Home » Insidental » LOMBA CERPEN - DESA RANGKAT » [MBLR] Tanda Perawan Yang Hilang

[MBLR] Tanda Perawan Yang Hilang

Udara dingin yang menyusup masuk melalui celah bilik bambu rumah tua, tak membuat penghuninya beranjak menuju pembaringan. Di dalam sana, tampak Ranti terus berusaha membujuk Mbok Jum agar mengijinkannya berangkat ke kota mencari pekerjaan.

“Ranti ndak pergi sendiri kok Mbok, ada Uli, Mira, Ida juga. Orang-orang kampung sini juga sudah percaya kalau Pak Ahmad selalu bertanggung jawab menjaga orang yang dibawanya ke kota.”

Mbok Jum masih terdiam, rasa bimbang mulai menghampiri, pikirannya mulai tertuju pada jumlah hutang yang harus dibayar kepada juragan Mahmud, namun hatinya tidak rela bila membiarkan Ranti yang baru 16 tahun harus pergi bekerja ke kota.

“Mboook… “ Ranti tetap merajuk

“Bukannya si Mbokmu ini tidak mau kalau kamu bantu cari uang untuk melunasi hutang kita pada Juragan Mahmud, tapi Mbok khawatir kamu nanti kenapa-kenapa di kota. Kota itu tidak seperti di kampung Nduk, banyak orang jahat.”  Sejenak Mbok berhenti bicara dan menghela nafas.

“Kamu lihat sendiri, banyak gadis sini kembali ke kampung dengan perut membesar, katanya ditipu laki-laki hidung belang di kota. Apalagi kamu ini cantik, Mbok makin khawatir mengijinkanmu ke kota.” lanjutnya.

Ranti memang berbeda dengan gadis-gadis lain di kampungnya, kulit yang putih, mata yang agak sipit, rambut hitam dan lurus, membuatnya sekilas tampak seperti gadis keturunan.

Sebenarnya Ranti bukanlah anak kandung Mbok Jum. Ranti dititipkan majikannya, yaitu nenek Ranti, sebulan setelah dilahirkan karena Ibu Ranti mengalami gangguan jiwa akibat perkosaan yang terjadi pada kerusuhan masal. Dengan dibekali, beberapa gram emas dan uang seadanya, Mbok Jum dan Mang Kardiman pulang ke kampung dengan membawa Ranti dan mengaku kepada masyarakat kampung bahwa Ranti adalah anak mereka.

Saat Mang Kardiman masih hidup, kehidupan Ranti bersama Mbok Jum tidaklah sesulit sekarang, sawah yang dibeli dari hasil menjual emas dapat menghidupi mereka dengan layak. Namun keadaan berubah manakala Mang Kardiman jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Sejak Mang Kardiman tiada, Mbok Jum menjadi buruh tani dengan upah yang tidak seberapa di sawah milik Juragan Mahmud dan hutang untuk biaya pengobatan Mang Kardiman pun tidak pernah dapat dilunasi.

“Ranti akan jaga diri baik-baik Mbok, kalau perlu Ranti akan memakai tanda untuk menyakinkan Mbok bahwa Ranti bisa menjaga diri.” Ujar Ranti meyakinkan

“Maksudmu apa Nduk? “ tanya Mbok Jum tidak mengerti

Ranti kemudian mengambil sebuah tali hitam, kemudian diikatkan di lengannya dengan sebuah simpul.

“Ini tanda bahwa Ranti masih perawan dan tidak akan lepas selama Ranti masih perawan. Ranti mohon Mbok percaya ya.”

Mata Mbok Jum masih terus menatap Ranti, hatinya tidak tega untuk menahan keinginan Ranti ke kota.

“Janji ya Nduk, kamu bisa jaga diri di kota nanti.” Uajr Mbok Jum perlahan dengan berurai air mata

“Iya Mbok, Ranti janji.” Ranti memeluk Mbok Jum dengan haru.

 

 

####

 

Setibanya di kota, tidak sulit bagi Ranti yang memiliki kulit bersih dan wajah menarik mendapatkan pekerjaan yang hanya sekedar sebagai asisten rumah tangga.

Majikan Ranti adalah Lisa, seorang Ibu setengah baya dengan dua anak yang  kuliah di luar negeri dan memiliki usaha konveksi yang tidak jauh rumah, sehingga tugas Ranti hanya membantu membereskan rumah dan menemani Lisa. Di waktu luang, Ranti diijinkan untuk belajar menjahit bahkan tidak jarang Lisa sendiri yang mengajarinya.

Kecerdasan Ranti yang dengan cepat menyerap semua yang diajarkan Ibu Lisa membuatnya semakin dipercaya untuk mengawasi kegiatan produksi konveksi milik Ibu Lisa, bahkan Ranti dibiayai untuk mempelajari dunia mode terbaru.

Kini Ranti bukanlah sekedar seorang asisten rumah tangga, Ia berubah menjadi orang kepercayaan Ibu Lisa dengan gaji cukup besar yang membuatnya mampu melunasi hutang Mbok Jum pada juragan Mahmud dan mampu membiayai kehidupan Mbok Jum di kampung, sehingga Mbom Jum tidak lagi bekerja sebagai buruh tani.

Kehidupan baik yang dijalani saat ini mendorong Ranti bermimpi memiliki sebuah butik yang akan menjual baju hasil karya sendiri. Mimpi yang mamacu semangat rajin bekerja dan terus belajar, hingga membuat Lisa semakin menyayanginya.

###

Hari demi hari dijalani Ranti tanpa kerikil tajam yang mengganggu perjalanan mimpinya, hingga tiba suatu malam, disaat hujan deras dan malam telah larut, seorang lelaki setengah baya datang dalam kondisi mabuk berat.

“Dimana Lisa … mana perempuan itu .. “ suara parau dengan tatapan mata penuh kemarahan  membuat Ranti gemetar.

“Ibu Lisa sudah tidur, saya tidak berani membangunkannya. Bila ada keperluan, Bapak bisa datang besok pagi. Kalau boleh tahu, siapa nama Bapak, sehingga saya bisa sampaikan kepada I beliau bila sudah bangun nanti.”

“Siapa kamu? Beraninya melarang saya bertemu  Lisa .. “ tubuh laki-laki paruh baya itu semakin mendekat ke arah Ranti.

“Bangunkan Lisa sekarang, bilang padanya Hardono datang..” masih dengan tatapan tajam.

“Maaf Pak, saya tidak berani.” Ranti mulai melangkah mundur dan berencana masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Namun dengan cepat laki-laki itu mengikuti gerak Ranti dan dengan kuat menahan pintu hingga berhasil ikut masuk ke dalam rumah.

“ Jangan bertindak tidak sopan gadis kampung, ” teriak laki-laki itu saat berhasil mendekati Ranti yang langkah mundurnya tertahan dinding rumah.

Ranti semakin ketakutan, wajahnya berubah pucat, tubuhnya gemetar, bibirnya seakan terkunci sehingga tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.  Ketakutan Ranti membuat nafsu bejat laki-laki pemabuk itu memuncak, sehingga tujuannya mencari Lisa sejenak terlupakan.

“Berapa umurmu cantik, tampaknya kamu bisa menjadi pemuas nafsuku malam ini.”

Ranti berusaha tenang, kaki kanannya mulai bergerak ke samping, perlahan dan akhirnya Ia bisa berlari menjauhi Hardono.  Hardono tidak membiarkan mangsanya malam ini melarikan diri, dan Ranti terus berlari menghindar. Namun nasib baik tidak berpihak pada Ranti, kakinya tersandung kaki meja dan hingga Ia terjatuh dan tubuhnya terbentur pinggiran meja makan yang terbuat dari kaca.

“praaaaang..” meja pun pecah dan pandangan Ranti tiba-tiba menjadi gelap dan tak sadarkan diri

###

Sejuknya udara sore yang menemani rimbun pepohonan tak mampu mengurangi rasa heran Mbok Jum melihat kepulangan Ranti secara mendadak tanpa kabar sebelumnya.

“Ada apa Nduk, tiba-tiba pulang ?”

Ranti segera memeluk Mbok Jum dan menangis, tidak ada kata-kata yang dapat keluar dari mulut Ranti dan Mbok Jum pun ikut menangis walau belum mengetahui apa yang terjadi pada anak gadis yang sejak kecil dibesarkannya.

Setelah tenang, keduanya pun duduk dan Ranti mulai menceritakan kejadian malam itu.

“Gelang … Gelang tali itu mana Ranti?” Mbok Jum bertanya dengan nada panik teringat dengan gelang tali tanda perawan yang sudah tidak terpasang di lengan Ranti.

Ranti tersenyum berusaha meredakan kepanikan Mbok Jum dan melanjutkan cerita.

“Malam itu saat mendengar suara meja yang terjatuh, Bu Lisa bangun dan segera memanggil karyawan yang tinggal di mess untuk membantu menahan amukan Pak Hardono, dan gelang itu terlepas tersangkut kursi sesaat sebelum Ranti jatuh, Mbok.”

“Pak Hardono itu siapa Nduk?”

“Pak Hardono itu bekas suami Ibu Lisa Mbok, mereka berpisah karena Pak Hardono memilih tinggal dengan wanita lain. Malam itu Pak Hardono marah karena Ibu Lisa sudah tidak lagi mentransfer jatah uang hasil usaha konveksi yang awalnya memang dirintis mereka berdua, karena beberapa waktu lalu Pak Hardono sudah meminta uang dua ratus juta untuk menutupi hutang judinya.”

“Ranti takut Mbok, Ranti ndak mau lagi kerja di kota.”  Ranti menyelesaikan ceritanya dan kembali menangis

Setelah mendengar semua cerita Ranti, Mbok Jum berusaha menenangkan Ranti dan membawanya ke kamar untuk beristirahat.

###

Kokok ayam jantan menyambut pagi yang cerah tak membuat Ranti beranjak dari tempat tidur. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar yang sudah kusam, rasa trauma dan kebingungan dengan apa yang akan dikerjakan di kampung menghantui pikirannya saat ini. Mimpi membuka butik tak akan pernah terwujud.

“Sudah bangun Nduk?”

Kedatangan Mbok Jum sontak membuyarkan lamunan Ranti.

“Sudah Mbok, Mbok sudah sarapan?”

“Belum, tapi Mbok sudah siapkan sarapan buat kita.”

Mbok Jum melangkah ke arah lemari,  diambilnya setumpuk uang dan diserahkan kepada Ranti.

“Ini uangmu Nduk, Mbok simpan setiap kali kamu mengirimnya. Kamu bisa pakai uang ini untuk membuat baju dan menjualnya di kampung ini. Kemapuan orang kampung pasti beda dengan di kota, jadi kamu bisa pilih bahan yang murah-murah saja.”

“Makasih Mbok.” Ranti memeluk Mbok Jum dan dalam hatinya berkata “Dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi diatas mimpi.”

 

####

Desa Rangkat

Facebook Comments

About ariyani_na

9 comments

  1. Cerita yang inspiratif, Na.:)
    selamat pagi
    :2thumbup

  2. Ewin Suherman

    mbak, typo-nya itu agak keteteran, untuk dialog setelah tanda ” (petik) harusnya tidak pakai spasi. *teringat nasihat salah seorang guru saya :)..

    • hihihi iya.. memang harusnya tanpa spasi.. dah lama gak ngefiksi .. jadi bablas ..

      dah diedit.. tq ya

  3. Imas Siti Liawati

    Yeay, mbak Na. Keren. ;-)

  4. alur kisah yang memberi inspirasi mbak Ariyani, jangan mudah putus asahttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  5. Alur kisah yang inspiring…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif