Home » IMTAK » Religi » Puasa Sebagai Sarana Introspeksi Diri, Sejauh Mana ?

Puasa Sebagai Sarana Introspeksi Diri, Sejauh Mana ?

miskinBagi umat muslim, puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang wajib dijalankan oleh seluruh umat manusia sebagai mana telah diajarkan didalam agama Islam. Tak hanya bagi manusia yang hidup dimasa sekarang, namun puasa juga telah dilaksanakan oleh umat sejak jaman dahulu kala. Orang melaksanakan ibadah puasa dengan ikhlas yaitu manahan rasa haus dan lapar sejak fajar hingga petang karena atas perintah agama.    Namun demikian, bersama dengan bergulirnya waktu, arti puasa yang sesungguhnya seringkali dilupakan.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin membahas puasa dalam kaitannya dengan kebutuhan fisik yaitu makan dan minum. Menjalankan puasa, tidak sekedar menahan haus dan lapar, namun lebih jauh dari itu, puasa sesungguhnya mengajarkan kepada kita semua  untuk berinstrospeksi diri agar lebih peka terhadap kehidupan sosial disekeliling kita. Dengan berpuasa maka kita secara langsung akan merasakan penderitaan kaum miskin yang untuk sekedar makan dan minum saja, mereka tak mampu memenuhinya.

Dalam praktik puasa dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang merasa malu mengakui bahwa dirinya dalam keadaan lemas sebab seharian tidak makan dan minum. Coba saja sekali waktu anda bertanya kepada seseorang yang sedang berpuasa dengan pertanyaan sederhana, “Bagaimana rasanya berpuasa, lemas ya ? Lapar ? Haus ?” Tentu jawaban mereka adalah “Nggak, biasa saja.”

Padahal bila mau jujur, siapapun manusia yang tidak makan dan minum seharian tentu akan merasa haus dan lapar, juga tubuhnya akan terasa lemas. Hal ini tentu wajar, sebab pada saat berpuasa, tentu tubuh kita tidak memperoleh nutrisi yang cukup.

Sebaliknya bila seseorang yang sedang berpuasa dan sama sekali tidak merasakan haus dan lapar, maka justru hal ini yang perlu dipertanyakan. Bila memang benar bila ada orang yang berpuasa namun tidak merasa haus dan lapar, maka apa perlunya dia berpuasa ?

Justru bila kita sedang berpuasa, sudah seharusnya kita merasakan haus dan lapar. Sebab rasa haus dan lapar inilah yang akan memberi pelajaran bagi kita semua. Saat merasakan haus dan lapar, maka kita akan secara langsung merasakan betapa berat penderitaan orang yang tidak bisa makan dan minum yaitu yang dirasakan oleh kaum miskin. Dengan demikian diharapkan akan tumbuh dalam diri kita rasa kepedulian terhadap sesama untuk saling berbagi dan tolong menolong khususnya kepada yang memerlukan bantuan dan uluran tangan kita.

Demikian juga ketika sedang bersantap sahur, tidak perlu kita makan sebanyak-banyaknya agar nanti seharian tidak merasa lapar. Makan sahur hendaknya seperti biasanya kita makan. Tak perlu dicari cari cara atau usaha dengan memilih makanan yang bisa membuat kita segar sepanjang hari. Justru hal ini akan mengurangi tujuan dari puasa itu sendiri yaitu merasakan lapar dan dahaga.

Juga dalam melakukan aktifitas kerja pada saat berpuasa, seharusnya tetap saja berjalan seperti hari hari biasa dimana kita tidak sedang berpuasa. Hal ini juga sebagai ajang untuk menguji sejauh mana kita mampu bekerja dengan baik meski kita sedang malaksanakan ibadah puasa. Sebagaimana yang dirasakan oleh orang orang miskin, meski tidak bisa makan dan minum, mereka tetap tabah dan terus berjuang dalam menjalani kehidupan ini.

Namun apa yang seringkali saya temukan yang membuat saya bertanya dalam hati, yaitu diberbagai media yang memberikan informasi bagaimana memilih makanan dan lain sebagainya yang intinya untuk mengurangi penderitaan dalam berpuasa. Aneh juga rasanya, bila kita mencari cari upaya untuk mengurangi penderitaan haus dan lapar. Justru kita dalam berpuasa diajak untuk belajar memahami penderitaan dalam kondisi haus dan lapar sebagaimana yang dirasakan oleh kaum miskin, mengapa kita mencari cari cara untuk menghindarinya ?

Bahkan ada dari kalangan intelektual atau pemuka agama yang sudah terbiasa melakukan puasa yang mengatakan bahwa puasa sudah menjadi kebiasaanya dan karena kebiasaanya itulah mereka tak lagi menghiraukan rasa haus dan lapar. Bila rasa haus dan dahaga dianggap hal yang biasa, lalu dimana kita bisa memetik pelajaran dari hikmah berpuasa ? Bahkan mereka seakan merasa bangga bahwa dirinya sudah terbiasa berpuasa dan sama sekali tak merasakan penderitaan dalam berpuasa. Mereka telah lupa bahwa ketika kita merasakan haus dan lapar, maka disinilah kita belajar memahami penderitaan kaum miskin.

Kenikmatan berpuasa sesungguhnya adalah bukan pada saat berbuka, namun justru ketika kita merasakan haus dan lapar, bersamaan tubuh kita yang lemas tak bertenaga. Ketika rasa haus dan lapar meyerang, saharusnya hal ini dapat membuat kita menangis untuk mengingat betapa berat penderitaan saudara saudara kita yang sedang mengalami kemiskinan. Disaat yang sama kita bermohon kepada Allah agar diberikan perlindungan dalam menjalani kehidupan dan mampu menumbuhkan kepekaan  diri kita terhadap berbagai permasalahan sosial.

Pada akhir tulisan ini saya hanya sekedar mengingatkan kembali, bahwa rasa haus dan lapar dalam berpuasa janganlah diingkari dan dihindari. Justru disinilah kita akan menemukan sebuah hikmah yang luar biasa dan akan membawa kita kepada kehidupan yang lebih manusiawi untuk selalu menjaga tengggang rasa dan ikut berpartisipasi dalam memberi bantuan apapun bentuknya, kepada saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan pertolongan.

Salam

 

 

 

Facebook Comments

About Juru Martani

One comment

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Puasa itu adalah perisai :2thumbup

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif