Home » FIKSI » Cerpen » BAB HILANG DALAM TRAGEDI SAMAN

BAB HILANG DALAM TRAGEDI SAMAN

Oleh : Fahris

Bom kembali menghujani desa Lubukrantau, Athanasius Wisanggeni menyadari bahwa Upi masih terperangkap di dalam ruangan yang ia bangun sebelumnya. Kobaran api berada dimana-mana, Wis baru saja memeriksa bangunan yang merangkeng Upi, namun sudah tampak porak-poranda, air mata Wis menetes dan hanya bisa berteriak memanggil nama Upi. Sementara semua penduduk di tawan oleh sekelompok orang yang tamak akan kedudukan, para pemuda Lubukrantau menyebar untuk mengelabuhi musuh yang sudah mulai menguasai desa.

Tiba-tiba terdengar orok bayi dari sebuah rumah diseberang gereja, Wis mencoba mengambil tindakan sementara untuk menyelamatkan sang bayi agar tidak ketahuan oleh tentara bayaran yang kejam itu. Tanpa bersuara Wis mencoba bergerak secepat mungkin, menyelinap diantara tumpukan puing-puing kayu hasil kebengisan para tentara itu. Sampai ia pada sebuah rumah yang hampir saja roboh karena sebagian besar bangunan itu telah terlahap api, karena takut akan hal menakutkan terjadi, segera ia menelusuri setiap ruangan rumah itu, suara bayi itu mulai hilang, mungkin hanya kelelahan karena Wis tahu, bayi tersebut menangis sejak tadi. Terperangah ia ketika mendapati bayi yang henda ia tolong telah meninggal, dirasakan denyut nadi dan detak jantungnya namun tidak lagi ia rasakan apapun dari tubuh sang bayi selain suhu hangat yang dirasa. Lagi-lagi ia menerima kepahitan setelah kehilangan Upi, kini ia juga tidak mampu menolong bayi mungil itu.

Dari luar bangunan terdengar percakapan singkat, Wis mencoba melihat keadaan diluar sana melalui celah tembok bambu itu. Nampak beberapa tentara tengah membicarakan sesuatu, namun tidak satu pun Wis menangkap pembicaraan itu, dan salah satu tentara itu tiba-tiba jatuh terkapar di depan temannya. Wis mencoba melihat sekitar, ia takut kalau saja para pemuda Lubukrantau terlalu terburu-buru kembali ke desa disituasi yang masih genting ini.

Berawal pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Wis mencari tahu, ia menyadari bahwa pembangkit listrik itu ia buat bersama dengan para pemuda Lubukrantau, beberapa hari ia terus mengawasi titik-titik yang menurut Wis rawan akan sebuah perusakan, karena ia tahu target dari para perusak itu adalah fasilitas desa yanag membantu dalam pencarian karet didesa itu. Beberapa pemuda ia kerahkan untuk menyelidiki peristiwa ini di luar desa, sebagian pemuda berjaga-jaga di beberapa pembangkit listrik di desa itu.

Keesokan harinya warga desa ribut dengan penemuan sejumalah turbin pembangkit listrik rusak parah, yang lebih memilukan beberapa pemuda ditemukan tewas dengan luka lebam di sekujur tubuh dan bekas bacokan celurit. Lagi-lagi peristiwa tidak mengenakan terjadi, Wis berusaha memutar otak untuk menemukan sebuah cara dan segera mengetahui kebenaran yang terjadi. Beberapa hari pasca kejadian di desa, Wis pergi ke kantor keuskupan palembang untuk meminta bantuan.

“Bapak Uskup, kami telah mengalami sebuah bencana, desa yang kami tinggali diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal, kami tidak bisa mengira siapa yang melakukan hal itu, karena kami juga tidak pernah berurusan atau mempunyai masalah dengan orang luar desa.”

“Saudara Wisanggeni, memang benar anda mencoba menolong mereka, namun perlu anda ketahui, bahwa hal tersebut bukanlah tugas anda sebagai Pastor di desa itu.”

“Bagai mana mungkin pak! Tolonglah saya pak, kami memerlukan dana secepat mungkin dan itu pun kami tidak yakin jika orang-orang itu terus-menerus merusak desa , saya pun tidak yakin desa akan bertahan lama.”

“Kami turut perihatin, namun maaf kami benar-benar tidak bisa membantu saudara dalam hal ini.”

Setelah percakapan yang panjang akhirnya Wis pulang dengan tangan hampa, kekhawatirannya dengan keadaan desa, membuat ia bergegas untuk kembali ke Lubukrantau. Tepat dua hari setelah percakapannya dengan Uskup di kantor pusat, ia sampai di pintu masuk desa, suasana sangat sepi dan tidak tampak aktivitas penduduk satupun, rumah-rumah warga tertutup rapat. Tidak seperti biasa, waktu subuh yang penuh dengan aktivitas para petani kini tampak sangat sepi, hanya beberapa asap mengepul dari dapur warga.

Dari kejauhan terlihat keramaian di rumah yang tidak asing, tampak seorang pemuda desa gusar dan mengacungkan sebilah celurit ke arah orang asing di hadapannya. Langkah kaki Wis semakin cepat, suara pertengkaran mereka semakin jelas terdengar oleh Wis, tiba-tiba seorang wanita muda yang tidak lain adalah Upi keluar dari rumah itu dengan sekelompok orang asing berjaket hitam dengan asesoris kacamata hitam di kepalanya. Wis geram melihat perlakuan orang asing itu.

“Ada apa ini? Upi mau dia apakan?” Tanya Wis dengan muka geramnya.

“Siapa kau? Saya tidak mempunyai urusan dengan anda, jadi minggir dan cukup diam saja di tempat kamu.”

“Saya memang bukan siapa-siapa, tetapi saya mempunyai tanggung jawab untuk melindungi Upi dari apapun.”

“Diam kamu, atau kamu berurusan dengan kami. Selangkah saja kamu maju, kami tidak akan segan-segan membunuh gadis ini.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Wis mulai mengerutkan wajahnya, menadakan emosi yang semakin tidak terbendung darinya.

“Semua warga telah menyerahkan dan mau menjual kebun karetnya untuk digantikan dengan kebun kelapa sawit yang kami kelola.”

“Lalu apa masalahnya dengan keluarga Upi, kalo memang mereka tidak setuju menjual kebun karetnya, karena mereka mempunyai alasan tertentu dan itu hak mereka!!”

“Sepertinya kamu bukan orang sini? Kamu terlihat lebih rapih dan terawat untuk seorang petani karet di desa ini.”

“Bukan urusan kalian, begini saja, bagaimana jika keluarga Upi dikasih kesempatan untuk membicarakan masalah ini, datanglah seminggu lagi.”

“Apa?? Seminggu, lima hari kami akan datang dan meminta kepastian, namun bagaimanapun perkebunan karet ini akan menjadi sebuah perkebunan kelapa sawit.”

Percakapan singkat itu menyisakan beberapa pertanyaan di dalam kepala Wis, orang

asing tersebut terlihat sangat

Dan ternyata orang tersebut adalah sekelompok tentara suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, mereka mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian membakar seluruh rumah warga dan menculik Wis penjara pengasingan. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpasa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu. Ia dibawa ke rumah sakit dan kemudian dirawat oleh suster-suster gereja di kediaman mereka. Ia mengamanti kartu identitasnya sampai peristiwa itu selesai di pengadilan dua tahun kemudian.

Facebook Comments

About Dhaniel De Jhoanes

2 comments

  1. katedrarajawen

    Cara cara barbar yang rupanya masih terpelihara untuk memenuhi keinginan segintir manusia

  2. mas pernah baca novel “SAMAN” ??? karya Ayu Utami?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif