Home » FIKSI » Cerpen » Baju adat dan Nenek

Baju adat dan Nenek

Baju adat dan Nenek

Peringatan hari Kartini sudah berlalu, itu artinya baju adat yang dipakai Andre untuk acara di sekolahnya sudah waktunya harus dikembalikan. Andre, anak lelakiku satu-satunya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Di sekolahnya kemarin dalam rangka memperingati Hari Kartini, siswa diminta untuk datang dengan memakai baju adat. Andre kemarin memakai baju adat jawa. Setelah magrib aku pacu motorku menuju salon tempat kemarin aku menyewa baju adat untuk Andre, pagi tadi istriku sudah mencuci bajunya dan memintaku untuk mengembalikan sore harinya. Salon itu hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari rumahku. Begitu sampai di salon itu, aku segera mengambil baju yang terbungkus plastik bening yang aku taruh di dalam jok motorku. Memasuki salon yang bisa dibilang sederhana dan tidak begitu besar itu, aku disambut dengan senyuman dari seorang wanita dengan perawakan yang tidak terlalu gemuk, dengan rambut ikal sebahu dan wajah bulat. Bu Ratna, si pemilik salon.

sumber foto :fadli-shinobi.blogspot.com

sumber foto :fadli-shinobi.blogspot.com

“Eh mas Bagus, gimana mas?” sapa ramah bu Ratna

“Ini bu, mau balikin baju yang kemarin dipake Andre.”

“Kok buru-buru to mas, besok-besok juga ga apa-apa kok.”

“Sudah selesai kok bu acaranya, lagian juga besok kalo butuh lagi ya tinggal kesini lagi.”

“iya..sini duduk mas.”

“saya langsung aja bu, keburu malam nanti. Berapa bu jadinya?”

“udah mas bawa aja…kaya sama siapa aja mas Bagus itu.”

“Ehh jangan begitu bu, nanti saya yang malah jadi ga enak. Berapa bu jadinya, bisnis ya bisnis bu.”

“ Mas Bagus itu lho ya…ya sudah bayar sepuluh ribu aja. Andre itu sudah kaya cucuku sendiri kok ya.”

“ makasih ya bu. Ini uangnya. Saya pamit.”

“iya mas, saya cuma bantu kok. Hati-hati di jalan”

Aku putar arah motorku, melaju santai menuju rumah. Di dekat lampu merah pertigaan, mataku tertuju pada sebuah angkringan di kanan jalan. Ahh sudah lama aku tidak mampir kesana. Angkringan Pak Min, angkringan yang sudah lama menjadi langgananku, semenjak aku masih sekolah, tempat itu menjadi salah satu tempat tongkronganku. Nasi Kucing, sate usus, dan wedang jahe. Aku pinggirkan motorku dan mampir sebentar ke sana.

“lama ga keliatan, Gus. Sibuk ya?”

“ahh enggak pak. Ini tadi dari balikin baju di salon bu Ratna, sekalian mampir.”

“Baju buat Kartinian anakmu? Kemarin cucuku ya sewa disana.”

“Iya pak, bayar berapa pak?”

“Kemarin itu kayaknya 50 ribu.”

Alhamdulillah dalam hatiku, aku hanya diminta membayar 10 ribu untuk harga sewa yang seharusnya 50 ribu. Sungguh baik hati bu Ratna, istriku memang sudah mengenal baik bu Ratna. Mungkin karena itu juga aku diberi harga yang murah. Tapi terlepas dari itu, memang Bu Ratna adalah orang yang dermawan. Aku dan pak Min berbincang santai sambil aku menikmati sebungkus nasi kucing dengan sate usus, kebetulan angkringan pak Min belum begitu ramai. Perut sudah kenyang dan ngobrol bareng Pak Min aku rasa sudah cukup, karena semakin malam seperti biasanya justru semakin ramai. Setelah itung-itungan dengan pak Min aku segera menuju motor yang aku parkir di samping angkringan. Seorang perempuan tua menghampiriku, perempuan tua dengan anak kecil, kira-kira usia anak kecil itu baru seusia anakku.

“Nak..kalo mau ke Tepus Gunung Kidul masih jauh ?”

“Tepus bu? Masih jauh banget. Ibu dari mana mau kemana?”

Ibu itu bercerita kalau kemarin beliau dan cucunya pergi dari Tepus, desa asalnya untuk mencari orang tua cucunya itu yang di Congot, sebuah desa di perbatasan Yogyakarta dan Purworejo, Jawa Tengah. Akan tetapi mereka tidak menemukan orang yang dicari. Lantas mereka berdua berjalan kaki dari Congot sampai di tempat angkringan ini karena uang yang tersisa tinggal dua ribu rupiah. Jalan kaki? Padahal jarak dari Congot sampai tempat ini sudah hampir 40 an kilometer. Mereka berangkat tadi pagi berangkat dari Congot setelah subuh. Astaga, hati ini benar tidak tega melihat mereka berdua. Seharian berjalan, tanpa makan. Dari wajah mereka jelas terlihat rasa lelah dan lapar. Aku meminta mereka untuk duduk di tikar yang memang disediakan Pak Min kalau pembeli rame, aku ambilkan mereka empat bungkus nasi kucing dan beberapa lauk serta teh hangat. Melihat mereka lahap meikmati nasi kucing itu, ssungguh teriris hati ini. Siapa orang yang mereka cari, kenapa mereka tega membiarkan nenek tua dan anak kecil ini berjalan sejauh ini. Melihat anak kecil itu aku seperti melihat anakku. Bagaimana jika anak kecil itu adalah anakku. Sungguh tidak sampai hati aku, membayangkannya saja aku sudah merasa sesak nafas. Setelah mereka selesai menyantap nasi kucing itu, aku menyetop sebuah bus tujuan Solo, aku meminta kepada kernetnya untuk menurunkan mereka di perempatan jalan Wonosari karena mereka mau ke Tepus. Tidak lupa, aku membekali sedikit uang untuk mereka agar bisa melanjutkan perjalanan mereka ke Tepus, karena dari perempatan jalan Wonosari itu mereka masih harus naik bis satu kali lagi. Aku hanya berdoa semoga nanti ada orang baik yang membantu nenek itu untuk bisa sampai di desanya dan semoga mereka bisa sampai di tujuan dengan selamat.

Sungguh pelajaran hidup yang tidak bisa aku lupakan, baru saja aku dibantu orang dengan diberi harga murah untuk sewa baju adat anakku. Kemudian aku dipertemukan dengan seorang nenek yang sangat membutuhkan bantuan. Sungguh benar manusia tidak bisa hidup sendiri. Sunggur benar kita sebagai manusia harus saling membantu. Sungguh benar bahwa kita harus selalu bersyukur dengan segala pemberianNYA. Terima kasih ya ALLAH, aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan bisa membantu orang lain. *berdasar kisah nyata seorang teman

Facebook Comments

About septiyaning

4 comments

  1. katedrarajawen

    ada waktunya mendapat pertolongan ada waktunya memberi pertolongan, gitu ya mbak Septi

    • betul sekali pak…ada kalanya kita yang butuh pertolongan dan ada kalanya kita yang harus memberi pertolongan

  2. Imas Siti Liawati

    Sukaaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif