Home » HUKUM » Perpustakaan, TIK dan Pemberdayaan UMKM

Perpustakaan, TIK dan Pemberdayaan UMKM

Perpustakaan TIK dan Pemberdayaan UMKM1Selama ini, banyak orang yang menderita salah paham tentang perpustakaan. Perpustakaan sekedar dipahami sebagai tempat untuk menyimpan, meminjamkan, mengembalikan dan membaca buku saja. Anggapan seperti ini sangat tidak relevan dengan paradigma perpustakaan masa kini.
Perpustakaan masa kini adalah perpustakaan yang mampu memberdayakan masyarakat. Perpustakaan yang memberikan dampak dan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golongan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.

Berdasarkan undang-undang ini, kriteria usaha mikro adalah memiliki kekayaan bersih paling banyak lima puluh juta rupiah tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak tiga ratus juta rupiah.

Kriteria Usaha Kecil ialah memiliki kekayaan bersih lebih dari lima puluh juta rupiah sampai dengan paling banyak lima ratus juta rupiah tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari tiga ratus juta rupiah sampai dengan dua milyar lima ratus juta rupiah.

Kriteria Usaha Menengah adalah memiliki kekayaan bersih lebih dari lima ratus juta rupiah sampai dengan paling banyak sepuluh milyar rupiah tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari dua milyar lima ratus juta rupiah sampai dengan paling banyak lima puluh milyar rupiah.

Ada dua hal utama yang harus dipenuhi oleh perpustakaan agar bisa memberdayakan UMKM di sekitarnya. Pertama, menjadi perpustakaan berbasis teknologi informasi, dan komunikasi (TIK). Perpustakaan berbasis TIK merupakan sebuah perpustakaan yang tak hanya melayankan bahan pustaka melainkan juga melayankan internet kepada masyarakat.

Perpustakaan dan TIK dapat diibaratkan seperti “dua sisi dari satu mata uang yang sama”. Keberadaan TIK akan memudahkan perpustakaan dalam mengaplikasikan konsep manajemen ilmu pengetahuan. TIK akan memudahkan perpustakaan dalam melakukan pengembangan pangkalan data, penelusuran informasi, transformasi digital, promosi dan pemberdayaan masyarakat.

TIK tanpa dukungan perpustakaan hanya akan menghasilkan teknologi konsumtif, teknologi yang mandul. Perpustakaan berperan meletakkan dasar yang kuat untuk membentuk masyarakat yang melek informasi. Masyarakat yang mampu memberdayakan informasi bukan sekedar mengkonsumsi informasi. Jadi, perpustakaan berperan untuk menyiapkan dan memberdayakan masyarakat agar “siap menikmati” TIK. Kesiapan ini cukup penting agar masyarakat dapat memaksimalkan peran TIK untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Kedua, menjadi perpustakaan berbasis komunitas. Perpustakaan umum kabupaten/kota harus rajin menjalin kemitraan dengan komunitas wirausaha yang ada di lingkungan kerjanya.

Perpustakaan berbasis komunitas merupakan solusi untuk memberdayakan informasi baik yang tersedia di internet maupun di rak-rak perpustakaan sehingga menjadi satu-kesatuan yang utuh untuk membangkitkan budaya baca masyarakat. Filter untuk menyaring informasi dari dunia maya sekaligus sebagai pemanis koleksi yang tersedia di rak-rak perpustakaan.

Dengan membuka pintu seluas-luasnya untuk berbagai komunitas di masyarakat maka manfaat perpustakaan akan bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat. Ini merupakan nilai lebih bagi perpustakaan. Masyarakat tentu akan bisa merasakan bahwa perpustakaan bukan sekedar tempat untuk membaca dan meminjam buku namun juga melahirkan sensasi yang menyenangkan untuk diskusi, belajar kelompok, rapat, menikmati internet dan pelatihan TIK gratis.

Transformasi TIK di perpustakaan sudah terbukti memberikan dampak positif bagi UMKM. Di Sragen, perpustakaan daerah membina komunitas wirausaha. Salah satunya adalah KAMI (Keluarga Migran Indonesia) yang terdiri dari para mantan TKI dan TKW di luar negeri. Ketika pulang kampung mereka terjun bebas menjadi wirausaha. Pada tanggal 19 Maret 2014, komunitas ini dideklarasikan secara resmi di Aula Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen. Komunitas ini sudah banyak melahirkan pelaku wirausaha mikro seperti kripik buah, kripik sayur,kripik herba maupun kerajinan tangan lain.

Selain itu, Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen juga telah memfasilitasi pembentukan Forum Wirausaha Sragen sebagai sarana belajar dan komunikasi untuk siapa saja yang ingin belajar menjadi wirausaha.

Di Sukoharjo, Sanikem sukses membangkitkan kembali usaha batiknya berkat belajar TIK di perpustakaan daerah. Dibantu anaknya, Sanikem pun mengunggah foto lurik bikinanya di laman facebook. Tak dinyana, penjualan onlinenya membuat dia kebanjiran order. Jika tadinya dia hanya membuat lima lurik namun setelah kenal facebook setiap minggunya orderan bisa lebih dari 150 batik (Sindo, 28 Januari 2014).

Pemerhati UKM, Mahmud Yunus, mengatakan jumlah pelaku bisnis dengan omset Rp 100 juta hingga Rp 4 miliar per bulan ini kini mencapai lebih dari 56,5 juta atau 99,98% dari total unit usaha di berbagai bidang yang ada di Indonesia. Sedangkan komposisinya, sesuai data Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian, sekitar 40% di luar Jawa dan 60% di Jawa. Namun, dari jumlah UKM tersebut hanya 30%-40% yang baru memanfaatkan kecanggihan TIK untuk mengembangkan bisnisnya. Padahal TIK membantu memudahkan pengembangan bisnis yang lebih professional (Suara Pembaruan, 18 Maret 2014).

Pemberdayaan UMKM melalui TIK di perpustakaan diharapkan bisa memberikan suntikan vitamin untuk membangkitkan inisiasi, kreasi, dan inovasi para pelaku UMKM di tanah air. Dengan memanfaatkan TIK di perpustakaan, pelaku UMKM bisa memperoleh basis pengetahuan bisnis yang memadai baik dalam ranah produksi maupun pemasaran. Terutama dalam hal menumbuhkan kemampuan berpikir lateral bagi wirausahawan UMKM.

Menurut Asmin (2005:539), berpikir lateral mempunyai peranan dalam melepaskan diri dari belenggu konsepsi yang lama, dan menghasilkan perubahan sikap serta pendekatan, untuk mengamati masalah dengan cara berbeda, yang semula senantiasa diamati dengan cara yang sama. Ketika seseorang memiliki kemampuan berpikir lateral, maka orang tersebut memiliki kemampuan dalam mencari ide dan persepsi yang baru, mengingat pola masalah tidak selalu simetris, maka diperlukan cara untuk memotong berbagai pola ini (bergerak lateral).

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif