Home » Insidental » LOMBA CERPEN - DESA RANGKAT » [MBLR] Sempurna dengan Mimpiku

[MBLR] Sempurna dengan Mimpiku

mimpiku

Bagaimana tidak akan bangga menjadi  orang sepertiku? Kasih sayang kedua orang tua, ekonomi keluarga yang mapan. Fasilitas belajarku yang lengkap. Meskipun aku bukan type orang yang sombong, paling tidak aku jauh lebih beruntung dari banyak teman-teman di sekolah. Sebagai anak sulung dalam keluarga kecilku dan satu-satunya lelaki aku sangat dimanja, dua adikku masih sangat kecil untuk mengerti tentang kemewahan. Akhirnya akulah yang lebih banyak menikmati kekayaan orang tuaku.

35 tahun lalu punya ayah seorang pejabat pemerintah sudah sangat keren dan terhormat sekali di kotaku. Ayah menghabiskan usianya untuk mengabdi pada negerinya, semua orang menyeganinya karena pribadinya yang hangat dan ramah pada siapapun. Mungkin berbeda dengan pejabat banyak masa kini, yang tak disukai masyarakat karena mereka tidak mendedikasikan hidup mereka untuk melayani rakyat, tetapi menggunakannya sebagai sebuah kekuasaan untuk menindas rakyat.

Meskipun sangat sibuk, ayah tetap menjadikan keluarga sebagai  prioritas, tidak hanya materi, kasih sayangnya juga besar dalam mendidik kami anak-anaknya. Tetapi takdir tak bisa ditolak. Kebahagiaan bersama ayah hanya sebentar saja aku rasakan. Karena saat aku duduk di kelas 3 sekolah menengah pertama, ayah meninggalkan kami untuk selamanya.

Kesedihanku tidak berhenti di sana, karena sejak saat itu ibu tak mau lagi diajak bicara, dan sibuk dengan alam pikirannya sendiri. Ibu mengalami depresi hebat, lalu teman-temanku menyebut ibuku gila. Aku marah dan kecewa, namun tak bisa berbuat apa-apa, karena kenyataannya ibu mengalami luka bathin yang sangat dalam, ibu mendapat goncangan hidup yang luar biasa, ibu di vonis dokter terserang gangguan jiwa. Ayah adalah segalanya bagi ibu, dan kepergian ayah saat kami benar-benar membutuhkannya adalah sebuah tamparan dan pukulan berat buat ibu dan aku. Sebagai anak tertua beban itu kini ada di pundakku.

“Affan anak orang gila, ibu Affan gila…!!”

“ Affan anak orang gila, ibu Affan gila…!!”

“teman-teman…jangan main sama Affan dia anak orang gila!”

Ungkapan-ungkapan seperti itu menjadi hal biasa yang kudengar setiap hari. Menyudutkan, membunuh kepercayaan diriku. Merenggut keceriaanku di masa kanak-kanak yang seharusnya kuhabiskan dengan tawa dan canda.

Waktu terus saja berlalu, kondisi ibu makin parah..semua yang kami miliki di rumah akhirnya habis terjual untuk biaya berobat ibu. Ibu terpaksa bolak balik masuk rumah sakit jiwa, terkadang bisa 6 bulan ibu di sana. Sudah sembuh sedikit lalu pulang, dan begitu seterusnya hingga bertahun-tahun lamanya.

Awalnya apa yang kualami terasa sangat berat, dan belum mampu untuk memilah dan menerima kenyataan yang sesungguhnya pahit. Tetapi demi kedua adik perempuanku memaksaku membangun kembali harapan-harapan yang berderai-derai berserakan. Satu-persatu kukumpulkan kembali asa yang dulu pernah kurajut bersama ayah dan semua keluargaku, tak rela jika mimpi-mimpi itu berterbangan menjadi abu.

Setiap kali aku merasa kalah, aku selalu ingat pesan ayah. “Jadi laki-laki tak boleh menyerah nak, jadilah  seorang lelaki tangguh. Tak ada satupun di dunia ini yang tak bisa kau raih, bulatkan tekadmu.” Kalimat itu berulang-ulang kueja dalam ingatanku, kupahami maknanya dan kubangun mimpiku diatas segala lelah beban pikiran.

Kian hari aku menyadari bahwa, Mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi. Aku telah menumpuk mimpi-mimpi itu sejak pertama kali aku mendapatkan sebuah keyakinan, bahwa mimpi akan menjadi kenyataan manis jika ku tetap focus dan konsisten mewujudkannya. Ketika ku percaya kaki-kaki kecil yang lemah sepertiku bisa meraih kehidupan yang lebih baik dengan segala tenaga yang tersisa.

Perlahan-lahan kugandeng kedua tangan adik-adikku, kupeluk ibu dalam dekapanku. Kubiarkan tatapan kosongnya menembus hingga ke ulu hatiku, menikamnya dalam sampai jantungku merasa terkoyak-koyak dengan kondisinya yang tak pernah bisa disembuhkan dokter. Kulukis pelangi di kedalaman mata sendunya yang hampa, kulebarkan senyumku setiap kali memandangnya. Tak kuizinkan setetes airmatapun jatuh dari sudut mata kosongnya.

Mimpi tak akan pernah hanya akan menjadi mimpi, mimpiku datang dan menjadi kenyataan. Kini usiaku telah memasuki 40 tahun, aku telah mendapatkan kehidupan yang layak, adik-adikku telah sukses. Satu adik perempuanku berprofesi sebagai dokter ahli kejiwaan, satu adikku seorang notaries. Aku sendiri seorang arsitek, Segala daya telah kulakukan mewujudkan mimpi kami, dengan keringatku, dengan kerja kerasku, dengan semangatku, dan dengan tatapan hampa dan kosong ibu untukku, aku telah berhasil mendidik adik-adikku, tanpa ayah, sendirian dalam kondisi ibuku yang tak berdaya.

Akulah kini orang yang paling bahagia di dunia ini, hampir 5 tahun ini ibu tak pernah lagi ke rumah sakit jiwa. Hanya minum obat di rumah, dan aku telah bisa menyaksikan ibu tersenyum, dengan senyum manis ketika melihat kami bertiga bercanda, meskipun tak ada kata yang keluar dari bibir indahnya. Tapi bagiku seperti melihat mentari di mata ibu saat ia tersenyum lepas, setelah bertahun-tahun ia disebut gila.

Betapa aku tak bisa menilai berharganya hidup ibu bagiku, mimpiku tak berhenti di situ, aku terus mengupayakan sekuat tenaga, mengembalikan ingatan ibu seperti sedia kala. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kami, cintaNya memberiku ibu yang hebat, ibu yang dalam bungkamnya kuyakin selalu mendoakan aku dan adik-adikku. Mimpiku akan terus kubangun, membuat dia bicara memanggil nama-nama kami dan cucunya dengan lembut. Inilah mimpiku, Hidupku sempurna dengan mimpi-mimpi itu.

***

Note: Seberat apa bebanmu? Sebesar apa deritamu? jika kau masih punya mimpi. Percayalah gunung es sekalipun akan mampu kau hancurkan.

 https://ketikketik.com/wp-content/uploads/2014/01/Desa-Rangkat.jpg

Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi bersama kami di Desa Rangkat, klik logo kami.

 

 

Facebook Comments

About fitri.y Yeye

12 comments

  1. wuihhh…. keren nian, pepatah mengatakan beranilah bermimpi, dan usahakanlah mewujudkannya.
    :2thumbup

  2. Christian Dari Timor

    kenapa kata “dan” di depan kalimat yang di blok hilang, tpi bagus ceritanya mba fitri
    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  3. @kakak…ehehe makasih kak, asal tulis aja :D

    @mas Christian : wahhh iya kah? Hihi..
    Makasih ya mas :)

  4. yuupppp…semua berawal dariii mimpiiii… tanpa mimpi hidup berasa tak berartii… #eeeaaa…. wkwkwkwkkwkwkw

  5. Hhhahaha kali ini acik bener deh.. :Pa

  6. Inspiatif dan keren juga semangat nulisnya.

  7. Bener Uni Fitri, jangan pernah berhenti untuk bermimpi…

    maknyusss…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  8. Berani bermimpi mantapz….:)

  9. hadirrrr…… mari berminpi dan wujudkan….
    mantafff

  10. Guweeeeehhhh juga pemimpiiii lhooooo…… **tukang molor maksudnya** https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

  11. Kisah yang memilukan mbak Fitri https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif