Home » Insidental » LOMBA CERPEN - DESA RANGKAT » (MBLR) Kisah yang Tertunda

(MBLR) Kisah yang Tertunda

No peserta 10
ilustrasi      “Minong!” Spontan aku menoleh ke arah asal suara, walau pada saat bersamaan aku merutuki kebodohanku sendiri ‘di sini, mana mungkin ada yang tau nama unik itu’. Sudah hampir setengah tahun aku tinggal di kota ini tak seorangpun keluarga, kerabat, maupun kawan yang berasal dari daerah yang sama denganku.
“Minong!” Seorang pemuda melambaikan tangannya ke arahku. Aku tidak dapat langsung mengenali wajahnya. Matahari siang ini sangat terik, cahaya putihnya membuat pandanganku menjadi gelap. Setengah berlari, pemuda itu terus mendekat .

     Pemuda itu kini sudah berada beberapa meter di hadapanku. Sebuah senyuman kecil tercipta begitu saja. Aku bahagia karena mulai hari ini aku tidak merasa sendiri lagi. Tapi, ups! Aku segera menarik senyuman itu dan segera berpaling meninggalkannya.

     “Minooong!” masih terdengar teriakannya. Aku tak peduli dan semakin mempercepat langkahku.
Jika beberapa detik yang lalu aku masih berdoa agar bisa bertemu dengan orang yang berasal dari kota yang sama denganku, maka sekarang aku sangat menyesali doa itu. Seharusnya doaku lebih lengkap. Seharusnya aku katakan juga kepada Tuhan bahwa aku tak ingin bertemu dengan makhluk kurang ajar yang satu itu.
@@@

     “Mikha Valencia!” Aku melangkah mengahmpiri sumber suara dengan perasaan campur aduk.
“Mana tugas-tugas kamu?” Senior yang berada di hadapanku bertanya dengan angkuh.
“Maaf, Kak! Tadi sih ada.” Jawabku panik.
“dan sekarang tidak ada?” suara yang tadi terdengar angkuh kini terdengar sinis. Aku hanya mengangguk tanpa berani menatap wajahnya.
“Kenapa, dia?” Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangku. Seorang senior yang lain ikut bergabung.
“Dia tidak bawa perlengkapan yang ditugaskan kemarin” jawab senior pertama. Kulirik name tag nya ‘ARIA’.
“Ya, udah hukum aja. Mahasiswa baru kok belagu.” Ujarnya yang semakin membuatku ketakutan.
“Lo, yang ngurusin dia, deh. Gue mau ke belakang dulu.” Aria meninggalkan kami. Kini tinggal aku dengan ‘DIKA’, namanya.
“Kamu mau dihukum berat apa ringan?” Dika yang tinggi besar, menyondongkan wajahnya ke arahku yang berperawakan kecil.
“Ringan saja, Kak” jawabku perlahan.
“Oke yang ringan. Sebentar lagi, saat saya sudah bergabung dengan panitia yang lain, kamu pergi ke pengeras suara itu lalu katakan dengan lembut bahwa kamu telah jatuh cinta kepada saya. Ingat dengan lancar dan lembut tidak boleh ada yang tahu bahwa itu adalah hukuman.” Begitu enteng dia mengatakan hal itu padahal pada saat yang sama jantungku bergemuruh karena rasa kesal.

     “Kenapa diam? Atau mau minta ganti dengan tugas berat?” Dika kembali mendekatkan wajahnya dan bersuara perlahan. Aku tak punya pilihan. Aku tak memiliki fisik yang cukup kuat untuk menjalani hukuman. Sebulan yang lalu aku mendapat perawatan karena terjatuh dari motor. Berdiri terlalu lama saat upacara saja bisa membuatku pinsan.
Sesuai permintaannya, perlahan aku melangkah mendekati pengeras suara kemudian mengucapkan kata-kata cinta yang diinginkan oleh Dika. Di sudut lain, Radit, teman SMA yang telah membuatku jatuh cinta setengah mati, memandangku dengan tatapan kecewa. Setelah peristiwa itu Radit semakin jauh dariku.

    Tak ada yang dapat aku jelaskan kepada Radit untuk mengembalikan keakraban kami selama ini. Radit belum menjadi kekasihku bahkan dia tak pernah tahu perasaan yang kusimpan dengan rapi di dalam hatiku. Aku akhirnya benar-benar kehilangan Radit setelah aku tau dia memilih Nala menjadi kekasihnya.

     Masa-masa kuliah aku jalani dengan rasa hambar. Raditlah alasanku memilih perguruan tinggi ini tetapi kini dia hidup dengan dunianya dan aku terpuruk dalam rasa kecewa. Kampus hanya menjadi rentetan luka. Setiap hari aku harus menyaksikan kemesraan Radit dengan Nala. Tiba-tiba saja istana indah yang aku angankan sekian lama telah berubah menjadi puing. Tak ada yang tau rasa cinta ini. Tak ada yang mengerti rasa sakit ini.
@@@

     Dika, dialah penyebab semua luka ini. Dialah yang membuat aku memutuskan untuk menerima kontrak kerja tiga tahunku di daerah ini. Aku berharap waktu akan menghapus semua luka ini. Di sini aku ingin membangun kembali puing-puing yang telah terlanjur berserakan dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi.

     “Mbak Mikha, ini ada titipan dari seseorang.” Wiwit anak pemilik rumah kos menyambutku di depan pintu.
“Dari siapa?”
“Tadi ada seorang pemuda yang datang ke sini mencari Mbak, karena Mbak enggak ada lalu dia menitipkan ini.” Wiwit menyerahkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado berwarna biru dan secarik kertas. Aku sempat ragu , tetapi rasa ingin tauku membuat tanganku terulur menerimanya.
Dengan perasaan tak menentu, aku mulai membaca surat itu.

To Mikha

Maaf, untuk semua yang pernah terjadi. Aku tidak pernah tau bahwa keisenganku telah menyakitimu. Tak ada maksud buruk yang terlintas saat itu. Aku hanya melakukan usulan Nala, sepupuku, begitu saja. Maafkan juga Nala karena telah menghalalkan cara untuk mendapatkan cinta Radit.
Sebulan yang lalu Nala mengalami kecelakaan dan tak tertolong. Sebelum meninggal dia mengakui semua perbuatannya dan memintaku mencarimu. Nala berharap kamu masih bersedia menerima Radit . Nala juga telah mengakui semua ini di hadapan Radit. Cincin ini adalah cincin pertunangan Nala dan Radit. Dia ingin kamu yang mengenakannya.
Dika

     Aku tidak tahu, rasa apa yang tengah berkecamuk di dalam dadaku saat ini. Mungkinkah rasa bahagia dan sedih dapat datang bersamaan? Yang pasti, tubuhku kini lunglai dan aku hanya bisa terduduk di sebuah bangku kecil yang ada di dekatku.

        Jantungku masih juga bergemuruh tak beraturan. Wajah Radit tiba-tiba saja berkelebat-kelebat di mataku. Dia yang selama ini kurindukan tetapi sekaligus telah membuat air mataku nyaris mengering. Terbayang pula Nala, gadis manis teman seangkatan, kami berasal dari SMA yang sama tetapi dari kelas yang berbeda. Nala sekelas dengan Radit.

    “Minong” sebuah suara mengagetkanku. Aku bergegas berdiri sambil memasukkan cincin dan lipatan kertas surat itu ke dalam saku bajuku. Kali ini jantungku seolah akan melompat ke luar demi melihat Radit telah berdiri di hadapanku.
“Radit?” sapaku tak yakin.
“Ya, aku Radit. Pemuda bodoh yang meninggalkan cintanya begitu lama hanya karena kecemburuan yang tak beralasan.

   “Minong, maukah kau memaafkan aku?” ucapan Radit sungguh mengagetkanku dan dia telah sukses membuatku berubah menjadi arca.

     “Minong, Nala telah menceritakan semuanya. DIa juga memintaku untuk memintakan maaf darimu.” Aku mengangguk. Hanya itu yang dapat kulakukan. Tak penting lagi memelihara kemarahan dan kebencian. Kini Radit telah berada di hadapanku, itu sudah cukup untukku.

     “Minong, aku ingin menikah denganmu.” Ucapan Radit yang ini benar-benar telah melambungkanku ke dunia penuh warna. Tiba-tiba saja istanaku yang dulu telah berubah menjadi puing, kini berdiri lagi dengan megah.

Facebook Comments

About yety Ursel

23 comments

  1. Horehhhh… akhirnyaaa….
    selamat, ya Minong.. :)

  2. Makasih En-Kahttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  3. romantissssss mbak Yety, ini benar-benar mimpi yang terkabul https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  4. Asiikkk, berasa muda lagi Bunda.
    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  5. Cinta punya cara sendiri untuk bersatu,

    Manis sekali pesannya, Bunda :)

  6. Mbak Asih, Cici Kim, Aya… Makasih yaaa…. # nih bunda lagi kasmaran hehehe https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

  7. Christian Dari Timor

    minongg….keren Bunhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  8. Mskasih mas kristian…

  9. Co cweettttt bundaaaaa….. Suka sekaliiiiii

  10. kok jadi mewek bombay membaca kisah ini ya jeng Yety?

    menarik, alurnya anak muda banget, tapi memaksa untuk membaca hingga di akhir tulisan….

    haaaa…nangiiiss

    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

  11. Acik… Cerita ini untuk menyemangati yg galau. Mbak Enggar.. Happy ending kok…

  12. katedrarajawen

    Akhirnya . . . Begitu lah cinta

  13. Ya bang Kate. Cinta memang misteri

  14. Cocok kisahnya dengan suasana hati Hans, bunda…
    Pasti bunda nulis setelah diceritain ama Ranti yahh… hehehhehttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  15. Ehem juga mas Nandar. Mad Hans …no no no haha

  16. Minong itu nama kecilku ya kan Mama Yety….https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  17. mba yetyyyy…… absennnn
    cinta minong dan radit mantafffhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  18. Mas Nandar. Ranti. Mommy..makasih

  19. Woooowwww kapan ada yg panggil jingga. Minoong….. :)

  20. Hahaha… Minong menjadi mimpi setiap gadis

  21. Kok gak ada yg muji gambarnya, ya? Hehe lg belajar ngedit foto untuk sampul…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif