Home » Insidental » LOMBA CERPEN - DESA RANGKAT » [MBLR] Emas dari Kaki Bukit Barisan

[MBLR] Emas dari Kaki Bukit Barisan

indonesiad.com

indonesiad.com

Kalau kau berkenan untuk datang ke sebuah gubuk kecil di kaki bukit Barisan, tepatnya di desa Rejang Lebong, Kabupaten Bengkulu Utara, Sumatera Selatan, kau akan menemukan sekelompok anak-anak sedang berkumpul di sana. Mereka, tiap hari Sabtu selepas shalat Ashar, akan datang ke sana beramai-ramai. Mereka akan duduk tenang mendengarkan berbagai kisah-kisah yang didongengkan kepada mereka. Salah satu kisah yang mereka sukai–meskipun sudah diceritakan berkali-kali–adalah tentang masa kejayaan desa mereka di saat Belanda masih menguasai kekayaan alam Indonesia dahulu.

“Kak, ayo ceritakan lagi!”

Adalah aku, Salma, seorang gadis belia yang senantiasa duduk di hadapan sekumpulan anak-anak itu. Ketertarikanku pada Sejarah membawaku kepada cerita tentang desaku yang menjadi persinggahan populer bagi warga Belanda yang bertandang ke Indonesia. Dari hasil pencarian, aku mendapatkan fakta bahwa ada berbagai sumber daya alam yang dijadikan komoditi dan diperjualbelikan oleh pihak Belanda. Desaku yang terletak di pedalaman hutan Sumatra itu menjadi salah satu desa penghasil emas terbanyak yang ada di Indonesia pada masanya. Penduduk setempat, yang kebanyakan bekerja pada Belanda, sedikit banyak turut menikmati kelimpahan sumberdaya yang ada. Dapat dikatakan bahwa saat itu, kesejahteraan penduduk desanya terbilang baik.

Begitu pula beberapa waktu setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekannya. Presiden Soekarno pernah mengunjungi desanya yang masih menjadi penghasil emas terbanyak. Konon katanya, emas yang ada di puncak Tugu Monumen Nasional yang terkenal itu juga berasal dari desa Rejang Lebong.

Namun, seiring berjalannya waktu, keadaan banyak berubah. Desa kami sudah tidak lagi dilirik oleh pemerintah maupun investor asing meskipun kandungan emas di perbukitan kami masih memadai. Aku sendiri tak pernah tahu alasannya. Namun, aku bertekad ingin membangunkan kembali geliat perekonomian desa tercintaku ini.

Seusai masa-masa Ujian Nasional tingkat SMA yang beberapa hari lalu ku tempuh, aku benar-benar menghabiskan waktuku untuk mereka. Aku menamai mereka dengan sebutan Bibit Emas dari Rejang Lebong.

-=-=-=-

Mungkin aku tidak seberuntung teman-teman yang tinggal di kota. Mereka bisa mengakses informasi yang ada di seluruh dunia dengan hanya mengetikkan beberapa kata. Sedangkan, di sini, untuk menyalakan radio saja, listriknya tidak ada, apalagi untuk berselancar di dunia maya.

Aku bermimpi ingin menjadikan desaku seperti dulu kembali, berada di masa kejayaannya.

Meski kejayaan memang bukan sesuatu yang kekal, Tuhan, aku tahu, aku harus berusaha untuk desaku ini. Aku dilahirkan dan dibesarkan di sini, di kaki Bukit Barisan ini, yang hanya dapat diakses dengan lori. Bahkan, rel untuk satu-satunya transportasi yang bisa membawa para penduduknya keluar dari sini saja putus di tengah hutan sana. Aku ingin membuktikan pada dunia, pada Indonesia, pada para penduduk di sini, pada kedua orangtuaku, pada diriku sendiri, dan kepada-Mu, bahwa aku bisa mewujudkan mimpiku untuk mengembalikan kebahagiaan desa ini. Dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi. Aku yakin bahwa dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya, kami bisa membangun desa ini. Asalkan kami memiliki ilmu dan caranya, serta bersedia mengerjakannya dengan benar. Aku yakin, bila aku benar-benar mengusahakannya, Allah akan membantuku. Ada Bu Astri juga yang akan membantuku.

-=-=-=-

“Apa yang akan kamu bawa ke sana, Nak?” tanya Syahid, ayah Salma, saat Salma mengutarakan niatnya untuk melanjutkan sekolah ke Jawa.

“Beberapa pakaian dan hal-hal lain yang akan Salma siapkan untuk memenuhi kebutuhan di sana, Pak.” ucap Salma bersungguh-sungguh.

“Tapi, Bapak tidak yakin akan bisa membiayai kuliahmu itu. Kau tahu, kan, Nak, Bapak sudah cukup tua dan sebentar lagi akan dipensiunkan dari pekerjaan Bapak. Setelah itu, bila Bapak masih kuat, mungkin Bapak akan bergabung dengan para penambang itu.”

“Bapak tak usah khawatir. Salma sudah memiliki beberapa kenalan dari guru Salma, Bu Astri. Beliau bersedia mengantar Salma ke sana untuk mengenal Bandung lebih jauh. Beliau juga sudah mencarikan informasi beasiswa dan asrama yang dapat menjadi tempat tinggal Salma selama berada di sana.”

Syahid tampak belum yakin dengan ucapan Salma, anak sulungnya itu. Tentu saja, ia berharap bahwa Salma bisa mendapatkan pendidikan dan akhirnya bekerja di tempat yang lebih baik daripada ia. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Salma akan memilih pulau Jawa, bukan pulau Sumatra, untuk memperdalam ilmu yang ia inginkan.

“Bagaimana, Pak? Apakah Bapak mengizinkan?” tanya Salma, yang membuat Bapaknya kembali ke bumi setelah pelamunannya. Syahid menatap anaknya lamat-lamat. Ia bisa merasakan ketulusan dan kesungguhan anaknya. Namun, untuk saat itu, ia memilih menggeleng dan berjalan keluar dari teras rumahnya, tempat percakapan itu berlangsung.

Sedangkan Salma, yang ditinggalkan ayahnya seperti itu, hanya menatap lantai dengan raut wajah menyimpan sejuta tanya.

-=-=-=-

Meski didera ketidakpastian dari ayahnya, Salma tidak ingin berputus asa. Di sela-sela aktivitasnya membantu pekerjaan orangtuanya dan menuliskan mimpi-mimpinya, ia selalu datang tiap hari Sabtu sore. Ia selalu bersemangat melihat anak-anak yang senantiasa menanti kehadirannya. Ia juga tidak tahu pasti, sejak kapan ia tertarik menjadi pendongeng bagi anak-anak ini. Yang ia tahu adalah ia ingin membagikan ilmu yang ia punya kepada mereka dengan bahasa yang mudah mereka pahami, dan salah satu jalannya adalah dengan bercerita.

“Kali ini, Kakak ingin kita berdo’a bersama-sama untuk kesejahteraan desa kita tercinta. Apakah kalian setuju?”

“Setuju, Kak!” jawab mereka serempak.

“Nah, siapa yang bersedia memimpin do’a kita kali ini?” Salma mengedarkan pandangan ke anak-anak di hadapannya. Beberapa detik kemudian, salah satu anak mengacungkan tangannya.

“Saya, Kak!” Anak itu menjawab dengan begitu semangat.

“Bagus, Firman. Kalau begitu, silahkan dipimpin.” Firman mengangguk.

“Ya Allah, kami yang berada di sini ingin menjadi anak-anak yang berbakti pada orangtua, menjadi pintar, rajin belajar, dan rajin beribadah, ingin mewujudkan cita-cita kami yang macam-macam. Bantulah kami, Ya Allah, agar kami selalu bersemangat. Bantu Kak Salma juga yang selalu baik hati dan mau bercerita bermacam-macam hal pada kami, agar Kak Salma bisa mewujudkan cita-citanya melanjutkan sekolah di Pulau Jawa. Terimalah amal ibadah kami, Ya Allah. Aamiin.”

Di perjalanan pulang, Salma memutuskan untuk benar-benar mempersiapkan diri untuk keberangkatannya ke Bandung. Ia akan meyakinkan ayahnya lagi.

-=-=-=-

“Ibu! Ibu!” Salma memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Terengah-engah ia mencari sosok ibunya karena ia ingin segera memberitahukan kebahagiaan yang ia miliki sekarang. Meski segalanya masih awal, ia begitu bahagia mengetahui bahwa ia memiliki kesempatan untuk mewujudkan keinginannya melanjutkan sekolah di Jawa. Tadi pagi, dia diberitahu oleh Bu Astri, wali kelasnya, bahwa ia diterima di Fakultas Pertambangan di sebuah universitas teknik kenamaan di Bandung, Jawa Barat. Segera ia pamit pulang dan kini, ia sudah berada di rumah dan masih mencari-cari ibunya.

“Ada apa, Nak? Ibu baru saja pulang dari desa sebelah.” Fatimah, ibu Salma, menyembulkan kepalanya dari balik tirai penutup kamar. Tanpa ba-bi-bu, Salma langsung memeluknya dan menangis di pundaknya. Fatimah yang kebingungan hanya mengelus-elus pundak Salma, berusaha menenangkan anaknya.

“Salma diterima, Bu! Salma bisa sekolah di Jawa!” ucapnya di sela-sela tangis bahagianya.

-=-=-=-

Syahid telah mendengar berita tentang anaknya dari gurunya, Bu Astri. Ia terlalu senang sekaligus sedih, mengingat anaknya akan pergi jauh dan dalam waktu yang cukup lama. Ia sudah mengizinkan Salma pergi. Dan, ia memegang teguh satu hal tentang anaknya.

“Salma janji, Salma akan kembali dan membangun desa kita, Pak. Salma berjanji.”

Facebook Comments

About aqyasdini

5 comments

  1. Rejang Lebong, yah?
    Yah, aku pernah dengar tentang kekayaan daerah ini. Suatu daerah yang indah dengan kandungan emas di perut buminya yang melimpah…

    nice post..https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. semoga Salma sukses menggapai cita-citanya, cerita yang inspiratif https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  3. Nice post mbak….. :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif