Home » IMTAK » Religi » Miskin di Hadapan Tuhan

Miskin di Hadapan Tuhan

Miskin di Hadapan Tuhan
Oleh Budianto Sutrisno

Miskin di Hadapan Tuhan

Lukas 6: 20: Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya
Kerajaan Allah.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengomentari hal yang sama yang dituliskan oleh Pak Billy Kristanto (sewaktu beliau belum menjadi pendeta) di sebuah milis. Sekarang saya mencoba menuliskannya kembali berdasarkan pergumulan saya dalam membaca Alkitab.

Miskin spiritual
Orang percaya adalah orang yang miskin secara spiritual di hadapan Tuhan, Sang Maha Dermawan. Orang percaya – yang notabene adalah warga Kerajaan Allah – adalah orang selalu berharap pada belas kasihan Tuhan. Hanya dari Dialah muncul segala bentuk anugerah, baik anugerah umum maupun anugerah khusus yang diberikan kepada umat manusia ciptaan-Nya.
Sebagai orang percaya, sikap kita di hadapan Tuhan adalah seperti peminta-minta yang berharap dari Sang Sumber Adikodrati. Berserah dan berharap tangan-Nya terulur menjamah kita, dan menganugerahkan harta surgawi yang sangat berharga, yakni firman Tuhan. Karena hanya melalui pendengaran akan firmanlah, kita bisa menjadi beriman. Adakah yang lebih berharga dari itu?
Secara spiritual, kita ini berada dalam kelaparan dan kehausan yang hanya bisa dipuaskan oleh roti dan air hidup, yang tiada lain adalah firman Tuhan. Tanpa firman, maka kita tak lebih hanyalah ’zombi’ yang menderita penyakit kwashiorkor rohani. Hidup (secara fisik), tetapi mati (secara rohani). Sebuah keadaan yang sangat mengenaskan! Ingat, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4: 4, Ul. 8:3).
Sebagai orang percaya, kita harus senantiasa bergantung serta bersandar kepada Tuhan, karena sesungguhnya kita tak punya apa pun dan tak bisa berbuat apa pun yang diperkenan oleh Tuhan tanpa memperoleh anugerah-Nya terlebih dahulu. Sadar diri miskin di hadapan Tuhan haruslah merupakan kesadaran yang paling hakiki dalam relasi antara manusia dan Tuhan. Jika kesadaran ini tak ada, maka kita cenderung petantang-petenteng di hadapan Sang Mahaagung yang Mahakaya dan Maha Pemurah. Sikap yang sungguh tidak tahu diri dan sangat kurang ajar.
Jika manusia merasa dirinya kaya di hadapan Tuhan, maka yang bersangkutan cenderung tidak membutuhkan apa pun dari Tuhan, karena menurutnya, segala sesuatu bisa dibeli/diperoleh dengan hartanya. Yang lebih konyol lagi, jika orang yang bersangkutan merasa dirinya adalah ’allah’ yang bisa memiliki dan melakukan segala sesuatu. Dia merasa menjadi ”yang serbapunya dan yang serbabisa” (Ingat perumpamaan Orang Kaya yang Bodoh).

Bisa kaya, bisa miskin harta
Melalui tulisan ini, saya tidak berpretensi membela orang miskin dan memusuhi orang kaya harta. Sama sekali tidak. Dari Alkitab kita tahu, bahwa orang percaya itu bisa miskin harta seperti Rut, Naomi, janda dari Sarfat (yang ditolong Tuhan melalui Elia), perempuan miskin yang memberikan persembahan di Bait Allah (yang dipuji Yesus karena seluruh hartanya dipersembahkan), dan Lazarus yang miskin yang dikontraskan dengan orang kaya oleh Tuhan Yesus.
Dan dari Alkitab pula kita tahu bahwa orang percaya – yang menjadi warga Kerajaan Allah – itu juga bisa kaya harta benda, seperti Abraham, Daud, Salomo, Yusuf dari Arimatea, sekelompok perempuan yang berada dalam rombongan pelayanan Yesus yang ikut mendanai pelayanan (mungkin di antaranya adalah Maria Magdalena, yang sering dituduh secara ngawur dan dituduh secara keji sebagai pelacur).
Bagi saya, kedudukan Abraham dan Daud itu sangat istimewa. Abraham disebut sebagai ’Bapa orang beriman’ dan Daud disebut sebagai ’orang yang diperkenan Tuhan’. Sudah pasti, kedua pribadi ini adalah orang percaya – yang kaya raya secara harta benda duniawi – yang berbahagia di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena mereka ini bersikap miskin spiritual di hadapan Tuhan. Mereka merasa perlu dianugerahi dengan kekayaan firman yang tidak dapat rusak serta binasa. Sikap kedua orang ini bertolak belakang dengan sikap orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Tuhan Yesus.
Melalui contoh-contoh ini jelaslah yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai ’orang miskin yang berbahagia’ itu bukanlah dalam artian miskin secara sosio-ekonomi dan keuangan, tetapi miskin secara spiritual. Orang yang miskin secara spiritual ini bisa saja merupakan orang yang kaya harta benda, tetapi juga bisa orang yang miskin harta benda.
Kaya atau miskin harta benda sebenarnya bukanlah merupakan hal yang esensial dalam kerohanian. Keduanya bisa dipakai Tuhan sebagai ujian, dan dipakai setan sebagai pencobaan. Siapa bilang hanya kemiskinan yang merepotkan? Di masa resesi ekonomi, yang paling gelisah dan repot justru orang yang sangat banyak harta dan ingin menyelamatkan hartanya itu supaya nilainya tidak merosot. Sementara si miskin harta, ada atau tidak ada resesi, dia memang sudah miskin. Tidak ada harta yang perlu diselamatkan. Jadi sudah tidak ada hal yang mengejutkan bagi dirinya. Kaya atau miskin harta tidak dibawa di dalam kekekalan!

Soli Deo Gloria!

***

 

Facebook Comments

About budinovo

2 comments

  1. katedrarajawen

    Pada masa sekarang kemiskinan jiwa memang memprihatinkan, kemiskinan jiwa terjadi karena masa sibuk mencari kekayaan duniawi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif