Home » FIKSI » Cerpen » Foto di Depan Gapura

Foto di Depan Gapura

gapura” Kamu percaya sama mitos itu?”

Buyar lamunan Riri mendengar Mita datang langsung menyerangnya dengan pertanyaan itu.

“Aku ingin mengingkari mitos itu, tapi kenyataan seakan mendorongku untuk mempercayainya.”

” Mana ada awet atau tidaknya hubungan bergantung pada foto di depan gapura pintu masuk?”

“Entahlah.”

Riri merebahkan badannya ke sebuah kursi, menerawang ke langit sore itu.

“Ri, kemana Riri yang dulu? Yang selalu mengataskan sebuah logika di atas segala-galanya, yang ga mau disamakan dengan wanita lain yang sedikit-sedikit terbawa perasaan?”

” Lihat tuh ( telunjuk Riri menunjuk ke arah langit)! Bukankah dulu orang juga tidak percaya kalau manusia bisa terbang? Tapi kenyataannya semua orang berbondong-bondong naik burung besi berkilo-kilo itu.”

” itu karena mereka pakai logika! ” bukan percaya sama mitos! intonasi Mita lebih tinggi dari sebelumnya.

Mita seakan tidak mengenal perempuan di depannya itu. Perempuan yang sudah ia kenal lebih dari 8 tahun. Ya, Mita dan Riri adalah teman satu SMA dulu. Teman yang menjadi sahabat, sekaligus tempat sampah. Tempat sampah bagi masalah, cerita konyol dan hal gila lain yang sering mereka lakukan.

“Ta, aku capek.”

” Ri, kamu capek dengan pikiranmu yang kamu buat sendiri. Sudah jelas lelaki itu meninggalkanmu. Apa yang membuatmu capek? masih tentang mitos itu? Dah gila kamu.”

” Mungkin aku dari dulu harusya berlaku seperti perempuan lain, logikaku harusnya ku pakai tidak untuk urusan cinta. Benar begitu kan?

” Hebat, hanya gara-gara kalian foto dengan background gapura pintu masuk sebuah kawasan, kemudian ada yang bilang bahwa hubungan kalian tidak bertahan lama, dan sekarang kamu mempercayainya. Karena hubungan kalian berakhir? “

“Ta, aku tidak menyalahkan orang yang ngomong seperti itu. Hanya saja kadang “kebetulan” itu ada di dunia ini. “

“Kalau kebetulan itu benar ada, lantas apa Tuhan juga menciptakan manusia di bumi ini dengan kebetulan juga? Otakmu aku rasa sudah error, harus dibawa ke bengkel sepertinya.”

” Ah OK. Temani aku besok, kalau menurutmu aku harus seperti itu.”

Bengkel yang mereka maksud adalah sebuah tempat, tempat dimana Riri bisa melihat warna merah, orange senja, dan biru langit sore. Sebuah kursi di dekat sungai dengan panorama sore dan jembatan yang melintang di atasnya. Tempat itulah yang selalu mampu mengembalikan pikiran jernih seorang Riri.

Sore itu Riri sudah duduk di kursi panjang di pinggiran sungai, menatap jauh ke depan. Lalu lang kendaraan di atas jembatn, burung-burung yang sesekali menukik memangsa ikan, dan terpaan angin sore menemaninya.

” dah lama kamu?” Mita baru datang

“Selama apapun waktu berjalan, kalo di sini kan terasa cuma sebentar.”

“Sorry, kerjaanku baru kelar.”

“Benar katamu kemarin Mit, memang aku harus kesini. Aku lebih tenang sekarang. Bengkel Otak ini memang ga ada duanya.”

“Syukurlah, kalo otakmu dah kembali normal, aku cuma takut aja kalo kamu telat kesini, aku bakal punya sahabat yang garing dan cengeng.”

“Sialan, menangis itu tanda kalo kita masih punya hati, kamu harus tahu itu.”

” Memang, tapi menangis karena mempercayai mitos foto di depan gapura bikin hubungan ga awet itu konyol.”

“Hah, sudahlah… “

Dua perempuan itu duduk, masih memandangi langit sore, dengan hiruk pikuknya.

“Ta, kenapa ya? Aku masih ga ngerti dengan jalan pikiran mereka. “

“Buat apa kamu mikirin itu, otak kita tu beda2, beda kepala beda isi. Kita juga ga bisa memaksakan orang punya pikiran yang sama dengan kita, begitu juga sebaliknya. Aku sama kamu aja beda, walaupun memang sering kita memiliki pandangan yang sama. tapi tidak setiap hal kita punya pandangan yang sama kan? Contohnya : Aku ga ngerti kenapa otakmu bisa jernih lagi tiap ke tempat ini, bukan yang lain? padahal buatku ini tempat biasa aja, cuma liat air sungai, jembatan, orang lalu lalang, burung terbang dan matahari. “

“bener juga katamu, dan aku juga belum bisa mengerti kenapa, apa menariknya nonton film horor tengah malam?”

“Hahahahhahaha”

Kedua wanita itu tertawa bersama. Mengetahui perbedaan mereka, perbedaan yang justru membuat persahabatan mereka semakin dekat. Yang membuat nyaman satu sama lain.

“Aku sekarang akan mencoba menerima kenyataan ini, bahwa dia memang meninggalkanku karena dia memang menginginkan itu. Bukan karena foto itu, bukan karena mitos itu.”

“Baguslah, tapi boleh dong aku berpendapat. Dia meninggalkanmu karena perempuan lain, dan itu menunjukkan kalo dia bukan yang terbaik buatmu!”

“kenapa jadi emosi kamu?”

” Heran aja aku, kenapa kamu masih berlaku baik sama dia dan tu perempuan. “

“Dan kenapa pula aku harus tidak baik sama mereka?”

“Akhirnya, otakmu bener2 dah normal!”

Facebook Comments

About septiyaning

2 comments

  1. josephinewinda

    wowww…kalimat – kalimat terakhir aku suka septiii… :peluk

  2. makasihhhhh mbak winda….. :peluk :peluk

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif