Home » FIKSI » Cerpen » Rahasia Kesaktian Pustakawan Istana

Rahasia Kesaktian Pustakawan Istana

pendekar
Dahulu kala ada suatu kerajaan yang bernama Tesaurus. Rakyat hidup makmur dan sentosa di bawah perintah Raja Papirus yang adil dan bijaksana.

Namun suatu saat datanglah serangan tak terduga dari Kerajaan Kolopon yang ingin menguasai kekayaan alam Kerajaan Tesaurus. Terjadilah pertempuran yang sengit antara kedua belah pihak. Kerajaan Tesaurus yang tidak siap perang akhirnya kalah. Raja Papirus dan pengikutnya yang setia terpaksa meninggalkan istana, melarikan diri ke dalam hutan. Takhta kerajaan pun jatuh ke tangan Diurnarius, Raja Kolopon yang terkenal sombong, serakah, dan bengis.

“Wahai pengikut-pengikutku yang setia, tanah air kita telah di duduki oleh musuh,” sabda Raja Papirus di tempat persembunyiannya. “Rakyat hidup menderita. Harta benda mereka dirampas dan tenaga mereka pun diperas. Jangan menangis lagi, kita harus segera mengadakan perlawanan. Kita harus bangkit kembali”

“Benar, Yang Mulia, kita harus segera membenahi angkatan perang kerajaan,” usul Patih Rekto.
“Tapi, kita kehilangan Panglima Gradus,” sahut Sang Senapati. “Lagi pula panglima perang musuh terlalu sakti, “ sambung hulubalang.

“Kita tidak boleh putus asa, aku akan segera mengadakan pemilihan panglima perang yang baru.” kata raja menengahi. “Panglima Gradus adalah panglima sakti mandraguna yang selama ini dimiliki kerajaan. Tapi,.. ternyata masih kalah sakti dengan panglima perang musuh,”

“Untuk itu, pemilihan panglima nanti bisa diikuti oleh siapa saja. Asalkan memiliki kesaktian yang luar biasa” terang raja.

“Baiklah, titah Paduka akan kami umumkan secara diam-diam kepada seluruh rakyat,” jawab Sang Patih.

Secara sembunyi-sembunyi ajang pemilihan panglima baru pun digelar. Selain para bangsawan, pemilihan panglima baru juga diikuti oleh para pendekar sakti dari berbagai perguruan silat.

“Selamat datang, para pendekar yang aku banggakan,” kata raja memberi sambutan. “Semoga dari arena pertarungan nanti akan terpilih panglima baru yang sakti mandraguna”

Pertarungan pun akhirnya dimulai. Masing-masing peserta mengeluarkan jurus andalannya. Ketika matahari semakin mendekati ufuk barat, peserta yang tersisa tinggal dua orang. Salah seorang diantaranya sudah cukup dikenal oleh rakyat karena dia adalah Errata murid dari perguruan silat ternama di Kerajaan Tesaurus.

Namun, yang paling mengejutkan semua orang adalah lawan Errata. Para penonton mengenalnya hanya sebagai penjaga Perpustakaan Istana yang tidak pernah dikunjungi oleh rakyat Tesaurus.

Tapi, kini semua orang memandang kagum padanya. Jurus-jurusnya sangat beragam, susah diduga arahnya, dan yang lebih mengherankan hampir semua jurus peserta yang diperagakan di arena pertarungan itu mampu Ia kuasai dengan baik.

“Siapa namamu wahai pendekar ?” tanya Raja Papirus. “Armario, Tuanku,…tapi hamba bukanlah pendekar” jawabnya merendah. “Lalu siapa yang mengajarimu ilmu silat sehebat itu?” tanya raja makin penasaran. “ Tidak ada Tuanku. Hamba hanya berguru pada buku-buku di Perpustakaan Istana.”

“Setiap hari hamba bekerja sebagai pustakawan istana. Di perpustakaan hamba merasa kesepian karena tidak ada satu pun rakyat Tesaurus yang mau mengunjungi Perpustakaan Istana. Untuk mengusir rasa sepi, hamba membaca dan terus membaca, hingga semua buku di perpustakaan telah terbaca. Termasuk buku-buku silat karya pendekar-pendekar sakti Kerajaan Tesaurus di masa lampau,” kata Armario membuka rahasia kesaktiannya.

Pertarungan final untuk mencari panglima terbaik dimulai. Errata melancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Armario.

Namun semua serangan itu dapat dipatahkan oleh Armario. Sampai suatu saat, Armario melancarkan serangan balik yang tidak terduga-duga oleh Errata. Sebuah jurus pamungkas Armario berhasil melumpuhkan Errata. Armario sang pustakawan istana keluar sebagai pemenang!

Dalam waktu yang singkat Panglima Armario berhasil menyusun kembali kekuatan angkatan perang Kerajaan Tesaurus. Strategi perang yang pernah Ia baca dalam buku “Strategi Perang Para Leluhur” berhasil diterapkan dengan baik.

Meskipun berjumlah lebih sedikit, pasukan Kerajaan Tesaurus tak gentar sedikitpun menghadapi pasukan penjajah. Dalam berbagai medan pertempuran, pasukan penjajah Kerajaan Kolopon selalu menderita kekalahan. Setelah berjuang tak kenal lelah, akhirnya Istana Kerajaan Tesaurus berhasil direbut dari tangan musuh. Kerajaan Tesaurus telah merdeka!

“Yang Mulia Raja Papirus, ada hal penting yang ingin hamba sampaikan kepada Tuanku,” kata Panglima Armario sebulan setelah kemenangan. “Baik, katakanlah panglima,” jawab raja.

“Negeri kita sudah merdeka dan aman sentosa. Untuk itu hamba ingin mengundurkan diri dari jabatan panglima kerajaan. Hamba ingin kembali menjadi pustakawan istana, membenahi kembali Perpustakaan Istana yang telah dihancurkan musuh,” kata Armario memohon.

“Apakah kamu tidak senang menjadi panglima kerajaan, Armario?” tanya Raja. “Senang, tuanku, tetapi hamba lebih senang lagi menjadi pustakawan istana. Bergaul dengan buku dan mengajak rakyat kita untuk gemar membaca” jelas Armario.

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keinginanmu,“ titah Raja mengabulkan permohonan Armario.

Sejak hari itu, Armario kembali bekerja di Perpustakaan Istana. Rahasia kesaktian Armario telah menyadarkan rakyat Kerajaan Tesaurus akan arti pentingnya membaca dan belajar. Hal ini membuat Perpustakaan Istana selalu ramai dikunjungi oleh rakyat yang haus buku bacaan. Armario pun tersenyum bahagia.

Pernah dipublikasikan di Majalah Buletin Pustakawan, Edisi 3/ September – Desember 2009

Sumber gambar :supramistik.wordpress.com

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif