Home » FIKSI » Cerpen » Buku Yang Bersedih

Buku Yang Bersedih

bukusedih
Aku adalah sebuah buku yang berjudul Matahari. Aku tinggal di sebuah toko buku. Di toko buku ini aku merasa sedih. Hidupku terkekang dalam sebuah kemasan plastik. Pembungkus plastik ini benar-benar membuatku sesak napas. Sebagai sebuah buku aku merasa tidak berguna. Apalah artinya sebuah buku jika belum pernah dibaca oleh siapa pun.

Di toko buku ini, sebenarnya aku tidak sendiri. Di sini tersedia ribuan buku, namun nasib kami sama, terpenjara dalam sebuah pembungkus plastik. Diantara ribuan buku itu, Bulan dan Bintang merupakan sahabat karibku. Kami biasa berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat karena suara kami terhalang oleh pembungkus plastik itu.

Aku, Bulan, dan Bintang merupakan tiga buku yang paling digemari oleh anak-anak. Setiap hari selalu saja ada anak yang menimang-nimang kami.

“Wah, buku ini bagus sekali ya, Yah ?” tanya Tono. “Iya, Ton, “ sahut Ayah. “Belikan dong, Yah !” kata Tono memohon. “Tapi Ton, buku berjudul Matahari ini mahal sekali. Uang Ayah belum cukup. Kita cari di perpustakaan saja ya, Nak,” kata Ayah menghibur.

Tanpa terasa air mataku menetes. Si Bulan dan Bintang juga menangis. Kami semua merasa terharu. Tono sangat ingin membacaku. Tapi apa daya uang Ayahnya belum mencukupi.

“Yah, mengapa tiba-tiba sampul buku ini basah ?” tanya Tono. “Ah, masak ?” jawab Ayah tak percaya. “Mungkin buku ini menagis, Yah, karena kita tidak jadi membelinya,” kata Tono.

Kami segera menghapus air mata kami. Kami berdoa kepada Tuhan, agar suatu hari nanti kami bisa terbebaskan dari toko buku ini. Agar setiap anak bisa membaca ilmu pengetahuan yang ada pada kami. Kami pun lalu tertidur

“Berapa harga ketiga buku ini, Bu ?”
“Seratus ribu rupiah, Pak”
“Ini uangnya, Bu”
“Terima kasih”
Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan antara kasir dan pembeli. “Ohhhh,….tidak, rupanya aku bangun kesiangan”

Bulan,…..Bintang ,…..banguuuun,”seruku dengan bahasa isyarat. “Ada apa ini,..ada di mana kita, Mat ?” sahut Bulan dan Bintang hampir bersamaan. “Bul,..Bin..sebentar lagi kita akan bebas. Sekarang kita sudah berada dalam tas plastik,” ujarku.

“Turun di mana, Pak ?” tanya kondektur bis kota. “Perpustakaan Anak-Anak,” jawab sang pembeli buku.
Rupanya kami bertiga akan dibawa ke perpustakaan, sebuah kata yang pernah diucapkan oleh Ayah Tono. “Mat, perpustakaan itu tempat apa sih?” tanya Bulan. “Aku juga belum tahu pasti. Mungkin tempat anak-anak bisa membaca buku tanpa bayar,” tebakku sok tahu.
“Wah, Pak Ilham bawa buku baru, nih ? tanya Bu Nurlila.
“Iya, Bu. Saya membeli buku berjudul Matahari, Bulan, dan Bintang. Beberapa hari ini banyak anak yang menanyakannya”

Oh, rupanya pembeli itu bernama Pak Ilham. Pak Ilham lalu membuka kemasan plastik yang sekian lama membuatku sesak napas. “Akhirnya aku bebassss,” teriakku sekuat tenaga. Bulan dan Bintang pun tersenyum bahagia. Kami semua merasa bahagia di perpustakaan. Selamat tinggal kesedihan !

Di perpustakaan aku dihiasi dengan label buku, slip tanggal kembali, kantong buku, dan kartu buku. Pada kartu buku tertulis judul : Matahari. Aku bangga namaku tercatat sebagai salah satu koleksi di perpustakaan ini. Sekarang kami tinggal di rak perpustakaan.

“Yah, lihat ! Itu buku yang kita lihat di toko buku,” kata Tono bersemangat. “Benar, Ton . Buku ini berjudul matahari, sama persis dengan buku yang kamu inginkan,” kata Ayah.

Tono lalu membawaku ke bagian peminjaman buku. Setelah selesai, lalu Tono membawaku pulang. Hari ini aku merasa senang sekali. Setiap hari Tono membacaku. Setiap lembar pengetahuan yang ada padaku dibacanya dengan penuh semangat. Tono memang rajin membaca. Tak heran jika dia termasuk anak yang cukup pandai di kelasnya.

Terima kasih Tuhan. Sekarang aku tak sedih lagi karena aku adalah buku yang selalu dibaca oleh anak-anak secara bergantian.

Pernah dipublikasikan di Majalah Media Pustaka, Edisi 3/Juli – September 2

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif