Home » FIKSI » Cerpen » Di Sebalik Gerbang Rumah Sakit Jiwa

Di Sebalik Gerbang Rumah Sakit Jiwa

www.portalkbr.com

www.portalkbr.com

Dengan langkah perlahan Bobby memasuki kamar yang terletak paling ujung. Setelah memastikan tak ada seorang pun yang mengikutinya, ia menutupkan pintunya, lalu merebahkan tubuh yang ada di pondongannya ke atas ranjang.
Perlahan-lahan dilepaskannya pakaian yang menutup tubuh molek itu, satu demi satu. Senyum tersungging di bibirnya yang menghitam karena terlalu banyak merokok. Senyum?? Aah entah. Mungkin lebih mirip disebut seringai.

Blouse putih berenda itu dilemparkannya asal-asalan ke sudut ranjang.
“Tubuhmu halus….” gumamnya.
Tak berapa lama rok mini berbahan kaus itu pun berpindah tempat, mendarat di kursi yang mepet pada dinding.
“Hahahahahahaaa…..baguuusss….bagguuusss…” racaunya.
Seringai aneh di wajahnya semakin lebar. Hingga akhirnya seluruh penutup tubuh itu dilucutinya, diputar-putarnya di atas kepalanya ala cowboy memutar tali lasso……

Bobby tertawa terbahak-bahak. Matanya nanar memandang tubuh molek yang kini polos tanpa ditutupi sehelai benang pun di atas ranjang. Ia mengelusnya perlahan, dari ujung kaki yang langsing bak kaki belalang.
“Kakimu bagus….haluuss….” bisiknya.
Elusannya berpindah ke ujung jemari tangannya yang lentik, sesekali ke lehernya yang jenjang hingga akhirnya ke sekujur tubuh yang terbaring diam.

*******

“Sudah ketemu?”
“Belum pak…..tapi….saya curiga dengan kamar yang paling ujung itu….” kata Pak Soleh.
“Kita dobrak pintunya?”
“Mudah-mudahan tak terkunci pak. Ini kuncinya…..” sambung Pak Soleh lagi.
“Hati-hati, dia membawa pistol….”

Mereka mengendap-endap. Jantung mereka berdegup kencang saking tegangnya.
“Sssssttt….pelan-pelan….”
Pak Soleh memutar gerendel pintu itu perlahan, senyum tertahan di bibirnya saat pintu itu bisa dibukanya dengan mudah.
Bobby tak terlihat, suara tangis atau teriakan ketakutan juga tak terdengar. Mereka memasuki kamar dengan hati-hati. Pak Soleh meraba tas kecil di pinggangnya, memastikan peralatannya aman di sana.

“Siapa disitu!!? Siapa??” Bobby berteriak-teriak.
“Aku tembak lho…..hayo keluaaaarr….keluaaarrr…..” serunya lagi.
Sepi. Tak ada jawaban. Dari arah kamar mandi Bobby bergegas ke pintu keluar. Diacung-acungkannya pistolnya, siap menembak siapapun yang mengusiknya.

“Satuu….”
“Duaaa…”
“Tigaaa…”
Pak Soleh memberi aba-aba dengan jarinya, lalu……..
Mereka menyergap Bobby yang kaget, lalu meronta-ronta. Namun ia kalah kuat. Pak Soleh berhasil meringkusnya lalu menggelandangnya ke mobil.

Bobby menangis tersedu-sedu ketika Pak Soleh menyuntikkan cairan obat ke lengannya.
“Aku mencintainya paakk…” rintihnya memilukan.
“Iyaaa…..”
“Imelda jangan ditinggal ya paak….paak…. ittuu….Imelda masih di sana…” tunjuknya panik.
“Nanti biar Pak Suryo yang menjemputnya, yaa….” bujuk Pak Soleh. Tangannya masih memegangi Bobby yang meronta-ronta.

Semakin lama tenaga Bobby makin melemah. Ia tak lagi berontak ingin melepaskan diri. Matanya sayu, tubuhnya tergeletak di jok tengah. Pak Soleh membetulkan letak bantal di kepala Bobby.
Imelda yang tadi dibopong Bobby menggeletak di jok belakang. Baju dan perlengkapan yang lain teronggok begitu saja di sampingnya. Tak ada yang berusaha menutupi bagian tubuh mannequin yang terbuka itu. Mobil van terus saja melaju, supirnya sengaja tak membunyikan sirine seperti biasanya.

“Ternyata dia belum sembuh benar…” gumam Pak Soleh prihatin saat mobil itu memasuki pintu gerbang RSJ Ghracia.
Ditentengnya pistol yang tadi direbutnya dari tangan Bobby.
“Hhhmmm….Cuma air soft gun….”

=====%%%%%%%=====

Facebook Comments

About enggar

8 comments

  1. Wooooo… Bobby sakit jiwa to…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif
    Keren Bun… https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. obatnya belum habis jeng Lizz

    terima kasih sudah mampir

    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  3. lucu ma :D

  4. hihihhiii..jadi ingat pernah mengunjungi seorang sahabat di tempat ini

    :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif