Home » Insidental » 6 Besar Lomba Opini » [OPINI] Berbeda-beda Tetapi (Tidak) Satu Juga

[OPINI] Berbeda-beda Tetapi (Tidak) Satu Juga

logo lombaPemilu Presiden 2014 merupakan batu ujian bagi bangsa yang akan merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-69 pada tanggal 17 Agustus nanti. Persatuan dan kesatuan yang didengung-dengungkan oleh Sang Proklamator Soekarno-Hatta seolah luluh- lantak dalam “perang badar” memperebutkan kursi Republik Indonesia Satu.
Indonesia terbelah dalam dua kutub permusuhan yang sangat dahsyat. Hujatan, caci maki, fitnah, dan pertengkaran menghujani sosial media di tanah air. Tak cukup puas dengan hitungan hari melainkan detik. Rasa bersaudara seolah pudar terbang ke angkasa luar, digantikan rasa benci, amarah, amuk, dan dendam.
Inilah buah kesuksesan bangsa penjajah yang telah cukup lama menginstalkan virus “devide et impera” selama 350 tahun. Sebuah virus yang menyebabkan kekayaan nusantara diangkut paksa ke negeri kincir angin dalam kurun waktu yang lama. Dulu, kerajaan-kerajaan di nusantara berpecah-belah karena mereka memang belum diikat dalam “Indonesia Raya”. Kini, rakyat dan elit politik yang mengaku berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu ini terlibat “perang saudara” karena berbeda partai dan berbeda capres. Bahkan ketika KPU mengumumkan secara resmi pemenang pilpres, nuansa bermusuhan ini pun tak juga sirna. Pertarungan dilanjutkan di Mahkamah Konstitusi.
Ketika masih di SD, Pak Guru mengajarkan bahwa kita adalah bangsa yang cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Maaf, Pak Guru ! Harapan bapak saat ini tinggal mimpi. Fakta melukiskan dengan jelas bahwa kita adalah bangsa yang cinta damai jika berurusan dengan orang asing. Sebaliknya, jika berurusan dengan saudara sebangsa dan setanah air wajah kita akan berubah mengusung semangat amarah tanpa ramah dalam pelbagai rupa dan warna.
Indonesia tetap terseyum, meskipun kehilangan Sipadan dan Ligitan. Ibu pertiwi hanya merasa prihatin tatkala Tentara Malaysia sengaja menembaki perahu para pahlawan devisa hingga tenggelam. Kita tetap diam seribu bahasa, ketika emas, perak, tembaga, dan mineral dalam kandungan bumi pertiwi diangkut ke luar negeri atas nama kontrak karya yang sangat merugikan kita. Segala kerugian yang kita terima dari orang asing selalu kita sikapi dengan santun, arif, dan bijaksana.
Amuk, amarah, ancam, fitnah, hasut, iri, dengki dan dendam mudah membara ketika kita berada dalam ruang perbedaan pendapat sesama kita. Semangat kesukuan yang pada masa lalu memecah belah bangsa ini, kini mengalami reinkarnasi dengan bendera partai politik. Partai politik yang seharusnya menjadi mesin pemersatu malah berubah menjadi mesin pemecah belah bangsa atas nama kepentingan rakyat. “Rakyatnya” partai politik.
Kondisi seperti ini tentu tak bisa dibiarkan. Jarum jam harus diputar seratus delapan puluh derajad. Bahasa politik kita ke luar negeri tak cukup hanya santun, arif, dan bijaksana. Perlu bumbu wibawa, tegas, dan lugas dalam membela kepentingan negara di ranah internasonal. Ini tidak berarti kita mengembangkan budaya konfrontatif melainkan membudayakan diplomasi yang bermartabat dan membawa manfaat yang sebesar-besarnya untuk rakyat Indonesia. Mengubah budaya inferior menjadi budaya superior. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan semua negara di dunia.
Setiap negara yang merdeka di dunia ini tentu berdiri di atas falsafah negara atau sebagaimana yang dikatakan Soekarno, “Weltanschauung” sebagaimana tertulis dalam Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia Tahun 1998.
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lahir tanggal 17 Agustus 1945 berdiri di atas pondasi Pancasila sebagai weltanschauung yang sudah menjadi kepribadian bangsa Indonesia ratusan tahun sebelumnya. Mozaik yang sudah lama ada ini mulai disusun menjadi konsep bernegara yang lebih rapi dan sistematis oleh Soekarno sejak tahun 1918.
Suatu konsep bernegara yang tidak hanya ditujukan untuk suku tertentu, agama tertentu, ras tertentu, dan golongan tertentu. Melainkan konsep bernegara yang disetujui oleh semua suku, agama, ras, dan golongan yang ada di bumi pertiwi ini. Dari semua untuk semua, yakni Pancasila. Inilah rumah bersama Indonesia Merdeka!
Rumah bersama ini mesti menumbuhkan rasa bersatu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ernest Renan (1882), bahwa syarat utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah keinginan untuk bersatu. Orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu.
Kumpulan manusia yang ingin bersatu ini tentu tidak dapat dilepaskan dengan tempat kelahirannya, atau lazim dikenal dengan istilah tanah air. Tanah air adalah satu kesatuan. Kepulauan nusantara yang membentang dari sabang sampai merauke dan terletaka di antara benua Asia dan Australia adalah satu kesatuan. Soekarno menyebutnya sebagai satu Nationale Staat.
Indonesia terbentuk dengan ciri yang amat unik dan spesifik. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Yunani, yang menjadi suatu negara bangsa karena kesamaan bahasa. Atau Australia, India, Sri Lanka, Singapura, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan daratan. Atau Jepang, Korea, dan negara-negara di Timur Tengah, yang menjadi satu negara karena kesamaan ras.
Indonesia menjadi satu negara bangsa meski terdiri dari banyak bahasa, etnik, ras, dan kepulauan. Hal itu terwujud karena kesamaan sejarah masa lalu; nyaris kesamaan wilayah selama 500 tahun Kerajaan Sriwijaya dan 300 tahun Kerajaan Majapahit dan sama-sama 350 tahun dijajah Belanda serta 3,5 tahun oleh Jepang. Inilah yang disebut dengan persatuan Indonesia.
Rasa ingin selalu bersatu inilah yang mesti menjadi landasan jiwa ketika membangun negeri tercinta ini. Rasa ini jika terus dipelihara akan mampu mengobati amuk, amarah, ancam, curiga, dan dendam yang biasa diderita oleh para politikus negeri ini. Rasa ini akan melahirkan sikap saling mencintai dan menguatkan negara meskipun berbeda sengit dalam urusan politik. Semangat perbedaan yang ada hanyalah karena ingin memberikan yang terbaik untuk negara dan bangsa. Bukan untuk asal beda dengan lawan politiknya.
Pilpres 2014 sudah berakhir, semoga semangat “Berbeda-beda dan tidak satu juga” tergantikan oleh semangat Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Sehingga perbedaan bisa menjadi rahmat dan bukan laknat.

Facebook Comments

24 comments

  1. katedrarajawen

    Tetapi kita bersyukur ada pemersatu yang bernama Bhineka Tunggal Ika

  2. Romi Febriyanto Saputro

    Terima kasih atas komentarnya Pak

  3. Ya…kita harus pegang teguh semboyan Bhineka Tunggal Ika dan Ideologi Pancasila. :)

  4. so good, bikin betah bacanya. membuat saya berapi-api https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  5. Friska Putri N

    Semangat bhinneka tunggal ika https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gifhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  6. bagus gan… bisa saya telaah dengan baik. saya juga berharap indonesia menjadid bangsa yang HEBAT

    • Romi Febriyanto Saputro

      Asalkan semua elemen bangsa lebih suka bersatu daripada bertengkar,….Indonesia bisa menjadi Bangsa Yang Hebat

  7. Mantap bin keren bin bagus tulisannya. Perbedaan bukan alasan untuk berpecah, karena bisa berjalan harmonis beriringan.

  8. Yulida Medistiara

    Tulisannya kaya akan sejarah bangsa. Rakyat harus ingat akan awal mula bersatunya Indonesia. Tapi sekarang muncul media massa partisan yang dapat memperkeruh suasana, hal itu pula yang membedakan pandangan masyarakat terhadap elit politik. Seharusnya pers partisan mampu kembali ke arah yang benar dan tidak mengadu domba masyarakat dengan kampanye hitamnya.

  9. Romi Febriyanto Saputro

    Mabak Yuli & Mas Mursalim terima kasih atas komentarnya

  10. Kita harus mempercayai bahwa bangsa kita akan menjadi besar dan maju, untuk mewujudkannya diperlukan kesadaran dan keinginan untuk sama-sama bergerak dan meninggalkan segala hal yang meretas persatuan dan kesatuan. Jadi, mari kita wujudkan kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa kita.

  11. Kita harus mempercayai bahwa bangsa kita akan menjadi besar dan maju, untuk mewujudkannya diperlukan kesadaran dan keinginan untuk sama-sama bergerak dan meninggalkan segala hal yang meretas persatuan dan kesatuan. Jadi, mari kita wujudkan kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa kita.https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  12. ka Romi Febriyanto Saputro, Memang seorang penulis hebat https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif :)
    tulisannya very nice https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif

  13. salam kenal bang
    Indonesia terbentuk atas kerelaan beberapa kerejaan yang ingin melebur dalam satu kesatuan nusantara…
    bahkan orang di LN salut akan bangsa kita, bangsa yang masih mempertahankan warga pribumi sebagai masyarakat terbesarnya…
    keren tulisannya bang.

  14. mas mtanya dong giamana masukin oponi kita ke kategori lomba opini HUT Ri, mohon bantuanyya?https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  15. lomba sudah ditutup mbak ismi dita :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif