Home » FIKSI » Cerpen » Selembar Surat

Selembar Surat

Pagi cerah bersinar dari ufuk timur, sinar yang begitu indah bersinar menemani aktivitas masyarakat desa. Pagi yang begitu segar bagi sebagian orang. terlihat di sebuah emperan rumah kecil seorang lelaki tua yang duduk seorang diri dengan hanya di temani secangkir teh dan makanan ringan di atas mejanya. Pandangan Lelaki tua tersebut mengarah ke sebuah pemandangan yang berada tepat di depan rumahnya. pandangannya seolah sedang menerawang masa lalunya. Entah apa yang ia pikirkan sekarang , sudah 10 tahun lamanya ia hidup sebatang kara. sang istri telah lama tutup usia sedangkan sang anak sekarang merantau ke kota untuk menghidupi sang ayah dan dirinya.
Di sisa hidupnya Sekarang ia hanya bisa diam seribu bahasa. Setiap hari ia hanya dapat melihat aktivitas masyarakat yang lalu lalang di jalan depan rumahnya. Ia sudah tidak mampu melakukan aktivitasnya seperti dulu. Di sisa hidupnya sekarang ia hanya bisa duduk di kursi rodanya. Setiap hari ia selalu terlihat sedih. Mungkin rasa kesepian dan kehidupan masa lalunya yang pahit getir yang selalu membuatnya lesu darah. Bahkan tetangga pun jarang menjamah rumahnya yang kecil. Entah apa yang membuat mereka menjauhinya. Setiap kali ia melihat keluarga yang bahagia membuatnya berkecil hati dan rasa menyesal selalu menyelimutinya.
Mungkin semua itu karena masa lalunya. masa lalu yang selalu main gila menjadi pengalaman yang kelam baginya. Ia selau bersikap tangan besi terhadap keluarganya seperti orang berkepala kosong. Sifatnya yang mudah naik pitam dan Lancang mulut sering makan hati keluarganya dan kelakuannya selalu menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Ia juga dikenal keras kepala dan berhati batu di lingkungannya. Sungguh masa lalu yang kurang menyenangkan dan sangat buruk. Setelah sang istri menghembuskan nafas terakhirnya ia selalu ringan tangan terhadap anaknya. Seluruh pekerjaan ia limpahkan kepada sang anak tanpa mempedulikan rasa letih sang anak yang mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Perlakuan kurang menyenangkan selalu di terima anaknya. Setelah sekian lama sang anak memilih pergi merantau untuk mencari penghasilan demi membiayai kehidupan ia dan ayahnya setelah ayahnya yang berhenti bekerja. Di tangannya Terlihat sepucuk surat ia genggam. Mungkin surat tersebut dari sang anak yang sekarang berada di perantauan. Setiap waktu sang anak selalu mengabari keadaannya di perantauan melalui surat.
Dalam hati kecilnya mungkin ingin sekali ia bertemu dengan anak semata wayangnya tersebut hanya untuk mengobati rasa rindunya dan meminta maaf atas perlakuannya dulu kepadanya di masa tuanya sekarang kepada sang anak. Namun, bagai katak hendak jadi lembu ia tidak dapat bertemu dengan sang anak karena ia sekarang tidak mampu melakukan perjalanan jauh menuju ke perantauan anaknya tersebut. sedangkan sang anak hanya memiliki waktu libur yang sedikit.
Kini Yang bisa ia lakukan hanyalah berkomunikasi melalui surat. Hitam di atas putih mengiringi lembar demi lembar surat yang ia kirimkan kepada sang anak. Namun, meskipun hanya sepucuk surat, itu pun cukup baginya untuk melepas rindunya dan mengetahui keberadaan sang anak. Hanya Rasa bersyukur yang selalu terucap dari mulutnya karena ia masih memiliki anak yang perhatian kepadanya meskipun dulu ia selalu memberikan perlakuan kurang menyenangkan kepada sang anak ia beruntung masih di beri kesempatan untuk dapat berkomunikasi dengan anaknya tersebut.

Facebook Comments

About Akhmad Mutaallimin

2 comments

  1. sungguh menyentuh :’) https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

  2. katedrarajawen

    Sepucuk surat masih berarti ya untuk melepas kerinduan, walau sudah bisa digantikan dengan selembar email atau sebuah pesan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif