Home » FIKSI » Cerpen » Kisah di Dalam Kubur.

Kisah di Dalam Kubur.

kubur2Di sebuah kota kecil, di pelosok Jawa tengah, sebuah iring iringan mobil jenasah masuk ke area pekuburan. Sosok sosok tegap tampak turun dari ambulan membawa keranda ke tepi liang kubur. Setelah prosesi upacara pemakaman selesai jenasah itupun diturunkan ke liang kubur. Beberapa mata meleleh menyaksikan tubuh berbungkus kain putih itu perlahan ditidurkan miring memeluk bumi. Tubuh milik seorang yang popular di masa hidupnya. Seorang gadis yang meskipun sudah berumur tapi lebih sibuk memikirkan karirnya di dunia hiburan dan politik. Tapi entah kenapa dia berakhir dengan tragis. Ditemukan meninggal di dalam kamar apartemennnya. Dari catatan medis dan kepolisian. Dipastikan kematiannya adalah kematian yang alami.

Setelah liang kubur telah rapat oleh tanah merah dan bertabur bunga mawar melati, perlahan pelayat pulang. Meninggalkan kuburan. Terasa sepi sampai mentari merebahkan diri pada horizon barat. Angin sedikit mulai dingin saat gemintang satu persatu hadir di langit nan gelap. Menjelang pukul sepuluh malam, tampak sebuah bayang mengendap endap. Wajah yang bertutup kain sarung itu terlihat celingukan. Cahaya rembulan yang hampir purnama sedikit banyak membantunya untuk memastikan tulisan yang tertulis di nisan kuburan baru tersebut. Tangannya mengambil sekop ukuran tanggung. Pelan dia gali kembali tanah merah yang bertabut beragam bunga tersebut. Hampir dua jam ia menggali, hingga akhirnya dia telah mendapatkan jenasah gadis ayu tersebut. Dia buang belahan bamboo bamboo yang menjadi pemisah jenasah dengan tanah yang menimbunnya. Dahinya yang penuh peluh dia elap dengan kain sarung. Matanya berbinar, saat dia dapati wajah itu masih terlihat ayu di bawah sinar rembulan. Perlahan dia balikkan jenasah itu agar tidak miring dan terlentang menghadap ke atas. Dadanya begitu bergemuruh, saat dia keluarkan dompetnya dan mengambil selembar foto.

“Iyah, ini memang benar dia, sudah lama aku menunggu waktu untuk bisa bertemu. Tapi ternyata ketemu di sini. Tapi tak apalah.”

Lelaki itu berdiri melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada yang melihatnya. Perlahan dia buka kain mori pembungkus jenasah, hingga gadis ayu itu tiada lagi berlapis kafan. Nafas lelaki itu semakin memburu, segera dia buka resleting celananya. Dan terjadilah pergumulan tidak lazim.

Di atas pohon, sepasang mata gagak menatap tidak berkedip. Dan seekor codotpun terbang mengitari liang kubur itu.. Suara binatang malampun bertambah dengan suara lenguhan si lelaki yang sedang ada di dalam kubur.

Dengan wajah penuh keringat, lelaki itu naik. Roman capai terbias dari peluh yang ada. Matanya tidak lagi berbinar.

“Sialan, ternyata dia sudah tidak perawan! Rugi aku, perjakaku hilang oleh mayat! Bertahun tahun aku menunggumu, ternyata semua percuma!” Gerutu lelaki itu sembari menyobek foto perempuan yang sudah jadi mayat di bawah.

“Hei!! Siapa itu!”

Sebuah suara tiba tiba terdengar dari arah samping. Lelaki itu kaget, segera saja ia ambil sekop yang tadi dibawanya dan langsung lari menjauhi sumber suara. Beberapa detik, setelah lelaki bersarung itu pergi, tampak seorang paruh baya, berkaos pendek datang. Tubuhnya yang kurus, serta wajahnya yang tirus, menjadikan wajahnya seperti terkorak berdaging tipis. Dia terhenyak, saat mendapati kuburan telah tidak karuan. Diapun melongkok ke bawah. Tampak jenasah perempuan yang tadi dikubur berubah posisi,Tangann terlentang menekuk ke atas. Dan kaki yang satu membuka ke samping dengan lutut berdiri.

“waduhh, gue terlambat deh. Kalo kayak gini pasti dah dikerjai ama tuh orang, gile bener dia, mayat digumuli kayak gitu. Kalo jadi bener, rasain lo, anakku lahir di dalam kubur. Jelek jelek gini gue kagak akan deh maen ama mayat!”

“Kenape, Mat?” seseorang muncul di belakang orang kurus yang di panggil, Mat. “Wahhh, gile bener tuh orang.!’ Kedua orang itu untuk sesaat melihat isi liang kubur.

“udah cepetan Jo, ambil tali pocongnya tuh, kita khan datang buat itu, biar proyek bos bisa sukses!” Kata si Mat kepada Tijo.”Tangan gue kagak sampe nih, ngeri juga kalo masuk,mayatnya sudah kayak gitu. Cepetan, keburu ada orang liat, ntar kita juga yang dikira bongkar nih kuburan.”

Si Tijo segera menurunkan tangannya untuk mengambil tali pocong yang letaknnya sudah berpindah ke dekat paha si mayat. Tapi mendadak, kakinya terpeleset, sehingga tubuhnya tidak lagi imbang, masuk ke dalam liang kubur.

“Brukkk….!”
“Somprett!!”

Wajah Tijo menubruk lutuh si mayat. Dan tubuhnya tepat di atas perempuan tanpa nyawa tersebut. Jika yang di bawah, masih bernafas, tentu dia senang senang saja. Tapi nyatanya, sudah menjadi mayat. Bau tanah merah, bercampur cairan dari lelaki bersarung tadi menelusup ke hidungnya.

“Dasar lo, gitu aja jatuh!” teriak Mat pelan.”Pegang tanganku, sini..”

Tijo mendongak ke atas, dan hendak mengangkat tangannya meraih tangan Mat, tapi ekor matanya sekelebat melihat benda bergerak di antara kaki mayat yang ada di depan matanya. Tangan kiri yang untuk menyangga tubuhnya, serasa merasakan sebuah benda kenyal dan kasar berjalan. Diapun menoleh ke arah kaki si mayat yang berlekatan dengan lengan kirinya.

Hatinya tiba tiba berdebar sangat keras. Rasa takut langsung menghantam dadanya. Tidak ada sedetik, dengan cahaya bulan yg cukup terang, tampak sebuah benda panjang bergerak ke arahnya yang hanya beberapa centi dari wajahnya. Dan benda itu perlahan menegak. Tepat di depan hidungnya. Tampak sebuah mulut mengangan dengan lidah bercabang menjulur. Ular Cobra!

“Whuuzzz!”

Sang ular lanngsung menerkam ke arah wajah Tijo yang hanya sekitar seperempat meter tepat di mulut Tijo. Tijo berontak, dengan berusaha menarik ular tersebut, tapi ternyata gigitan itu begitu kencang. Tijopun bergulung. Terasa di punggungnya yang ada di atas paha si mayat, menelusup benda bergerak yang lain. Seperti berkaki, saat benda itu muncul di samping wajahnya, tampak sebuah capit di ekornya, sebuah kalajengking. Tijo terbelalak, saat lehernya tertancap capi kalajengking.
Mat, yang menyaksikan itu hanya bisa terkesima, kaget. Kejadian yang ada, hanya beberapa detik. Selanjutnya, tampak Tijo menggelepar sekarat.

Mat bergidik,kakinya melangkah mundur. Mendadak muncul sekobaran api dari kubur, memenuhi lubang yang menganga. Dari arah depan, tampak sesosok tubuh berbalut sarung terlempar ke dalamnya. Lelaki yang tadi, pikir Mat. Sesaat kemudian terdengar suara perempuan melengking kesakitan.Tanah disekitar bergetar bagai ada gempa. Mat,bergerak berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Bunyi riuh dan suara dentuman menjadi suara malam itu. Mat menutup telinga. Sementara tubuhnya limbung. Dadanya sesak, panas, dan matanya tiba tiba gelap.

Mat, membuka mata. Tampak, disekitar tubuhnya, orang tampak menangis dan ada yang membaca ayat ayat kitab suci. Dia heran, dan bangun menuju istrinya yang tampak menangis. Dia sentuh tangan istrinya, ahh, ia bagai memegang angin. Mat merasa aneh, dia tidak bisa menyentuh istrinya. Saat dia menoleh ke tempat dia berbaring, tampak sesosok tubuh berbalut kafan. Wajahnya sangat dia kenal. Wajah itu adalah wajahnya. Belum sempat hilang kagetnya, terdengar berdesis,seketika ia merasa ada yang melilitdi perutnya. Seekor ular yang ia liat memangsa Tijo.

“Tolooooongggg!!” jerit Mat tanpa ada yang mendengar, kecuali hewan hewan yang ada disekitarnya.

Facebook Comments

About ken shara odza

2 comments

  1. marla lasappe

    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif …… nice posting

  2. Hellooowww mas Ken :D

    apik mas ceritanya, horornya agak dapet, konyolnya dapet, pesan moralnya dapet (kata saya)
    wkwkkwkwkw

    salamhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif