Home » FIKSI » Puisi » Ratapan Bunga Ilalang

Ratapan Bunga Ilalang

 

ditepian jalan aku melihat bunga ilalang
lurus tangkai istiqomah kokoh tertopang
bergoyang dan menari bersama angin
yang meniup lembut di akhir musim

hijau rerumputan ikut menyapanya
bibirnya basah menyisakan ribuan kata
dari kedua sudut mata berlinang bening
asa tersimpan dibalik tubuhnya yang kering

roda dunia yang biasanya menggelinding
kini terasa diam bagai sebongkah batu kali
aura putih berkilauan berpendar di dinding
tak bergeming meski air pasang mengitari

gumam lirih suara tasbih berkelana sampai jauh
sementara hinggap di sela ranting yang rapuh
tumbuhkan tunas di dalam ruang antara perdu
meski kemudian tertinggal saat hari tlah berlalu

rumpun cemara adalah saksi kesederhanaan alam
pucuk pucuk daunnya ikut bergetar tak mau diam
mengisi bilik hati mereka yang dingin dan kosong
menyumpal lobang kesetiaan yang makin bolong

bunga ilalang berhenti di persimpangan waktu
isak tangisnya memecah keheningan malam
airmatanya berderai membasuh wajah sayu
ditelan oleh kerinduan pada pemilik kehidupan

hela nafas yang tersisa hanyalah penantian
terasa panjang menunggu bingkai keabadian
denyut jantung yang berdetak adalah pertanda
segera sunyi tanpa ada yang sanggup menjaga

bunga ilalang meratap kepada langit
sampai kapankah akan turun hujan
ditengah jerit tangis di masa sulit
basahi jiwa yang dilanda kekeringan

bumi ini telah tampak semakin tua
hangus tanah terbakar keserakahan
pohon padi meranggas diserang hama
angsa menangis dirundung kemalangan

serangkai doa masih sempat terucap
sebelum langkah menuju akhir hayat
tinggalkan rona cahaya gemerlap
bersihkan noda yang masih melekat

.oOo.

@donibastian – lumbungpuisi.com
kaliorang kutim – 29/11/2014

ilustrasi : rinduku.wordpress.com

Facebook Comments

About Doni Bastian

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif