Home » FIKSI » Cerpen » Perempuan Teh Manis #1

Perempuan Teh Manis #1

Perempuan Teh Manis #1Perempuan Teh Manis #1 – Hujan Masih Enggan Pulang

Pukul lima belas lebih tiga belas menit, cuaca yang panas secara perlahan terganti dengan hembusan angin yang cukup dingin dilengkapi dengan suara-suara genderang langit. Langit sudah mulai check sound, mendung itu perlahan merambat, dari sisi utara menuju ke selatan, merangkul sebatas langit yang mampu terlihat oleh mata. Masih akan turun hujan rupanya. Ini sudah memasuki pertengahan bulan keempat.

Aku nikmati suasana mendung itu, memandang ke arah kelam langit waktu itu. Aku berharap hujan deras, sungguh panas hari itu semakin membuat otakku rasanya semakin ingin menumpahkan segala isinya. Rasanya terlalu banyak yang aku pikirkan, bahkan mungkin banyak dari hal-hal itu hanya sampai di teras otakku karena sudah begitu sesak di dalam. Hampir dua minggu berpacaran dengan deadline yang hampir membuatku seperti tahanan yang menunggu eksekusi. Di tambah lagi otakku yang masih saja menyisakan ruangan untuk memikirkanmu. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana otakku membagi porsi, kenapa pula kamu masih kebgian porsi itu. Padahal banyak hal  yang mengantri di teras yang merangsek ingin masuk. Masuk ke otak.

Aku menunggu sampai beberapa saat, mana? Mana buliran-buliran basah dari langit itu? Kenapa tak ada satupun yang jatuh, apakah angin sudah membawanya pergi atau dia enggan jatuh di sini? Mendung itu perlahan pudar, kelam itu perlahan memutih, Walaupun terpaan angin itu masih terasa dingin. Sayup-sayup terdengar lirik lagu Momen in a peace milik Gregorian. Aku berjalan mendekati sumber suara itu. Di layar benda sumber suara itu terdapat namamu.

“Halo…”

“ Kamu masih di kantor?” tanyamu

“Ya..bentar lagi pulang.”

“Ok…aku nanti tunggu kamu di rumahmu aja.”

“baiklah…”

“hati-hati pulangnya.”

“ya..”

Tut tut tut tut tut…

Telepon itu aku tutup, aku tidak mau berpikir untuk apa kamu menemuiku. Aku tidak mau menebak obrolan apa yang bakal keluar dari mulutmu. Otakku sudah terlalu penuh. Jika bisa aku menumpahkan semua isinya  pada suatu tempat kemudian aku memilih apa saja yang ingin aku simpan di otakku serta membuang sisanya. Ah..lagi-lagi andai saja.

Pukul sembilan belas lebih sepuluh menit, aku melihatmu sudah duduk di kursi teras rumah. Dengan kemeja biru muda yang kamu gulung sampai siku. Senyuman itu berkembang begitu melihatku. Ah, aku tidak suka hal ini, hanya membuatku semakin ingin memuntahkan isi otakku.

“Hujan di jalan?” sapamu

Aku hanya menggeleng sambil mengambil posisi duduk di samping meja yang juga di sampingmu. Entah kenapa, mulut seperti terkunci, entah terkunci atau aku memang sedang malas untuk bicara dengannya. Beberapa saat kita hanya duduk bersebelahan terpisah meja kecil tanpa lisan. Langit semakin gelap, Sang Raja Siang sudah benar-benar pulang ke kaki langit rupanya. Tak ada bintang, bahkan bulan, mungkin ini bulan baru atau malah bulan lama sehingga bulan juga tidak menampakkan eksistensinya. Ahh sungguh seperti kehilangan arah. Dia baru saja menanyakan hujan atau tidak, dan aku juga melihat kalau langit masih digelayuti mendung. Kenapa aku bisa berpikir tentang bulan baru dan bulan lama?

“Kamu langsung kesini?” aku memecah kediaman kami

“huum…aku masih kepikiran hal kemarin.”

“Biarlah yang kemarin menjadi masa lalu, tidak perlu kamu bawa maju ke hari ini atau esok. Tetapi jika memang itu masih menganggumu, selesaikanlah. Apa yang ingin kamu selesaikan.”

“Aku tahu, hari ini kamu terpaksa menemuiku seperti ini. Aku yang salah, aku yang menyakitimu. “

“ ini bukan masalah siapa yang salah, bukan juga soal siapa yang menyakiti dan tersakiti. Ini soal masa depan dan bakti kepada orang tua. Iya kan?”

“Huffttttt…….aku justru lebih memilih kamu marah-marah lalu memukuliku, itu lebih manusiawi buatku.”

“Jika dengan seperti itu aku bisa mengubah keadaan menjadi seperti yang aku inginkan, aku pasti akan lakukan. “

Malam semakin lelap, walaupun langit semakin hitam tapi entah tak juga buliran basah itu datang menghujam bumi. Padahal aku berharap mereka datang kemudian aku bisa bersembunyi di balik suara mereka yang datang keroyokan itu. Setelah melihat punggungmu menjauh dari pandanganku, aku merangsuk masuk ke dalam imajinasiku. Imajinasi yang mampu menghiburku. Karena di sana aku mampu menciptakan dunia sesuai apa yang aku inginkan. Dunia tanpa rasa sakit, tanpa rasa sedih, tanpa rasa kecewa.

Enam puluh hari lebih sepuluh jam duapuluh menit, semeenjak terakhir aku melihat punggungmu menjauh dari pandanganku. Aku melihatnya lagi, tapi aku tidak sempat menikmati senyumanmu terlebih dulu seperti biasanya. Kamu hanya meninggalkan amplop coklat keemasan di meja kecil teras rumahku.

Wedding Party

Nugraha Kurniawan & Naura Puti Iswindari

Itu yang tertulis di muka amplop itu. Dan ini sudah memasuki pertengahan bulan keenam, kenapa buliran-buliran basah itu justru jatuh menghujam bumi. Deras semakin deras tapi tanpa suara, sehingga aku tidak bisa bersembunyi di baliknya. Apakah hujan masih enggan pulang?…….Mungkin.

– Perempuan Teh Manis #1

 

Facebook Comments

About septiyaning

One comment

  1. kebalik post nya…yg kedua udah kemarin..yg pertama baru hari ini…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif