Home » FIKSI » Cerpen » Seperti Langit dengan Bulan

Seperti Langit dengan Bulan

Ayah, aku tahu kau tak pernah berhenti memikirkanku. Kau selalu berusaha melakukan yang terbaik di setiap waktu yang kau punya. Bahkan kau tak pernah lengah untuk menjagaku, membiarkanku tersapa orang asing sedetik pun. Setiap laku ayah senantiasa kuperhatikan. Aku tahu, saat kau meninggalkan rumah di pagi buta dan pulang tengah malam, itu cukup menjadi bukti bahwa setiap waktu yang kau punya kau gunakan untuk bekerja banting tulang hanya untukku, bukan? Dan setiap harinya aku hanya dibiarkan menikmati udara yang masuk ke sela – sela rumah kita, yang tentu lebih segar dibandingkan udara yang ayah hirup di luar sana. Betapa pedulinya kau terhadap kesehatanku, Yah. Meski sebenarnya aku merasa justru kesepian inilah yang membuatku menjadi sakit, bukan masalah udara apa yang kuhirup. Yah, jika kau tahu, mungkin kau akan marah karena sesekali aku menjatuhkan air mataku dalam kesendirian ini. Padahal seharusnya mata ini tahu tentang bagaimana seorang ayah yang begitu mengkhawatirkan anaknya sampai ia tak sedikit pun membiarkan anaknya terjerat kerasnya dunia di luar sana. Kau memang sering mengatakan itu, bukan? “Dunia terlalu keras untuk anak selemah kamu”. Aku tahu, ayah memang selalu berkata jujur, kau tak peduli tentang sayat yang terukir dalam hati orang yang kau ajak bicara. Anakmu sekali pun. Setidaknya aku tidak berada dalam dialog kepura-puraan. 

Ayah, tahukah kau? Seberapa banyak kasih sayang yang kupunya untukmu? Itu sejumlah bintang – bintang yang kulihat setiap waktu menunggumu pulang. Aku tak bisa menghitungnya, begitu banyak.

Dan ayah, tahukah kau? Seberapa besar cintaku untukmu? Itu sebesar cintamu pada ibu. Ya, wanita yang telah membesarkanku hanya sampai aku berusia.. entahlah. Aku pun tak sempat mengingat wajahnya. Bahkan memanggilnya dengan sebutan “ibu” pun belum pernah kulakukan. Apa benar ia pergi terlalu cepat, Yah? Sejujurnya, sempat kudengar tentang ibu yang dulu memiliki penyakit yang sama denganku. Apa mungkin itu alasan mengapa ayah begitu mengkhawatirkanku?

Tetapi…

Yah, apa setiap hal yang memiliki satu kesamaan, mereka akan mengalami hal yang sama juga?

Kalau begitu, apa mungkin aku akan sama halnya dengan ibu? Meninggalkanmu… Dalam waktu yang “terlalu cepat”.

Kuharap tidak.

Yang jelas, di masa yang tak pernah aku tahu akan terjadi apa, aku selalu berusaha untuk tetap menjadi anakmu. Anakmu yang dengan segala kekurangannya senantiasa menutupi kekurangan itu agar kelak kau bisa bahagia pernah menjadi ayahku.

Yah, aku tak pernah tahu bagaimana perasaanmu kepadaku. Tetapi aku yakin, walau sapamu jarang mengisi reseptor telingaku, kau selalu menyayangiku dalam diammu.

Apakah suatu saat nanti aku masih bisa sempat membuatmu menjatuhkan air mata haru karena prestasiku? Seperti halnya aku yang selalu menangis haru ketika akhir – akhir ini kau sering memelukku dan meninggalkan pekerjaan kantormu hanya untuk menemaniku di rumah.

Terimakasih, Yah. Aku mencintaimu dan juga ibu, seperti langit yang setia pada bulan, entah sampai kapan.

 

Lelaki itu masih termenung menatapi sepucuk surat tanpa amplop yang tertinggal di sebuah laci yang kini tak bertuan. Mata selalu mengerti apa yang dirasa hati. Bulir air mata jatuh tanpa diminta. Kenangan yang ada memang tak seberapa dengan rasa kehilangan atas perginya bidadari kedua dalam hidupnya.

 

Facebook Comments

About windiariesti

2 comments

  1. puisi yang mengharukaan https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif