Home » Insidental » 6 Besar Lomba Opini » [Opini] Berpadu Untuk Indonesia Satu

[Opini] Berpadu Untuk Indonesia Satu

OpiniIndonesia merupakan Negara besar yang terdiri atas berbagai suku, kebudayaan dan agama. Kemajemukan ini dirasa sudah seharusnya dianggap sebagai kekayaan dan kekuatan bagi bangsa Indonesia sendiri dalam mewujudkan cita – citanya. Sebagaimana yang tertuang pada alinea 4 Pembukaan UUD 1945 “….untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”. Menyadari akan betapa besarnya cita – cita bangsa kita, ini menjadi tugas bersama, menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia. Yang mana dari keanekaragaman yang ada ini bangsa Indonesia begitu membutuhkan kebersamaan dan persatuan dalam menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik berasal dari dalam maupun dari luar negeri.

Sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, para pendiri Negara menyadari bahwa keberadaan masyarakat yang majemuk merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus diakui, diterima dan dihormati yang kemudian diwujudkan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Begitu pula para pemuda yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia kala itu menyadari sepenuhnya akan kekuatan yang dapat dibangun dari kesatuan dan persatuan nasional. Mereka bersepakat bersatu melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) dengan menegaskan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan, yaitu Indonesia. Semangat dan gerakan untuk bersatu menjadi sumber inspirasi bagi munculnya gerakan yang terkonsolidasi untuk membebaskan diri dari penjajahan. Namun apa yang kita lihat hari ini? Apakah para pemuda sekarang memiliki jiwa persatuan yang kokoh? Semangat yang diturunkan oleh para pejuang muda di masa perjuangan lalu perlahan telah pudar. Kita bisa melihat dari berbagai peristiwa yang terjadi selama kurun waktu 69 tahun NKRI. Misalnya, berbagai aksi tawuran seperti yang terjadi di Jakarta usai UN (24 Mei 2013), SMK Baskara Depok (13 Agustus 2014), beberapa SMK di Sukabumi (15 Agustus 2014) dan masih banyak contoh peristiwa tawuran lainnya yang kerap menjatuhkan korban tewas masih dengan motif yang hampir sama (sumber: www.liputan6.com). Hal ini cukup menjadi bukti bahwa jangankan bersatu untuk menyelamatkan Negerinya dari ancaman luar, bersatu dengan saudara sendiri dalam Negerinya pun masih sulit untuk terjalin.

Lantas, bagaimana kita mampu berbicara tentang persatuan Indonesia, ketika makin banyak warga Negara dan kelompok yang lebih mementingkan urusan pribadi melalui tindakan yang melanggar hukum dengan mengorbankan solidaritas terhadap warga yang lain. Contoh ironisnya, budaya KKN bukannya luntur, malah semakin melekat pekat. Dikerjakan bersama – sama seolah itu telah menjadi bagian tugas bersama. Pun bagaimana kita dapat berbicara tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusawaratan/ perwakilan, jika masih banyak politisi melakukan manipulasi politik lewat proses demokrasi, tentu itu tidak mencerminkan sikap hikmat, bijaksana, dan sosok representasi yang akuntabel.

Seperti yang sedang dialami oleh Bangsa Indonesia sendiri, pasca pemilu ternyata bukan akhir dari sebuah keregangan. Belum menjadi akhir dari sebuah kontroversi. Tidak juga menjadi akhir dari segala perdebatan yang sini merasa benar, yang sana merasa lebih benar.

Saat masa kampanye, orang – orang begitu semangat mendukung pilihannya. Gencar juga memporakporandakan hal yang padahal sebelumnya baik – baik saja. Di media sosial, tak jarang ditemukan akun personal maupun grup yang isinya khusus membahas capres-cawapres atau pemilu. Sebagian akun bisa dikatakan baik karena membagikan informasi/ berita yang menunjukkan prestasi kedua pihak capres-cawapres, namun sebagian lain yang justru menjadi mayoritas hanya dapat menuangkan informasi salah atau belum terbukti kebenarannya sehingga dapat menimbulkan fitnah. Atau bahkan beberapa dari mereka kerap saling mencaci – maki, menghina dengan kata – kata yang sudah tidak mengenal etika berbicara. Boleh jadi dari kawan bisa menjadi lawan. Tak habis pikir, mengapa mereka harus rela sampai menambah dosa demi memperjuangkan orang yang belum tentu memperjuangkan mereka. Ya, memang itu hak semua orang untuk memiliki pilihan. Hak kita untuk mendukung dan memperjuangkan pilihan yang kita anggap lebih baik. Namun, tak boleh juga kita melupakan kewajiban untuk saling menghargai sesama warga Negara.

Saat kampanye telah berakhir, pemilu pun telah dilewati, dan waktunya menunggu hasil akhir, masalah masih saja enggan berakhir. Seperti yang kita lihat pada berbagai media berita yang ada, keadaan sepertinya semakin runyam. Bagi kita selaku warga Negara yang belum tahu kepastiannya bagaimana, kebenarannya seperti apa, jangan mencoba memperkeruh keadaan. Kita cukup menunggu dan mencari tahu kabar yang benar, bukan kabar burung yang selalu berpihak pada tuannya. Zaman yang semakin berkembang saat ini memang sangat mudah untuk kita memperoleh berbagai informasi, dari mulai fakta yang benar adanya sampai berita yang padahal hanya opini. Maka, sangat perlulah ketelitian dan keterbukaan pikiran dalam memilah dan memilih informasi yang kita peroleh. Boleh jadi bagi orang yang masih awam, segala berita bisa langsung ia tangkap tanpa ada proses penyaringan, sehingga dalam menyikapinya pun tidak bisa terkontrol. Boleh jadi media yang ada malah semakin menaikkan derajat panas pikiran orang – orang. Sampai akhirnya perpecah-belahan benar – benar tak bisa diselamatkan.

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan Indonesia yang telah berkembang dari masa ke masa. Namun, ketika keterbatasan pengetahuan melanda warga Negara, semua berubah menjadi tak sejalan dengan cita – cita awal. Adanya kebebasan berpendapat, acap kali membuat segelintir orang menjadi arogan, mungkin ada kesalahpahaman dalam memaknainya. Jauh dari itu, akhirnya perlahan bukan hanya kelompok partai yang terpisah, namun warga pun ikut tercerai – berai. Peristiwa bentrokan makin marak terjadi; bentrokan antar pendukung capres-cawapres di Ambarawa, Jawa Tengah (sumber: kompas.com, 8 Juli 2014), perusakan atribut kampanye di Sleman, DIY (sumber: liputan6.com, 2 April 2014), dll.

Perlu ada penanaman ilmu dan karakter yang lebih banyak pada diri kita selaku warga Negara yang berkualitas. Tetapi bukan hanya pada warganya saja, mungkin memang masih ada kelemahan komitmen instansi/lembaga yang terkait sehingga sering mengakibatkan lambatnya upaya penanganan berbagai masalah di Indonesia. Perlu evaluasi dari kita semua atas kinerja yang telah dilaksanakan, apakah sudah mengenai sasaran? Persatuan dan kesatuan tercipta bukan pada dua hal yang buruk, tetapi mempersatukan dua hal yang baik. Bukan bekerja sama untuk menodong dengan pisau, tetapi bersama – sama membela dengan kebenaran.

Hanya kita yang dapat mengembalikan “Bhinneka Tunggal Ika”. Jadikanlah keanekaragaman sebagai pemicu untuk dipersatukan, bukan untuk memicu perpecahbelahan.

Berbeda-beda tetapi tetap satu. Berpadu untuk Indonesia Satu.

“This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke.” (Ir. Soekarno, 1955)

bersatu

Facebook Comments

About windiariesti

14 comments

  1. Iya kak windiariesti.
    Sampai saat ini saya masih bingung terkait hasil pemilu capres dan cawapres tahun ini.. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

  2. sista mohon bantuannya gimana yaa cara karya opininya telah tampil didalam kategori “Lomba Opini HUT RI ke-69″? makasiii

    • hi. Ismi
      Lomba Opini sudah ditutup, jadi untuk kategori “lomba Opini HUT RI ke-69 tidak bisa diakses lagi.
      Tapi jangan berkecil hati. masih ada lomba lomba lainnya, tunggu tanggal mainnya.

      stay tune aja terus di KetikKetik.com https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

    • Sist Ismi, sudah terjawab ya pertanyaannya oleh admin :D hehe

  3. Dewi Komalasari

    hidup pemuda Indonesia,,,katakan tidak untuk tawuran

  4. benar kak windiariesti :)
    Hiduupp ! :)

  5. Iyaaa semangat jugaa untuk kak windiariesti https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif