Home » FIKSI » Cerpen » Ibu, harus mati!

Ibu, harus mati!

index

Ibu, harus mati!

Aku mendapati aroma cabe di wajahnya. Persoalan sederhana mampu mengoyak kesabarannya. Wajah malaikat oh bukan wajahnya penuh pekat. Yah, pekat dan lengket oleh bilur – bilur amarah. Aku melihat api di wajahnya, ah selalu saja begitu. Hanya beberapa saat, suasana nampak damai. Tak perlu menunggu berjam – jam, kehangatan amarah ibu menguak ke permukaan. Itulah, ibuku.

“Ibu, jujur saja,” kataku dalam hati di kamar pribadi, “detik ini, aku berdoa agar kamu mati,” sejenak aku terdiam, “matilah dalam amarahmu, dan hiduplah sebagai ibu yang penuh kasih.”

Wanita itu bukan ibuku. Sebuah roh telah merasuk jiwanya. Aku percaya, sesungguhnya ibuku penuh kasih. Kamar indah dan penuh lukisan, aku masuk kedalamya walau ada sedikit keraguan di hati. Sejauh hati memandang, lukisan itu cantik sekali. Pukul 00.00 Waktu Indonesia Bagian Barat. Tepatnya minggu malam di kota Depok. Kembali aku bertelut pada Ilahi. Segala keindahan lukisan ini tak berarti, tak mampu mengilangkan nestapa di hati ini. Keesokan pagi di meja makan.

”Coba lihat pajak mobil, Put!” perintah ibu kepada diri ini.

Sekarang tanggal 18 April 2013 dan batas pembayaran tanggal 20 maret 2013. Kembali, aku mendapati api di matanya. Aku salah, kurang telaten mengingat batas waktu. Berbagai bahasa kotor ia lontarkan. Aku tak sanggup mengucapkannya dalam tulisan ini. Pasalnya, sungguh tak sopan untuk diungkapkan. Detik itu, kami hendak pergi ke gereja.

“Jadi malas aku ke gereja,” ibu melanjutkan bicara “benar – benar anak kurang ajar,…” Banyak lagi makian yang tak sopan untuk kutuliskan.

Walau aku meminta maaf tak mampu menahan ketegangan dan menciptakan damai.

“Putri memang salah ibu,” belum selesai aku bicara ibu kembali bicara

“Iya, memang kamu selalu salah” telunjuknya ikut berbicara

Putri minta maaf dan ijikanlah Putri yang membayar denda beserta pajaknya”

Kupikir, ibu akan menghela napas dan menghemat energi dengan menahan kemarahannya. Aku salah. Kata – kataku justru membuatnya semakin marah.

“Hoh, mentang – mentang sudah kerja,” ia bertolak pinggang “berlagak kaya.” Amarahnya semakin menguak kepermukaan.

Seharian suasana kering. Bahkan, tatkala kami di gereja pun sama saja. Kesalahan aku telah membuat sukacitanya hilang.

“Ibu, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tersenyum”

Ibu tak mau duduk di dekat tubuh ini. Padahal, bangku masih banyak yang kosong. Kemarahannya tak berhenti walau sudah di ruang maha suci. Gereja tua di Depok Lama turut menjadi saksi. Ibu terus berbicara mengeluh atas kebodohan anaknya. Pendeta telah naik ke atas mimbar, ibu pun tak kalah sebagai mercusuar. Alhasil, telinga ini lebih banyak mendengar perkataan kasar ibu dibanding khotbah pendeta. Ya Tuhan, maafkanlah diri ini. Aku harus belajar membenahi diri agar ibu tidak marah lagi. Amin. Tiga tahun, aku menikmati api di rumah ini. Setelah kepergian ayah, damai tak pernah singgah di rumah ini. Ibu pun sibuk dengan pujaan hati. Sepanjang hari alat pendengar (headset) menempel di telinganya, terkecuali ia sedang mandi dan memarahi diri ini. Mungkinkah, ibu mengalami masa pubertas kedua. Entahlah.

Kami telah tiba di rumah. Namun, ibadah di gereja tadi terasa tak ada artinya. Belum ada perubahan di hati. Ini tak bisa dibiarkan, aku harus tetap memiliki damai. Berharap, hati ibu juga damai.

Inilah seni kehidupan. Jika semua baik – baik saja, tak terasa hidup. Hidup adalah tantangan yang harus kita menangkan. Aku tak perlu menahan air mata. Biarkanlah mata ini berair. Terimakasih atas ibu yang emosional, karenanya aku belajar sabar. Usiaku sudah menginjak dua puluh tiga tahun dan belum pernah memiliki kekasih hati. Aku terisolasi, tak pernah pergi bersama kawan sebaya. Bila aku sedang tak kerja, aku harus diam di rumah atau menemani ibu pergi.

Hari – hariku penuh sepi. Di tempat kerja, fokus bekerja. Bahkan, istirahat kantor aku tetap di meja kerja. Makan siang di meja kerja. Aku selalu menyiapkan bekal dari rumah untuk makan siang di kantor. Pulang kerja langsung pulang, karena ibu menanti di rumah. Menanti untuk disiapkan makan malam. Ibuku memang pensiun dini. Masih kuingat, alasan ia pensiun dini.

“Hampir semua orang di kantor memusuhi ibu, kamu tahu itu,” semua jahat sama ibu” ibu Ana, mereka semua.” Begitulah pernyataan ibu.

Hatiku sedih mendengarnnya. Kenapa banyak orang memusuhi ibuku. Tragisnya lagi, ibu berniat buruk pada mereka.

“Andai aku punya uang banyak, aku akan menyantet mereka”

Ya Tuhan, apa yang terjadi. Mengapa, ibuku seperti ini.
Bingung, bagaimana aku bisa mengembalikannya seperti yang dulu. Di lingkungan rumah pun, hampir semua bermusuhan dengan ibu. Apa yang terjadi dengan ibu. Senin malam, 19 april 2013. Sengaja aku tak memejamkan mata. Aku menunggu sampai ibu tertidur. Tepat jam 02.00 pagi hari. Di kamar ibu, aku berdiri.

Ya Tuhanku, apa ini. Majalah tentang misteri perdukunan mengisi penuh lemari buku ibu. Tak hanya itu, ada bedak istimewa dari dukun. Entah dukun apa namanya aku tidak tahu. Mungkinkah, dukun susuk. Mungkinkah, hal ini yang membuat ibu berubah. Dulu, ibuku adalah seorang yang aktif beribadah. Tiga tahun terakhir, ia mundur dari pelayanan di gereja. Semenjak saat itu, aku selalu melihat api di matanya. Apakah ini pertanda. Kuasa setan telah membungkusnya. Aku ingin ia pulih. Sesungguhnya aku selalu mendoakan ibu.

“Aku bakar kalian.” Aku berniat dalam hati.

Aku mengambil majalah – majalah itu. Terkumpul, lebih dari tiga puluh majalah. Aku juga mengambil bedak istimewa itu. Beruntung ibu telah terlelap. Baru satu jam ia tertidur. Tepatnya, setelah selesai berbicara dengan sang kekasih.

“Papa, aku mengantuk,” Suara manja dan halus dari ibu “sudah sayang, mimpikanlah kisah kita dalam tidurmu” Ditambah desah kecupan pipir menggoda (maaf aku tak sanggup menuliskannya karena kurang sopan), kalimat terakhir dari ibu kepada pria itu.

Aku pun nekat dan memberanikan diri mengambil langkah pasti, menuruti kata hati. Aku tak ingin ibu menduakan Tuhan yang Maha Esa. Aku tak menahan tangis. Aku menangis menyaksikan semua itu. Bukan tangisan air mata. Nampaknya, bola mata sudah kering kerontang. Aku menangis dalam hati. Di dalam jiwa aku merintih. Aku melirik mata ibu, masih terpejam. Aku mengamati tubuhnya, bergerak mengitari ranjang. Jangan sampai ibu terbangun. Tak baik bermain api. Aku mengurungkan niat membakar benda – benda itu. Lebih baik, aku memanfaatkannya. Aku merendam semua majalah itu. Lalu, aku menjadikannya bubur kertas. Berguna untuk bahan pembuatan kerajinan. Sementara itu, aku membuang bedak istimewa itu di tong sampah.

Pagi hari, 20 April 2013. Sarapan sudah siap.

“Selamat pagi ibu!” Aku menyapa dalam kasih.

“Jangan panggil saya ibu,” sejenak kami terpaku dalam hening “sesungguhnya, aku bukanlah ibumu” kembali ia bicara “semenjak tiga tahun terakhir, jabatanku sebagai ibu telah berakhir.” Tumben, ibu berbicara sehalus itu. Sudah lama, aku tak mendengarnya berbicara selembut itu. Akhirnya, telinga ini kembali mendengarnya.

“Kau, adalah ibuku,” aku memeluk tubuh ibu, kemudian aku mengusap wajah ibu “sesungguhnya dan selamanya kau tetaplah ibuku” Matanya terpejam dan berair berjam – jam. Ia tak mau membuka mata.

“Ibu…ibu bangunlah.” Aku berseru. Ia tak juga membuka mata. Perlahan, keriput di wajahnya terlihat. Akankah ibu meninggalkan diri ini untuk selamanya. Ayah telah pergi. Aku tak mau ibu juga pergi. Janganlah sampai hal itu terjadi. Aku berharap yang terbaik namun juga bersiap dengan kemungkinan terburuk. Tiga jam kemudian, matanya terbuka.

“Ibu takut nak.” Tangannya bergetar.

“Apa yang ibu takutkan?” Tanyaku penasaran. Ia tak menjawab.

Sarapan pagi selesai. Aku siap pergi ke kantor. Sebenarnya, aku takut. Takut, ibu mencari majalah – majalah itu dan mengetahui kebenarannya. Jika sudah demikian pastilah api di wajahnya kembali bersinar.

“Jangan pergi ke kantor hari ini.” Ibu meminta dalam suara yang pelan namun telinga ini mampu mendengar dengan peka.

“Iya bu.” Jawabku tanpa membantah.

“Bacalah dan mengertilah” Sebuah tulisan di atas kertas folio.

Depok, 20 April 2013.

Salam kasih ibu.

Terluka, kamu pasti terluka olehku. Pukulan memang sakit, namun kata – kata jauh lebih sakit. Merasuk ke dalam jiwa dan menusuk batin. Maafkanlah, ibu. Tiga tahun terakhir aku tak berhenti menyiksa kamu, Putri. Aku memukul dengan tangan dan perkataan. Mungkin, kau adalah yang paling terluka. Semua orang memusuhi ibu. Sikap ibu, tindakan ibu dan langkah ibu telah menciptakan keadaan ini. Malu, mungkin kamu malu dengan sikap ibu. Jangankan kamu, ibu pun malu. Maka, hari ini ijinkanlah ibu pergi. Mohon maafkanlah ibu. Semua orang yang ibu sakiti, akan ibu jumpai sebelum akhir waktu.

Mulai dari anak ibu, tetangga dan kawan – kawan di kantor. Tak peduli, apa reaksi mereka. Aku hanya ingin berubah dan berbuah. Sesungguhnya, aku tahu bahwa kamu selalu mendoakan ibu. Tiga kali sehari kamu bertelut pada Ilahi. Ibu adalah objek utama dalam doamu. Ibu tahu, apa yang kamu lakukan semalam. Sungguh, tepat anakku. Sesuai dengan keinginan hati ibu. Lama, aku menunggu kamu melakukannya. Syukurlah, kamu telah melakukannya. Dengan bantuan Ilahi, kamu telah menyelamatkan ibu dari jeratan roh itu.

Ibu, kembali nak. Terimakasih kamu telah menahan air mata dan luka di batin. Tiga tahun terakhir benar – benar sudah berakhir. Ibu mau kembali menjadi ibu yang sejati. Ibu mau kembali melayani di Gereja.

“Masih adakah waktu bagi ibu untuk memperbaiki diri?”

Ibu berharap masih ada ruang untuk ruang untuk berdiri. Doa dan puasa, harus ibu jalani. Entah berapa lama, ibu harus berpuasa guna menghela semua dosa dan keinginan daging dalam diri ini. Satu hal yang pasti, ibu ingin kembali.

Anakku, bantulah ibu menjadi ibu sejati. Arahkanlah ibu ke jalan suci. Ibu harus mati dan menjadi ibu yang baru. Anakku, terimalah ibu dan marilah kita berdamai. Sebelum berdamai dengan Ilahi. Ibu harus berdamai dengan kamu dan dengan semua jiwa yang telah ibu sakiti. Doakan ibu, nak. Ibu harus mati dan berserah pada Ilahi.

Sesungguhnya ibu mau berubah dan berbuah. Deratan kalimat ini tak akan menjadi bukti. Lihatlah dalam langkah dan arah kehidupan yang ibu jalani, mulai detik ini sampai akhir waktu.

Selamat untukmu, anakku.

Salam kasih dari Ibu.

Badai air mata meliputi rumah kami. Setelah membaca deretan kalimat di surat itu. Aku memeluk ibu. Inilah kali pertama aku memeluknya setelah kepergian ayah. Ibu harus mati dalam kehidupan lamanya dan sekarang ia hidup kembali. Selesai sudah aku membaca isi kertas itu. Namun, kisah kami tak berhenti disini.

Aku menemani ibu ke kantornya. Menemui satu per satu kawan di kantornya, termasuk Ibu Ana yang merupakan Kepala Bagian Tata Usaha. Ibu juga mengunjungi semua tetangga dan memohon maaf atas keanehan sikapnya. Ibu yang dulu menjadi teladan warga, tiba – tiba berubah dan dibenci. Syukurlah sekarang ibu kembali lagi. Ibu sudah mati dan hidup kembali. Bagaikan hari raya lebaran, mereka semua mau memaafkan ibu. Bahkan, mereka juga meminta maaf karena telah membuat ibu merasa sendiri. Yah, sebenarnya aku tak mengerti apa kesalahan ibu pada mereka.

Satu hal yang sering ibu katakan.

“Lelah, aku mengikuti Tuhan dan mempertahankan kebenaran,” kala itu ia menangis “aku tidak korupsi, namun mengapa aku dimusuhi,” kembali ia berkata “sudahlah, aku tak mau lagi idealis karena idealis aku ditindas.”

Satu hari setelah kepergian ayah, ibu berhenti dari kantor dengan pensiun dini dan mematahkan prinsip hidup yang selama ini ia jalani. Ia mengajarkan aku untuk jujur dan berbakti untuk negeri. Sempat aku tergabung menjadi Duta Muda Anti Korupsi sebuah lembaga independen. Ia tak memuji. Kata ibu, aku harus membuktikan semua itu. Bahkan ia menyuruhku mengoyak Piagam Duta Muda Anti Korupsi, jika aku belum mampu menjalani dalam kehidupan ini. Tak perlu piagam itu. Buktikan saja dulu. Hati memang tak bisa dimengerti. Sekejab saja bisa berubah. Semoga ibu tak pernah berubah lagi kecuali untuk kebenaran. Semoga aku, kau dan ibu menjadi ciptaanNya yang sejati. Amin.

Facebook Comments

About JennyRas

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif