Home » FIKSI » Cerpen » Apologi*é, Maafkan aku ..

Apologi*é, Maafkan aku ..

 

Berikan Maaf Untukku ….

 

Kupacu gas motor ini sekecang-kencangnya berbelok ke kiri menikung di sebuah jalan beberapa kali hampir saja terjatuh. Ternyata baru aku sadari kacamataku tertinggal di kamar, namun sekarang hal itu bukanlah prioritas utamaku. Semua tidak terlihat jelas lampu motor yang lupa tidak aku nyalakan membuat pandanganku begitu terbatas. Ku kerahkan semua tenaga ini, ku lihat sekitar dengan kejelasan yang mungkin hanya 20% dari pengelihatan orang normal. Ku berkeliling sekitar tikungan rumahku, dengan pacuan gas yang hampir tidak aku kurangi sehingga membuat malam itu begitu gaduh. Perasaanku amat sangat tersiksa, orang yang aku sayangi tersakiti dengan perbuatan yang aku lakukan hingga dia kabur dan tidak mau memaafkan aku. Air mata menetes di pipiku, pikiranku sangat kacau hingga tepat di depan gang ada sebuah mobil melaju sangat kencang, perhatianku yang begitu besar untuk orang itu membuat mobil yang semakin dekat hampir saja menabrakku. Ku banting kemudi ku, hapir saja aku terjatuh. Sejenak aku ingat bahwa ini adalah motor temanku, ku jaga motor itu agar tidak sampai lecet dan ku korbankan lengan kiriku untuk ku jadikan poros keseimbanganku.

Rasa linu yang sangat luar biasa, merasuk dalam tubuh yang tengah mengalami kekacauan ini. Namun sekali lagi ku terus mencari temanku, bagiku keselamatan dia sangat berharga di bandingkan dengan hidupku. Seketika aku menghentikan motor yang telah ku kendarai, rasa lelah dan sangat penuh gejolak rasa marah terhadap diri sendiri. Ya Allah, aku sangat mencintai temanku itu jangan berikan dia kesusahan. Berikanlah semua kesusahannya untukku, untuk aku tanggung dan aku pertanggung jawabkan semuanya.

Tiba-tiba suara dering hand phone yang ternyata berisi message dari temanku.

Dari : Al

Kamu ga usah pedulikan aku, aku gpp.

Jangan buat aku marah dengan tindakan bodohmu.

Istirahat saja, renungi kesalahanmu

Aku hanya ingin mengantarnya pulang, dan jika seandainya aku dibenci tidak apa-apa asalkan dia bisa pulang dengan selamat. Kini aku pun sadar, hal semacam permohonan maaf tidak akan mudah meluluhkan hati temanku itu. Beberapa kali pesan yang menuntutku untuk segera pulang dan rasa kecewa akan semua tindakanku. Malam yang sangat panjang, ku menuju rumahnya berharap dia sudah dirumahnya namun kenapa juga hati ini masih tidak tenang seolah dia masih dalam marah bahaya. Berulang aku telpon namun tidak ada satupun yang dijawab. Semakin lama pun tangan ini sudah tidak sanggup lagi merasakan bebannya, perlahan aku memutari kompleks rumahku dan akhirnya aku pulang ke rumah setelah pesan yang dia kirim menunjukan kekecewaannya.

Akhirya aku sampai di rumah, namun sekali lagi aku mengalami shock yang sangat di hati ini. Tidak lama aku sampai di rumah, sebuah pesan dari temanku masuk.

Dari : Al

Temui aku di depan Graha Wiyata, sekarang!

Sekitar 5 menit aku sampai di tempat itu, dan terlihat temanku yang sedang berjalan. Sangat kecewa jelas terlihat di wajah polosnya itu, hampir tidak bisa aku lupakan semua yang telah terjadi ini.

“Al, maafin aku. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku tadi, aku mohon maaf Al.”

“Sudahlah, sebaiknya kamu cepat pulang. Bagaimana dengan tanganmu?” Jawab ia.

“Aku tidak apa-apa kok, aku mohon, maafin aku ya Al.”

“Sekarang ke dokter ayo, katanya tanganmu terkilir. Maaf ya sudah membuat kamu seperti ini.” Ucap Al.

“Tidak usah, tolong antar aku ke rumahku saja, please!!!” Memelas aku.

Diantarkan aku ke rumah dan mencoba mengatakan semua penyesalanku kepadanya, namun yang terlihat hanyalah sebuah kekecewaan di wajahnya. Rasa marah jelas menutup semua rasa maafku kepadanya, hanya bisa berharap keesokan hari ia akan bisa kembali menyapaku. Tuhan, berikan lapang hatinya untukku, rasa sayangku amat sangat besar untuknya, aku pun tidak mau kehilangan dia. Setelah bertemu akhirnya aku antar dia ke rumahnya walau keadaan sudah sangat kacau aku mencoba mengerti perasaannya, mungkin dia membuatuhkan penenangan di hatinya setelah kejadian barusan. Aku harus memberikan kesempatan ini, agar dia tidak berlarut-larut dalam perasaan marah.

Kepulangannya mungkin akan menjadi perjumpaan terakhirku dengannya karena aku yakin, dia sangatlah kecewa. Mebuat pikiranku semakin bersalah dan jatuh dalam sebuah penyesalan yang mendalam. Selalu ku ingat wajahnya. Hanya dia yang bisa membuat hati ini tenang, rasa bersalahku akan selalu ada dan selalu merundung dalam setiap hari-hariku selanjutnya. Sesampainya aku di rumah langsung ku basuh luka yang kotor, dan langsung masuk kedalam kamar tidur. Mata ini selalu memperhatikan sekitar, membayangkan sosoknya ketika dikamar kecil ini. Air mata yang sudah mulai kering di pipiku mulai terbasahi kembali dan mulai aku tulis semua apa yang telah terjadi di dalam diaryku. Kucurahkan segala rasa penyesalan ini, penyesalan yang akan selalu ku tanggung sampai dia memaafkan aku, hingga semua kembali seperti sedia kala. Tapi mungkin hanyala sebuah angan sesaatku, dia tidak akan memaafkan aku dan sangat jelas terlihat rasa kecewa yang ia tunjukan hingga melakukan hal itu sudah mewakili seberapa rasa marahnya dia denganku.

Kupadangi satu per satu fotonya yang telah aku simpan, menuju sebuah deperesi berat aku rasakan. Padahal ia amat sangat baik kepadaku, walaupun beberapa kali ia mengacuhkan aku ketika ku menyatakan perasaan yang aku rasakan kepadanya. Itulah yang membuat aku amat sangat nyaman dengan sosoknya yang begitu tenang, tidak terlalu merisaukan akan sebuah hubungan yang biasanya di alami oleh seorang pemuda lainnya. Dia berbeda degan yang lain, caranya memberikan sebuah perhatian cukup untuk membuat aku tenang dalam segala hal. Dia juga menjadi sebuah inspirator dalam hidupku, tidak sedikit cerita yang telah aku dengar darinya dan beberapa karya telah aku selesaikan dengan tanganku sendiri. Berbagai masukan yang ia katakan kucoba lakukan, dan semuanya begitu terasa mudah ketika sesuatu yang sulit aku kerjakan dengan sungguh-sungguh dan dengan kemampuanku sendiri.

Beberapa kemenangan dan beasiswa aku dapatkan dari karyaku itu, Tuhan telah menunjukan sesuatu pertemuan kami dengan keberkahan yang luar biasa. Harapanku, ini akan menjadi sebuah pengalaman baru untuk lebih berhati-hati dalam bertindak. Janjiku untuk menjagamu memang telah aku langgar, penyesalan dan permintaan maafku mungkin tidak akan menghapus kenangan buruk ini dan mungkin akan menjadi sebuah memori yang paling buruk yang kamu alami, namun satu hal yang perlu kau ketahui.

Aku sangat menyesal.

 

 

 

 

Facebook Comments

About Dhaniel De Jhoanes

2 comments

  1. katedrarajawen

    Betapa penting dan berharganya sebuah maaf

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif