Home » Insidental » LOMBA CERPEN - DESA RANGKAT » [MBLR] Anak – Anak Kita Ini Takkan Terinfeksi Virus Mematikan Itu, Sayang

[MBLR] Anak – Anak Kita Ini Takkan Terinfeksi Virus Mematikan Itu, Sayang

IMAGE : profiles.nlm.nih.gov

Ajeng Leodita Anggarani

no.32

“Kasihan ya dia, masih muda tapi penyakitan,”

“Sakit apa sih dia, Badannya jadi kurus gitu?”

“Penyakit kelamin kali, gaya hidupnya berantakan. Gara – gara cowoknya yang dulu itu kan? Malah nggak jadi nikah. Rugi banget!”

“Eh iya loh, ibu – ibu, saya dengar katanya kena Aids.”

“Hust.. Hust.. Eh Bu Ratna, belanja bu?”

“Iya, Bu Nina, mau masak semur buat Airin.”

“Emhh Airin sakit apa sih, bu?”

“Mmm sakit… Oh penyakit dalam biasa kok. Eh kayaknya dagingnya habis ya, mbak Tika?”

“Iya Bu Ratna, udah diborong tuh sama Bu Nina, mau ada selamatan buat putrinya yang nujuh bulan. Bener kan bu Nina?”

“Emm iya bu, cucu ketiga lho. Katanya laki – laki jadi ya harus saya bikin selamatan. Maklum dalam adat Batak anak laki – laki kan dianggap Raja.”

“Oh iya bu, ya sudah saya duluan ya..”

Bu Ratna berjalan meninggalkan sekelompok ibu – ibu tukang gosip yang biasanya bergunjing dulu sebelum memulai ritual mengurus rumah. Bu Ratna paham betul bahwa setelah kepergiannya akan ada pembahasan tentang Airin, anaknya, yang kini terkulai lemah di rumah karena serangan virus mematikan bernama HIV Aids.

“Rin, dagingnya habis. Yang lain aja ya?” tawar bu Ratna yang kini sudah duduk di pinggir ranjang Airin.

“Apa aja, bu. Ibu masak apapun tetap enak.” jawab Airin berbohong. Padahal lidahnya sudah tak mampu lagi membedakan makanan mana yang enak dan mana yang tidak. Semua terasa pahit. Ditambah lagi sejumlah rasa sakit lain dalam tubuhnya.

Bu Ratna tahu Airin tengah berbohong padanya. Namun ia tak mau membahas ini lebih dalam, ini sudah jam makan siang, sementara belum satupun menu terhidang di meja makan.

“Ya sudah, Airin tunggu dulu ya, ibu mau masak.”

“Iya ibuku sayang,” jawab Airin dengan senyum yang dipaksakan.

Segala rasa berkecamuk dalam hati ibu. Ia tahu Airin sudah sangat menderita. Namun ia tak tahu harus bagaimana menolong buah hatinya itu.

* *

“Rin, bangun yuk!” Bu Ratna mengelus kening Airin sembari menciuminya penuh kasih

“emmhh,, udah siang ya, bu?”

“Belum sih, masih jam 7, tapi kamu kedatangan tamu tuh,”

Airin melayangkan pandangannya pada sosok pria yang kini melangkah mendekat dan berdiri di samping ibu.

Rukmana, pria yang dulu pernah hampir menjadi suaminya namun hubungan mereka kandas karena Rukmana yang tiba – tiba pergi meninggalkan Airin.

“Kau?”

“Iya, Airin, ini aku.” jawab Rukmana dengan senyum tersungging di bibir tipisnya.

“Untuk apa kau kesini?” tanya Airin dengan sedikit emosi.

“Airin, jangan galak – galak dong, nak. Suruh Rukmana duduk dulu. Dia jauh – jauh datang dari Palembang lho.” Bu Ratna coba menenangkan purinya.

“Terimakasih, bu.” ucap Rukmana.

“Iya nak Rukman, sama – sama. Ibu buatkan minum dulu, ya. Kalian ngobrol – ngobrol saja dulu.”

“Bu?” panggil Airin.

Ibu hanya mengerlingkan mata lalu meninggalkan sepasang mantan kekasih itu.

“Apa kabarmu, Rin?”

“Tak usah basa basi. Untuk apa kau kesini?”

“Masih saja galak, belum berubah rupanya?”

“Apa pedulimu? Bukankah saat ini kau sudah bahagia dengan perempuanmu yang baru?”

“Sudahlah, tak perlu membahas itu. Aku kesini hanya ingin tahu kondisimu.”

“Seperti yang kau lihat. Aku hampir mati membusuk disini. Tinggal menunggu hari.”

“Rin, jangan pasrah seperti itu. Kau bisa sembuh.”

“Sembuh katamu? Mana ada penderita Aids bisa sembuh?”

“Rin, kau harus percaya pada kuasa Tuhan.”

“Yang kupercayai adalah bahwa sebentar lagi aku akan mati lalu masuk neraka, membawa semua dosa – dosaku.”

“Husst sudahlah, kita bahas yang lain saja ya? Ibu cerita padaku tentang pacarmu setelah aku.”

“Ia dia pergi, setelah tahu aku menderita Aids. Dia nggak mau tertular, makanya setelah dia tahu bahwa ia tidak tertular ia langsung meninggalkanku. Aku nggak tahu, sejak kapan penyakit ini hinggap di tubuhku. Aku nggak tahu darimana penyakit ini datang. Drugs? Jarum tatoo? Atau …. ”

“Rin, sudahlah. Tak perlu kau rinci lagi apa yang sudah terjadi. Hadapi saja. Nikmati hidupmu.” Rukmana memotong kalimat Airin.

“Kau tahu Rukmana? Mimpiku, aku ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia, bisa punya anak yang lucu – lucu. Tapi bagaimana itu bisa jadi kenyataan jika semua pria kini jijik terhadapku?” Airin mulai menangis.

Rukmana merengkuh tubuh mantan kekasihnya itu. Ia memeluk Airin penuh kasih. Dalam hatinya, rasa itu belum berubah, Airin masih gadis yang sangat dicintainya. Gadis yang masa depannya ia hancurkan.

“Aku masih mencintaimu, Rin. Selamanya.” ucap Rukmana dalam hati.

“Hei, kau tak takut tertular?”

“Aku? Hahahaha tak akan tertular jika hanya berpelukan.”

Kecuali jika aku menciummu seperti ini ..”

Sebuah kecupan mesra mendarat di bibir Airin. Perempuan itupun tak mampu menolaknya. Desir – desir itu terasa dalam hati Airin, mungkinkah cinta untuk Rukmana masih tersisa?

“Eh maaf.” tiba – tiba Bu Ratna sudah ada diantara mereka.

Airin dan Rukmana tertunduk bersamaan. Malu.

Bu Ratna tersenyum simpul. Ada lega dalam hatinya. Kelegaan yang luar biasa.

Satu bulan yang lalu..

“Bu, saya mohon maaf. Saya yang sudah menghancurkan hidup Airin.”

“Apa?! Jadi kamu yang membuat anak saya tertular virus itu? Saya tidak menyangka Rukmana!” suara ibu Ratna bergetar.

“Saya minta maaf, bu. Saya pikir masih ada kesempatan untuk menyelamatkan Airin dari virus ini. Makanya saya berpikir untuk meninggalkannya saja. Tapi semakin saya menjauh, saya semakin ingin tahu kondisinya. Ternyata benar saja, ia pun kini sudah terkena virus mematikan itu.”

“Lalu apa yang kau dapat selama kau pergi? Sudah berapa banyak perempuan yang kau korbankan?”

“Tidak bu, saya tidak berhubungan dengan perempuan manapun. Saya pergi untuk melakukan penyembuhan, tapi hati kecil saya sudah berjanji untuk kembali.”

“Apa kau pikir Airin akan menerimamu kembali setelah apa yang kau lakukan padanya?”

“Entahlah, bu. Tapi saya yakin ibu pasti mau membantu saya.”

Ibu Ratna memandang wajah Rukmana dalam – dalam. Ada penyesalan dalam matanya. Bu Ratna tahu, sesungguhnya tak satu pria pun mampu menggantikan Rukmana dalam hati anaknya.

“Saya tidak janji, tapi akan saya coba.”

“Tapi bu..”

“Apa lagi?”

“Tolong jangan katakan pada Airin bahwa saya mengidap penyakit yang sama. Dan jangan katakan padanya bahwa sayalah penyebab virus iu bersarang di tubuhnya, karena pasti ia akan membenci saya lebih dari saat ini.”

Bu Ratna tak tahu harus menjawab apa. Kondisi ini begitu membingungkan. Dalam hatinya hanya ada niat untuk memberikan kebahagiaan di saat – saat terakhir purinya hidup.

**

Kondisi Airin tak ada perubahan. Diagnosa dokter mengatakan bahwa Airin hanya mampu bertahan sampai tiga bulan kedepan. Berat badannya semakin menyusut. Kondisi yang cukup mengkhawatirkan walaupun Airin tak ingin menunjukkan di hadapan ibu ataupun Rukmana.

Malam itu Rukmana menemani Airin menikmati indahnya pantai Jepara. Rukmana sengaja mengajak Airin berlibur untuk sejenak melupakan sakitnya.

“Rin..”

“Ya?”

“Kau suka pantai ini?”

“Sangat, dulu aku bermimpi ingin menikah di pinggir pantai. Tapi sayangnya, kau memilih pergi.”

“Aku..”

“Ah sudahlah, aku malas membahas yang lalu – lalu. Oh ya, terimakasih sudah membawaku kesini.”

“Rin, apa mimpimu saat ini?”

“Mimpiku sederhana, hanya ingin aku tetap terbangun saat matahari terbit begitu terus setiap hari.”

“Tuhan pasti mengabulkan doamu, sayang.”

“Sayang? Hahaha kau ini, sedang merayuku?”

“Merayumu? Apa aku ini bisa merayu? Dulu kau selalu bilang bahwa aku orang yang tidak romantis, setiap aku membuatkanmu puisi selalu kau bilang jelek.”

“Hahaha iya benar, memang kau tak berbakat merayu, tapi kau berbakat membuatku menangis.”

“Aku ingin membuatmu menangis lagi, tapi unuk sebuah kebahagiaan.”

“Maksudmu?”

“Maukah kau jadi isriku?”

“Apa? Menikah? Jadi istrimu?” Gila kau! Aku ini terinfeksi, apa kau mau tertular? Jangan sia – siakan hidupmu,”

“Sebenarnya..”

“Sebenarnya apa? Sebenarnya kau takut karena aku ini seperti zombie yang bisa mengajak manusia menjadi zombie juga? Dasar kau!” Airin melayangkan cubitan mesra ke pipi Rukmana sembari menahan nyeri pada sendi – sendirnya.

“Aku serius, Rin. Aku ingin kita kembali menyatukan mimpi kita yang sempat hilang.”

“Aku Aids, A-I-D-S, paham?”

“Lantas kenapa?”

“Kau ini ya, setelah menikah apakah kau tak butuh bercinta? Ok, bisa kita andalkan kondom, tapi apa kau tak mau memiliki anak dari istrimu? Anak kita nanti akan terinfeksi juga. Dan semakin banyak saja dosaku menularkan virus mematikan ini pada suami dan anak – anakku kelak. Aku nggak mau!”

“Tapi memiliki anak kan mimpimu juga?”

“Ya memang, hanya sekedar mimpi. Aku nggak mau anakku terinfeksi penyakit ini. Biarlah aku seorang diri sampai mati nanti. Aku nggak “ngoyo” bisa punya keturunan.”

Rukmana menarik tubuh Airin, mendekapnya hangat. Airin merasa nyaman berada dalam pelukan Rukmana, dan selalu begitu.

“Izinkan aku membahagiakanmu, menebus segala dosaku, please,”

Airin tak menjawab. Ia ingin menikmati pelukkan Rukmana lebih lama lagi. Sudah lama ia tak merasakan sedamai malam ini.

* * *

Airin cantik dengan gaunnya, dan Rukmana tampak gagah dengan jas pengantinnya.

Kamar rumah sakit ini begitu harum dan indah dihias dengan bunga – bunga berwarna – warni. Seorang pastor sudah ada diantara mereka.

Ini hari yang mereka tunggu – tunggu. Hari pernikahan dimana keduanya akan dipersatukan dalam Tuhan. Sebenarnya Rukmana ingin merayakan resepsi perkawinan mereka di sebuah hotel berbintang, sebagai pengusaha ia sangat mampu melakukan itu untuk sebuah perayaan sekali seumur hidup, namun apa daya, kondisi Airin sudah tak memungkinkan. Bahkan untuk berdiri di atas altar saja Airin tak mampu.

Semua merasakan keharuan yang luar biasa dalam ruangan itu. Termasuk ibu Ratna yang tak henti – hentinya menyapu bulir airmata yang menetes.

“Amien!”

Semua bertepuk tangan, upacara sakral itu telah selesai. Mereka menyalami pasangan suami istri baru ini.

Seorang suster masuk ke kamar rawat itu, ia membawa sebuah kursi roda yang sudah dihias dengan pita sewarna gaun Airin.

“Ayo mba Airin saya bantu duduk disini.” ucapnya.

“Apa di hari perkawinan ini saya harus mengikuti therapy?”

“Sudah Rin, ikut saja.” pinta Rukmana.

“Ah kau ini, baru jadi suami saja sudah bawel.”

Jawaban Airin membuat semua yang hadir disana menahan tawa. Airin pun tak bisa lagi melawan. Tubuhnya diangkat oleh Rukmana dan di dudukkan di atas kursi roda.

“Kau ikut?” tanya Airin sambi menatap Rukmana.

“Aku disini, menemani tamu kita. Kupercayakan kau pada suster, ya?”

Airin mendengus.

Suster cantik itu mendorong kursi roda perlahan.

“Sus mau kemana sih? Bukannya ruang therapy ada gedung itu?” tunjuk Airin.

Suser itu tak menjawab Airin. Ia tetap mendorong kursi roda itu seperti tak menghiraukan pertanyaan Airin.

“Huh!” Airin mengumpat dalam hati.

Airin sampai di sebuah bangunan yang lokasinya ada di belakang Rumah Sakit ini. Bangunan itu sepertinya masih dalam proses pembangunan. Masih ada beberapa bagian yang belum selesai. Ada beberapa kuli bangunan yang sedang mengecat adapula yang mengaduk semen.

“Sus saya serius ya? Mau apa kita kesini? Banyak tamu saya dikamar. Ini hari perkawinan saya.”

Suster itu memutar arah kursi rodanya. Ternyata di belakang mereka sudah ada Rukmana, Bu Ratna, beberapa sahabat Airin, dan sekitar dua puluh anak – anak usia 3-15 tahun.

“Sayang, bangunan ini akan kujadikan panti asuhan. Mereka semua disini adalah anak – anak kita.” Rukmana menyuruh puluhan anak itu mendekati Airin dan memeluknya.

Airin menangis. Ada rasa bahagia yang teramat sangat. Ia tahu, ini adalah cara Rukmana mengabulkan permintaannya memiliki anak walau tak perlu ia lahirkan dari rahimnya.

Rukmana mendekati Airin. Membisikkan kata – kata, “tak perlu takut menularkan virus apapun pada anak – anak kita ini. Walaupun bukan dari rahimmu mereka juga titipan Tuhan yang harus kita jaga.”

 

“Sayang, ternyata harapan dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi diatas mimpi, dan kau membantuku menyusun puing – puing itu menjadi satu bangunan kokoh bernama bahagia.” balas Airin dengan airmata suka cita.

salam kasih,

ALA

Image : DEaR

———————————————————————————————–

Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi bersama kami di Desa Rangkat,

————————————————————————————————

Facebook Comments

About ajengleodita

21 comments

  1. Vivi Tirta Wijaya

    bagus sekali ceritanya mbak Ajeng, terharu https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

  2. nice post Ajeng……
    :2thumbup

  3. marla lasappe

    nice postinghttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  4. Bunda kira akan ada horornya..hehe . cerita yg mengharukan ternyata. Muaniiiizzzzz

  5. terenyuhhhh… Mantuku Ajeng.
    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  6. Kisah yang mengharukan Ajeng,https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

  7. Aiihhh… lama gak baca tulisan Ajeng…

    Makin maknyus, Jeng… meski gak pake horror..https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

  8. Ajennnggg…ajarinnn nulis beginiannn donggggg…

    ngalir kayak banyu ceritanya:)

  9. apik apik apik… tak pikir airin modar njur dadi hantu je…. hahahahhahaah :ngakak

  10. ajenggg… jempol 2 https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  11. Apiikkk tenan ikiiiii …..https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif