Home » FIKSI » Puisi » Acehku Sayang, Pesonamu Tak Terbilang

Acehku Sayang, Pesonamu Tak Terbilang

Acehku Sayang, Pesonamu Tak Terbilang
Oleh Budianto Sutrisno

Acehku sayang

Dari Pulau Weh di ujung utara
sampai Tapaktuan di selatan
dari pesisir barat menyusur ke timur
ranah Serambi Mekah terbentang indah
pasir putih terhampar sepanjang pantai
ditingkah dengan debur ombak
derai lambai nyiur dan rerimbunan hijau
serta sapuan awan putih
yang bergerak, berarak di bias langit biru
membuat diriku terhenyak dalam entak gelora kalbu
mulutku terkatup, lidahku kelu
dadaku penuh getar debar melodi pesona kemolekan alam

Luka nestapa akibat terjangan tsunami sudah tak berbekas lagi
tanah rencong telah berhias rapi
menjelma putri jelita dengan kulum senyum berseri
dikawal bukit barisan yang menjulang kokoh dan gagah
bak panglima pelindung agung
menjaga kekayaan ibu pertiwi
yang berlimpah gas alam dan minyak bumi

Kuresapi keindahan alam Aceh
pesonanya tak mampu kuungkapkan
lewat keterbatasan rangkai untai kata
tapi maknanya begitu erat melekat di dada
tak ’kan lekang, dan tak terbilang
tak mungkin lenyap, tak bisa lesap

Kuhayati pula kekayaan seni budayanya
hatiku ikut melonjak riang
kala saksikan gerak dinamika penari Saman
kendati ku tak tahu makna kata yang dilagukan
tapi bahasa tari adalah bahasa universal
siapa pun mampu paham dan mengerti
kunikmati pula lezat nikmat kuliner Aceh
belum pas dan puas kalau belum mencicipi
sedapnya mie Aceh dan kopi Sanger
nikmatnya nendang di lidah, merambat sampai ke hati

Acehku sayang…
berjuta kekayaan dan keindahan
telah dilimpahkan Sang Pencipta kepadamu
jagalah, peliharalah, dan kembangkanlah
dengan gelora semangat Cut Nyak Dhien dan Cut Meutiah
Acehku sayang…
pesonamu tak terbilang
dan tak mungkin terhilang

***

Facebook Comments

About budinovo

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif