Home » FIKSI » Puisi » Karena Aku Perempuan

Karena Aku Perempuan

Karena Aku Perempuan

Karena Aku Perempuan

 

Aku tak pernah memilih untuk menjadi seorang perempuan

Yang dicipta dari tulang rusuk laki-laki

Pendamping sehidup sematimu

Teman sehati seasamu

 

Mungkin aku perempuan yang dicipta dari tulang engselmu?

Harus selalu manut, nurut ketika kau kayuh tanpa rasa

Atau aku memang benar dicipta dari tulang kakimu?

Yang tetap bersikukuh teguh tanpa geliat ronta walau terus kauinjak.

 

Karena aku perempuan

Tak ada hasrat berceracau padamu

Apalagi nyinyir padaMu, Tuhan

Buatmu, keluh resah ini hanyalah bahan olok-olok saja

Ini cuma secuil riak kesal dari sejuta rekah cita, dalam rentang cinta kita dibentang takdir

Mengapa risau membaca raut mukaku?

 

Karena aku perempuan

Yang kan terlunta tanpa asah asih asuhmu

Aku tahu, kecantikanku semakin kerontang dimakan umur

Kau bilang gemulaiku sudah tak pancarkan pesona lagi?

Bukankah perawanku dulu kau yang kelupas?

Lihatlah kerut menggurat disekitar pelupuk mataku!

Pipiku yang dulu kau kagumi, kini limbung terhuyung tak kencang lagi

Gelagat keriput melumuti perjuangan hari-hariku

 

Aku sedang tidak membicarakan hakikat cinta seorang perempuan
yang sering salah kau tafsir

Sudah gurat nasibku menjadi seorang perempuan?

Berkain belacu berkerudung malu

Berselimut pesing ompol anak-anakmu

Berpanggang asap dan langu bau bumbu dapur jadi aroma khas tubuhku

Wajahku pias, keringat terperangkap dalam keseharian yang kuanyam,
demi kenyamananmu dan anak-anak

 

Karena aku perempuan

Dalam lelah kalah, jangan pula kau rajam rasaku

Tabukah jika kumengerang harap buai mesramu?

Jangan kau tanya cinta

Cintaku tak kan tersungkur ditikam kala

Namun cinta kan tanggal jika kesetiaan hanya salinan perjanjian
yang fasih kita pahat di buku nikah saja

 

Setiaku telah sepuh tak pernah surut apalagi susut

Terus kupijari lubuk cinta kita yang semakin lusuh,
kumuh dibekap acuh dileceh waktu

Apakah dihatimu masih ada kehadiranku? Atau telah lama usai?

Sungging senyummu mengecoh

Merenggut telak tulusku

Menohok keras lugu seorang perempuan

 

Aih, dendang tawamu, masih bisakah aku dan anak-anak nikmati?

Apa lagi yang bisa kubingkai, jika cinta kita telah menjadi bangkai?

Apa lagi yang bisa kukenang, jika kesyahduan cinta kau simpan di jambangan masa silam?

Dan rasamu jadi mangkir dijejal rayu dibekap peluk perempuan-perempuan lain

Sudah gurat nasibkah menjadi seorang perempuan?
Yang selalu sedia mengalah dan melupakan semua kekhilafan seorang laki-laki

Secepatnya kumaafkan

Melihatmu pulang dengan selamat saja aku sudah bersyukur

Tuhan, mungkin karena aku perempuan

Perempuan biasa saja

Perempuan yang sebenarnya tak sulit untuk dimengerti

 

Karena aku perempuan

Di rahim ajalku, kau titipkan benih

Dari luka perih menganga, lahirlah anak-anak kita

Dengan letih nyeri, kutopang kibar anak-anak kita

Apakah kau pikir, aku menyesal menjadi seorang ibu?

Jangan pernah remehkan kasih sayang seorang ibu

Tanpanya kau mungkin tak akan seperti sekarang ini

Hei laki-laki! Bukankah aku dan ibumu sama-sama seorang perempuan?

Atau aku cuma comberan tempatmu membuang syahwat?

 

Ah, lagi-lagi aku terus saja berceracau!

Hatiku gamang saat kau jauh

Jujur, aku butuh kau ada disampingku

Disaat kutenggelam di genang sepi

Mana tanganmu yang kan merengkuh jemariku, lalu peluk ringkih tubuh ini?

Selama masih ada degup di jantung, selama itu pula desis cintaku tetap hidup

 

Tak terasa usia pernikahan kita telah sepenggalan naik

Sebentar lagi ditelan senja

Anak-anak telah selesai makan dan mengulang kembali pelajarannya disekolah

Sekarang mereka telah bersiap kembali ke peraduan

Telah kukenakan pula gaun malam butut hadiah perkawinan kita dulu

Cipratan parfum murahan dan polesan gincu tipis, berharap kau suka aku apa adanya

 

Seperti biasa, aku setia menunggumu

Makan malam telah tersaji dingin

Tak ada kabar, apakah kau pulang larut? Atau tidak pulang?

Karena aku perempuan

Menunggumu hingga kutertidur di sofa

Subuh kau datang dalam mabuk terhuyung

Kau masuk menubrukku hingga jatuh tersungkur

Maaf! Cuma itu yang keluar dari mulutmu yang berbau alkohol

Ah, itu masih lebih baik dari pada kau menamparku

Pagi sekali sebelum anak-anak bangun, seperti biasa pula, aku bersihkan muntahmu yang berceceran di lantai.

******

[ Karena Aku Perempuan adalah Buku Kumpulan Puisi : Serpihan Abad ]

 

Facebook Comments

About Serpihan Abad

2 comments

  1. ini benar curahan hati dari setiap perempuan, terimakasih sudah diwakilkan dalam puisi ini.
    tak mampu berkata-kata lagi, tapi yang pasti, puisi ini bagus sekali https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif