Home » Insidental » Lomba Opini HUT RI ke 69 » [OPINI] Persatuan, bukan Presiden.

[OPINI] Persatuan, bukan Presiden.

Tahun ini, yang katanya memiliki shio kuda, bumi pertiwi Indonesia, melangsungkan pemilu (Pemilihan Umum). Lebih tepatnya, Indonesia telah melangsungkan pemilu, baik pemilu untuk memilih para pemilik kursi penyalur aspirasi rakyat atau anggota legislatif, yaitu pada bulan April lalu dan pemilu pada 9 Juli silam untuk memilih pucuk kepemimpinan di Indonesia yang memiliki sistem pemerintahan presidensial, yaitu presiden. Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba masyarakat Indonesia seakan mengalami amnesia terhadap semboyannya sendiri, Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda teteapi tetap satu, terlebih setelah pemilihan presiden. Apa karena shio kuda tersebut, tahun ini penuh kebebasan dan munculnya para ‘petarung’ yang memang hebat, namun semua dipenuhi dengan keegoan? Sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan shio. Hanya sedikit berbasa-basi saja.

Berbicara mengenai pemihan, ada dua syarat mutlak agar hal ini dapat berlangsung, yaitu pemilih dan yang dipilih. Orang yang dipilih hanya perlu ‘menjual’ segala kelebihan mereka dan sebisa mungkin menutupi kekurangan mereka yang terkadang sudah nyata terlihat, namun selalu dipaksakan agar seakan tidak terlihat,bahkan dengan cara-cara yang tidak baik, yang lazim kita sebut curang. Lain halnya dengan para pemilih yang pasti jumlahnya lebih banyak, mereka akan berusaha sekritis mungkin untuk menilai calon kandidat, terlebih menilai kekurangan mereka. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri, ada saja orang yang berstatus pemilih, namun sama sekali tidak peduli, bahkan enggan untuk meluangkan waktunya untuk datang ke TPS untuk sekedar memilih. Pemilih yang jumlahnya lebih banyak ini, tentu bukanlah satu, artinya, pasti akan menghasilkan hasil yang berbeda-beda. Pemilih ini akan memenangkan salah satu pihak dan ‘mengalahkan’ pihak yang lain. Hal ini sangat wajar dan ini terjadi disemua negara yang mengadakan pemilihan umum. Hal yang tidak wajar adalah hilangnya kesatuan oleh berbagai pihak.

Inilah hal yang sedang dihadapi Indonesia ditahun 2014 ini, khususnya pasca pemilu presiden dan wakilnya. Bahkan sebenarnya bukan hanya pada pasca pemilu itu sendiri, namun mulai dari proses-proses awal pemilu. Kandidat yang hanya terdiri dari dua pasang tersebut, berhasil ‘memikat’ sejumlah pendukung. Ada yang mendukung karena mengidolakan, mengetahui rekam jejaknya, menyukai karakternya atau bahkan mendukung hanya karena membenci rival dari kandidat tersebut. Itu semua adalah hak. Akan tetapi, dari pendukung tersebut ada yang menyalahgunakan haknya, seperti berhak untuk memprovokasi atau melakukan black campaign. Sepertinya hak yang disalahgunakan ini muncul dari pendukung fanatik. Gabungan dari hal-hal inilah yang memicu keretakan, mulai dari elemen masyarakat terendah sampai tertinggi.

Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, menyuarakan dukungan, saling memuji ‘jagoannya’ dan menjatuhkan calon lainnya. Tidak jarang malah mereka yang saling menjatuhkan. Keretakan ini juga menyentuh lembaga-lembaga, daerah, suku, bahkan agama. Bayangkan saja, memilih presiden, tapi melibatkan agama. Tidak hanya itu, bahkan ada saja yang seakan senang dengan keadaan ini. Istilahnya, kesempatan dalam kesempitan. Bagaimana tidak? Media atau pers sudah turut membantu pihak-pihak yang ingin memprovokasi, baik media cetak maupun media elektronik. Mungkin mereka berpikir, “bagus untuk menaikkan rating”, tanpa peduli kalau karena mereka ada tetangga yang dulu sangat dekat, kini bermusuhan. Dampak dari hal ini sangat besar. Saya meyakini hal ini telah membuat para pendahulu kita, pahlawan kita, sangat sedih melihat hal ini. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, orang-orang berlomba ‘menghabisi’ calon yang tidak disukainya. Mulai muncul isu-isu tidak bertanggung jawab, muncul kreativitas yang sungguh sangat keratif, seperti editan foto-foto, video parodi, lagu-lagu indah. Kreatif bukan? Ya. Kreatif yang merusak.

Apalagi di zaman yang dipenuhi dengan gadget dan media sosial ini, muncul juga provokasi di media sosial yang fungsi awalnya memperbanyak relasi, tetapi malah memunculkan permusuhan, keributan. Orang-orang dengan bangganya membuat Indonesia menjadi trending topic world wide dengan hashtag yang sebenarnya memprihatinkan. Inikah yang kita inginkan? Melihat bangsa lain tersenyum atas keretakan bangsa yang memiliki ideologi Pancasila ini ? apabila ini yang kita inginkan, saya mengucapakan :

SELAMAT !
Sudahlah saudara-saudaraku, saya yakin bukan ini yang kita harapkan. Memang inilah yang menjadi salah satu kodrat manusia, tidak ada yang sama, akan selalu ada perbedaan. Jangan biarkan antusias kita yang sekarang sudah sangat baik ini terpecah oleh provokasi yang murahan.
KPU sudah mengeluarkan hasilnya, mari kita hargai. Ada pihak yang kurang setuju, mari kita hargai. Ada pihak yang ingin melakukan hal yang menurut mereka untuk menegakkan keadailan, mari kita hargai. Ada pihak yang siap menyusun program-program karena mereka telah dinyatakan sebagai kandidat terpilih, mari kita hargai. Mari kita hargai. Bukan, Mari kita lawan! Kita hidup sebagai negara hukum dan memilik kitab peraturan,yaitu Undang-undang.
Setelah semua ‘kengerian’ ini memiliki ujung dan hasil, mari kita dukung. Sebagai negara yang memiliki sila ke-1, keTuhanan Yang Maha Esa, kita serahkan semua pada-Nya. Kita berdoa agar pemimpin yang terpilih bisa membawa kebaikan dan kemajuan bagi Indonesia. Bayangkan saja apabila doa rakyat Indonesia masih saja terbagi dua, ada yang mendoakan kemajuan negara, tetapi ada juga yang mendoakan ‘jatuhnya’ pemimpin terpilih hanya karena masih ada dendam. Percayalah itu hanya memperlambat kamajuan dan memperlama penderitaan kita.

Kita pasti sudah mendengar kalimat ini : hentikan memilih nomor 1, hentikan memilih nomor 2, sekarang mari kita pilih nomor 3 : Persatuan Indonesia. Marilah kita bersatu. Bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk anak cucu kita kelak.
Satu hal, pada hakikatnya kita bukan memilih orangnya karena sebenarnya kitalah orangnya yang akan memajukan bangsa ini. Pemimpin hanya menuntun dan menjaga.

Bukan presidennya, tetapi persatuannya. Kita Indonesia. Semboyan kita Bhineka Tunggal Ika!

Facebook Comments

About silva pasaribu

3 comments

  1. maaf, dlm agama kami pun mengatur soal memilih pemimpin. ini adalah masalah prinsip yg mesti dihargai :) dan itu pun bkn menjadi alasan utk berpecah belah.

  2. Romi Febriyanto Saputro

    Bersatulah, jangan berpecahbelah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif