Home » FIKSI » Cerpen » Membuka Jendela Dunia

Membuka Jendela Dunia

jendeladonya

Pagi itu langit cerah tetapi tidak demikian dengan wajah Rahmat. Tiga hari lagi liburan sekolah usai dan tugas dari Bu Lastri hingga kini belum selesai. Bukan karena Ia malas, tetapi tugas itu dirasakannya sangat berat.

“Rahmatkan belum pernah ke Jepang, bagaimana bisa menulis tentang Negara Jepang, “ gerutunya.
“Ada apa, sayang, kok dari tadi cemberut?” tanya Ibu.

Rahmat tersipu malu. Anu, Bu, ..….Rahmat teringat tugas dari Bu Lastri, “katanya. Rahmat lalu menceritakan tugas karya tulis tentang negara-negara di dunia yang diberikan oleh gurunya itu.

“Setiap anak harus menuliskan tentang letak geografis, iklim, keadaan tanah dan hasil utamanya,” jelas Bu Lastri ketika libur sekolah hampir tiba.
“Juga, sejarah singkat negara itu, jumlah penduduk dan budayanya, “lanjutnya.
“Bu, ….boleh tidak tugas ini dikerjakan secara kelompok ?’ usul Joko.
“Iya, Bu. Kalau dikerjakan sendiri terlalu berat buat kami, “sahut Ina.
“Maaf,….anak-anak. Tugas ini adalah tugas individu. Jadi, kalian harus mengerjakan sendiri-sendiri. Yang penting kalian berusaha semaksimal mungkin, soal hasil urusan Tuhan, “tegas Bu Lastri menyemangati anak didiknya.

“Bagaimana dengan teman-temanmu yang lain, Mat ? ….Apakah mereka juga belum menyelesaikan tugasnya ?” tanya Ibu.
“Sudah, Bu. Si Andi yang mendapat tugas menulis tentang Korea sudah dibelikan bapaknya sebuah buku berjudul “Mengenal Lebih Dekat Korea”. Begitu juga dengan Indah, orang tuanya sudah membelikan sebuah buku, kata Rahmat menjelaskan.
Kalau begitu, mengapa kamu tidak pergi ke toko buku membeli buku tentang Jepang ?” tanya Kak Afi.
“Uang tabunganmu masih adakan, Nak ?” sahut Ibu.
“Masih, Bu. Hanya saja semua toko buku di kota ini sedang kehabisan stok buku tentang Jepang, “keluh Rahmat.

“Kalau begitu, coba kamu cari di Perpustakaan Umum Kabupaten saja !” saran Kak Afi. “Aaaaah, …..perpustakaan……paling koleksinya itu-itu saja, “sanggah Rahmat.
“Itukan dulu, Dik. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Bupati kita yang sekarang sangat serius membangun perpustakaan. Maklum, beliau kan mantan seorang guru,”lanjut Kak Afi menjelaskan.
“Kalau begitu, sekarang juga antarkan Adikmu ke perpustakaan, Nak !” suruh Ibu
“Iya, Bu!” jawab Afi sambil mengajak adiknya naik sepeda ke perpustakaan.

Ketika memasuki ruang layanan perpustakaan, Rahmat merasakan bahwa perpustakaan telah banyak mengalami kemajuan. Sangat berbeda dengan keadaan dua tahun lalu ketika dia masih duduk di bangku kelas 3 SD.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu ?” sapa petugas perpustakaan dengan ramah.
“Saya mau pinjam buku tentang Negara Jepang, ada nggak ?” Rahmat balik bertanya sembari melihat kearah tanda pengenal sang petugas yang bertuliskan Habib Z.
“Sebentar ya, Bapak lihat dulu di komputer, “kata Pak Habib.
“Adik mau membuat karya tulis, ya ?”
“Benar, Pak, “jawab Rahmat penuh harap.

Setelah mengetikkan kata Jepang di layar komputer, Pak Habib berujar, “Buku berjudul “Mengenal Dari Dekat Negara Jepang” ada di rak 900, dan “Kebudayaan Jepang” ada di rak 300. Silahkan Adik mencari di ruang koleksi, tapi sebelumnya tolong isi dulu buku pengunjung perpustakaan”.
“Oke Boss, ehhh, Pak ?” kata Rahmat saking gembiranya.

Rahmat menuju ruang koleksi. Ribuan buku yang berjajar di rak seolah tersenyum menyambut kedatangannya.

Sebuah tulisan yang terpampang di dinding semakin memacu semangat Rahmat. Tulisan itu berbunyi “ Dengan membaca jendela dunia terbuka”. Setelah menemukan buku yang dimaksud, Rahmat membacanya di ruang baca sambil menikmati sejuknya ruang ber-AC itu.

Setelah merasa cocok dengan buku yang diperlukannya, Rahmat memutuskan untuk meminjam buku itu.
Pagi itu langit cerah, secerah wajah Rahmat yang sedang mengayuh sepeda ke sekolah. Ia tersenyum dalam hati, karya tulis tentang Negera Jepang telas Ia selesaikan.

Rahmat merasakan manfaat nyata berkunjung ke perpustakaan yang selama ini Ia remehkan. Ternyata untuk membuka jendela dunia tak perlu pergi ke mana-mana,melainkan cukup pergi ke perpustakaan saja

Sumber gambar : herang.wordpress.com

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif