Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [Opini] Cacat Demokrasi Pilpres Dibuat oleh Rakyatnya

[Opini] Cacat Demokrasi Pilpres Dibuat oleh Rakyatnya

Bila Prabowo mundur dari Pilpres karena karena menganggap kinerja KPU cacat hukum, tidak jujur serta tidak adil, maka saya akan membahas fenomena cacat demokrasi yang dibuat oleh rakyatnya sendiri.

Demokrasi Indonesia kembali diguncang kesatuannya dengan adanya fenomena Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Fenomena ini seakan tidak percaya dengan keputusan rakyat dengan menjunjung pengadaan  Pilpres berdasarkan demokrasi yang bersih dan adil. Demokrasi kembali dipertanyakan keefektifannya, sebab demokrasi  yang berlaku di Indonesia dinilai sebagai sistem pemerintahan yang gagal, yang tidak sesuai dengan bangsa ini.

Hal inilah yang justru menusuk bangsa ini dari belakang, masyarakat yang menganutnya justru tidak percaya dengan pengaruh

Lomba Menulis Opini : Menyambut HUT RI Ke-69 Lomba Menulis Opini : Menyambut HUT RI Ke-69. credit : ketikketik.com


Lomba Menulis Opini : Menyambut HUT RI Ke-69. credit : ketikketik.com

positif yang dapat ditimbulkan oleh sistem demokrasi ini dan justru mempersoalkan masalah demokrasi di Indonesia ini. Masyarakat ini layaknya telah diaduk-aduk pemikiran, berputar-putar pada jalan yang sama hanya sebatas bagaimana praktek demokrasi, hasil praktek dinilai negatif , maka demokrasi dinilai tidak efektif untuk Indonesia. Sehingga Indonesia tidak pernah merasakan kemajuan berarti pada konsep demokrasi ini.

Masyarakat intelek justru percaya begitu saja pada pemikiran-pemikiran orang yang dianggap pakar politik namun tak mampu bersikap optimistik dan mendukung negara ini. Hal ini terbukti bahwa masyarakat sendiri justru membantu mencoreng nama demokrasi sebagai fondasi penyelenggaraan sistem negara ini.

Setiap pendukung kubu pasangan calon presiden berlomba-lomba melontarkan negative campaign dan black campaign kubu lainnya. Hal ini merupakan fenomena yang langka di Indonesia,  di mana pasangan calon presiden hanya terdiri atas dua pasang yang bisa dinilai sama-sama kuat.

Fenomena negative campaign dan black campaign ini bahkan telah mempengaruhi sejumlah besar kalangan mahasiswa yang dinilai sebagai agent of change dan kalangan intelektual. Layaknya sebuah pertandingan di babak Grand Final, setiap pendukung berlomba-lomba menjelek-jelekkan pasangan lain berharap pasangan yang didukung lebih baik dan orang lain akan mengubah pilihannya dengan mendukung pasangan pilihan kita.

Namun, pemikiran tersebutlah yang justru memecahkan persatuan bangsa, banyak caci maki dan pertikaian yang diakibatkan oleh dampak dari bentuk pendukungan yang bahkan tidak menyerempet dalam perilaku menghargai perbedaan pendapat. Hal ini telah mencoreng pedoman bangsa ini yaitu Pancasila sila ke-3 Persatuan Indonesia dan  landasan konstitusi bangsa ini seperti yang tercantum pada pasal 38 F ayat (3) yaitu “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Tak hanya itu tindakan mereka justru meruntuhkan semboyan bangsa ini yaitu Bhineka Tungga Ika.

Masyarakat bahkan tak menyadari bahwa perilaku ini dapat memberikan dampak yang berkepanjangan bagi negara ini pasca pemilihan. Pilpres ini ditujukan untuk merealisasikan konsep demokrasi yang kita junjung di negara ini agar setiap orang mendapatkan haknya untuk memilih presiden kita sendiri. Setiap orang memiliki suaranya sendiri yang tentunya sudah mereka pikirkan secara matang-matang. Untuk  mendapatkan dukungan atas pasangan yang kita pilih tentulah bukan dengan cara menjelek-jelekkan pasangan calon presiden lainnya. Hal ini dapat menimbulkan ketakutan secara massal, dan pemikiran negatif terhadap pasangan calon presiden.

Mereka tidak memikirkan dampaknya, bila salah satu pasangan calon presiden terpilih katakanlah Jokowi-JK menang dalam Pilpres 2014, hal ini dapat menimbulkan krisis kepercayaan dari masyarakat Indonesia sendiri. Bagaimana seorang pemimpin dapat memimpin rakyatnya bila rakyatnya tidak percaya pada pemimpinnya bahkan justru berpikiran negatif terhadap setiap langkah yang akan diperbuat oleh pemimpinnya.

Dampaknya, setiap program pemerintah tidak akan mendapat dukungan masyarakat. Dan parahnya hal ini mempersulit pemerintah dalam pelaksanaannya bila tidak didukung oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Hal ini terbukti dengan situasi pasca-Pilpres, kesatuan dan persatuan bangsa ini kembali digoyahkan dengan dugaan bahwa KPU tidak mampu memberikan hasil pemilihan yang real dan justru hasil Pilpres dinilai merugikan salah satu kubu pasangan calon presiden katakanlah kubu Prabowo-Hatta.

Pendukung kubu mulai melontarkan pandangan-pandangan negatif  terhadap kubu pasangan lawan dimulai dari menyatakan bahwa tim sukses Jokowi-lah yang ada dibalik peristiwa ini hingga menjustifikasi bahwa kubu Prabowo tidak bisa menerima kekalahan dalam Pilpres 2014 ini. Setiap justifikasi yang dilontarkan oleh masyarakat ini hanya berdasarkan pada sikap su udzon  bukan pada landasan sahih yang digali dari hasil observasi, paper trail dan people trail.

Hal yang semakin memperparah keadaan ini adalah dengan sikap media yang mengompori pihak-pihak yang bertikai. Media yang dinilai sebagai pilar keempat demokrasi( the fourth estate), tak mampu berpihak pada masyarakat dengan memberikan informasi yang berimbang kepada masyarakat. Media sudah kehilangan harga dirinya yang berlabel independensi. Media yang mampu memberi haluan pada masyarakat ini tentu memiliki kekuatan dalam mengubah pandangan masyarakat. Buruknya media inilah yang juga memberikan pengaruh pada fenomena perpecahan bangsa ini Pra dan Pasca Pilpres 2014 ini.

Sehingga bisa dikatakan bahwa sebelum Pilpres, masyarakat Indonesia sudah terpecah menjadi dua kubu dan pengaruhnya terbawa hingga pasca-Pilpres.  Masyarakat Indonesia tetap menjadi dua kubu. Bisa dikatakan dengan adanya cacatnya praktek demokrasi di Indonesia ini Presiden yang terpilih tidak mendapatkan dukungan penuh dari masyarakatnya.

Solusi

Masyarakat harus memahami bahwa pemilihan presiden bukanlah momen bagi kita untuk beradu argumen mengenai siapa yang baik dan siapa yang jahat seperti menentukan peran antagonis dan protagonis dalam suatu cerita. Pemilihan presiden ini bertujuan untuk memilih pemimpin yang mampu menguatkan rasa kesatuan dan persatuan rakyat Indonesia maka dari itu bangsa Indonesia seharusnya mampu membuktikan diri bahwa mereka masih bisa tetap bersatu untuk menjunjung pelaksanaan demokrasi yang baik begitu juga dengan aparat-aparat yang bertugas. Jangan sampai terpecah di titik awalnya, yaitu pra-pilpres.

Di mana tujuan dari Pilpres ini adalah menguatkan keutuhan rasa persatuan dan kesatuan bangsa ini namun nyatanya untuk mewujudkan persatuan itu sendiri akan sulit bila tujuan itu sendiri dari awal perjalanannya sudah hancur.

Maka dari itu kembali kita junjung persatuan Indonesia yaitu dengan cara setiap rakyat Indonesia harus mampu melaksanakan keutuhan demokrasi yang baik dan layak berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tungga Ika sehingga mampu menciptakan suasana persatuan dan kesatuan.

Keutuhan demokrasi yang baik dan layak berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tungga Ika, yang dimaksud adalah dengan menghargai setiap pilihan orang lain, tidak menyebarkan negative campaign dan black campaign , serta membantu menyampaikan program kerja setiap pasangan calon presiden pada masyarakat-masyarakat yang belum tahu dan belum paham.

Selain itu bobroknya kaum intelek dan agent of change negara ini harus segera diperbaiki, mereka seharusnya mampu menyaring berita yang sifatnya negative campaign dan black campaign, agar masyarakat awam tidak turut percaya dengan berita yang nantinya berdampak buruk bagi tingkat kepercayaan rakyat Indonesia nantinya.

Facebook Comments

About Iriyanti Mendayun

8 comments

  1. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif kalau menurut opini saya demokrasi itu sudah merupakan sistem yang bagus, yang mewakili kemauan rakyat. tinggal rakyatnya yang harus sdar demokrasi. btw good writting https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

    • terimakasih sudah sependapat dengan saya. Saya harap begitu rakyat Indonesia jangan terlalu banyak ragu-ragu. Yakin dan laksanakan dengan baik sesuai dengan pancasila dan tentunya kitab agama masing-masing. :)

  2. keren mbak, saya salut dengan cita-cita kakak… semngat 45′ berjiba 2014 :) IMAN & ILMU = SURGA .. Aamin :)

  3. Romi Febriyanto Saputro

    Rakyat kita belum siap menerima demokrasi :cd:

  4. Dewi Komalasari

    demokrasi harga matiiiiii

  5. Bila boleh saya simpulkan dari pembahasan di atas, semuanya itu kembali ke SDMnya. SDM kita memang jatuh merosot. Harus diperbaiki. Pendidikan berkarakter dari dini sangat dibutuhkan di negeri kita ini. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

    • Iya seperti itulah yang saya maksud, pendidikan berkarakter penting untuk SDM kita taknya pendidikan sekedar belajar untuk pengetahuan tapi juga membangun karakter. Terimakasih atas argumen dan komentarnya https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif