Home » Insidental » LOMBA CERPEN - DESA RANGKAT » [MBLR] – Jangan Terbelenggu Kesalahan, Allysa

[MBLR] – Jangan Terbelenggu Kesalahan, Allysa

Oleh : Enggar Murdiasih

Peserta No 20

 

Allysa meraih pisau runcing berkilat-kilat itu, menyelipkannya ke saku kecil di sisi kanan pahanya. Celana panjang hitamnya memang didesain khusus, banyak saku dengan beragam kegunaan.

Ia menyelinap ke sisi lemari besar. Pandangannya menyapu ke sekeliling. Tak ada siapa siapa. Aman, pikirnya.

“Malam ini aku harus menyelesaikannya….,’ bisiknya. Lebih kepada diri sendiri.

Dirabanya sekali lagi pisau yang terselip di saku pahanya, ia pun mengendap-endap menuju kamar paling ujung. Panjang lorong itu tak sampai seratusan meter dan Allysa hanya butuh beberapa menit untuk mencapainya.

Perlahan dibukanya gerendel pintu, tak terkunci. Senyum tersungging di bibirnya yang tipis dan selalu basah itu. Setelah menengok ke belakang sekali lagi, Allysa memasuki kamar. Lampu tidur berwarna hijau di pojok kamar membantunya melangkah mendekati ranjang.
Dipicingkannya matanya. Sosok yang dicarinya tengah tertidur nyenyak di balik selimut. Dadanya turun naik dengan teratur, dengkurnya terdengar halus di gendang telinganya. Allysa menyeringai.

Ia meraih pisau, lalu dihujamkannya sekuat tenaga ke arah jantung. Tak ada teriakan. Tak ada lolongan kesakitan. Yang ada hanya desah tertahan. Juga darah yang muncrat kemana-mana. Disusul suara ngorok yang terdengar mengerikan. Mirip suara sapi yang disembelih. Lalu selebihnya, sepi.

Allysa tersenyum puas. Ia melepas sarung tangan karetnya, penutup tubuh dari vynil yang penuh bercak darah, topi rajut yang sempurna membungkus rambutnya, sepatu booth lalu membungkusnya dalam kantung plastik hitam yang sudah disiapkannya.

Dengan cepat ia menyelinap keluar, memencet tombol lift dan menghilang dibalik pintunya.
Kantung plastik hitam yang ditentengnya, dihempaskannya ke dalam kotak sampah di depan gedung. Ghra Sarana Widya berdiri kaku di belakangnya.

 

=====Jangan Terbelenggu Kesalahan, Allysa=====

“Nama saudara?”

“Allysa, Yang Mulia.”

“Berapa usia anda?”

“Dua puluh enam tahun Yang Mulia.”

“Pekerjaan saudara?”

“Pemilik Balaka Event Organizer, Yang Mulia.”

Naura hampir-hampir tak bisa mengikuti jalannya sidang pembunuhan Daigo dengan baik. Perasaannya tercabik-cabik. Kematian Daigo dengan cara yang sangat mengerikan membuatnya trauma dan shock luar biasa. Betapa tidak, sore sebelumnya ia masih menemani laki-laki itu bercengkerama di kamarnya. Masih diingatnya bagaimana Daigo memperlakukannya dengan sangat manis, lembut dan penuh cinta. Seakan-akan Daigo merasa itulah saat-saat terakhir kebersamaan mereka berdua.
Siapa sangka, tak sampai satu jam kepulangannya, ia mendapatkan kabar bila Daigo tewas dibunuh. Siapa yang tega melakukannya? Bukankah Daigo orang yang baik? Naura tak henti-hentinya meratapi kematian kekasihnya.

 

“…..dengan ini Saudara Allysa dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman selama 12 tahun penjara potong tahanan…….” Sayup-sayup Naura mendengar hakim membacakan vonis untuk Allysa. Ia menghela nafas. Perasaannya tak karuan. Campur aduk. Senang, lega, sedih, kecewa, tak puas, atau….? Entahlah. Ia tak mau berpikir lagi. Baginya, berapapun putusan yang dijatuhkan untuk Allysa tak akan mampu mengembalikan Daigo lagi kepadanya. Ia melangkah, lelah. Diabaikannya uluran tangan Moni yang hendak menggandengnya. Ruang sidang berangsur-angsur sepi ditinggalkan pengunjungnya.

 

Allysa berdiri memegangi pintu selnya yang tengah dikunci oleh sipir penjara. Ia dipindahkan ke sel setelah menjalani masa pengenalan lingkungan di penjara khusus wanita. Beberapa perempuan duduk di sudut, acuh tak acuh melihat kehadirannya.
@@@@
“Bunda…saya merasa sangat kotor, penuh dosa. Bisakah semua kesalahanku ini diampuni olehNya?” sedu Allysa. Ia masih mengenakan mukenanya yang berwarna salem, tangannya berada di genggaman ustadzah. Perempuan setengah baya yang selama ini mendampingi dan membimbingnya di penjara itu tersenyum manis. Teduh sekali.

Allysa menghela nafas. Kedukaan nampak jelas di sorot matanya yang lelah. Telah dihabiskannya tujuh tahun waktunya di penjara wanita ini. Selama itu pula Bunda Hayya tekun membimbingnya belajar ilmu agama. Ustadzah yang ramah dan keibuan ini sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri. Ibu yang telah melahirkannya, tetapi tak pernah benar-benar dimilikinya.

Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Allysa sudah dua kali khatam membaca Kitab Suci. Ia pun telah merubah penampilannya. Lebih tertutup, lebih santun, lebih Islami. Jauh benar bedanya dibandingkan saat ia mulai menjadi penghuni di penjara ini.

“Allysa, katakan pada bunda. Apa mimpimu selanjutnya? Sebentar lagi kau akan bebas. Masa hukumanmu tinggal beberapa bulan lagi……” Bunda Hayya mencoba mengajuk hati Allysa.

“Mimpi, bunda? Apakah orang seperti saya ini masih boleh memilikinya? Seorang mantan narapidana, pembunuh berdarah dingin?” sahutnya ragu.

“Tentu nak. Setiap orang berhak mempunyai mimpi. Tak ada seorang pun yang bisa melarang atau merampasnya…..,” elusan lembut di kepala Allysa membuat pertahanannya runtuh seketika. Genangan air mata itu berubah menjadi tangis. Allysa membekap wajahnya, menarik nafas dalam-dalam berusaha mengusir kesedihan dari hatinya.

“Kau tahu nak….duluuu bunda pernah punya mimpi. Mendirikan pesantren, menampung warga binaan yang telah bebas dari hukuman, memberinya ketrampilan sebagai bekal hiduuup…..,” mata Bunda Hayya menerawang jauh. Binar-binar di sorot mata itu memancarkan sebuah kebahagiaan yang lengkap.

“Lalu mereka akan datang kembali ke Bunda dalam keadaan yang benar-benar beda. Menjadi orang yang berhasil dalam bidangnya, tetap berjalan di jalan Allah sesuai harapan bundaaa……,” sambungnya lagi penuh perasaan.
Mata Allysa mengerjap-kerjap. Butiran bening meleleh di pipinya yang tirus.

“Katakan pada bunda nak. Ayolah. Apa mimpimu?”

“Dulu Allysa punya Event Organizer. Allysa ingin merintisnya kembali sekeluarnya dari sini. Tapi, apa bisa bunda? EO itu butuh modal yang besar…….,” jawab Allysa bimbang.
Bunda Hayya mengelus kepala Allysa penuh kasih. Ia seperti menemukan putrinya yang hilang belasan tahun yang lalu. Putri yang tak pernah diasuhnya selayaknya seorang anak.

 

=====Jangan Terbelenggu Kesalahan, Allysa=====

 

“Kepada Ibu Allysa, dipersilakan untuk naik ke atas panggung. Hadirin yang terhormat, mohon kiranya untuk berdiri…..,” suara pembawa acara terdengar nyaring. Allysa memutar tubuhnya ke arah para undangan dan membungkukkan badannya.

Diiringi Bunda Hayya yang menggandengnya penuh kasih, Allysa menerima gunting berhias rangkaian melati itu dan menyelesaikan tugasnya. Senyumnya mengembang ketika kain selubung papan nama itu terbuka perlahan-lahan.

sumber gambar: tokobungacantik.com

sumber gambar: tokobungacantik.com

==BALAKA EVENT ORGANIZER== terpampang indah di papan berwarna hijau tosca. Gemuruh tepuk tangan dari hadirin menyambut peresmian itu. Allysa tersenyum, air mata meleleh di pipinya. Dipandanginya papan nama itu dengan keharuan yang menyesak di dada.

“Allysa…..,” bisik Bunda Hayya lembut. Allysa menyusut air matanya. “Ini mimpiku bunda, dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi. Dengan bantuan bunda sepenuhnya…….,” Allysa memeluk bunda Hayya dan meledaklah tangisnya di bahunya.

“Ssstt….Allysa…..” Bunda Hayya membimbing Allysa ke kursinya, membiarkan perempuan itu menumpahkan semua kesedihannya.

Saat itulah secara tidak sengaja Bunda Hayya melihat tanda hitam di tengkuk  Allysa. Kerudung yang dikenakannya tersingkap saat tiupan angin kencang melanda kawasan pertokoan ini. Bunda Hayya terkesiap, ia tak percaya dengan pemandangan yang terpampang dihadapannya. Dicubitnya lengannya sendiri seolah ingin meyakinkan. Dia? Benarkah?

 

Gedung pertemuan itu berangsur-angsur sepi ditinggalkan para tamu. Hanya ada Allysa, Bunda Hayya dan seorang lelaki misterius. Sejak tadi ia hanya duduk di sudut, berkaca mata hitam dan tak berhenti merokok. Entah sudah berapa batang rokok yang dihabiskannya.

“Allysa….boleh Bunda lihat tanda hitam apa yang ada di tengkukmu?”

“Maksud Bunda?”

“Tadi Bunda sempat melihatnya. Saat kerudungmu tersingkap sedikit…..,” tangan itu begitu saja terulur dan menyingkapnya. “Oohh…..benar,” bisiknya, hampir-hampir tak terdengar. Debaran di jantungnya seakan mampu meledakkan dadanya. Kaget. Diambilnya nafas sepenuh paru-parunya sekedar mengurangi keterkejutannya. “Kau…..”

“Jadi? Jadi Bunda itu….?” teriak Allysa. “Ibuku?” keluhnya kemudian.

 

Sambil berderai air mata, Bunda Hayya menceritakan penggalan demi penggalan kisah masa lalunya. Allysa membiarkan perempuan itu membelai wajahnya, menciuminya, memeluknya erat-erat. Tawa dan tangis menjadi pelengkap cerita tentang Allysa dan asal usulnya.

“Ini kaus kaki yang dipakai perempuan itu ….dulu.” Tiba-tiba saja lelaki misterius itu mengulurkan kaus kaki warna hijau tosca. Dagunya menunjuk ke arah Allysa. Perempuan itu membelalakkan matanya demi dilihatnya wajah lelaki itu.

“Mas Rahman? Sejak kapan mas ada di sini? Untuk apa mas?” berondong Allysa.

Lelaki itu tersenyum tipis, mengangkat bahunya dan segera berlalu. Mereka berdua tak sempat mencegahnya, lelaki itu sudah menghilang di tikungan jalan.

“Bunda……?” Allysa menoleh. Dilihatnya Bunda Hayya tengah menghapus air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya.

“Panjang ceritanya nak. Yang penting, bunda sudah menemukan kembali anakku yang pernah hilang,” tangannya kembali memeluk tubuh Allysa dengan hangat.

“Jangan pernah pergi lagi dari bunda ya nak…..bunda ingin menebus kesalahan bunda selama ini……,” pelukan itu terasa makin erat. Tangisan Allysa pun meledak.

 

Ibu dan anak, yang lama terpisahkan oleh jarak dan waktu, kini dipertemukan kembali.

 

sumber gambar: DESA RANGKAT - kompasiana on Facebook

sumber gambar: DESA RANGKAT – kompasiana on Facebook

Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi bersama kami di Desa Rangkat, klik logo kami.

 

=====%%%%%%%=====

Facebook Comments

About enggar

20 comments

  1. Bunda, akhirnya posting juga.
    Tak ada kata terlambat untuk berubah ke yang lebih baik ya Bund.
    Kerennn Bund…

    • alhamdulillah cici Kim…akhirnya bisa posting juga.
      seharian kejar-kejaran ama ide dan ilham niii

      terima kasih sudah berkunjunghttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. Hebat.. Novel jalan cerpen juga…

    • alhamdulillah jeng Yety…..
      ini karena disurung-surung = dorongan dari semua teman-teman

      :shakehand2

  3. alhamdulillah, akhirnya berkumpul juga anak dan ibu… :)

    salam, Bunda Enggar…

    • alhamdulillah, En-Ka
      lebih bersyukur lagi karena si ibu bisa menerima anaknya apa adanya….

      terima kasih sudah berkunjung :shakehand2

  4. hemmm…. setelah sekian lama berpisah, penjaralah tempat bersatunya anak dan ibu…. nice bunda enggar :thumbup

  5. marla lasappe

    sukaaaaaaaaaaaaaaahttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  6. mengharukan ma, luar biasa dan itulah kuasa Allah untuk mempertemukan ibu dan anak https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

    • tak ada sesuatu yang tak mungkin bila Allah sudah menunjukkan jalannya, jeng Asih
      terima kasih sudah berkunjung
      https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif

  7. Hai bunda…. lama gak tengok2 tulisan bunda, makin maknyus bund…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

    • kelamaan ngumpet di gurun sii….
      apalagi kalau di plg, makin tambah jam ngumpetnya

      hehehe, makasih sudah singgah mas Hans

      :2thumbup

  8. balon mana balon ??

  9. Semua berawal dari ketidaksengajaan ya, Uti :)

    • betul Aya, tetapi Allah selalu punya cara sendiri untuk membahagiakan umatnya

      makasih sudah singgah yaahttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  10. mba enggar.. kisah yg menarik… like this https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif