Home » Insidental » LOMBA CERPEN - DESA RANGKAT » [MBLR] Bukan Sebatas Mimpi

[MBLR] Bukan Sebatas Mimpi

http://dytautami.wordpress.com

http://dytautami.wordpress.com

By : Nandar Dinata

No : 54

Jika dalamnya rasa ini adalah tersebab olehmu
Maka akan kuteguk segala-galanya
Tanpa tersisa sedikitpun
Meski perih terkadang lebih sering harus kukecap
Ketika bayang wajahmu menyapa ruang rinduku

Jika benih cinta ini tersebab karenamu
Maka kurelakan ia meraja dan bertahta dalam sanubari
Meski terkadang sakit kala merindumu menghujam kalbuku
—-=*=—

Dalam sebuah kafe yang jaraknya hanya sekitar beberapa meter dari kampus. Suasana tidak terlalu rame seperti biasanya. Aku sedang asyik dan agak sibuk sendiri mengotak-ngatik ponsel. Dan sesekali terlihat sedang menelepon seseorang dan beberapa kali menunggu balasan SMS. Sejak beberapa waktu yang lalu belum juga ada jawaban sama sekali. Sudah hampir 30 menit aku disini bersama teman-temanku, dan mereka pun berlalu beranjak dari kafe karena masih ada tugas mata kuliah yang harus mereka setorkan kepada dosen pengampu. Lima belas menit lagi.

Jus apel plus coklat dan seporsi tahu krispy menjadi teman untuk menghilangkan jenuh dan was-was serta gelisah yang merasuk dalam diri ini. Sesekali aku nikmati lalu lalang kendaraan yang melintas di depan kafe dan berbagai riuh suaranya yang sedikit menyita perhatianku.

Dan aku mencoba telpon sekali lagi dan masih tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya aku putuskan untuk membiarkan pikiranku tenang dengan menaruh hape sejenak diatas meja depanku. Sambil menikmati makanan yang aku pesan tadi untuk sekedar menghilangkang rasa jenuh yang hinggap.

Sesaat kemudian datang seorang cowok yang sudah amat aku kenal sekali, lalu mengampiriku. Ialah Ardian, cowok yang tak pernah hilang dalam khayalku dan imajiku dan senantiasa mengisi setiap mimpi-mimpi dalam tidurku.

“Udah, nunggu lama beib?” kata Ardian sambil menyodorkan softdrink padaku
“Enggak juga, barusan nyampe” jawabku
“Oya maaf, tadi lagi diperjalanan nganter mama ke butik dulu. Kebetulan adikku, Hesti gak ada dirumah jadi aku yang harus nganter” kata Ardian
“Iya Gak apa-apa, tapi sempet manyun juga sih tadi, bete banget” jawabku
“sueer dech, maafin yah”
“Nggak mau”
“Tu khan ngambek, kalo ngambek berkurang loh cakepnya”
“Biarin”
“Yaudah dengan apa aku harus menebus kesalahan itu agar kamu gak bete lagi”
“Nanti, habis ini kamu harus nemenin aku ke perpus dan toko buku, itu syaratnya”
“Tapi gimana mamaku, aku harus jemput satu jam lagi”
“Katanya mau dimaafin, gak gak mau ya nggak masalah”
“Iya dech”
“Gitu donk”

 *****

Suasana kafe ini memang sangat familiar buat kami berdua. Kafe yang berada tidak jauh dari kampus kami dan pusat kota, selalu menjadi tempat favorit aku dan Ardian untuk menghabiskan malam minggu bersama. Beberapa bulan ini, bahkan semenjak  berpacaran. Karena disamping suasana yang tidak terlalu rame dan lebih santai dari kafe biasanya. Karena memang seringkali menjadi tempat nongkrong bagi teman kuliahku sehabis jam kuliah mereka usai. Dari ngobrol yang ringan ringan sampai diskusi terkait mata kuliah mereka dan bahkan yang sedang marak di sekitar. Seperti biasanya kafe tersebut, khususnya pada malam minggu buka nonstop sampai pagi.

Kami sangat kenal banget dengan pemilik kafenya, kebetulan satu almamater, cuma beda angkatan tiga tahun lebih tua dariku. Dan kafe  selalu rame dan padat pengunjung apalagi malam hari. sudah seringkali juga buat acara diskusi bareng dan bedah buku disana.

***
Disaat sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Ardian mendapatkan telepon dari teman kerjanya.

“Jane, untuk beberapa hari kedepan aku akan berangkat ke luar kota. Ada tugas mendadak yang harus kami kerjakan disana. Bersama teman kantor dan mitra kerja disana juga” kata Ardian kemudian setelah mendapati telfon dari temannya.
“Kenapa mendadak banget mas,” jawabku dengan perasaan agak sedikit kecewa.

“Barusan ada perubahan jadwal dari mitra kerja kami. Meeting diajukan minggu ini. Maaf jane, untuk hal ini, kamu dan karirku, keduanya sangat penting banget buatku. Tapi mau gimana lagi, ini sudah menjadi keputusan kantor aku harus melakukannya. Dan juga perlu engkau ketahui mitra kerja ini sangat penting banget buat tempatku kerja” kata Ardian lagi menjelaskan
“Jujur aku sangat berat banget mas. Okelah jika situasinya demikian” jawabku
“Makasih atas pengertianmu” balas Ardian
“Perlu engkau ketahui jane, ini semua demi sebuah mimpi yang ingin aku gapai dan wujudkan karena mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi. Hingga pada akhirnya menjadi nyata adanya dan harapku melewati kesemuanya bersamamu” jelas Ardian kemudian
“Dan aku selalu berada disampingmu, mendukungmu dengan sebaris lantun do’a kepadaNya agar semuanya terwujud” kataku menyemangati
*****

Untuk beberapa saat kami terdiam begitu lama, suasana kafe berubah hambar buatku, untuk kesekian kalinya aku harus berpisah dengan Ardian. Padahal baru beberapa hari ini aku bertemu dengannya. Sebagai manusia biasa aku pun ingin seperti layaknya orang memadu kasih, tapi jarang sekali aku dapati seperti perempuan pada umumnya bila bersama kekasihnya.

Entahlah, ini yang sering aku rasakan bila bersama Ardian. Hampir jarang sekali aku dengarkan kata romatis yang sering aku dengarkan dulu waktu pertama kali aku pacaran dengannya. Jarang sekali sms kata sayangnya yang selalu hadir menemaniku sebelum tidur. Dan sapanya tiap waktu untukku. Entahlah apakah ini hanya perasaanku saja.

Ah, apakah berlebihan bila aku inginkan semua itu darinya. Apakah pula tidak wajar buatku, kekasihnya bila aku ingin selalu medengarkan sekedar kata sayang darinya seperti dahulu. Kecupan manis darinya dan pelukkan hangat penuh makna darinya. Apakah ada yang salah bila aku menuntut kesemua itu darinya.

Malam sepi tak pernah lelah menemani, meski aku tak pernah tahu apakah ia benar-benar mengerti akan kesedihan dan kekalutan di dalam jiwa ini. Ketika lara ini membelenggu sukmaku. Saat Ardian jauh dariku. Dan untuk beberapa waktu lagi, akupun harus relakan jiwa ini menikmati perih rindu dalam keheningan malam, tanpamu.

*****

Disaat aku dan Ardian asyik ngobrol tiba-tiba dia mendapai telfon dari mamanya. Katanya, mamanya gak usah dijemput ke butik. Ntar dia bareng sama teman lamanya yang kebetulan lagi kumpul di butik dan rencananya mau kunjung kerumah sekalian.

Mendapat kabar dari mamanya, yang menurut Ardian adalah kabar baik buatnya, karena dia bisa menemani untuk ke perpus dan toko buku tanpa harus mengantarkan pulang dulu mamanya.  

“Maaf jane, aku gak bisa nemenin kamu ke toko buku dan perpus. Mama minta antar pulang? Kata Ardian
“Iya, nyantai aja. Tapi inget nggak akan aku maafin” balasku sambil pasang muka cemberut
“Tuch khan cembetut lagi cembetut lagi”
“Biariin aja, sono-sono antar mama kamu”
“Hehe… becanda kok beib. Mama bilang ntar dia bareng teman lamanya ke rumah”
“Nggak lucu tau” kataku agak jengkel
“Tenyata kalo kamu cemberut cakep juga yah”
“Bodo amat”

*****

Sejenak kami pun akhirnya beranjak dan menuju toko buku dan perpus untuk mencari bahan referensi untuk keperluan mata kuliah dan penelitian. Setelah beberapa menit muter–muter di Perpus dan toko buku dan kami sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan. Kami pun akhirnya menuju taman kota untuk menghabiskan malam sambil menikmati panorama dan pemandangan indah yang ada di taman kota malam.

Banyak kenangan yang indah yang berawal dari sana, terbangun sebuah memori yang tak pernah hilang dalam relung sanubari. Takkan pernah terganti dan lekang oleh sang waktu yang telah terlewati. Banyak kenangan yang tak terlupakan yang telah tergores disana. Senantiasa  abadi dalam relung terdalam jiwa ini untuk selamanya untuk kita sampai suatu saat nanti.

Malam ini menjadi malam yang sangat berarti buatku, meski masih kurasakan resah dan gelisah yang tak menentu dalam sukma ini. Malam ini manjadi malam yang terakhir sebelum engkau pergi untuk keperluan Ardian. Melepasnya untuk beberapa minggu seperti waktu yang dulu. Meski ini berat aku harus relakan kesemuanya. Kecup manis di keningku dan peluk hangatmu teramat dalam aku rasakan. Setidaknya sebagai pengobat rindu saat kau jauh dariku hingga nanti kembali lagi disini bersamaku.
*****

sumber gambar: DESA RANGKAT - kompasiana on Facebook

sumber gambar: DESA RANGKAT – kompasiana on Facebook

Desa Rangkat adalah komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat dalam dunia tulis menulis fiksi. Jika berkenan silahkan berkunjung, berkenalan, dan bermain peran dan fiksi bersama kami di Desa Rangkat, klik logo kami.

Facebook Comments

About Nandar Dinata

9 comments

  1. Semangat untuk menanti :)

  2. Keren, cerpennta Mas Nandar. Semoga penantiannya segera berakhir.

  3. Hmmmm…. maknyus… Semoga penantiannya juga bukan sebatas mimpi…
    https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  4. Jika dalamnya rasa ini adalah tersebab olehmu
    Maka akan kuteguk segala-galanya
    Tanpa tersisa sedikitpun
    Meski perih terkadang lebih sering harus kukecap
    Ketika bayang wajahmu menyapa ruang rinduku

    Jika benih cinta ini tersebab karenamu
    Maka kurelakan ia meraja dan bertahta dalam sanubari
    Meski terkadang sakit kala merindumu menghujam kalbuku

    Puisi di atas..gilaaa sekali sensasinya..Saya suka sekali..ada yang berdesir ketika membacanya, walau berulang kali

    Bagus

    Salam,
    NO

  5. pergi tuk kembali… yg sabar ya nunggunya….
    mantafff mas nandarhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif