Home » FIKSI » Cerpen » Bidadari Hati

Bidadari Hati

bidadari“ BIDADARI HATI “

Semilir angin memecah kesunyian malam, Nuri mengangkat kerah jaketnya lebih tinggi. Angin yang datang menjalari tubuhnya merasuk hingga ke ulu hatinya. Jam di masjid sudah berdentang sebanyak 12 kali, namun entah mengapa matanya tak juga ingin terpejam. Sudah sekitar 3 jam yang lalu dia berdiri di beranda rumahnya, ditatapnya deretan pot berisi mawar gurun. Mata Nuri kini tertuju pada sebuah pot,dihitungnya bunga berwarna merah muda yang bergerombol di dalamnya, ada 5 kuntum bunga yang mekar di sana. Hatinya kembali gelisah. Kehangatan kini mengalir dalam darahnya, kehangatan yang tiba-tiba datang. Dia tiba-tiba mengingatnya. Ya, dia mengingat seseorang yang dulu selalu bersamanya mengisi hari-harinya menjadi penuh warna.

Nuri teringat pada Elang. Sosok pria yang usianya 2 tahun lebih muda dari usianya. Nuri teringat saat pertama kali mengenal Elang. Saat itu Nuri diajak oleh seorang seniornya di palang merah ke lokasi banjir. Di tengah reruntuhan bangunan yang hancur terbawa air. Matanya menatap lekat pada sosok anak muda yang dengan cekatan menolong seorang nenek. Nenek itu terjepit di antara reruntuhan bangunan. Entah mengapa matanya tak dapat berpaling dari pemuda itu. Sambil mengeluarkan bantuan dari dalam mobil pun matanya terus menatap lekat ke arah pemuda tersebut. Kulitnya hitam manis, hidungnya mancung dengan tinggi badan yang ideal. Dari penampilan fisiknya, Nuri mengira-ngira bahwa pemuda itu keturunan arab.

“ Hei, lagi liatin siapa sih?” Topan, kakak seniornya tiba-tiba mengagetkannya.

“ Eh maaf kak, nggak apa-apa kok, saya cuman kasihan liat nenek itu,” jawab Nuri singkat, dia tak ingin Topan berpikir yang macam-macam.

“ Liatin nenek itu atau liatin yang nolongin?” Topan bertanya sambil menggoda Nuri.

“ Ih Kak Topan apaan sih, ya liatin Neneknya dong”, jawab Nuri sambil merajuk malu, pipinya tiba-tiba terasa panas.

Topan kemudian hanya tersenyum nakal ke arahnya. Nuri akhirnya memutuskan untuk mengalihkan pandangannya. Dia tak mau Topan menggodanya lagi. Tapi sepertinya Topan tahu apa yang sedang dipikirkan Nuri. Tanpa disangka-sangka oleh gadis itu disaat dia asyik membagikan bantuan makanan kepada korban banjir, tiba-tiba bahunya ditepuk halus, Nuri kaget, Ah, ternyata Topan lagi.

“ Aduh kak Topan apaan sih!” Nuri kesal karena terkejut. Kakak seniornya yang satu ini memang jahil.

“ Ada yang mau kenalan nih sama kamu,” Topan berkata sambil melangkah pergi meninggalkannya. Dasar orang aneh pikirnya.

Kini giliran Nuri yang bingung dan berdiri mematung. Begitu pula pemuda yang berdiri di depannya. Pemuda itu pun tak mampu menyembunyikan raut mukanya yang bingung. Dalam hati ingin rasanya Nuri memaki dan memakan Topan mentah-mentah.

“ Mmm, maaf kak nama saya Elang, kakak dari palang merah kan? Saya dari palang merah remaja SMA bakti nusantara,” pemuda itu mencoba membuyarkan kekakuan di antara mereka. Nuri kaget juga ternyata pemuda di hadapannya adalah seorang siswa SMA. Setelah beberapa saat terdiam Nuri akhirnya membuka suara.

“ Oh ya nama saya Nuri, panggil aja kak Nuri, saya Korps Suka Rela dari Universitas Cendana,” Nuri menjawab seadanya. Hanya itu.

@@@

Lintasan bayangan saat pertama kali bertemu Elang kini terlihat jelas dalam memori Nuri. Nuri semakin sulit memejamkan mata. Kehangatan itu terus mengalir dalam darahnya hingga tak mampu dihentikannya. Sejak pertama kali dia bertemu Elang seolah takdir ingin selalu mempertemukan mereka. Saat itu ada kegiatan pelantikan anggota baru palang merah remaja SMA bakti nusantara. PMR SMA bakti nusantara merupakan salah satu dari PMR binaan KSR Universitas Cendana. Mau tak mau Nuri pun ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“ Nuri bisa bantu apa kak?” tanya Nuri kepada Topan.

“ Bantu anak-anak buat rute untuk acara jurit malam sana, daripada melongo aja di situ,” suruh Topan. Nuri sebenarnya paling benci kalau Topan sudah menyuruh dengan nada memerintah. Tapi dia tidak ingin berdebat dengan kakak seniornya itu. Ujung-ujungnya dia yang akan kalah debat.

Semilir angin sore yang sejuk menemani langkah Nuri dan panitia yang lain membuat tanda untuk rute jurit malam. Daun-daun bambu bergoyang menggoda angin sore yang menghampirinya. Sebuah pemandangan yang selalu dinantikan Nuri saat berkemah seperti ini. Tanpa disangka-sangka matanya kembali bertumpu pada sosok Elang. Dia sedang menyimpul tali rafia untuk tanda setiap pos perhentian. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggang Elang. Ternyata seorang gadis, Elangpun berbalik ke arah gadis yang memeluk pinggangnya. Mereka berdua terlibat pembicaraan yang sesekali diselingi dengan canda tawa yang mesra. Nuri segera memalingkan pandangannya. Ada rasa aneh yang menyusup ke dalam relung hatinya. Dia merasa ingin marah. Namun logikanya kembali menyadarkannya.

“ Kenapa harus marah, apa alasannya, Elang bukan siapa-siapa,” batinnya berbicara. Lagipula dia baru bertemu sekali dengan Elang. Apa haknya untuk marah. Dia malah ingin memarahi drinya sendiri atas pikirannya yang semakin aneh. Nuri segera menggelengkan kepalanya. Perasaan aneh seperti ini membuatnya merasa malu sendiri.

“ Kamu dengan Elang berjaga di pos 5 ya,” Topan memberikan instruksi. Deg! Jantung Nuri sepertinya lepas mendengar kata-kata Topan. Dia melihat Topan yang tersenyum nakal ke arah Nuri. Nuri membalasnya dengan tatapan jengkel.

“ Kenapa harus Nuri sih kak yang sama anak itu,” rengutnya kepada Topan saat rapat telah berakhir. Topan hanya membalasnya dengan senyuman. Senyum yang dia benci.

@@@

Nuri melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. Jam 3 pagi. Nuri terdiam di bawah rumpun pohon bambu. Ini adalah pos tempat Nuri harus berjaga. Suara burung hantu sedikit membuat bulu kuduknya berdiri. Sementara pemuda yang duduk di depannya juga terdiam. Sebenarnya Elang sendiri merasakan keganjilan. Dia biasanya cepat akrab dengan siapa saja. Tapi ada apa dengan perempuan di hadapannya ini. Dia merasa kekakuan yang luar biasa.

“ Ini pos 5 kan kak Nuri ?” kata Elang mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka. Pertanyaan yang terdengar garing di telinga Nuri. Pertanyaan yang pastinya sudah diketahui jawabannya oleh sang penanya.

“ Iya ini pos 5,” Nuri menjawab sekenanya. Entah mengapa dia merasa begitu risih pada sosok Elang. Selanjutnya mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Nuri yang dikenal dengan sosok yang periang dan bersahabat entah mengapa hanya bisa terdiam. Begitu pula dengan Elang.

Nuri menatap ke arah langit untuk mengalihkan rasa groginya. Langit begitu cerah bertaburan bintang. Melihat bintang yang bersinar terang, mendungpun enggan untuk datang mengganggu. Usaha Nuri untuk menghilangkan rasa groginya ternyata gagal. Dinginnya malam seakan tak mampu menembus kulit Nuri yang tiba-tiba terasa hangat.

“ Ya Tuhan, perasaan seperti apa ini,” seru hati Nuri. Nuri sungguh tak berani menatap wajah pemuda di hadapannya itu. Namun logikanya kembali menyadarkannya.

“ Seandainya aku terus bertingkah seperti ini, Elang pasti merasa tak nyaman, aku harus bertindak layaknya seorang kakak,” logikanya berkata. Nuri berusaha bersikap sewajarnya.

“ Kamu kelas berapa?” Nuri asal bertanya

“ Saya kelas 2 kak,” jawab Elang. Suasana kembali hening. Nuri kehabisan kata-kata.

Setelah 1 jam menunggu, akhirnya peserta jurit yang pertama sampai juga di pos mereka. Nuri memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka yang berhubungan dengan palang merah. Waktu terus berlalu seluruh peserta jurit malam telah melewati pos mereka. Nuri dan Elang berjalan beriringan meninggalkan pos jaga. Jalan setapak yang mereka lalui sungguh tidak bersahabat. Jalannya masih licin karena hujan yang mengguyur selepas magrib tadi. Sebenarnya berjalan di tengah hutan pada malam hari bukanlah hal yang baru bagi Nuri. Tetapi berjalan berdua dengan pemuda yang membuat hatinya tak karuan seperti ini adalah pengalaman pertama baginya. Konsentrasi Nuri menjadi terpecah, karena tidak fokus, batu kerikil yang berada di hadapannya jadi tak terlihat. Nuri tersandung, kakinya tak mampu menahan beban badannya. Dug! Lututnya menghantam batu yang berada di hadapannya. Darah mengalir dari lututnya.

“ Kak Nuri, kakak nggak apa-apa kan? Ya udah kakak saya bopong aja ya, kayaknya kakak nggak bisa jalan,” Elang menawarkan bantuan.

“ Nggak usah, saya masih bisa jalan kok,” Nuri menjawab. Nuri mencoba untuk berdiri dan berjalan namun dia terjatuh kembali, sepertinya tungkai kaki Nuri masih lemas akibat benturan.

Tanpa pikir panjang Elang segera membopong Nuri. Nuri pun hanya bisa pasrah. Elang membopong Nuri sampai ke pos terakhir. Saat itu Rina, pacar Elang pun sudah ada di sana.

“ Nuri kamu kenapa dek?” Topan cemas melihat keadaan Nuri.

“ Nggak apa-apa kak, kaki Nuri Cuma terkilir dikit aja kok,” jawab Nuri.

“ Makanya lain kali hati-hati dong kalo jalan kak,” Rina berkata dengan tampang tak suka.

“ Iya dek, tapi yang namanya musibah nggak bisa kita tolak,” Nuri merasa risih melihat tampang Rina yang tak enak dilihat. Dari gerakan bibirnya Nuri dapat membaca kalau gadis itu cemburu.

Elang datang membawa perban, dengan cekatan dia membalut luka Nuri. Rina menatap lekat ke arah Nuri. Nuri segera mengambil perban dari tangan Elang sambil memberikan isyarat Nuri mampu melakukannya sendiri.

@@@

3 bulan berlalu Nuri telah berhasil menata perasaannya. Dia tak ingin perasaan seperti itu merasuki hatinya. Malam minggu itu udaranya panas sekali. Nuri gerah sekali, dia memutuskan untuk membuka pintu dan duduk di teras rumahnya. Jam masih menunjukkan jam setengah 8 malam. Entah kenapa dia teringat pada Elang. Dia selalu benci dengan ingatannya yang tiba-tiba kepada orang yang tidak tepat menurutnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, satu nomor baru.

“ Halo!” Nuri mengawali pembicaraan

“ Ya, halo ini kak Nuri kan? Ini Elang kak,” kata suara di seberang sana.

Deg! Jantung Nuri kembali berdegup kencang.

“ Kak Nuri, kak Nuri nggak apa-apakan?” Elang bingung karena suara dari seberang telepon tak terdengar. Hening.

“ Oh iya nggak apa-apa, ada apa dek?” kata Nuri sesaat setelah dia berhasil menguasai dirinya.

Elang tanpa sadar menceritakan apa yang sedang menimpanya. Menurut Elang, Rina pacarnya cemburu pada Nuri.

“ Sampaikan sama Rina ya dek, nggak usah cemburu sama kak Nuri, kan kak Nuri juga nggak pernah lagi ketemu sama Elang sejak pelantikan itu kan? atau Elang mau kak Nuri langsung yang ngomong sama Rina,” Nuri menawarkan bantuan.

“ Nggak usah kak, biar nanti Elang aja yang ngomong sama Rina,” jawab Elang.

Sebenarnya Nuri bingung kenapa Rina harus cemburu padanya. Sejak kejadian kakinya yang terkilir, baru sekarang Nuri kembali berkomunikasi dengan Elang. Nuri juga heran darimana Elang mendapatkan nomor ponselnya. Nuri menduga-duga pasti semua ini ulah Topan yang memberikan nomor ponselnya kepada Elang.

@@@

Sabtu sore

“ Kak Nuri, temani saya ke pantai ya,” suara Elang terdengar dari ujung telepon.

“ Memangnya ada apa dek ngajak-ngajak kakak ke pantai? “ Nuri bertanya dengan penasaran.

“ Aku jemput sekarang ya!” tut-tut-tut.

Nuri belum sempat menyatakan setuju atau tidak teleponnya sudah ditutup oleh Elang. Rasa penasaran Nuri menjadi semakin besar. Ada apa sebenarnya dengan Elang. Udara pantai yang sejuk di sore hari senada dengan hati Nuri yang riang. Elang mengajaknya jalan berdua. Nuri mencoba menutupinya. Dia tak ingin Elang tahu perasaannya.

“ Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” tiba-tiba saja Elang berteriak ke arah laut

Nuri terperanjat kaget karena teriakan Elang yang tiba-tiba. Nuri sejenak berpikir apakah anak ini otaknya sedang bermasalah. Apakah dia diputuskan oleh Rina??

Tetes demi tetes air mata Nuri berjatuhan. Malam itu dia tak mampu memejamkan mata. Cerita Elang tadi sore membuatnya iba kepada pemuda itu. Hari ini nuraninya seolah tergugah. Elang, pemuda yang baru dikenalnya beberapa bulan terakhir ternyata memilki kisah hidup yang kelam. Ibunya meninggal ketika usianya masih 5 tahun karena kecelakaan. Ayahnya menikah lagi dan memiliki 2 orang anak. Elang tak pernah mendapatkan perhatian yang layak sejak ayahnya menikah lagi. Ibu tirinya tak pernah memperlakukan Elang dengan baik seperti adik-adik tirinya. Keadaan inilah yang memaksa Elang untuk hidup mandiri. Dari kecil Elang sudah terbiasa bekerja untuk membiayai sekolahnya sendiri padahal ayahnya bukanlah orang yang berkekurangan materi. Kepintaran Elang yang membuatnya selalu memperoleh beasiswa yang mampu membuatnya bersekolah hingga saat ini. Selama ini Elang selalu mencoba ikhlas. Entah mengapa hari ini dia merasa perlu teman untuk menumpahkan kegelisahannya. Elang merasa Nuri orang yang tepat. Dia percaya Nuri bisa menjaga rahasianya. Tanpa dia sadari Nuri telah menjadi orang yang penting dalam hidupnya kini walau hanya dalam hitungan bulan.

“ Hidup tidak indah tanpa perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kamu adalah orang yang beruntung mendapatkan pengalaman itu, keikhlasan yang bisa membantumu melaluinya, bukan yang lain”. Kata-kata Nuri seolah menjadi magnet yang membuatnya ingin selalu dekat dengan perempuan itu.

@@@

Mentari pagi menghangatkan suasana pagi di puncak Rinjani. Semburat warna keperakan mulai menyebar dari ufuk timur ke segala sudut pandangan. Nuri dan Elang menikmati suasana pagi dari puncak gunung yang sudah sangat tersohor keindahannya di seluruh penjuru dunia bersama rombongan yang lain. Nuri melangkah di antara bunga edelweis yang masih basah oleh embun. Dipandangi bunga yang bergerombol ditimpa sinar mentari.

“ Bunganya indah ya kak,” Elang memperhatikan Nuri

“ Iya dek, bunga yang indah apalagi kena sinar matahari, kelihatan semakin indah,” ingin rasanya Nuri memetik bunga itu, namun Nuri tahu para pendaki dilarang memetiknya.

Elang merasa wanita di depannya adalah wanita yang baik hati. Entah mengapa dia merasa Nuri adalah bidadari hatinya dalam waktu sesingkat ini. Cukup dengan senyumnya. Senyum Nuri adalah senyum paling natural tanpa kepalsuan yang membuat semua masalahnya menjadi lebih ringan. Wanita ini telah mencuri hatinya. Bayangan Rina yang memutuskannya beberapa hari yang lalu dengan alasan ada lelaki yang lebih keren darinya hilang tanpa bekas. Elang tak sakit hati sama sekali.

“ Hei, kenapa bengong?” Nuri membuyarkan lamunan Elang.

“ Nggak apa-apa kok kak,” rasa segan di hatinya, membuat Elang malu berkata-kata. Nuri selalu ada di saat dia ingin curhat tentang banyak hal. Tapi untuk menyampaikan isi hatinya kepada wanita itu dia tak mampu. Elang ragu mengungkapkan perasaannya.

@@@

“Selamat ya!” Teman-teman dan adik tingkatnya silih berganti mengucapkan selamat kepada Nuri. Ya, hari itu Nuri diwisuda. Momen wisuda adalah saat-saat yang membahagiakan baginya. Penjara akademik telah berakhir diruntuhkannya dan kini dia akan kembali ke dunia nyatanya. Namun ada rasa sepi yang terselip halus dalam hatinya. Hampir 3 tahun dia tak bertemu dengan Elang sosok yang sebenarnya sangat dia cintai tapi tak pernah mampu tersampaikan. Setamat SMA Elang mendapatkan beasiswa dari sebuah universitas negeri terkemuka di Yogyakarta. Dia hanya melihat informasi tentang Elang dari akun facebooknya. Seharian Nuri sibuk menerima ucapan selamat dari teman-temannya. Namun tak ada satupun sms atau ucapan selamat dari Elang di wall facebooknya. Padahal sebelumnya dia sempat mengirim pesan pada Elang.

Sebenarnya tanpa diketahui oleh Nuri, Elang datang dari Yogya untuk mengucapkan selamat kepada Nuri. Dia datang ke auditorium tempatnya wisuda sambil membawa setangkai bunga mawar merah. Namun di tengah kerumunan orang yang jumlahnya ribuan dia tak dapat menemukan Nuri. Di saat seperti itu dia mendapat sms dari dosennya untuk menemuinya membahas penelitian mereka. Tanpa sempat menyerahkan bunga itu kepada Nuri, dia kembali ke Yogya.

@@@

Jam di masjid berdentang 3 kali. Jam 3 dini hari. Lamunan Nuri buyar. Hatinya merasa tak pantas memikirkan Elang. Besok dia akan mengikat janji dengan laki-laki lain. Tidak sepantasnya dia memikirkan Elang. Hatinya tak tenang. Semua itu karena sms yang diterima dari Elang sore tadi.

“ 4 tahun saya pendam perasaan ini kak, saya berusaha untuk mengabaikannya, saya menyadari kakak hanya menganggap saya sebagai seorang adik. Tapi entah kenapa saya berpikir kakak adalah bidadari hati saya. Ingin rasanya saya menyembunyikan perasaan saya selama-lamanya, tetapi saya tak mampu. Sementara saya harus menggapai impian saya. Saya merasa kakak terlalu indah buat saya, maafkan perasaan saya.”

Nuri hanya berpikir kenapa semua ini terlambat. Seharusnya Elang mengatakannya dari dulu. Nuri merasa hatinya limbung.

@@@

Nuri terlihat cantik sekali hari ini. Kebaya broken white yang digunakan sangat pas dibadannya. Ronce melati berpadu mawar merah muda terlihat menjuntai dari sanggulnya. Tetapi semua itu tak senada dengan hatinya yang muram. Pundaknya ditepuk oleh seseorang.

“ Mbak Nuri akadnya dimulai sebentar lagi, mbak Nuri sudah siapkan?” Rasti adik sepupunya datang dengan senyum merekah. Nuri mengangguk dan segera bergegas. Namun sebelumnya dia memainkan jemari di atas ponselnya.

“ Sebenarnya kakak punya perasaan yang sama. Perasaan itu yang membuat kak Nuri tersiksa. Kakak tidak pernah mampu mengutarakan isi hati kakak kepada Elang. Maafkan perasaan kakak selama ini. Pagi ini kakak menikah. Lanjutkan impianmu. Seandainya kita bertemu lagi, kakak ingin melihat adik kakak jadi orang yang sukses.”

Nuri melangkah dengan tenang ke tempat pernikahannya. Di sana Topan sudah menunggunya dengan senyum merekah Nuri akhirnya memang menerima lamaran Topan. Nuri membalas senyum laki-laki yang dalam hitungan menit akan menjadi suaminya. Senyum terindah dari sang bidadari.

“selesai”

ilustrasi gambar : mayoviardian.blogspot.com

Facebook Comments

About Dewi Komalasari

2 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Selamat menempuh hidup baru nuri, biarkan elang terbang ke angkasa bersama masa lalu

  2. Dewi Komalasari

    terimakasih komennya pak Romi, salam dari penulis pemula yang masih belajar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif