Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Perbedaan Bukan Alasan

[OPINI] Perbedaan Bukan Alasan

Hasil Pilpres sudah sama-sama kita dengarkan. Syukurlah, keadaan cukup aman terkendali walaupun sampai tulisan ini dipublikasikan Pilpres belum sepenuhnya usai. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi chaos sebagaimana yang banyak diwacanakan walaupun masih ada pihak-pihak yang merasa belum puas. Bisa dibilang, Pilpres tahun ini lebih ‘seru’ dibandingkan dengan Pilpres-Pilpres yang lalu. Massifnya penggunaan media sosial semakin menambah serunya Pilpres kali ini. Masing-masing pendukung secara tidak langsung ikut serta dalam aktivitas Pemilu, seperti ‘kampanye’ via medsos, dsb. Antusias masyarakat dalam menyambut Pemilu kali ini memang cukup menggembirakan walaupun tetap saja tidak berkolerasi dengan keputusan politiknya. Tetap saja banyak yang memutuskan untuk menjadi golongan putih (golput). Ada berbagai alasan yang dikemukakan. Mulai dari ketidakcocokkan calon, prinsip ideologis, sampai mereka yang mengalami masalah administratif. Di medsos akan kita temukan berbagai tulisan dalam rangka menguatkan keputusan politik yang mereka ambil. Tidak jarang tulisan-tulisan yang ada terkesan menjatuhkan salah satu calon yang kemudian memancing emosi pendukung calon yang dijatuhkan. Maka bermunculanlah quote-quote yang menggelikan dengan berbagai redaksi yang berbeda, namun intinya satu, “Jangan sampai fanatisme terhadap salah satu calon membuat hubungan persahabatan dengan temanmu berantakan.”

Saya pribadi sangat sepakat dengan pesan yang ingin disampaikan dari quote tersebut. Sesuatu yang berlebihan dalam hal apa pun akan berujung pada ketidakbaikan. Fanatisme inilah yang kemudian akan menimbulkan friksi-friksi di antara sesama kawan. Sikap fanatik cenderung membutakan, menutup ruang diskusi dalam mencari kebenaran. Pembicaraan-pembicaraan yang diiringi dengan sikap fanatik cenderung menjadi debat kusir yang tidak berujung dan akhirnya menimbulkan permusuhan.

Perpecahan memang sebagian besar diakibatkan oleh ketidakdewasaan dalam menyikapi perbedaan. Dan hal itu akan semakin diperparah dengan sikap fanatisme yang membutakan. Kita boleh menjagokan siapapun yang kita suka. Tapi setelah hasil didapatkan, masing-masing harus legowo menerima. Ketika memang masih ada yang belum puas karena merasa mendapatkan kecurangan dan ketidakadilan. Kita persilahkan mereka untuk memperjuangkan hak mereka sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Itu adalah hak mereka yang harus kita hormati. Jangan sampai karena alasan kestabilan negara, kesatuan dan persatuan bangsa atau apapunlah menjadikan kebenaran tertutupi. Sejatinya bukan kemenangan yang dicari, tapi kebenaran dan keadilanlah yang kita cari. Jangan sampai pesta demokrasi kali ini mengkhianati amanah rakyat dengan menetapkan pemimpin yang curang dari semenjak awal terpilihnya. Siapa yang menjamin ke depannya Indonesia akan baik-baik saja. Bahkan bisa jadi lebih hancur dari sebelum-sebelumnya.

Begitu pula bagi anda yang mendapati jagoannya sedang memperjuangkan haknya. Siapa pun presiden Indonesia 2015-2019 sebenarnya sudah ditetapkan oleh Tuhan jauh sebelum Pilpres 2014 ini diadakan. Anda cukup menunggu hasil yang nanti akan diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi dengan tenang dan mengawal keberjalanannya.

Demokrasi bukan hanya sekedar nyoblos lantas urusan selesai ditanggung pemimpin terpilih. Sebagai warga negara yang baik, kita masih punya tugas untuk mengawalnya. Memastikan kebijakan-kebijakan yang dibuat pro rakyat dan tidak menyalahi prinsip-prinsip demokrasi. Kita belajar dari sejarah masa lalu Indonesia. Masa-masa pahit ketika Indonesia dijajah asing atau saat dipimpin oleh rezim otoritarian. Tentu kita tidak ingin kembali jatuh ke lubang yang sama untuk yang kesekian kalinya, bukan?

Indonesia yang maju dan mandiri, rakyatnya hidup berkecukupan dan berpendidikan, dan Sumber Daya Alam yang bisa kita kelola sendiri dari hulu hingga hilir adalah impian kita bersama. Ketika kita berpecah belah, maka kita adalah pihak yang akan paling banyak dirugikan. Rezim pemerintahan akan leluasa menindas rakyat dan membuka kesempatan bagi asing menjajah Indonesia untuk yang ketiga kalinya, setelah Belanda dan Jepang. Dengan perlawanan di segala penjuru tanah air-lah kita akhirnya dulu bisa merdeka. Walaupun berbeda bahasa, pakaian dan adat istiadat, semua bersatu meneriakkan “Indonesia Merdeka!”. Lantas dengan kompaknya bersatu di bawah kepemimpinan Soekarno-Hatta walaupun ada sebagian dari rakyat Indonesia yang sebelumnya adalah keturunan raja yang berkuasa.

Sudah saatnya kita memposisikan diri sebagaimana -dua sisi mata uang yang akan selalu berdampingan- terhadap pemerintah. Kita menjadi pendukung atas kebijakan pemerintah yang pro rakyat dan sejalan dengan prinsip demokrasi. Sekaligus kita menjadi penentang atas kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang dan menyalahi prinsip demokrasi. Dan itu semua musykil kita lakukan jika kita berpecah belah.

Perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah belah. Karena perbedaan adalah sesuatu hal yang bisa dikompromikan dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan tentunya. Dan bukankah dengan perbedaanlah hidup ini menjadi berwarna?

Facebook Comments

About Kiky Dimyati

6 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Perbedaan perlu dilandasi semangat untuk bersatu

  2. Sependapat, Mbak https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif bahwa perbedaan itu mustahil untuk disatukan. Biar tidak berpecah harus saling menghormati, bertoleransi antara satu dengan yang lainnya.
    Tapi banyak rakyat Indonesia ini yang berkeyakinan, jika beda, maka dia adalah musuh, sehingga harus berpecah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif