Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Channel Politik Lebih Banyak Dari Edukasi

[OPINI] Channel Politik Lebih Banyak Dari Edukasi

logo lombaBaru-baru ini Indonesia digemparkan oleh dunia politiknya. Kedua pasangan capres dan cawapres mulai menunjukkan eksistensi mereka dalam persaingan menuju kursi pemerintahan. Bahkan tak layak dua kubu kini muncul, yaitu kubu Prabowo-Hatta dan kubu Jokowi-JK. Saya sendiri sudah menemukan perbedaan kubu itu di ruang lingkup sekolah. Teman-teman saya yang umurnya sudah menginjak 17 tahun, mulai berbincang mengenai hak pilih mereka.

Sebenarnya pergolakan politik itu tidak dilarang, namun jika berimbas pada keruntuhan persatuan Indonesia, saya katakan hal itu dilarang. Indonesia telah dipersatukan oleh kemerdekaan mereka, persatuan bukanlah hal sepele bagi sebuah bangsa. Menjaga perdamaian dan keutuhan negara adalah kewajiban masyarakat Indonesia. Tidak ada dalam pelajaran IPS, jika manusia itu hidup secara individual. Manusia membutuhkan orang lain, yaitu dalam arti lain adalah kebersamaan yang menimbulkan sebuah persatuan.

Masyarakat Indonesia berhak memilih. Pilihan mereka bukanlah suatu paksaan dari orang lain. Tetapi orang-orang yang memiliki paham komunis, pasti akan memaksa sebagian orang untuk memilih sesuai pilihan mereka. Bahkan tidak segan-segan membunuh jika orang tersebut tidak mau menurutinya. Jika hal seperti ini terjadi, maka Indonesia akan benar-benar terpecah belah seperti jaman sebelum kemerdekaan.

Para siswa di sekolah, selalu diajarkan oleh guru mereka untuk mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Jika para siswa telah dididik seperti itu, seharusnya orang yang lebih tua dari para siswa –guru, orang tua, dll- akan jauh lebih memaknai hal itu. Anggaplah Indonesia adalah suatu organisasi besar, dimana setiap anggotanya berasal dari suku, agama, ras yang berbeda-beda. Meskipun perbedaan pendapat itu selalu terjadi, tapi ada baiknya untuk merundingkan perbedaan itu dengan kepala dingin sesuai point ke 4 pancasila “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Kembali ke permasalahan pemilu 2014. Indonesia sebenarnya hanya membutuhkan seorang pemimpin yang adil bijaksana. Pemimpin yang mana mampu mengembalikan nama baik Indonesia dan menjaga Indonesia seutuhnya. Di tanah air, berlaku system demokrasi dalam pemilihannya. Dimana rakyatlah yang memilih langsung para calon pemimpin tersebut.

Pemilu kali ini, kobaran api persaingannya jauh lebih besar dari pemilu sebelumnya. Karena disaat ini, capres yang tengah ‘bersaing’ itu adalah dua sosok yang begitu terkenal dikalangan masyarakat.

Usai pencoblosan, para lembaga survey mulai melakukan penghitungan cepat, sebut saja quick count. Penghitungan tersebut didasarkan pada ratusan sampel yang mereka ambil secara acak. Dan dari penghitungan tersebut, muncullah suatu hasil yang sempat menggemparkan Indonesia. Salah satu kubu unggul pada mayoritas lembaga survey. Hal itu memicu euphoria tersendiri bagi pemihak kubu tersebut, namun dampak dari kenyataan itu persaingan semakin memanas.

Maka muncullah fitnah dan ejekan. Mengatakan si A begini, si B begitu, yang mana malah membingungkan masyarakat. Beberapa saluran televise pun mulai tidak bersikap netral lagi, memihak salah satu kubu secara terang-terangan. Saya saja saat melihat televise sedikit bingung, channel yang membahas masalah politik jauh lebih banyak dari channel yang membahas masalah edukasi.

Meskipun saya belum menginjak usia 17 tahun, saya tetap memiliki hak untuk menyuarakan pendapat dan harapan saya. Sebagai warga negara Indonesia, saya sangat ingin Indonesia kembali ke masa kejayaannya dulu. Ditakuti oleh banyak negara karena keberanian dan persatuannya. Saya juga sedikit menyesali, beberapa pulau kecil telah berpindah tangan pada negara lain, SDA diserap besar-besaran oleh negara barat bahkan produk di Indonesia adalah produk impor. Pernah beberapa kali saya memikirkan, apakah mata pelajaran PPKN yang saya pelajari akan berguna nantinya jika contoh nyatanya saja sangat bertolak belakang? Yah.. hanya yang Allah saja yang tahu nasib Indonesia kedepannya.

Sebelum artikel ini berakhir, saya ingin menyuarakan harapan saya yang terakhir jika pemimpin telah terpilih. Saya berharap, pemimpin yang telah terpilih itu bisa memajukan pendidikan Indonesia dan mengangkat rangking pendidikan di Indonesia sebagai barisan teratas dalam internasional. Semoga saja.

Itulah opini yang saya sampaikan disini. Saya tidak memihak siapapun karena saya memang masih dibawah umur. Semoga, harapan yang saya utarakan akan benar-benar terwujud nantinya. (Najla)

“Siapapun pemimpinnya, Indonesia tetaplah kesatuan yang utuh.”

Facebook Comments

About najla alfaiq

4 comments

  1. sangat peka dan lihai memilih masalah yang hangat. bagus :D

  2. Masih SMA dan sudah melek masalah politik bangsa. Keep up the spirit! :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif