam hati.

“Ayo, Gas, sudah malam.” Perintah Subagio. “1…2…..” seluruh tamu ikut memberi aba – aba pada Bagas. Namun tiba – tiba Bagas menjauhkan wajahnya dari tart itu lalu mendekatkan bibirnya pada telinga sang ayah.

“Pak, tart-nya tertukar.” Suaranya berbisik.

“Apa maksudmu?”

“Tadi yang Dik Hesa tiup pasti lilinnya 35. Karena yang mau Bagas tiup ini jumlah lilinnya 13!”

“Kok bisa?”

“Bagas nggak paham pak. Yang pasang tadi kan bukan Bagas.”

“Argghh sudahlah, toh sama saja. Sama – sama tiup lilin! Cepat kau tiup, ini tamu – tamu sudah menunggu,”

Bagas terdiam, ia tak mau merusak suasana malam ini hanya karena jumlah lilin yang salah. Bagas tetap meniup lilin yang berjumlah 13 itu. “Huppphhff” dan tak lagi ada 1 pun lilin yang masih menyala. Tepuk tangan menggema di rumah yang lebih mirip kastil ini.

“Silahkan untuk semua tamu, cicipi hidangan yang tersedia, jangan sungkan, ya?” Subagio berusaha membuat nyaman para tamu. Seseorang mendekati Subagio.

“Anda tahu? Anda telah melakukan kesalahan fatal, tuan!” ujar lelaki itu dengan nada sinis dan tatapan dingin.

“Anda siapa? Sepertinya kita tidak saling mengenal?” Subagio mulai kebingungan

“Anda tak perlu tahu siapa saya. Saya hanya ingin mengingatkan anda bahwa apa yang baru saja anda dan kedua anak anda lakukan adalah sebuah kesalahan fatal. Tunggulah beberap tahun lagi, apa yang akan terjadi.”

Tiba – tiba laki – laki itu menghilang diantara keramaian meninggalkan Subagio yang kini berdiri mematung, kebingungan.

-Masih bersambung-

 

Facebook Comments

About ajengleodita

3 comments

  1. dan bunda menjadi satu diantara orang-orang yang kebingungan setelah membaca tulisanmu ….dinda Ajeng
    wkwkwkwk

    seperti biasa, nice post, berbau mistik or serem-serem gituu :thumbup

  2. Ratu horor kembali beraksi # Bunda selalu suka tulisan-tulisanmuhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  3. katedrarajawen

    mbak ajeng, memang jempolan. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif