Home » FIKSI » Puisi » Tempelak Pohon Jambu

Tempelak Pohon Jambu

Tempelak Pohon Jambu
Oleh Budianto Sutrisno

Tempelak

Subuh itu embun masih berasyik masyuk
dengan rimbun dedaunan dan kelopak bunga
kristal bening kemilau itu membuat aglaonema dan star jasmine-ku
menjadi semakin cantik dalam kilau

Aku terhenyak di tengah pesona fajar yang menyejukkan
raga dan jiwa
sayup aku mendengar suara dengung
semula seperti antara ada dan tiada
semakin lama semakin jelas
di tengah kesenyapan fajar
ternyata …
ratusan lebah mulai giat mengisap madu bunga jambu air di atas kepalaku
menari dari kuntum satu ke kuntum lain
menghamburkan bulu-bulu halus benang sari
yang menebarkan aroma wangi
oh… sungguh menakjubkan!

Aku baru sadar
pohon jambu airku sudah mulai berbunga, bahkan berbuah kecil-kecil
ratusan deret butir buah dalam rona hijau pupus berjajar rapi
jambu airku memang jenis unggul yang rajin berbuah
dua sampai tiga kali setahun
buahnya ranum, harum, sangat manis, dan menyegarkan
tiada lidah yang tak memuji kenikmatan citarasanya

Telinga batinku menangkap suara pohon jambuku
sudahkah kau berbuah lebat dan manis seperti diriku?
sudahkah kau menyegarkan banyak orang seperti yang kulakukan?

Aku hanya bisa tertunduk malu
lidah bibirku terikat pada pasung kelu
hatiku gentar, gemetar dalam doa
Engkau tahu jawabnya, Tuhan, Engkau tahu itu
aku belum mampu berbuah lebat seperti pohon jambu pemberian-Mu
buat hidupku berbuah lebat
menjadi berkat dan memberikan manfaat
bagi sesama

Aku bersyukur, Tuhan menganugerahkan pohon jambu di halaman
aku bersyukur atas tempelak pohon jambu
yang telak menikam kalbu
aku berterima kasih atas pengajaran pohon jambu
aku bersujud dalam getar kesadaran jiwa
hidupku harus menjadi berkat, bukan laknat

***

Facebook Comments

About budinovo

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif