Home » IMTAK » Religi » Memberdayakan Umat Dengan Perpustakaan Masjid

Memberdayakan Umat Dengan Perpustakaan Masjid

perpus masjidKetika Rasulullah Saw. berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma. Pada zaman Rasulullah SAW masjid memiliki multifungsi, antara lain sebagai sarana pendidikan, komunikasi dan pusat informasi. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, masjid berfungsi untuk mengontrol kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut dilakukan dengan pendirian menara sehingga dari bangunan yang tinggi ini dapur-dapur rumah yang tidak pernah mengeluarkan asap dapat terlihat. Karena itu, tingginya menara itu bukan dimaksudkan untuk gagah-gagahan tetapi salah satu langkah untuk memberdayakan ekonomi umat berbasis masjid. Jadi, masjid merupakan sarana untuk memberdayakan umat dan masyarakat pada umumnya.

Agar masjid dapat berfungsi optimal untuk memberdayakan masyarakat, maka perlu dilengkapi dengan perpustakaan masjid. Menurut Lembaga Ta’mir Masjid Indonesia (2008), jumlah masjid di Indonesia berjumlah 700.000 yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, berdasarkan Data Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) tahun 2008 yang tercatat di Perpustakaan Nasional, baru sekitar 5 % atau sekitar 35.000 yang memiliki perpustakaan, dengan jumlah terbesar di Pulau Jawa dan Sumatera.

Hal ini tentu menjadi sebuah ironi tatkala kita membandingkan dengan sejarah emas ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah. Islam mencapai puncak kemajuan ilmu pengetahuan pada masa kedaulatan Abbasiyah yang berlangsung selama 508 tahun. Pencapaian itu tidak terlepas dari gerakan penerjemahan besar-besaran yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745 M-775 M) hingga Harun Al-Rasyid (786 M-809 M). Kemudian dilanjutkan oleh putranya Al-Ma’mun (813 M-833 M).

Tidak tanggung-tanggung, Khalifah Harun Al-Rasyid membangun Baitul Hikmah sebagai pusat penerjemahan sekaligus sebagai perpustakaan. Kala itu, perpustakaan lebih berfungsi sebagai universitas, karena selain mengkoleksi kitab-kitab, di sana juga bisa membaca, menulis, dan berdiskusi. Berbagai bidang ilmu pengetahuan pun dikuasai umat Islam, baik astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika, hingga sejarah.

Sehingga tidak mengherankan, kalau pada masa-masa itulah lahir banyak ilmuwan muslim kaliber dunia. Seperti Jabir bin Hayyan atau Geber (721 M-815 M) ahli ilmu kimia, Al-Khawarizmi (780 M-846 M) ahli ilmu matematika, Al-Kindi (806 M-873 M) filsuf, dan Ibnu Sina (980 M-1043 M) atau Avicenna, yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Modern.

Sejarah mencatat, pada abad ke-10 M, perpustakaan Baitul Hikmah di Kairo mempunyai 2.000.000 judul buku. Perpustakaan di Cordova mempunyai 600.000 jilid buku. Perpustakaan Al-Hakim di Andalusia mempunyai berbagai buku dalam 40 kamar, yang setiap kamarnya berisi 18.000 judul buku. Perpustakaan Abudal Daulah di Shiros (Iran Selatan) memiliki 360 kamar yang penuh dengan buku-buku.

Para sahabat Rosulullah Saw adalah orang-orang yang terkenal memiliki minat baca yang cukup tinggi. Di dalam hadits yang shahih, Rasulullah menyuruh Abdullah bin ‘Umar, supaya mengkhatamkan Al Quran sekali dalam seminggu. Begitulah para sahabat seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud dan ‘Ubaiyy bin Ka’ab, telah menjadi wiridnya untuk mengkhatamkan Al Quran pada tiap-tiap hari Jumat. Disamping itu, ada juga di antara sahabat yang membaca Al Quran sampai khatam dalam sebulan, untuk memperdalam penyelidikannya mengenai maksud yang terkandung di dalamnya.

Membaca merupakan tradisi peradaban Islam. Perpustakaan masjid merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan minat baca umat Islam dan masyarakat disekitarnya. Untuk mewujudkan hal ini harus ada perubahan paradigma para pengurus masjid. Masjid bukan sekedar tempat untuk shalat dan pengajian saja. Keberadaaan masjid sesungguhnya adalah untuk memberdayakan umat dengan membaca. Setelah jamaah memakmurkan masjid sudah saatnya masjid memakmurkan jamaahnya pula.

Pengurus masjid dapat menggunakan dana kas masjid untuk membeli buku sebagai koleksi dasar perpustakaan masjid. Saat ini, ada beberapa masjid yang memiliki kas cukup besar namun ironisnya hanya menjadi dana beku saja. Mengapa ? Karena selama ini dana kas masjid baru sebatas dipahami untuk mempercantik masjid saja. Bahkan ada masjid yang sudah cukup bagus namun dirobohkan lagi oleh pengurus masjid, untuk kemudian dibangun lagi masjid yang lebih cantik.

Perpustakaan masjid sesungguhnya merupakan salah satu bentuk dari amal jariyah yang pahalanya tidak akan terputus meskipun kematian menjemput kita. Ilmu yang bermanfaat sekaligus harta yang bermanfaat bagi umat jika para pengurus membelanjakan dana infak umat untuk pengadaan koleksi perpustakaan masjid. Dana kas masjid adalah milik umat bukan milik pengurus masjid, sudah sewajarnya dimanfaatkan untuk kepentingan pemberdayaan umat.

Untuk mengelola perpustakaan masjid, pengurus masjid dapat melibatkan para remaja yang tergabung dalam Remaja Islam Masjid (RISMA) maupun Karang Taruna. Ini sekaligus sebagai upaya pemberdayaan remaja agar semakin dekat dengan dunia baca sekaligus menjauhi dunia maksiat yang sangat intensif menggoda remaja. Remaja dalam hal ini berfungsi sebagai pengelola sekaligus pengguna perpustakaan.

Sementara itu, santri TPA/TPQ (Taman Pendidikan Al Quran) dapat melakukan rekreasi jiwa dengan membaca koleksi buku perpustakaan masjid. Sehingga pemahaman santri terhadap ilmu agama dan ilmu lainnya lebih meningkat. Membaca buku di perpustakaan masjid merupakan salah satu bentuk pengayaan dari materi pengajian yang diberikan dalam kegiatan belajar di TPA.

Yakinlah, bahwa membaca akan membawa kebaikan dunia dan akhirat bagi kita semua ! “ Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “. (Al Quran Surat Al Alaq Ayat 1 – 5).

Artikel ini telah dimuat di Majalah Media Pustaka, Edisi I/ Januari – Juni 2013
Penulis adalah Kasi Binalitbang Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

ilustrasi : fauzulandim.blogspot.com /admin

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

2 comments

  1. jaman sekarang mau bikin yg kayak gitu dilema jg. di satu sisi minat baca masyarakat kurang, di sisi yg lain jarang jg yg mau ngunjungi masjid. tp emang butuh banget yg sejenis Baitul Hikmah :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif