Home » FIKSI » Puisi » Butuh 20 Tahun Bagi Saya Sebelum Menerbitkan Buku

Butuh 20 Tahun Bagi Saya Sebelum Menerbitkan Buku

Banner buku saya

Mungkin tak terpikir jika suatu saat akan menerbitkan buku dari kumpulan puisi saya saat pertama kali menulis puisi secara bebas, kurang lebih 2 dekade lalu. Puisi pertama saya ini muncul pada sebuah suplemen koran sore yang beredar saat itu, dan sebenarnya muncul sebagai karya iseng (karena muncul pada rubrik karya anak-anak sekolah yang rasanya bukan termasuk peminat sastra serius) namun dari situ saya malah ingin menekuni puisi dan sajak lebih intens.

Saat itu hingga beberapa waktu kemudian pun sepertinya tak ada jalur ‘indie’ penerbitan seperti sekarang, atau mungkin juga ada hanya saya yang tidak mengetahuinya. Karena saya melihat, sepertinya dunia penerbitan buku pada saat itu masih sangat dikuasai oleh penerbit-penerbit besar dengan sistem royalti. Disamping saya melihat dunia grafis/printing masih belum terlalu berkembang dan didominasi oleh sistem percetakan offset dimana kita tak bisa mencetak satu buah cetakan berharga murah seperti era digital printing dewasa ini. Jadi jika kita mencetak banyak atau sedikit pun selisih harganya tak begitu besar dan prosesnya juga tak bisa dibilang ringkas.

Sekarang pun sebuah ‘penerbitan besar’ masih dirasakan taringnya sebagai pemasok buku dan pengayom banyak penulis dalam berkarya, namun adanya ‘penerbitan indie’ ini memang bisa jalur pilihan bagi penulis untuk tetap menelurkan karya tanpa harus khawatir untuk menghadapi ‘birokrasi’ yang pelik seperti pada jalur ‘penerbit besar’. ‘Birokrasi’ yang saya maksud ini adalah bagaimana sebuah karya tulis dalam bentuk buku dinilai dengan sangat ketat (hingga dilihat apakah bisa dijual atau sebaliknya). Maklum saja, penerbit buku konvensional sebagai sebuah entitas usaha juga tak ingin mengalami kerugian, apalagi ditambah dari segi teknis: satu siklus cetaknya yang harus dalam jumlah besar demi menekan biaya operasional.
Bahkan saat ini juga ada penerbit besar yang membuka layanan penerbitan ala ‘indie’ (baik dengan ongkos sendiri atau tidak—dicetak berdasar permintaan meski sedikit) dengan nama/merek berbeda sebagai jawaban untuk menghadapi ‘dunia indie’ ini. Mungkin kasus ini bisa dibandingkan dengan Garuda Indonesia yang membuka layanan Citilink sebagai solusi dari gempuran maskapai lowcost atas kebutuhan konsumen yang sensitif harga.

cover sebelum jilid


daftar isi buku saya (1)


daftar isi buku saya (2)

Mengapa saya memilih ‘jalur indie’ ketimbang lewat ‘penerbit konvensional’?

Saya berpikir bahwa ‘jalur indie’ ini lebih bisa melepaskan kebebasan saya dalam berekspresi tanpa harus khawatir karya saya akan dibabat oleh tangan dingin seorang editor. Memang, terkadang penerbit konvensional dirasa lebih bisa melihat mana tulisan bagus-berisi (layak jual) atau sebaliknya; tetapi di sisi lain saya sendiri pernah juga membaca ada beberapa buku dari ‘penerbit besar’ ini yang kurang greget karena beberapa hal atau dalam artian ‘meleset dari perkiraan’.
Entah apakah ini juga merupakan campur tangan dari seorang editor atau bagian lain yang salah memprediksi bahwa buku tersebut bakal laris, namun saya melihat buku tersebut nampak mempunyai ‘kelemahan’ mendasar dan cukup mengganggu jika direview.

Saya pun pernah membeli buku seorang teman yang dalam proses penerbitannya juga melalui keribetan demikian; sayangnya saya melihat keterangan yang menyebutkan banyak judulnya yang terpaksa terlibas (tak termuat) ke dalam buku tersebut yang tentu saja ini serasa ‘horor’ bagi Buku Antologi Puisi saya sendiri. Apa yang menjadi baik-buruknya atau bagus-jeleknya keseluruhan tulisan saya itulah yang ingin saya perlihatkan dalam buku album Antologi Puisi saya tanpa harus khawatir ‘dianggap buruk’ dari sudut pandang seorang editor. Disamping saya juga tak terlalu peduli jika tulisan saya dianggap tak bagus meski terkadang memang ada harapan supaya demikian; jika judul itu sesuai dengan apa yang saya rasa dan saya pikir, maka biarkan saja demikian. Beberapa hal inilah yang kemudian membuat saya tak melirik jalur penerbitan konvensional untuk album saya ini.
Kebetulan, beberapa judul puisi saya masih bisa dibaca pada media Ketik-ketik ini. Sedangkan sebagiannya ada di media lainnya. Inilah beberapa judulnya yang masih tertayang hingga saat ini:

Sepertinya Bumi Juga Telah Berlutut di Bawah Kaki Lucifer | Kering | Di Tanah Pramuka | Kepada Para Pahlawan | Dara Kintamani | Flamboyan | Temaram | Bukan Lagi Waktumu Cinta | Cerita Hari Kemarin | Puisiku Dibacakan Supermodel | Kita | Mengapa Dia Meninggalkanmu | Witing Tresno Jalaran Saka Kuliner | Ritual Sebuah Terong | Teratai | Sebuah Dilema, Kekasihku | Sesuatu Membunuh Kata | Sendiri | Negeri Para Penyamun | Kembang Api (Aku bahagia melepasmu pergi)

Jadi… memang membutuhkan banyak waktu untuk menyiapkan penerbitan album Antologi Puisi saya ini selama hampir setahun pada 2016 kemarin; selain karena semua teks, ilustrasi, layout, dan desain (sampul) buku ini saya kerjakan sendiri sebagai bagian profesi saya yakni desainer grafis. Dan, bagi semua yang ingin mendapatkan buku saya bisa menghubungi saya via akun Facebook atau Twitter saya. OK. Terima kasih Ketik-ketik. ^_^

Facebook Comments

About f-i-agungprasetyo

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif