Home » FIKSI » Cerpen » SAMAN

SAMAN

 

Ayu Utami

 

Setelah beberapa tahun kepergian Saman di negeri Patung Liberty, Amerika akhirnya Saman kembali ke tanah air, masa jauhnya kini sudah berakhir dan kini ia yang menjabat sebagai kepala LSM dalam negeri yang menangani khasus-khasus yang masih belum mendapatan sebuah permecahannya, salah satu yang ia lakukan saat ini dari sahabatnya Laila, yang memintanya mengentaskan khasus tentang hilangnya seorang crew pekerja di perusahaan Texcoil Indonesia atas keteledoran seorang representasi bernama Cano.

Kisah cerita berawal dari Laila yang dipekerjakan untuk meliput profil perusahaan Texcoil Indonesia di salah satu perusahaan kilang minyak di Kepulauan Anambas. Dia ditugaskan bersama rekan kerjanya yaitu Toni. Disana ia berkenalan dengan beberapa orang termasuk Rosano sebagai representatif Texcoil, akrab dipanggil cano yang mempunyai watak culas dan sok tahu serta Insinyur Analis kandungan minyak yang bernama Sihar Situmorang dan Sihar dibantu oleh dua rekan setim nya yaitu Hasyim Ali akhli operator mesin dan seorang insinyur junior dibawah bimbingan Sihar yaitu Iman. Sihar amat tangkas dalam mekanisme pengeboran, sudah menjadi tanggung jawab dan keahliannya dalam menentukan kapan eksploisasi galian diadakan dan kapan itu tidak dilakukan. Hal yang sangat luarbiasa ini ternyata membuat ketertarikan seorang Laila, Laila begitu kagum dengan sosok Sihar. Hal itu juga dimantapkan bahwa ia yakin ada suatu perasaan yang beda ketika pertama kali bertemu. Dengan sebuah tatapan misterius dan kemuadian terus terngiangkan beberapa hari ini oleh Laila.

Namun suatu ketika terjadilah suatu insiden dimana salah satu crew mereka meninggal dunia, hal ini dikarenakan tindakan yang diambil Rosano yang semena-mena akan pengeploisasian lubang disalah satu sumur dipulau terpencil itu. Akibatnya guncangan besar yang dibarengi dengan ledakan melululantahkan para pekerja yang saat itu berada didekat lubang sumur minyak tadi. Keputusan Rosano yang mengambil alih pekerjaan Sihar tanpa mengetahui sebabnya, kini menjadi petaka. Sebelumnya Sihar yang telah dicoret namanya dari pekerjaan ini menjadikan Rosano satu-satunya orang yang perlu dipersalahkan di meja hukum atas kematian Hasyim. Namun orang macam Rosano yang mempunyai kekuasaan tentu tidak akan lepas tangan, sesuatu pasti terjadi untuk meredakan khasus yang menimpa dirinya.

Sihar dan Laila yang merasa geram akan tindakan Rosano bermaksud untuk membongkar kebenaran tentang perkara ini di meja hukum. Namun keduanya mengalami kebuntuan jalan, hingga Laila mengatakan sesuatu tentang seseorang yang mungkin bisa membantu menyelesaikan perkara ini. Saman yang disebutkan namanya kini menjadi objek buruan Sihar dan Laila, dan setelah mendengar kebar dari Laila sekitar dua hari sebelumnya, Saman sudah berada di sebuah dusun Talangrajung, tempat dimana Hasyim tinggal, didapatinya sedang duduk di depan rumah bersama Ayah dan Abang Hasyim.

Ditemui ia dalam keadaan yang sudah sedikit berbeda dengan gaya penampilan serta karakter yang berbeda pula, Laila yang telah menjadi teman dekat waktu kecilnya merasa sangat ada yang berbeda di sosok Saman yang sekarang. Menyadari bahwa dirinya begitu memuja Saman waktu dahulu sebelum ia menghilang beberapa tahun sebagai buronan. Dan dirumah Hasyim tinggal mereka membicarakan semua kejadian yang menimpa Hasyim waktu itu dan berniat untuk menarik Rosano ke meja hijau untuk mempertanggung jawabkan. Beberapa bulan kemudian, ketika persidangan berlangsung terjadi keributan, penduduk yang menginginkan Rosano untuk diusut dengan hukum, warga datang dengan membawa obor dan minyak yang akan membakar rig tempat Rosano kerja, karena didapati warga dengan penemuan-penemuan mayat yang terjadi setiap minggu disekitar perkebunan kelapa sawit. Akhirnya Rosano diamankan dan menjajikan kepada penduduk untuk segera menyidang Rosano dengan syarat penduduk tidak membakar rig tersebut.

Akhirnya dari bantuan banyak pihak, Cano dapat merasakan balasan yang sebenarnya dengan merasakan tahanan yang dingin sesuai dengan habitat seharusnya. Dan jauh dari hal tersebut kini Sihar diminta untuk mendatangi sebuah pelatihan di Amerika, merasa sebagai kesempatan berduaan dengan kekasihnya itu, Laila pun berniat ke Amerika sekaligus menengok sahabatnya Shakuntala, Tala menyebutnya. Dan keduanya, Laila dan Sihar membuat janji untuk bertemu di monumen Colombus, New York. Namun hingga waktunya tiba, Sihar tak kunjung datang dan menghilang seperti ditelan bumi, hingga sekarang. Kesedihan dirasakan Laila yang sekarang tengah berada di negeri orang bersama sahabatnya Tala, yang tiba-tiba Tala menanyakan kabar soal Saman yang sekarang. Bekas orang yang telah merebut hatinya Laila sebelum jatuh dipelukan Sihar sekarang. Yang mengalami banyak rintangan dimasa kecil hingga ia dewasa, terlahir dengan sosok yang penyayang, dialah Saman. Berbagai cerita mencengangkan yang dialami Saman membuat banyak orang mengaguminya, termasuk Yasmin, Laila, Tala dan Cok.

Semasa kecilnya, Saman yang mempunyai nama asli Athanasius Wisanggeni yang biasa dipanggil Wis mempunyai seorang ayah bernama Sudoyo yang bekerja sebagai pegawai Bank Rakyat Indonesia di Yogyakarta sejak kuliah di Universitas Gajah Mada. Ibunya seseorang yang sangat cantik, karna beliau adalah seorang priyayi yang masih keturunan ningrat yang ada di Yogyakarta. Mereka tinggal di daerah Bantul yang kemudian pindah ke daerah Prabumulih, tempat perminyakan ditengah-tengah Sumatra Selatan. Dari tempat ini lah tergambar sebuah kejadian-kejadian aneh yang menghantui Saman hingga dewasa kelak. Keluarga Saman tinggal di Prabumulih dengan ditemani seorang pemuda bujang bernama Somir yang menjadi penjaga kantor temat ayah Saman tinggal.

Suatu ketika ibu Saman hamil dan menginjak umur 7 bulan, namun disuatu malam tiba-tiba ibu saman yang habisa keluar dari hutan lebat dibelakang rumahnya, mendapati ibunya telah lemas seperti habis melahirkan, namun tidak ada satu pun tanda-tanda kelahiran selain mendapati ibunya yang telah lunglai tak berdaya dan perut yang tidak lagi ada sosok janin. Kejadian itu sontak menjadi berita yang mengagetkan satu keluarga kecil itu dan mulailah dipekerjakan seseorang bernama Lik Dirah untuk menjaga ibu. Beberapa bulan kemudian didapati ibu Saman telah hamil kembali, tidak mau kejadian terulang lagi, kini ayah Saman memperlakuakan istrinya dengan penjagaan yang lebih. Namun lagi-lagi saat menginjak umur kehamilan yang ke 5 bulan,kejadian terulang. Ditengah kesibukan siang hari, ibu yang tengah tidur dan istirahat didapati telah kehilangan bayi yang dikandungnya, sebelumnya Saman mendengar jeritan bayi dan suara ibu yang tengah menimang, menganggap ibunya telah melahirkan. Setelah kejadian itu akhirnya diadakan sebuah upacara pensucian, requiem, misa arwah tanpa jenasah yang dilakuakan kedua kalinya.

Setelah itu, Wis sering mendengar orok bayi yang tengah lapar meminta asi seorang ibu, sepanjang malam biasa ia merasakan adanya suara-suara itu dan akan hilang ketika ia berusaha menoleh atau mencari suara itu. Peristiwa itu pelan-pelan dilupakan orang, tapi Wis masih saja merasakan suara-suara aneh kerap menghantui dirinya ketika malam. Dan sekarang menginjak tiga tahun setelah peristiwa yang terakhir terjadi, kini ibu hamil kembali dan tidak mau akan kejadian yang aneh kembali terjadi akhirnya ayah Wis mendatangkan ibu mertuanya untuk menjaga istrinya itu. Hingga saat persalinan tiba, akhirnya ibu Wis melahirkan seorang bayi perempuan dan sontak membuat suasana pecah dengan keharuan. Tiga hari setelah itu disuatu malam, Wis yang tidur bersama Mbah Putri dan Lik Dirah yang sekamar dengan ibu Wis dan bayinya. Wis mendengar suara-suara aneh itu lagi dan kali ini Wis merasa akan terjadi sesuatu, dengan cepat Wis keluar kamar dan membangunkan ayahnya yang di meja kantor untuk segera kekamar ibu, diberengi oleh jeritan adik Wis yang menjadi-jadi. Mbah Putri yang mendapati bayi itu dengan urat leher mengejang dan didapati pipis yang sudah membasahi kasur. Ketika Mbah Putri hendak bangun, sesuatu menahannya dan ketika ia telah bangkit sesuatu menendang dadanya hingga tersungkur tak berdaya dilantai dan isakan bayi itu berhenti. Wis dan ayahnya yang sampai di kamar ibunya mendapati bayi itu dalam keadaan tak bernyawa.

Tidak lama setelah kejadian ketiga kalinya itu, ayah Wis memutuskan pindah ke Jakarta, di kota itu pula ibunya yang mengalami tekanan batin atas kematian anak dan calon bayinya akhirnya jatuh sakit dan meninggal. Beberapa tahun kemudian, Wis yang beragama Katolik itu, mengabdikan dirinya sebagai Pastor. Ia ingin ditugaskan untuk keagamaan di Perabumulih, daerah masa kecilnya yang menyimpan banyak misteri. Namun, ia tidak diizinkan hanya boleh berlibur saja ke sana. Wisanggeni ditugaskan sebagai Pator paroki Parid yang melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan Palembang. Sebelum sampai pada tempat tugasnya, ia menyempatkan diri ke bekas rumahnya 10 tahun silam. Setelah beberapa kali ke rumah itu, dan akrab dengan sang pemilik rumah, ia mendapat kepercayaan untuk tinggal di situ selama pemiliknya ke Jakarta untuk melahirkan.

Ketika tinggal di rumah itu, Wis kembali bisa merasakan hawa-hawa aneh seprti masa kecilnya. Ia juga bisa mendengar suara adik-adiknya serta bercakap-cakap dengan bahasa masing-masing. Tiba-tiba Wis mendengar suara minta gadis tolong dan iapun berlari ke sumber suara sampai di sebuah sumur di tengah hutan. Setelah itu Wis berteriak minta tolong pada warga sekitar. Dan setelah warga berdatangan,ternyata tak seorangpun berani masuk menolong si gadis. Wis memberanikan diri melakukan itu. Ia dan gadis itu selamat. Gadis itu bernama Upi. Ia adalah manusia yang keejiwaanya terganggu dan tidak mengerti bahasa manusia. Ketika Wis mengembalikan Upi kepada orang tuanya, baru ia ketahui bahwa Upi diasingkan oleh ibunya di rumah pemasungan yang sangat kecil, tidak lebih dari baik dari kandang kambing. Merasa tidak tega, dan sedikit demi sedikit muncul rasa sayang dihatinya, Wis membuatkan rumah pasung baru untuk Upi yang lebih besar dan nyaman. Tidak hanya itu yang ia lakukan. Melihat keadaan perkebunan di sana ia merasa prihatin. Ia jug takut jika mereka pindah dari situ Upi tidak akan mendapat rumah yang lebih baik dari sekarang. Kemudian dengan izin dari Uskup untuk berkarya di perkebunan, Wis membuat tempat pengolahan karet sederhana untuk wilayah Lubukrantau itu dan membuat pembangkit listrik.

Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, mereka mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian membakar seluruh rumah warga dan menculik Wis penjara pengasingan. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpasa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu. Ia dibawa ke rumah sakit dan kemudian dirawat oleh suster-suster gereja di kediaman mereka. Ia mengamanti kartu identitasnya sampai peristiwa itu selesai di pengadilan dua tahun kemudian. Ia memilih nama Saman tanpa alasan khusus.

Dalam kehidupannya, Saman juga pernah terlibat dengan kehidupan empat orang gadis yang saling bersahabat. Shakuntala, sseseorang yang membenci ayahnya. Yasmin, seseorang yang membenci guru dan Laila yang membenci laki-laki. Sementara, Cok tidak bisa menemukan apa yang harus ia benci. Kebencian Laila pada laki-laki lenyap ketika ia jatuh cinta pertama kali pada Wisanggeni yang kala itu sebagai mahasiswa seminari yang ditugaskan membimbing rekoleksi tentang kesadaran sosial di SMP mereka. Sayangnya, keluarga Minang Laila itu melihat purinya bergaul dengan calon Pastor. Dan Yasmin yang Katolik juga tidak menyetujui itu. Namun, Yasmin pula yang sering membantu pertemuan Laila dengan Wis atas dasar peersahabatan.

Semakin berjalannya waktu, semuanya tengah berubah. Laila tidak lagi mencintai Wisanggeni yang sudah mengganti nama menjadi Saman. Kali ini ia mencintai Sihar, seseorang yang sudah beristri. Laila paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dia juga satu-satunya yang belum menikah.

Posisi Saman di Indonesia sudah tidak aman lagi setelah kejadian di Medan. Persahabatan itu juga yang kemudian menyelamatkan Saman. Ia dikirim ke New York oleh Yasmin dan Cok. Dari kejadian itu dan kejadian sebelum keberangkatan Saman, akhirnya mereka sering berkomunikasi lewat dunia maya. Saman sangat dekat dengan Yasmin, didukung dengan kesamaan kepercayaan mereka dan Yasmin pula orang pertama yang menenggalkan jejakanya Pastor Saman, tepat sebelum Saman berangkat ke Singapuran dan kemudian ke Amerika diundang sebagai pembantu LSM. Akhir perjalanan yang sangat berat untuk keduanya, status Yasmin yang telah menjadi istri Lucas, sosok suami yang berbadan kekar berparas tampan keturunan jawa itu kini berselingkuh dengan sosok Saman yang sama sekali jauh beda dengan Lucas. Walau mengaku Saman tidak setampan dan seperkasa Lucas tapi Yasmin merasakan suatu perasaan yang luar biasa ketika didekat kekasih gelapnya itu.

SELESAI

Facebook Comments

About Dhaniel De Jhoanes

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif