Home » FIKSI » Cerpen » FIRASAT LINDU

FIRASAT LINDU

PENAMBANG PASIR TRADISIONAL

www.antarasumbar.com

FIRASAT LINDU

Oleh Ewin Suherman

           

Dua malam berturut-turut, Lindu memimpikan Bapak. Katanya Bapak sehat, tak mengeluh sakit pada persendiannya atau bertutur lelah setelah seharian menjelagai kali gung1 menambang pasir.

Mimpi yang sedikit menarik lisut pada wajah Emak dan membuatnya tersenyum. Senyum yang digariskan pada barisan ungkapan syukur sekaligus harap bahwa Bapak akan berkeadaan persis seperti dalam mimpi si bungsu. Senyum yang menyembunyikan getir pada apa yang terjadi dalam hidup yang sebetulnya Emak rasakan.

Getir itu bukanlah keadaan papah yang dilihat oleh kebanyakan mata telanjang, bahwa kami keluarga fakir. Keluarga miskin yang senantiasa kekurangan di sana-sini. Bukan itu, karena secara ekonomi, kendati selalu pas-pasan, setidaknya tidak membuat kami sekeluarga betul-betul memiliki keadaan seperti yang dilihat oleh orang kebanyakan.

Bapak menambang pasir. Sementara Emak bekerja sebagai buruh borongan pada sebuah pabrik teh. Sedangkan aku, ya, aku si sulung, walau pendapatanku sama rendah dengan Emak dan Bapak, paling tidak usia produktifku tidak lantas kosong melompong tanpa karya. Aku juga buruh pada sebuah pabrik air minum tidak jauh dari rumah. Pabrik yang berada tepat di perbatasan dua daerah, yakni kecamatan Slawi dan Adiwerna. Pabrik yang menurut Emak sudah ada berdiri sejak Si Mbah masih bocah.

Sudah lama Emak menyimpan getirnya sendiri. Menyembunyikannya dari kami, meski bagiku itu sama sekali tidak berhasil. Tapi Emak terus menekan dirinya dan berpura-pura. Memaksa diri tetap patuh kepada suami seperti pesan Si Mbah sebelum beliau mangkat.

Pernah satu kali aku meminta Emak untuk berbicara kepadaku. Namun reaksi Emak pada saat itu, sungguh malah menohok diriku. Emak menudingku nyinyir dan menyalahkanku, seandainya dulu aku tidak menolak dijodohkan dengan Sunarto, anak dari mandor di tempat Emak bekerja sekaligus kerabat dari sepupu jauh Bapak, mungkin tak akan begini jadinya, bahwa kesengsaraan kami sekeluarga berulur mengikuti arus hidup yang entah kapan menemui muaranya.

Namun demikian, lepas dari elakan Emak, sungguh tak bisa dinafikan ke dalam bahasa yang lain bahwa Emak keteter menghadapi sifat Bapak. Emak bertahan meski kepayahan, dan sama sekali tak rela anak-anaknya turut menanggungnya. Sebab itu akan memberikan lebih dari sekedar perih. Jika anak-anaknya turut menyesap di dalam lara yang terus menggelayutinya.

Perihal sifat keras dan arogan Bapak, di luar dua mimpi pada dua malam yang berturut-turut itu, sebenarnya Lindu kerap kali bermimpi mengenai Bapak. Seperti ketika dalam mimpinya ia diajak pergi ke pasar malam. Dan tidak lama setelah ia menuturkan mimpinya itu, terjadi keributan besar antara Emak dan Bapak. Entah setan apa yang merasuki Bapak, sehingga otak yang terus-terusan dipakai untuk timbul tenggelam di dasar kedung2, semakin cupat dan menuduh Emak pernah main serong. Buktinya Lindu memiliki hidung yang tinggi dengan kulit putih bersih. Sementara mereka berdua? Mereka pesek dengan kulit hitam berkerak. Ah..

Satu dari sekian sebab yang membuat Emak kian melara. Lara yang entah karena sumpahnya sendiri, atau itu memang tabiat dari seorang ibu, atau malah Emak bersikap martir sehingga sama sekali tak memperlihatkannya kepada kami semua, hanya agar semua tampak baik-baik saja? Bahwa kami keluarga kecil –sangat kecil- yang bahagia, meski dengan kondisi ekonomi yang tak menentu?

Sementara ketakutan demi ketakutan terus menggerogoti. Ketakutan yang berakar dari sikap arogan dan keras kepala Bapak. Lantas, pengandaian bagaimana jika Emak ditinggal begitu saja, seperti kerap kali dilontarkan Bapak seenteng ia meludah, berarak melayang-layang di benaknya seperti debu di lempar angin. Bapak akan meninggalkannya –meninggalkan kami semua tentu- dalam keadaan yang paling menyakitkan. Mati. Karena bagaimanapun keadaannya, Bapak tetaplah pasangannya. Yang hanya dengan beliau, meski kerap kali Emak tergelincir dan jatuh saat berjalan bersama-sama di keseharian mereka, Emak tetap mampu melakoni hidupnya untuk kami semua. Anak-anaknya. Meskipun terkadang juga Emak tidak tahan lalu mengumpat. Mengutuk. Tapi yang memang begitu kenyataannya. Bahwa Emak dan Bapak satu pasang.

Setidaknya begitulah yang senantiasa dijunjung sekaligus dipikrkan oleh Emak. Bahwa mereka satu. Oh, sebuah pemikiran cupat perempuan di dalam kerentaan dini, di mana poros dari pemikirannya hanya melulu mengenai dapur.

Seyogyanya pernikahan mereka malah membuat Emak seperti memamah buah simalakama. Nyata dan hanya terjebak di dalam sebuah tuntutan bagaimana hidupnya sekarang ini. Dia adalah seorang istri. Seorang ibu, dan segala tetek bengek sebagai orang.

Terkadang aku ingin sekali, bahkan meminta kepada Lindu sebelum ia tidur, untuk ia mencarikan satu impi untuk kelegaan bagi Emak saat ia terbangun esok. Satu saja. Karena satu saja rasanya sudah cukup. Sebab mengingat Emak yang tak cukup menganggap kami, anak-anaknya cukup dewasa untuk terlibat dan berbagi rasa pada apa yang menyudutkannya pada perih.

Namun aku selalu dibuat sadar, bahwa dari setiap mimpi Lindu adalah dari yang akan terjadi dan itu kebalikkannya. Seperti saat dulu Lindu mengatakan, ia habis bermimpi melihatku mengenakan baju wisuda persis dengan yang dikenakan oleh Rodiyah, sepupu kami yang tinggal di Purwokerto. Dan kenyataan dari impi itu adalah, bahkan melanjutkan SMA saja aku tidak.

“Mak ndhak ada duit, Sri,” ujar Emak dengan suara enteng melibas pada tanganku menunjukkan nilai-nilaiku yang sungguh memuaskan di atas selembar kertas tebal bernama ijazah. Emak mengira waktu itu aku sedang menunjuk diri dan meminta untuk menurutiku melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah di sekolah favorit seperti tetanggaku yang lain.

Padahal Emak tahu aku cukup tahu diri. Masuk SMP Terbuka saja sudah membuatku memiliki angan-anganku sendiri. Sehingga aku tidak pasrah begitu saja dan menolak dinikahkan pada usiaku baru menginjak delapan belas tahun. Walau hasil dari itu bukan hanya makian-makian pedas semata, namun juga bekas luka pada punggung karena disabet bambu oleh Bapak.

Dan memang demikian, mimpi-mimpi Lindu bermakna kebalikan. Emak sadar akan hal itu. Merasa bersyukur dan tersenyum menanggapi penuturan Lindu adalah kepura-puraan dan mengingkari kenyataan dari apa yang sudah beberapa kali terjadi. Berpura-pura tegar pada pendiriannya, bahwa ada kalanya mimpi hanya sebuah kembang tidur. Atau apa yang tergambar di dalam sana, itu terjadi karena di dunia nyata memang seperti itu.

“Dulu Emak bermimpi Rodiyah duduk di kursi yang sangat bagus. Kursi itu dicat dengan menggunakan emas. Sekarang, apa coba buktinya? Dia sekarang menjadi pejabat di bank. Menikah dengan bos dari bank itu sendiri, kan?”

            Emak mengelak dengan tegas dan membuat percuma semua pembahasan mengenai mimpi. Kecuali jika itu datangnya dari Lindu. Bocah sebelas tahun yang dulu lahir secara prematur, dan kini digilai Emak daripada semua perkataannya melalui mimpinya itu benar. Benar untuk Emak sendiri dengan memaksa kami untuk melihatnya sama seperti itu. Dua malam berturut-turut, ia bermimpi Bapak dalam keadaan sangat sehat dan sama sekali tidak mengeluh sakit.

Sayangnya itu pula yang kami lihat. Bapak sama sekali sehat dan tidak mengeluh apa pun. Kecuali sedikit masuk angin yang hanya perlu dilawan dengan mengunyah dan menelan bawang putih mentah saja langsung beres. Sembuh begitu saja setelah angin gencar berlomba keluar dari dalam tubuhnya.

Tetapi bagaimana dengan mimpinya kali ini? Lindu bermimpi dua gigi bagian atasnya tanggal. Dan Emak, ya Emak menelan ludah menyimak penuturannya kali ini. Senyumannya yang hanya serupa ringisan, membuatnya nampak seperti orang sakit gigi. Lalu, sebelum menoleh kepada pembaringan lusuh, tempat biasa Emak mengadukan badannya karena letih seharian bekerja, Emak menggeloso menghembuskan nafasnya perlahan. Sangat perlahan. Seakan pada saat itu Emak dipaksa mengingat, bahwa mimpi konon adalah sebuah firasat.

Emak tidak bisa lagi membantah. Tidak bisa mengelak. Mulutnya terkatup rapat. Erangan kesakitannya keluar hanya berbunyi derit dan cicit seperti suara tikus yang terhimpit daun pintu.

Seketika mengakui bahwa ada banyak mimpi yang berkebalikan daripada kenyataannya. Dan Emak menggugu. Lantas, dua minggu paska Lindu bermimpi dua gigi atasnya tanggal, berkisar tiga minggu dari dua mimpi mengenai Bapak dalam keadaan sehat, Bapak meninggal. Bapak meninggal setelah mengeluh sakit pada pinggangnya seperti biasa selain masuk angin.

Bapak meninggal. Menjawab semua ketakutan yang berlaga di dalam diri Emak. Ketakutan yang akhirnya juga menjalar menjamah kami, aku dan empat anaknya yang lain. Serta merta ketakutan kepada impi menusuk-nusuk cokol ketegaran pada masing-masing kami dan merapuhkannya. Kami semua menjadi sangat takut kepada mimpi. Khususnya Lindu. Sementara yang ditakutkan oleh Emak adalah jika Lindu bermimpi. Seakan menggila, hilang kewarasannya karena Emak meminta Lindu untuk tidak tidur. Agar ia tidak bermimpi. Ah..

~o0o~

Keterangan :

  1. Sungai besar
  2. Dasar sungai
Facebook Comments

About Ewin Suherman

5 comments

  1. Wow, Selamat Datang Mas Ewin !!
    Terima kasih untuk cerpen perdananya..https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. Keren cerpennya….. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif